
❤️ Happy Reading ❤️
Beberapa waktu telah berlalu...semua masih terlihat baik saja...tak ada yang berubah dari siap Desi.
Hingga sore hari ini Lana terlihat sangat kencang menangis, sama sekali tak mau diam meski sudah di gendong oleh Nina dan Desi.
''Aku ke kamar tuan dan nyonya dulu ya mbak.'' kata Desi.
''Iya Des, siapa tau nona muda mau diem kalau di bersama kedua orangtuanya.
Kebetulan saat ini mama Mega dan papa Awan tak ada di rumah, mereka pergi kerumah Lula dari tadi siang...sebab cucunya lagi ngambek ingin Oma dan opanya menginap di sana.
Tok
Tok
Tok
Cklek
Glek
''Ada apa?'' tanya Ardi saat melihat baby sitter baru putrinya dengan berdiri di depan kamarnya dan menggendong Lana yang menangis.
''Eh anu tuan nona Lana dari tadi tak mau diam tuan...terus menangis.'' jawab Desi yang berusaha mengembalikan kewarasannya setelah begitu terpesona dengan bentuk tubuh atletis sang majikan.
Kerena kebetulan Ardi masih bertelanjang dada dengan bagian bawah yang masih terbungkus oleh handuk.
Dirinya baru saja selesai mandi hingga tetes air yang menetes dari rambutnya yang basah membuatnya semakin berkali-kali lipat terlihat sangat mempesona.
__ADS_1
''Sama papi sayang.'' akta Ardi yang langsung mengambil alih tubuh Lana dari gendongan Desi. ''Kamu bisa kembali, biar Lana sama saya.'' kata Ardi yang langsung masuk dan menutup pintu kamarnya, hingga meninggalkan Desi yang masih mematung di sana.
''S**l...tubuhnya...uugh...kagak nahan.'' kata Desi sambil melangkah pergi.
Cklek
''Loh kok kamu belum pakai baju mas?'' tanya Selin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan Ardi yang duduk di ranjang dengan posisi membelakanginya. ''Loh kok ada putri cantiknya mami di sini?'' tanya Selin ketika Ardi memutar tubuhnya dan melihat ada Lana di pangkuan sang suami.
''Tadi Lana nangis, gak mau diem jadi sama baby sitternya di antar kesini.'' jawab Ardi. ''Kamu ganti dulu gih, nanti gantian.'' kata Ardi.
Selin pun menurut dan langsung berjalan ke arah ruang ganti untuk memakai pakaiannya.
Begitu selesai dia langsung keluar untuk menghampiri anak serta suaminya.
Selin begitu penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada lahan sampai nangis seperti itu, padahal sebelumnya dia sama sekali tak pernah menangis api kejer begitu.
''Enggak panas.'' gumam Selin ketika memeriksa suhu tubuh Lana. ''A...sayang...ayo buka mulutnya...A...''kata Selin yang berusaha melihat bagian dalam mulut Lana, mungkin Lana akan tumbuh gigi jadi dia merasa tak nyaman. ''Enggak juga.'' gumam Selin ketika tak melihat ada gusi yang menonjol.
''Kamu kenapa nak? jangan bikin mami khawatir sayang...'' ujar Selin.
❤️
Lana sama sekali tak mau lepas dari Selin juga Ardi jadi selama Selin menggendong Lana, Ardi lebih memilih menyuapkan makanan secara bergantian antara dirinya dan sang istri.
''Dedek Lana kenapa mam?'' tanya Langit.
''Gak apa-apa kak, Lana lagi manja aja sama mami.'' jawab Selin.
Tangan Selin tak sengaja menyenggol bagian paha Lana dan anak kecil itu pun menangis.
__ADS_1
''Cup...cup...cup...ada apa sayang kok malah nangis.'' kata Selin berusaha menenangkan sang putri.
Di tepuk-tepuknya paha Lana secara perlahan, bukannya diam tapi malah semakin kencang menangisinya.
Padahal biasanya tak seperti ini jadi membuat Selin begitu penasaran.
''Ya ampun.'' kata Selin.
''Ada apa sayang?'' tanya Ardi.
''Paha Lana ada yang memar biru-biru mas.'' kata Selin.
Untuk mengetahui penyebab sang putri menangis, Selin menyentuh bagian yang terlihat membiru dan benar saja Lana menangis lagi.
''Ini sakit ya sayang...maafkan mami ya...mami gak tau.'' kata Selin. ''Bik Yanti tolong panggilkan Desi.'' pinta Selin.
''Baik nyonya.'' jawabnya.
Tap
Tap
Tap
''Desi, ini kenapa paha anak saja memar begini?'' tanya Selin to the poin.
''Ma...maaf nyonya saya benar-benar tidak tau.'' jawab Desi.
''Huft baiklah kamu bisa kembali.'' kata Selin.
__ADS_1