
❤️ Happy Reading ❤️
Ardi dan Selin yang mendengar seruan dari Nina langsung menghampiri sang putri dan tanpa pikir panjang mereka langsung membawa Lana ke rumah sakit.
''Sayang...putri mami...maafin mami sayang.'' kata Selin yang terus menatap dan menciumi sang putri yang berada dalam pangkuannya.
Air mata Selin tak mau berhenti melihat bagaimana keadaan putrinya saat ini.
Putrinya yang selalu ceria, aktif berguling kesana kemari, tertawa, berceloteh jika bersamanya kini hanya terdiam dengan wajah yang tampak pucat dan tubuh yang lemas.
Hati seorang ibu mana yang tak akan terluka jika melihat anaknya seperti ini.
Ibu mungkin ada kalanya membentak kita, tapi seorang ibu tak akan terima juga anak-anaknya di bentak oleh orang lain sekalipun itu ayah kita sendiri.
Seorang ibu mungkin akan lebih sering memarahi kita, namun kadang dirinya pun diam-diam bersedih hingga menangis setelahnya tanpa sepengetahuan kita.
''Aku bersumpah akan memberikan hukuman yang berat untuk kamu wanita lucnut.'' geram Ardi dalam hati. ''Kamu sudah berani mencelakai putri kesayanganku dan kamu sudah membaut istriku menangis...akan aku pastikan kamu mendapatkan hukuman yang setimpal.'' sambungnya lagi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sesampainya di rumah sakit, Lana langsung di bawa ke ruang tindakan.
Hati Selin semakin sakit di sana kala melihat jarum infus yang tertancap di tangan sang putri.
Melihat bagaimana putrinya menangis kala dokter mulai memasukkan jarum infus di tangan mungilnya sehingga membuat Selin lagi-lagi tak sanggup menahan air matanya begitu pula dengan Ardi yang ikut meneteskan air matanya melihat keadaan sang putri kecilnya.
''Bagaimana dok?'' tanya Ardi saat dokter sudah selesai mengerjakan tugasnya.
''Huh...untung putri tuan segera di bawa kemari, jika terlambat sedikit saja makan akan fatal akibatnya.'' jawab sang dokter. ''Putri tuan mengalami keracunan dan kalau boleh saya tau putri tuan habis mengkonsumsi apa?'' tanya sang dokter.
''Susu dok.'' jawab Selin yang teringat dengan rekaman video yang di lihatnya tadi.
''Susu formula atau...?'' tanya dokter lagi dengan menggantung kalimatnya.
''Susu asi yang di peras dok.'' jawab Selin lagi.
''Sepertinya asinya sudah lama di keluarkan dari tempat penyimpanan ASI.'' kata Smaga dokter. ''Dan itu penyebabnya.'' sambungnya lagi.
''Maaf dok apa dokter bersedia jika nanti di minta keterangan dari pihak berwajib mengenai ini?'' tanya Ardi.
__ADS_1
''Maksud tuan?'' tanya sang dokter yang tak mengerti.
Ardi pun menceritakan kejadian yang terjadi hingga hari ini.
Sang dokter baru paham jika anak cantik nan imut itu ternyata korban kekejaman sang pengasuhnya, sehingga membuat sang dokter langsung menyetujuinya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Lana pun akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan VVIP khusus anak-anak.
Cucu keluarga Cakrabuana itu saat ini dengan tertidur pulas dan wajahnya pun sudah tak sepucat tadi.
Selin terus saja memandangi wajah sang putri sambil menggenggam tangan mungilnya yang terbebas dari selang infus, bahkan nyonya muda Cakrabuana itu sering kali menciumi tangan mungil sang putri.
Cklek
''Di bagaimana keadaan cucu mama?'' tanya mama Mega yang baru datang bersama papa Awan, dan ternyata di belakang orangtuanya ada Larisa dan Lula bersama para suami mereka dan juga ada Satria dan sang istri.
''Sudah lebih baik ma, dia saat ini sedang tidur.'' jawab Ardi. ''Mama tau dari mana kita di sini?'' tanyanya.
''Dari orang rumah, tadi yang kasih tau begitu mama dan papa pulang.'' jawab mama Mega.
''Dari mama.'' jawab Larisa dan Lula juga di angguki oleh istri Satria.
''Maaf ma...kamu panik jadi gak sempat buat hubungi mama dan yang lain.'' ucap Ardi.
''Gak masalah Di, kami paham.'' sahut papa Awan. ''Bagaimana kejadiannya?'' tanya papa Awan.
Ardi pun menceritakan mulai awal mula bagaiman Selin curiga dengan Desi hingga kejadian yang terjadi siang tadi.
Ardi pun tak lupa menunjukkan video aksi bejat Desi pada keluarganya sehingga benar-benar membuat keluarganya meradang.
''Di mana di sekarang?'' tanya papa Awan.
''Ada di kantor polisi pa, di sana juga ada pengacara kita juga Boby.'' jawab Ardi.
''Ayo kita kesana...papa ingin memberi pelajaran pada bedebah sialan itu.'' kata papa Awan yang di liputi amarah.
''Saya ikut.'' kata Satria yang juga merasa marah melihat keponakannya seperti itu.
__ADS_1
''Kami juga.'' kata suami Larisa dan Lula yang tak mau kalah.
''Aku sama Lula juga ikut.'' kata Larisa. ''Aku sudah gak sabar ingin jambak-jambak rambutnya.'' kata Larisa lagi.
''Bener...tangan aku sudah gatal ingin menampar pipi bolak-balik...bikin malu seorang wanita saja.'' kata Lula.
''Gak usah, kalian di sini saja temani kakak ipar kalian.'' kata papa Awan. ''Biar kami para pria yang kesana...kasihan kakak ipar kalian kalau gak ada yang nemenin sekaligus menghiburnya.'' sambungnya lagi.
''Hem baiklah pa.'' sahut Larisa pada akhirnya.
''Sayang...'' panggil mama Mega dengan menyentuh pundak Selin.
Karena sedari tadi mereka datang Selin sama sekali tak merespon hanya menatap kearah putrinya saja.
''Ma...'' sahut Selin. ''Lana ma...putri Selin ma.'' kata Selin yang kembali air matanya tumpah. ''Selin bukan ibu yang baik ma...Selin gagal jadi seorang ibu ma...hiks...hiks...hiks...'' kata Selin lagi yang membuat mama Mega langsung membawanya kedalam pelukan.
''Shutt sudah jangan salahin diri kamu sendiri sayang...ini musibah, kita tak akan pernah tau kapan akan terjadi.'' kata mama Mega dengan sebelah tangan yang mengusap punggung Selin untuk menenangkan. ''Mama percaya dan yakin kalau cucu mama itu kuat...jadi percayalah tak akan terjadi apa-apa padanya sayang.'' sambungnya lagi.
Padahal sebenarnya mama Mega pun tak kalah sedih dari Selin melihat Lana seperti ini.
Melihat sang istri menangis lagi membuat Ardi kembali meneteskan air matanya, seperti halnya Selin...Ardi juga merasa gagal menjadi seorang ayah karena bisa kecolongan seperti ini.
''Sudah Ar, ayo lebih baik kita ke kantor polisi untuk mengurus wanita itu.'' ajak papa Awan dengan menepuk pundak sang putra.
''Iya pa.'' jawab Ardi. ''Lula.'' panggil Ardi.
''Iya kak ada apa?'' tanya Lula begitu berada di hadapan sang kakak.
''Ayo ke kantor polisi.'' kata Ardi yang membuat Lula dan yang lainnya bingung karena tadi sang papa mencegahnya tapi ini kok sang kakak malah mengajaknya. ''Kakak seorang laki-laki...gak mungkin untuk kakak menampar atau menjambak rambutnya...jadi kakak mau kamu yang mewakili kakak...seperti katamu tadi.'' sambungnya.
Amarah Ardi tersulut kembali ketikan lagi dan lagi mendengarkan tangisan pilu sang istri, di tambah lagi mendengar Selin yang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada putri mereka...Lana.
''Aku gak di ajak?'' protes Larisa.
''Gak kamu di sini saja, cukup Lula.'' kata Ardi.
''Hem baiklah.'' sahut Larisa dengan pasrah, tapi yang sebenarnya sedikit kecewa karena dia juga mau melampiaskan kekesalannya pada orang yang berani menganiaya keponakannya. ''Lula tolong wakilkan aku...tampar dan jambak rambutnya dengan kuat, jangan di beri ampun.'' katanya pada sang adik.
''Beres...serahin sama Lula.'' sahut Lula, karena sejatinya kedua putri keluarga Cakrabuana itu memanglah sangat bar-bar terlebih sebelum mereka menikah dan memiliki anak.
__ADS_1