
❤️ Happy Reading ❤️
''Suami nyonya Selin pria matang yang tampan rupawan...bisa cuci mata nih tiap hari...hihihi...'' gumam Desi.
''Kamu jangan buat aneh-aneh di sini Des.'' kata bik Yanti yang sudah berada dibelakang Desi dan sudah dapat di pastikan bahwa beliau mendengar gumaman sang ponakan.
''Eng...gak kok bik.'' sahut Desi yang merasa gugup karena sudah tertangkap basah, mustahil kalau bibinya itu tak mendengar apa yang dia katakan.
''Jangan kamu pikir bibik gak dengar ya.'' seru bik Yanti. ''Ingat tujuan kamu di sini itu untuk bekerja bukan untuk berbuat hal yang aneh-aneh sehingga dapat merugikan dirimu sendiri.'' peringatnya. ''Kalau kamu sampai buat masalah di sini bibi gak akan bisa untuk membantumu karena bibi pun akan kena malu kerena hal itu, paham.'' sambungnya.
''Iya bik aku paham.'' sahut Desi.
''Ya sudah kamu istrirahat saja dulu, bibik mau keluar buat bantu-bantu nyiapin makan malam.'' kata bik Yanti yang langsung kelaut dari kamarnya.
''Tapikan gak ada salahnya sambil menyelam minum air...'' kata Desi dengan seringai liciknya. '' Siapa tau saja...dari baby sitter bisa naik kasta jadi nyonya.'' sambungnya.
Sedangkan di kamar sang tuan muda, saat ini Ardi sedang mengemukakan pendapatnya tentang sang baby sitter.
''Sayang...keponakan bik Yanti kayak gimana gitu kalau menurut aku.'' kata Ardi saat Selin mulai membantunya untuk membuka dasi.
''Gimana...gimana maksudnya?'' tanya Selin.
''Ya gak tau kayak...ah sudahlah.'' kata Ardi yang bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang ada di dalam penilaiannya pada sang istri.
''Ya sudah sih mas gak usah berburuk sangka dulu, kita lihat saja kinerja dia untuk beberapa hari kedepan ini, juga tentang bagaimana perilakunya.'' kata Selin. ''Kamu tunggu di sini bentar...biar aku siapin air buat mandi kamu.'' kata Selin lagi.
Sementara sang istri menyiapkan air mandi untuknya, Ardi lebih memilih mendudukkan tubuhnya sambil membuka sepatu yang dia pakai.
❤️❤️❤️❤️❤️
Seusai makan malam, Selin meminta pada salah satu art keluarga Cakrabuana untuk memanggil Desi.
Kebetulan saat ini seluruh anggota sedang bercengkrama di ruang keluarga.
Ada mama Mega dan papa Awan yang sedang bermain dengan kedua cucu mereka di lantai beralaskan karpet bulu tebal, juga ada Ardi yang merebahkan kepalanya di pangkuan Selin yang duduk tak jauh dari anggota keluarga yang lain.
''Lihat tuh papi kalian.'' kata mama Mega pada kedua cucunya.
''Ih papi, itukan maminya Langit.'' protes Langit saat melihat ke arah kedua orang tuanya.
''Sebentar sayang...ini papi lagi pusing makanya minta di elus-elus kepalanya sama mami.'' sahut Ardi tanpa membuka matanya dan masih dalam posisi yang sama sambil menikmatinya elusan dari tangan lembut sangat istri.
''O ya udah...kalau papi lagi pusing, Langit ijinin.'' kata Langit yang membuat mama Mega mendengus karena sang putra sangat pintar mencari alasan untuk mengelabuhi cucu laki-lakinya.
Mama Mega tau kalau itu hanya akal-akalan Ardi saja buat modus sama mami dari anak-anaknya.
__ADS_1
''Permisi tuan...nyonya.'' sapa sang art yang membawa Desi kehadapan sang majikan.
''Terimakasih ya bik, bibik bisa ke belakang.'' ucap Selin.
''Baik nyonya...permisi.'' sahutnya dengan sopan.
''Maaf nyonya ada apa anda memanggil saya?'' tanya Desi dengan mata yang curi-curi pandang pada sesosok tuannya yang sedang berbaring di pangkuan sang istri.
''Mulai besok pagi, kamu sudah bisa mulai untuk bekerja Des.'' jawab Selin. ''Kamu bisa tanya ke bik Yanti atau art lain di mana letak kamar Lana. ''Dan saya harap nanti kamu juga bisa bekerja sama dengan baby sitternya Langit.'' sambungnya lagi. ''Nina namanya, nanti kamu bisa tanya pada pekerja yang lain yang mana orangnya.'' imbuh Selin lagi.
''Baik nyonya.'' jawab Desi.
''Ya sudah kamu bisa kembali istirahat sekarang dan besok pagi aku tunggu di kamar Lana.'' kata Selin.
''Baik nyonya muda, saya permisi.'' pamit Desi.
Hoam...
''Loh sudah pada ngantuk ya...'' kata Selin saat melihat sang putra menguap dan sang putri kecilnya juga matanya sudah sayu bahkan sesekali terpejam katena terkantuk-kantuk.
''Iya nih Sel...Lana aja sudah kelihatan ngantuk berat.'' kata papa Awan di sertai kekehan karena melihat bagaimana tingkah polah cucu kecilnya itu.
''Ya sudah kita bawa anak-anak ke kamar.'' kata Ardi yang kemudian bangkit dari tidurannya. ''Sini Langit sama papi, biar Lana di gendong mami.'' kata Ardi dengan merentangkan kedua tangannya di hadapan sang putra.
Semenjak adanya Lana di tengah-tengah mereka, Langit sudah tak mau tidur di temani oleh siapa pun termasuk Nina sang pengasuh jika malam hari.
Untuk tidur bersama kedua orangtuanya atau oma opanya pun harus di paksa terlebih dahulu baru dia mau.
Dan untuk Lana, memang putri kecil mereka itu masih tidur bersama kedua orangtuanya...tapi dia juga sudah memiliki kamar sendiri yang di pergunakan untuk menyimpan segala perlengkapannya dan di kamar tersebut juga ada tempat tidur besar yang terkadang Selin memilih mengajak Lana untuk tidur siang di sana bersama sang kakak juga.
Kamar Lana adalah kamar milik langit dulu, yang terletak di sebelah kamar Ardi dan ada pintu penghubung kedua kamar tersebut.
Sedangkan kamar Langit berpindah di depan kamar Lana.
Kamar anak-anak memang sengaja di letakkan dekat dengan kamar kedua orangtuanya, jadi Ardi dan Selin bisa lebih mudah memantau mereka dan di kamar kedua anak mereka juga di lengkapi dengan kamera untuk mengawasi anak-anaknya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Pagi ini Selin lebih dulu menyiapkan keperluan sang suami.
Menunggu semuanya siap...Ardi sendiri lebih memilih untuk bermain dengan sang putri yang memang sudah bangun sejak pukul setengah enam tadi.
''Mandi dulu pap.'' kata Selin yang sudah keluar dari kamar mandi.
''Papi mandi dulu ya sayang...emuach.'' kata Ardi pada sang putri ketika Selin sudah ada di samping Lana.
__ADS_1
''Putri mami...anak pinter...tadi main sama papi ya nak..iya...'' kata Selin pada yang putri yang di tanggapi dengan celotehan lucu dari Lana.
Setelah beberapa menit, Ardi keluar dari kamar mandi dan juga selesai mengenakan pakaiannya yang memang sudah di siapkan oleh sang istri.
Kini gantian untuk Selin yang membersihkan tubuhnya, setelah itu dirinya kembali melayani sang suami dengan memakai dasi.
''Lana mandi dulu papi...'' pamit Selin mewakili Lana.
Sementara Lana mandi, Ardi memilih untuk memeriksa semua pekerjaannya dan itu dia lakukan sejak Selin selalu mengurus Langit di pagi hari.
Selin lebih memilih menggunakan pintu depan dari pada pintu penghubung yang ada di kamarnya untuk ke kamar Lana.
''Des.'' panggil Selin saat melihat baby sitter baru sang putri sudah berdiri di depan kamar. ''Sudah dari tadi?'' tanya Selin.
''Enggak nyonya, baru saja.'' jawab Desi.
''Oh gitu ya...ayo masuk.'' ajak Selin.
Cklek
''Ini kamarnya Lana.'' kata Selin. ''Kalau yang di depan tadi kamarnya Langit...kakaknya Lana.'' kata Selin lagi. ''O iya apa kamu sudah ketemu sama Nina...baby sitternya Langit?'' tanya Selin.
''Iya sudah nyonya.'' jawab Desi.
''Saya harap kalian bisa berteman baik ya...'' ucapan Selin.
Lalu setelah itu Selin mulai menunjukkan di mana tempat dia menyimpan barang-barang Lana, dia juga memandikan Lana.
''Kamu bisa tunggu di bawah.'' kata Selin setelah Lana siap.
''Baik nyonya.'' jawab Desi.
Selepas Desi pergi, Selin mengajak Lana ke kamar Langit...hal rutin yang selalu mereka berdua lakukan.
Cklek
''Selamat pagi...apa kakak Langit sudah siap?'' tanya Selin.
''Iya sudah mami.'' sahut Langit dengan semangat.
''Eh iya putra mami sudah rapi dan terlihat tampan.'' puji Selin. ''Ayo kita panggil papi terus turun ke bawah.'' ajak Selin yang di angguki oleh Langit. ''Nin, kamu bisa langsung ke bawah.'' kata Selin.
''Iya nyonya.'' jawab Nina dengan tanda yang membawa tas sekolah milik Langit.
Selin, Ardi, Langit dan Lana turun bersama dari lantai atas, dengan Selin yang menggandeng tangan Langit dan Ardi yang menggendong Lana.
__ADS_1
Siapa pun yang melihat pasti langsung bisa menilai bahwa keluarga kecil mereka sangatlah bahagia dan harmonis, namun hal itu semakin menumbuhkan rasa iri pada salah satu orang yang ada di kediaman keluarga Cakrabuana.