Ini Kisahku

Ini Kisahku
Teror


__ADS_3

"Hai sayang, masak apa nih? saking asyiknya masak sampai gak denger calon suaminya pulang." kata Fano sambil memeluk Riri dari belakang.


"ohh.. kamu udah pulang? ini aku lagi masak buat makan malam." kata Riri. "udah dong peluknya, malu dilihat Oma sama El. belum mukhrim juga." kata Riri membuat Fano langsung melepaskan pelukannya.


Setelah masakannya sudah siap semua berkumpul dimeja makan dan makan bersama. semua makan dengan diselai canda dan tawa. Tiba-tiba ada suara orang yang mengetuk pintu.


tok tok tok.


"biar Riri aja yang buka. Oma makan dulu aja." kata Riri saat melihat Oma hendak beranjak membukakan pintu.


Riri membuka pintu dan munculah seorang kurir pengantar barang. dilihatnya sebuah paket yang tertutup rapat entah isinya apa.


"selamat malam. dengan nyonya Riri?" tanya kurir itu.


"iya betul saya sendiri. ada apa ya pak?"


"ini ada paket buat nyonya. mohon diterima dan tanda tangan disini." kata Kurir itu.


Setelah tanda tangan dan menerima paket tersebut, Riri langsung masuk kedalam setelah mengucapkan terimakasih kepada kurir tersebut.


"siapa sayang?" tanya Fano.


"gak tau. aku dapat paket. tapi gak ada nama pengirimnya. entah dari siapa. cuma ada tulisan 'your sister' aja. masak iya Dona? Dona kalau mau ngantar paket biasanya telfon dulu." kata Riri menimbang.


"buka aja nak daripada penasaran." usul Oma.


"baik Oma." perlahan Riri membuka paket itu. menyobek bungkus itu dengan perlahan sampai terlihat sebuah kotak. dibukanya kotak itu pelan. namun Riri terlonjak kaget saat melihat sebuah kain putih penuh dengan darah. perutnya terasa mual seketika. dia trauma akan darah saat melihat orang tuanya meninggal dulu.

__ADS_1


Melihat reaksi Riri yang seperti itu Fano lalu mengambil paket tersebut dan melihat isinya. tertulis dengan jelas kata tersebut menggunakan Darah ditengah kainnya. kata yang jelas sekali, yaitu MATI.


Fano yang merasa curiga pun akhirnya datang menghampiri Riri. dipijat nya pelan tengkuk Riri. saat Riri berbalik, Fano terlihat kaget dengan muka pucat Riri. seketika Riri langsung pingsan dalam dekapan Fano.


Fano kalang kabut dibuatnya. Fano yakin bahwa Riri trauma akan darah itu. Fano lalu menelfon sekretarisnya untuk melacak siapa pengirim paket itu. dia tak mau Riri stres karena itu.


Beberapa hari telah berlalu, Riri mulai membaik namun siapa dalang dari teror itu belum terungkap. hari ini Riri sedang berada dikantin bersama Maya. dia menceritakan semuanya bersama Maya.


"serius kamu Ri. sumpah nyeremin banget." kata Maya berempati.


"iya May, sampai aku aja bisa sakit gara-gara mikirin itu." kata Riri.


"tapi udah kamu usut kan? terus udah ketemu?" tanya Maya.


"udah tapi belum ketemu, susah banget."


"aaaarrrrhhhhh.... " jerit Riri bersama May membuat semua mata yang ada disana mengalihkan pandangan mereka.


Semua mendekat kearah Riri dan Maya. terlihat Riri dan Maya ketakutan. namun berhasil disingkirkan oleh teman yang lain dan mencoba menenangkan Riri dan Maya yang sudah ketakutan.


"antar aku pulang May, aku takut." kata Riri. namun belum sempat Riri menjawab, datang Fano yang tergesa-gesa. kebetulan Fano sedang ada dikampus hendak mengajak Riri makan siang. mendengar ada keributan, Fano melihat dan saat tahu bahwa Riri yang berteriak dia makin mendekat.


"kamu kenapa sayang?" tanya Fano. Riri hanya menunjuk bekal makan siangnya.


"tadi saat Riri mau makan ada itu di bekalnya kak." kata Maya sambil tersenyum dengan senyum yang entah tak tahu apa artinya.


"siapa lagi sih yang neror kamu sayang. ya sudah kita pulang dulu aja ya buat nenangin diri kamu." kata Fano yang langsung membawa Riri pergi dari hadapan Maya. Melihat itu Maya sedikit menyunggingkan senyumnya. senyum yang hanya dia sendiri yang tahu artinya.

__ADS_1


***


"loh kok udah pulang nak?" tanya Oma.


"Iya Oma soalnya tadi di kampus lagi-lagi Riri diteror Oma. daripada Riri kenapa - kenapa lebih baik Fano bawa pulang Riri.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketok. mereka masih enggan menjawab. namun pintu itu kembali diketuk. Oma membukakan pintu itu. namun tiba-tiba Oma berteriak kencang membuat Fano dan Riri keluar juga para tetangga disekitar apartemen.


Melihat itu Riri langsung mual lagi. bagaimana tidak Riri melihat potongan tangan dengan berlumuran darah dan juga sebuah tulisan MATI lagi. Fano lalu memanggil security. Fano juga meminta rekaman CCTV di apartemennya.


Sudah setengah jam namun belum ada yang mencurigakan dari gerak gerik yang ada di CCTV yang kini dipandangi Fano. hingga dia melihat seseorang dengan pakaian serba hitam. menggunakan masker dan penutup kepala. dia meletakkan potongan tangan itu tepat didepan pintu apartemennya.


" pak tolong perjelas pak." kata Fano.


Namun saat hendak diperjelas CCTV itu rusak. seperti sengaja dirusak dan itu membuat Fano geram. dia lalu pergi keluar untuk mencari seseorang. namun saat diparkiran dia tak sengaja bertemu dengan Maya.


"ehh kak Fano, kok mau pergi? pergi kemana?" tanyanya dengan sunggingan senyum manisnya.


"mau cari teman sebentar. ohh iya kamu bisa bantuin aku gak? temenin aku buat cari siapa dalang dibalik ini." kata Fano.


"Boleh kak. ayo!" kata Maya semangat. terlebih ini menyangkut Riri.


Selama perjalanan mereka hanya diam diri. hingga setengah jam mereka sampai disuatu tempat dunia malam.


"kak, kita mau ngapain disini?" kata Maya bingung.


"kamu gak terbiasa ya. maaf. ini temanku ada didalam sana. kalau kamu gak terbiasa gak usah ikut juga gak papa." kata Fano.

__ADS_1


"ya udah aku ikut kak." kata Maya mengikuti Fano dibelakang.


__ADS_2