
Hari H pernikahan tinggal menghitung jam. namun entah kenapa Riri merasakan sesuatu yang tak enak. setelah pulang dari Indonesia seminggu yang lalu, guna berziarah dan juga mengunjungi Dona dan Edy serta mengundang mereka diacara pernikahan Riri dan Fano, Riri selalu merasa bahwa dirinya tak aman bahkan merasa selalu diawasi. seperti saat ini dia merasa ada yang mengawasinya intens saat sedang berada di balkon apartemen lama milik Fano.
Meskipun dia tak sendiri karena ada Dona dan keluarganya disini. namun dia merasa ada yang tidak beres dengan semuanya. Terlebih teror itu datang lagi dan membuat Riri harus ketakutan lagi karena teror itu berisi surat ancaman untuk meninggalkan Fano.
Riri yakin itu pasti ulah Maya. siapa lagi kalau bukan Maya karena hanya Maya lah yang selama ini hendak merebut Fano dari dirinya. tapi Riri hanya menyimpannya dalam diam hingga tak ada yang tau. bahkan termasuk Dona yang beberapa hari ini memang ditugaskan Fano untuk melindungi Riri.
Tapi bukan Maya namanya kalau tak ada celah untuk mencelakai Riri. pada saat Hari H, mobil yang dikendarai rombongan Riri untuk menuju ke gedung tempat acara pernikahan, mogok ditengah jalan.
"aduh gimana ini Ri, sebentar lagi acaranya akan dimulai." kata Dona panik. Namun Riri hanya diam dan mengambil ponselnya men dial sopir pribadi Fano untuk menjemput mereka.
tak butuh waktu lama, Sopir itu datang dan langsung membawa mereka ketempat acara.
"Ahh sial!" kata Maya yang melihat Riri masih bisa berangkat ketempat acara. "rencana kedua." kata Maya pada diri sendiri dan melajukan mobilnya ketempat acara.
Riri datang tepat waktu dan langsung duduk disamping Fano. Fano menjabat tangan penghulu yang akan menikahkan mereka. karena Riri sudah tak punya siapa - siapa lagi jadi dia diwalikan penghulu. Saat semua yang ada disana hendak mengucapkan kata sah, tiba-tiba...
"TUNGGU!" Teriak Maya.
"apa-apaan kamu kesini May?"tanya Fano dengan raut muka marah.
" pernikahan ini gak sah. karena yang seharusnya menikah dengan Fano itu aku. KARENA AKU HAMIL ANAKNYA!"teriak Maya pantang membuat semua orang yang ada disana terkejut sedangkan Fano hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
"kamu bilang itu anakku? kamu halu?" kata Fano.
"Fano kamu kurang ajar ya. atas apa yang kamu lakukan kepadaku 2bulan yang lalu dan sekarang kamu mengingkari anak yanga da dirahimku?" kata Maya penuh penekanan membuat semua tamu yang ada disana berbisik.
Plaaak...
Riri menampar wajah Maya dengan emosi tinggi. semua yang ada disana yang mengenal Riri begitu tak percaya atas apa yang Riri lakukan karena setau mereka Riri orang yang lemah lembut tak mungkin melakukan hal itu.
"sudah cukup kamu menghancurkan aku dan Kak Fano Maya? apa kamu lupa atas apa yang aku lakukan selama ini kepadamu Maya? aku selalu melakukan kamu sebagai saudaraku sendiri tapi kenapa malah ini balasan kamu kepadaku." sembur Riri tepat didepan muka Maya.
"justru karena itu aku iri sama kamu. kamu tak melakukan apapun bisa mendapatkan semuanya. pacar yang tampan dan kaya. sedangkan tiap kita jalan berdua tak ada satupun yang melirik ku. mereka semua mendekatimu. bahkan orang yang selama ini aku incar, ketua senat dikampus pun mendekatiku hanya karena ingin dekat denganmu." kata Maya tak kalah galak kepada Riri.
"jadi itu hanya karena masalah ketua senat? bukannya dari awal aku juga gak pernah nerima dia?"
"jangan harap. karena selamanya itu bukan anak aku." kata Fano lantang dan tegas sambil memberi kode kepada pengawalnya. selang beberapa menit, pengawal Fano kembali masuk membawa orang yang sudah terikat borgol. dia adalah kunci kebenaran itu. Jo.
"Sekarang kamu mau menjelaskan sendiri atau aku patahkan kakimu dulu baru kamu bicara." ancam Fano pada Jo. dan Jo pun mengaku semuanya.
"Iya aku ngaku." kata Jo yang membuat mata Maya melotot. "Yang ada di perutnya Maya itu anakku. dan aku juga yang selama ini meneror Riri karena suruhan Maya. jadi semuanya dengar! apapun yang dikatakan Maya itu bohong." teriak Jo pada semua yang ada disana. membuat Maya ketakutan karena mendapat tatapan tajam dari Fano.
Maya merasa pengawasan kepada El lengah akhirnya berlari dan mendekap El dalam dekapannya. dia mengarahkan pisau yang dibawanya kearah leher El. El yang ada dalam dekapan Maya pun menangis memanggil ayah bundanya.
__ADS_1
"Maya lepasin El. dia gak ada hubungannya sama kita." kata Riri yang sudah menangis.
"gak, sampai kamu sendiri yang ke sini ambil pisau ini dan potong leher kamu sendiri." suruh Maya membuat Fano geram.
Dengan gerakan tangan Fano kepada El, dia menyuruh El untuk tenang dan mencari celah agar bisa kabur. akhirnya saat Maya sedang fokus bersama Riri, El menggigit tangan Maya dan lepas dari dekapan Maya dan berhambur kearah ayahnya. berlindung dibalik pelukan ayahnya.
"dasar tak berguna. akan ku bunuh kalian semua." kata Maya berlari kearah Fano, Riri dan El.
Dor..
Polisi suruhan Fano untuk berjaga-jaga menembak Maya tepat dijantungnya. Maya tergeletak tak berdaya bersimbah darah. dia tewas ditempat.
Semua tamu undangan yang merasa syok dengan kejadian itupun sedikit lega karena biang kejahatan sudah dilumpuhkan.
Sedangkan acara pernikahan dilanjutkan kembali. Semua yang sempat tegang pun kembali tersenyum dan bertepuk tangan saat Fano dan Riri sah menjadi suami istri.
"akhirnya kamu menjadi milikku." kata Fano mencium puncak kepala Riri dengan penuh lembut dan kasih sayang.
Semuanya yang telah mereka lewati memberikan pengajaran yang begitu berharga. terlebih untuk Riri yang menghadapi cobaan bertubi-tubi, kini dia bisa lebih bersikap dewasa menghadapi semua masalah.
Dan inilah ujung pelabuhan terakhir Riri untuk beristirahat dari berkelana kehati yang lain. dia mengingat kembali para lelaki yang pernah mengisi hari - harinya, namun hanya Fano lah yang tetap menjadi pertama, terakhir dan satu-satunya.
__ADS_1
~~~~~~~~**END**~~~~~~~~