
❤️ Happy Reading ❤️
Setiap hari ada saja Lana menangis bila berdua di kamar bersama Desi.
Sejak kejadian ketahuan bagian tubuh Lana ada yang membiru, Desi tak lagi mencubit Lana melainkan dengan menekan-nekan bagian tubuh Lana yang biru dengan jarinya atau menggeplak paha Lana sebagai luapan kekesalannya, terlebih setiap melihat kemesraan orangtua Lana.
Jujur Selin dan Ardi sudah pada baby sitter putrinya itu, namun mereka tak memiliki bukti...
Mereka sudah mengecek CCTV di kamar Sinaga putri namun semuanya terlihat baik-baik saja dan tak ada yang mencurigakan.
''Nina.'' panggil Selin saat mereka berdua pergi mengantarkan Langit ke sekolah.
Semenjak Lana mempunyai baby sitter, memang Selin memutuskan untuk kembali menjemput Langit ke sekolah...dia tak ingin putranya itu merasa kehilangan kasih sayang darinya setelah kelahiran Lana.
''Kamukan satu kamar tuh sama Desi, kamu pernah lihat gak sesuatu yang mencurigakan dari dia? gerak geriknya barang kali?'' tanya Selin.
''Enggak ada nyonya.'' jawab Nina.
''Nin, aku boleh minta tolong gak...tolong kamu tempel kedua alat di tempat yang strategis sehingga bisa menampilkan seluruh ruangan kamar kalian.'' kata Selin dengan menampilkan dua alat kecil di genggamannya. ''Maaf bukannya kaki ingin memata-matai kalian tapi jujur saya sedikit curiga dengan Desi.'' kata Selin.
''Baik nyonya, akan saya lakukan.'' jawab Nina.
''Terimakasih Nina dan tolong letakkan di tempat yang tak terlihat ya...'' kata Selin dan si angguki oleh Nina.
Nina sebenarnya juga merasa aneh, nona mudanya yang tadinya sangat anteng, kenapa akhir-akhir ini jadi rewel.
Setiap Selin pulang menjemput dirinya dan Langit, Lana pasti menangis kencang sampai terisak, seperti orang yang kesakitan.
Dan benar saja terulang kembali...baru juga masuk kedalam rumah sudah terdengar suara Lana yang menangis kencang.
''Bik, minta Desi bawa Lana ke sini.'' pinta Selin pada salah seorang art.
Sedangkan Nina di minta ke atas bersama dengan Langit untuk menyiapkan pakaian ganti putra tampannya itu.
❤️❤️❤️❤️❤️
''Nyonya.'' kata Desi yang berjalan menghampiri Selin dengan menggendong Lana.
''Sini.'' pinta Selin sambil menjulurkan tangannya untuk mengambil alih tubuh Lana.
''Cup...cup...cup...putri cantik mami, ada apa sayang...kenapa menangis hem...'' kata Selin berusaha menenangkan sang putri saat Lana sudah berada di dalam gendongannya. ''Anak manis...anak pinter...diem ya sayang...cup...cup...cup...ini mami sayang.'' kata Selin lagi dengan memberikan beberapa kecupan di puncak kepala Lana.
''Lana kenapa sayang?'' tanya mama Mega yang baru saja pulang bersama papa Awan.
''Biasa ma...lagi rewel.'' jawab Selin.
''Oh kasihan banget cucu oma...sampai merah gitu loh mukanya.'' kata mama Mega.
''Selin bawa Lana ke kamar dulu ya ma...pa.'' kata Selin. ''Lana biar sama saya saja Des.'' kata Selin pada Desi.
''Ya sudah sana...kasihan banget cucu mama.'' kata mama Mega.
Selin berjalan ke arah tangga dan mulai menapakinya satu per satu.
Tok
Tok
Cklek
__ADS_1
''Nin, titip Lana sebentar ya...saya mau ganti pakaian dulu.'' kata Selin.
''Iya nyonya.'' jawab Nina
Lana memang sudah tak menangis sepeti tadi hanya sesekali terdengar isakan dari mulut kecilnya.
''Adik Lana...'' panggil Langit. ''Bobok'in sini ncus.'' pintanya sambil menepuk tempat kosong di ranjangnya.
Dengan senang hati Nina menuruti permintaan sang tuan kecilnya itu.
Cklek
Betapa ademnya hati Selin melihat putrinya yang tadi menangis...tertawa bersama sang kakak.
Melihat Lana seperti itu semakin membuat kecurigaan Selin pada Desi semakin bertambah.
''Duh senang ya main sama kakak Langit dan ncus Nina.'' kata Selin menghampiri ketiganya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Keesokan harinya, karena mama Mega dan papa Awan ada janji bertemu dengan teman papa Awan untuk main golf, Selin pun berpura-pura akan pergi ke perusahan sang suami untuk mengantar makan siang.
''Des, kamu siang ini tolong jaga Lana lagi ya...saya mau pergi ke perusahaan papinya anak-anak untuk mengantar makan siang.'' kata Selin setelah memenangkan Lana yang menangis. ''Kakak Langit juga jangan nakal ya selama mami pergi.'' kata Selin setelah langit turun dari kamarnya untuk mengganti seragam sekolah manjadi pakaian rumahan bersama Nina.
''Iya mami.'' jawab Langit.
Karena sudah hampir jam makan siang, Selin langsung pergi membawa kotak makan yang telah di sediakan oleh art atas permintaannya tadi.
Selin tak benar-benar pergi ke perusahaan Ardi, mainkan dia memberhentikan mobilnya di jalan depan rumah, tak berselang lama setelah mobil Selin keluar...Ardi pun tiba mengunakan mobilnya.
Tok
Tok
''Mas.'' sapa Selin saat Ardi baru masuk ke mobilnya. ''Makan siang kamu.'' kata Selin dengan tangan menyodorkan kotak bekal tadi.
Mereka berdua pun mulai makan siang bersama di dalam mobil.
''Sekarang kita lihat apa yang di lakukan Desi.'' kata Ardi seusai makan.
Ponsel Ardi langsung terhubung dengan kedua kamera canggih yang di pasang Nina kemarin.
''Mas...'' kata Nina sambil meremas lengan Ardi.
Di sana terlihat jika Desi dengan memaksa putrinya untuk meminum susu dan memarahinya karena Lana tak kunjung mau tidur, Selin juga melihat beberapa kali Desi melayangkan pukulan di paha kecil sang putri.
''Aku sudah gak tahan lagi mas...aku mau masuk.'' kata Selin.
''Ayo.'' sahut Ardi yang langsung keluar dari mobil Selin menuju ke mobilnya sendiri.
''Nyonya...tuan...'' sapa bik Yanti namun sama sekali tak di gubris oleh Selin.
Selin terus melangkah kakinya ke kamar Desi dan Nina dengan di ikuti Ardi di belakangnya.
Bisa semua orang lihat bagaimana aura menyeramkan yang keluar dari tuan muda dan nyonya mudanya itu, jelas terlihat jika mereka sangat terlihat marah.
Cklek
''Desi!'' seru Selin.
__ADS_1
''Nyo...nya.'' kata Desi terbata.
''Apa yang kamu lakukan pada putriku, hah!'' bentak Selin dengan Lana yang sudah berada di dalam gendongannya.
Selin mengoperkan Lana untuk di gendong Ardi.
''Berani-beraninya ya kamu melukai putriku.'' kata Selin. ''Kamu itu sudah di baikin...sudah di beri kerjaan...sudah di percaya tapi malah seperti ini.'' imbuhnya dengan tak habis pikir.
''Jadi sudah ketahuan ya...'' kata Desi dengan enteng dan rasa tak berdosa.
''Hah...'' beo Selin yang merasa sedikit terkejut dengan reaksi Desi. ''Katakan apa motif kamu melakukan hal ini pada putri kami?'' tanya Selin.
''Semua itu karena kamu.'' kata Desi. ''Jujur aku iri dengan apa yang kamu punya, kaya di tambah lagi suami yang tampan dan mempesona.'' kata Desi dengan lancangnya.
Plak
Satu tamparan di layangkan Selin pada Desi.
''Asal kamu tau...kamu itu tak pantas untuk tuan Ardi.'' kata Desi semakin memprovokasi.
''Terus siapa yang menurut kamu pantas?'' tanya Selin. ''Kamu?'' tanyanya.
''Iya aku yang lebih pantas karena aku lebih cantik dari pada kamu.'' kata Desi dengan percaya diri.
Plak
Plak
Dua tamparan lagi di layangkan Selin.
''Itu untuk kelancangan kamu dan juga balasan untuk perlakukan kamu pada putri kami.'' kata Selin.
''Kamu pikir aku takut, hah!'' kata Desi yang juga hendak melayangkan tangannya namun sayang sudah di cekal terlebih dahulu oleh Selin.
Selin mencengkeram kuat tangan Desi dan menyeretnya keluar dari kamar lalu menghempaskan dengan sedikit di beri dorongan sehingga Desi tersungkur di lantai.
Satpam rumah pun sudah mengambil alih memegang kedua tangan Desi hingga tak berselang lama pihak kepolisian pun tiba.
Sebelum masuk tadi, Ardi sudah menghubungi polisi untuk datang ke rumahnya.
''Tangkap dia pak.'' kata Ardi.
''Gak bisa, kalian tak punya cukup bukti untuk melakukan hal ini padaku.'' teriak Desi.
Ardi pun memberikan menunjukkan hasil rekaman kelakuan Desi pada sang putri.
Akhirnya Desi pun di gelandang ke kantor polisi.
Dan bik Yanti mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan sang ponakan, dia ada sekali tak menyangka kalau keponakannya bisa melakukan hal sekeji itu.
❤️❤️❤️❤️❤️
''Nyonya...nona muda...'' kata Nina dengan panik menghampiri majikannya dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong Lana.
''Ada apa Nin?'' tanah Selin.
''Nona muda muntah-muntah....'' kata Nina.
Selin langsung mengambil alih Lana, di lihatnya sang putri yang terlihat lemas.
__ADS_1
''Lana...sayang...'' lirih Selin.
''Ayo bawa Lana ke rumah sakit.'' ajak Ardi.