
Usai cukuran si kembar. Aminah masih menginap di rumah putra dan menantunya.
Rando kembali ke kampung setelah Hafsah sudah pulih dan kembali mengajar. Wanita itu mampu mengurus tiga anak dan satu mertua.
"Sayang, biar aku yang urus ibu ya," ujar sang suami.
Noval memandikan ibunya. Pria itu memang suka membantu sang istri agar tak terlalu repot.
"Ibu mau pulang," ujar Aminah.
Noval menatap mata lamur ibunya. Muka yang keriput dan rambut yang memutih. Kecantikan sang ibu tergerus usia.
"Bu,"
"Ibu ingin pulang. Ibu ingin dekat dengan ayahmu," pinta sang ibu lirih.
Noval meletakkan kepalanya di pangkuan Aminah. Wanita itu membelai kepala putra satu-satunya.
"Bu ... tinggallah bersama kami di sini ya. Biar kami mengurusi ibu," pinta Noval.
"Maaf nak ...."
"Ibu mau pulang. Memang rumah kamu enak dan adem untuk ditempati. Tetapi, di sana ibu dilahirkan, ibu juga ingin mati di sana," jelasnya lirih.
"Bu ...."
"Nak ... ibu mohon. Ibu sudah panggil Pak Totok lagi. Ibu juga sudah memindahkan Anida ke rumah teman ibu untuk bekerja di sana," jelas Aminah lagi.
Noval tak bisa merayu ibunya. Ia pun mengangguk. Kemudian Aminah meminta Noval membereskan pakaiannya.
Usai makan malam, Hafsah juga merayu ibu mertuanya untuk tetap tinggal.
"Ibu mau di kampung nak," ujar wanita itu bersikeras.
Hafsah tak bisa memaksa sang mertua untuk tinggal. Totok datang pagi buta.
Jam sepuluh, mobil itu pergi meninggalkan halaman pesantren. Noval menghela napas panjang.
Butuh dua jam perjalanan untuk sampai kampung halamannya.
"Ibu pulang!" seru Adis, salah satu karyawan Aminah.
Leli dan salah satu pembantu menolong Aminah. Leli membawa tas majikannya. Wanita itu masih malu dengan yang dilakukan putrinya.
"Ibu mau istirahat dulu ya," ujar Aminah.
Tiga hari kepulangan Aminah. Hafsah tengah menyusui putranya Akmar. Ponselnya berdering, di sana ada nama "Ibu" di layar.
"Assalamualaikum Bu ...."
"......!"
"Innalilahi, ibu masuk rumah sakit?" pekik Hafsah tak percaya.
"......!"
"Iya Dis, makasih udah kasih tau!"
Hafsah menutup sambungan ponselnya. Wanita itu menenangkan Akmar yang sempat rewel akibat dia berteriak tadi.
Noval masih mengajar di kelas satu. Pria itu jadi tenaga pengajar.
Satu jam kemudian, Noval pun pulang ke rumah. Ia bersama putrinya.
"Assalamualaikum!" seru Visyah ketika masuk.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sambut Hafsah.
Ia mencium punggung tangan suaminya. Lalu mencium putrinya. Noval menatap wajah cemas sang istri.
"Sayang?"
"Bang, ibu ...."
__ADS_1
"Ada apa dengan ibu?" tanya Noval mulai tak enak perasaan.
"Ibu dirawat di rumah sakit tadi pagi. Ibu kena stroke bang," jawab Hafsah sedih.
"Umi nenek kenapa?" tanya Visyah sedih.
"Nenek sakit sayang," jawab Hafsah.
'Kita ke sana Sah!' Hafsah mengangguk.
"Tapi pesantren?"
"Aku akan serahkan pada ustadzah Safeera. Hanya beliau yang aku percaya mengurus pesantren ini," ujar Hafsah lagi.
Noval mengangguk, Visyah masih paud. Jadi tak ada keharusan ia bersekolah. Noval bisa menitipkan putrinya belajar bersama kakeknya, Rando.
Setelah penyerahan jabatan sementara. Kini mereka akan pergi ke kampung di mana Hafsah dan Noval lahir.
"Ustazah saya titip pesantren ya," ujar Hafsah pamit pada Safeera.
"Iya Bu. Hati-hati di jalan. Semoga ibu Aminah cepat sembuh, syafakillah buat beliau,"
"Aamiin ya rabbal alaamin, terima kasih doanya Bu," ujar Hafsah.
Rumah Noval terkunci rapat. Kendaraan sedang dengan berisi dua orang dewasa dan tiga anak di dalamnya.
Hafsah membeli kursi khusus untuk bayinya. Visyah sengaja didudukkan bersama ayahnya. Karena dua bayi belum bisa mengurus dirinya sendiri.
Dua jam setengah perjalanan karena sempat macet akibat pasar tumpah. Noval memasuki halaman rumah ibunya.
"Nak Noval!" seorang pria menyambutnya.
Kening Noval berkerut. Ia sudah lupa siapa-siapa yang tinggal bersama ibunya.
"Aku Hudni Ahmad, paman dari pihak ibumu," ujar pria itu memperkenalkan diri.
Noval hanya mengangguk, ia tak pernah mendengar ibunya menyebut pria itu sebagai saudaranya.
"Ini kenalkan Aldila, putri paman," ujar pria itu memperkenalkan seorang gadis manis berhijab lebar.
"Istri paman sedang menunggui ibumu di rumah sakit," jelas pria itu lagi.
"Kamar tamu sudah dibersihkan yah ...," ujar Aldila memberitahu.
"Mari Nak ...," ajak pria itu.
"Sejak kapan aku tidur di ruang tamu?" tanya Noval dingin.
Hudni mematung, tentu ia tak memiliki hak untuk mengatur Noval sebagai putra tunggal dari ibunya Aminah.
"Aku tidur di kamarku sendiri!" tekan pria itu.
"Tapi Hafsah ...."
"Hafsah istriku!"
"Bang," Hafsah menenangkan suaminya.
Hudni terdiam, ia tentu tak bisa melarang Noval membawa istrinya ke kamar pribadi miliknya sendiri.
Tak lama, Noval pun keluar dari kamar. Ia akan pergi ke rumah sakit menjenguk ibunya.
"Nak mau kemana?" tanya Hudni mencegah kepergian Noval.
'Ke rumah sakit ...."
"Tidak perlu nak. Di sana banyak dokter dan ada bibimu yang ....."
"Anda ini siapa melarang-larang saya pergi?" desis Noval tak suka.
"Jam besuk sudah lewat ...."
"Aku tak peduli!" sentak Noval.
__ADS_1
"Jika perlu aku usir perempuan yang menunggui ibuku!" lanjutnya menatap tajam pria paruh baya di depannya.
Hudni hanya mendengkus kesal. Noval sudah beranjak di sana. Lalu ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
"Menantu apaan!" decaknya kesal.
"Ayah,"
"Diam kau!" bentaknya pada sang putri.
"Jangan banyak bicara. Aku bisa lepas kendali jika kau kebanyakan bicara!" lanjutnya setengah mengancam.
Aldila terdiam, ia baru bertemu dengan Noval. Hatinya sudah terpaut pada pria yang telah memiliki istri itu.
"Bang Noval sudah beristri yah," ujarnya lirih.
"Aku bilang diam Dila!" bentak Hudni lagi.
"Kau diam dan nikmati saja peranmu!" lanjutnya sinis.
"Toh kamu juga yang hidupnya enak nanti!"
Sementara itu, Noval sudah sampai di rumah sakit. Pria itu datang dan langsung diberi akses masuk. Satu yang tidak banyak orang tau.
Noval membangun rumah sakit di daerahnya. Walau ia tidak memiliki basis ilmu kesehatan. Tetapi nama rumah sakit itu adalah. Rumah sakit Prambudi Djaya.
"Di mana ibu Aminah Alfiansyah berada?' tanya pria bertubuh tinggi itu.
"Ada di ruangan vvip tuan!" jawab manager rumah sakit.
Semua staf membungkuk hormat. Pria itu telah memberitahu kedatangannya pada pihak manager rumah sakit.
"Ini ruangan ibu Aminah Alfiansyah," ujar manager lalu membuka pintu.
"Assalamualaikum, Bu," ujar Noval memberi salam.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sebuah suara lain yang menyahuti salam Noval.
"Eh ... kok langsung ke sini?" sebuah pertanyaan bodoh terlontar dari bibir wanita itu.
"Bibi pulang saja. Biar saya yang menjaga ibu saya," suruh Noval tak mau basa-basi.
"Tapi suami saya ...."
"Pergi!" tekan Noval mengusir perempuan itu.
"Saya ....."
"Manager!" panggil Noval.
'Usir perempuan ini dan jangan biarkan dia masuk ke ruangan ini!" perintahnya.
"Mari Bu," ajak manager itu.
Sang perempuan tak bisa berkutik. Ia pun pergi digiring oleh pihak rumah sakit.
Sampai rumah sang suami memarahi istrinya.
"Aku mesti apa Yah!' sentak istri marah.
"Apa mau aku diseret keluar ruangan?" desisnya menatap suaminya.
"Ayah ... tenanglah ... jika ayah terlalu memaksa. Lama-lama Bang Noval malah mengusir kita dari rumah ini!" peringat Aldila.
"Diam kamu!" bentak Hudni marah.
"Sudah Nak, kita biarkan ayahmu dengan keegoisannya!" ajak sang wanita.
"Halah ... munafik kalian semua!" hina pria itu pada dua perempuan yang meninggalkannya di kamar.
Bersambung.
Eh ... ada apa nih?
__ADS_1
next?