
Puspa menatap datar foto usg di tangannya. Wanita itu memeriksakan diri ke dokter karena sudah tiga hari ini ia mual hebat setiap pagi.
"Anda mengalami trimester pertama nyonya. Selamat atas kehamilannya. Tolong dijaga ya karena masih muda," ujar dokter menjelaskan.
Puspa terduduk lama di kursi tunggu apotik. Ia melamun.
"Nyonya Puspa Dewi!" panggil apoteker.
Tak ada sahutan dan berdiri. Apoteker kembali menyebut nama di dalam resep. Puspa akhirnya berdiri.
Wanita itu keluar dari rumah sakit dan membawa obat dan vitamin dari dokter. Ia duduk melamun di mobil, mengusap perutnya yang masih rata. Di sana ada janin berusia lima minggu.
"Ini anak siapa?" tanyanya bingung.
Wanita itu memilih mengambil benda pipih dari tasnya. Ia menekan salah satu nomor yang selama ini bercinta dengannya, bahkan sumber uang juga berasal dari pria itu.
"Halo Beb ... aku mau bicara apa bisa?"
"Halo Puspa ... maaf, aku tak bisa. Sekarang aku diawasi oleh Kakekku!' ujar pria dari seberang telepon.
"Aku hamil sayang!" lapor Puspa.
Tampak di sana bungkam. Helaan nafas terdengar. Lalu pria itu pun mengatakan yang membuat Puspa mengumpat dan menghardiknya kasar.
"Puspa, aku tidak mau tau. Aku tak bisa menikahimu. Kakekku sudah memberikan jodoh untukku!" ujar pria itu cemas dari ujung telepon.
"Tolong mengertilah. Gugurkan atau kau rawat sendiri anak itu. Aku beri kau uang kompensasi!" ujar pria itu lagi.
"Oh ya, penthouse sudah kujual. Barang-barangmu aku titipkan di pos penjaga!" lanjutnya.
"Maaf hubungan kita sampai di sini. Bye!" sambungan terputus.
Puspa mengumpat. Ia menelepon lagi pria yang berbagi kenikmatan setiap malamnya itu. Sayang nomornya sudah tak bisa dihubungi lagi.
"Bangsat ... dasar pria tak bertanggung jawab!" makinya kasar.
Puspa memang sudah mengajukan cuti satu hari dari kantor. Lalu ia terpaksa pergi ke sebuah gedung pencakar langit. Ia mengambil barang-barang yang dibuang oleh kekasihnya yang melarikan diri itu.
Puspa mencari rumah kecil untuk ia sewa. Wanita itu harus mencari cepat agar bisa menempatkan semua barang-barangnya.
"Sewanya dua puluh juta satu tahun, ini termasuk isinya. Jadi dari semua rumah, ini sudah harga miring!" ujar pemilik.
Puspa tak peduli. Ia setuju dan membayar hunian itu selama dua tahun ke depan.
Ting! Sebuah notifikasi pesan. Beberapa nominal uang tertera di sana.
"Tiga tahun kita bersama kau hanya memberiku setengah miliar?" desisnya marah.
Puspa pun pasrah, kini ia bingung dengan kehamilannya. Sang paman pasti marah besar jika mengetahui dirinya hamil di luar nikah.
"Andi?!" sebuah rencana tiba-tiba melesat di otaknya.
Wanita itu kembali mengambil kunci mobil. Setelah mengunci rumah dan pagar. Ia membawa mobilnya ke perusahaan di mana ia bekerja.
Sampai sana, ia mencari keberadaan Andi. Pria itu tengah membersihkan ruang rapat.
__ADS_1
"Katakan aku menunggunya di kantin!' perintah Puspa pada salah satu rekan Andi.
"Baik Nona!"
Tak lama Andi datang dengan wajah sedikit takut. Jika saja Andi perawatan, pria itu tak kalah tampan dengan mantan kekasihnya yang kabur itu.
"Ayo kita menikah!" ajak Puspa langsung.
"A-apa?!" Andi terkejut.
"Kita menikah! Aku akan membayar mu ..."
"Tunggu Nona ... maksudnya bagaimana saya bisa menikahi anda?" tanya Andi bingung.
"Aku hamil Ndi!" jawab Puspa datar.
Andi diam, ia menatap wanita cantik di depannya dengan wajah yang sangat putus asa.
"Jika kau tak mau biar kugugurkan saja anak ini!" ujar Puspa lalu bangkit dari duduknya.
"Eh ... nona ... tunggu!" Andi mencekal lengan Puspa.
Wanita itu menangis, Andi memeluknya. Semua mata manusia memandang. Siapa yang tak kenal Puspa, wanita paling cantik di perusahaan itu.
"Astaga ... Andi pake pelet apa sampai bisa menaklukkan Nona Puspa?!" bisik salah satu staf karyawan di sana.
"Mau ke kost-an saya Mba?" Puspa mengangguk.
Andi menggandeng tangan Puspa, wanita itu menurut begitu saja. Entah kemana sifat arogan Puspa selama ini.
Dengan mengenakan sepeda. Pria itu mendorong kendaraan bututnya, sedang Puspa mengikuti pria itu.
"Baiklah, biar aku bonceng," suruh Andi.
Dengan takut-takut, Puspa naik dengan posisi menyamping. Ia merengkuh kuat pinggang Andi karena takut terjatuh. Butuh sepuluh menit untuk sampai kost itu.
"Masuk Nona!" ajak Andi.
Puspa masuk ia duduk sambil melihat ruangan itu. Andi memberinya air minum mineral kemasan gelas.
"Makasih," cicit Puspa.
"Nona sudah makan?" Puspa menggeleng.
Andi keluar, sedang Puspa yang merasa sedikit pusing merebahkan diri di kasur tipis milik Andi.
Andi datang membawa dua bungkus nasi Padang. Ia menatap wanita cantik yang beberapa bulan lalu memperkosanya.
"Nona, ayo makan dulu," ajaknya membangunkan Puspa.
"Pusing," rengek Puspa.
"Biarkan aku tidur ya," pintanya.
Andi tak membangunkan Puspa dan menyalakan kipas angin. Entah berapa lama, Puspa akhirnya terbangun.
__ADS_1
"Nona sudah bangun?" sebuah suara mengejutkan wanita itu.
Setelah sadar jika ia bukan ada di tempatnya. Puspa duduk sambil mengurut pelipisnya.
Ia melihat Andi. Pria itu tampak segar dengan balutan kaos dan celana pendek. Terlihat ruas otot yang melingkari lengan pria itu.
"Tampan juga," pujinya dalam hati.
"Ini makanlah dulu. Ini yang baru, yang tadi aku kasih tetangga," ujar pria itu.
"Suapin," rengekan manja terdengar dari mulut Puspa.
Andi menatap tak percaya. Pria itu selalu mendapat tatapan hinaan dari Puspa. Walau ia selalu melayani keinginan gadis itu jika sedang ingin.
"Andi!" rengek Puspa lagi.
Andi menyuapinya, Puspa makan dengan lahap. Semua makanan masuk dalam perutnya. Setelah selesai, keduanya masuk dalam keheningan.
"Nona ...."
"Aku hamil Ndi!"
Andi terdiam, ia menatap Puspa lekat.
"Anak siapa?" sebuah pertanyaan yang membuat satu titik bening jatuh dari sudut mata Puspa.
"Aku tidak tau," jawab Puspa.
"Aku tidur dengan dua pria, kau dan dia!" akunya jujur.
"Sudah lah jangan kau anggap!" putus Puspa lalu berdiri.
"Nona ... apapun itu jangan kau gugurkan janin yang tak bersalah ini!" tekan Andi.
"Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya, aku akan merawatnya sendiri!" ujar Puspa yakin.
Wanita itu telah lama pergi. Andi duduk termenung di kasur busa tipisnya. Pikirannya begitu gelisah. Ada satu keganjalan dalam hati pria itu.
"Bagaimana jika itu adalah darah dagingku?" tanyanya sendiri ketakutan.
'Aku harus bertanggung jawab!" tekadnya.
Pagi menjelang, Puspa bekerja seperti biasanya. Ia tetap anggun dan cantik. Namun ada perubahan besar terjadi pada wanita itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hardi bingung.
"Maksudnya?" tanya Puspa bingung.
"Ah ... tidak apa-apa. Ini bagus sekali, aku harap kau selamanya bersikap manis dan profesional seperti ini!' ujar Hardi tegas.
Puspa mengangguk, wanita itu mengusap pelan perutnya. Ketika lima bulan mendatang perutnya akan kelihatan. Ia akan mundur dari perusahaan itu dan pindah ke sebuah kota kecil dan hidup baru bersama janin yang akan ia lahirkan nanti
Bersambung.
Wah ... Puspa?
__ADS_1
next?