
Bulan yang dinanti tiba. Kini Hafsah berada di sebuah kamar operasi. Wanita itu akan menjalani operasi caesar untuk mengeluarkan dua janin dalam perutnya.
Visyah berada bersama sang kakek Rando. Aminah kembali datang wanita itu memang sudah lebih baik.
"Apa belum selesai?" tanya wanita itu.
"Belum Bu, katanya butuh waktu karena janin sedikit terlilit tali pusat," jawab Rando menjelaskan.
Visyah tampak khusyuk berdoa. Balita itu ingin ibu dan dua adiknya selamat.
"Oh cucu nenek Sholeha ya!" puji Aminah.
Wanita itu ditemani oleh Anida. Gadis itu berhasil membujuk majikan ibunya. Aminah tentu butuh orang yang mengurusinya.
Tiga bulan berlalu memang ia ikut pulang bersama sang majikan. Selama tiga bulan di rumah Aminah. Anida membuktikan kinerjanya.
Gadis itu merawat Aminah dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Ia juga kini telah mengenakan hijab lebar. Dari tadi kepalanya tertunduk.
Dua jam berlalu, dua bayi telah lahir. Noval dan Hafsah dipercayakan dengan kembar sepasang.
"Mashaallah cakep-cakepnya cucu nenek!" puji Aminah melihat cucunya.
"Selamat ya sayang," ujarnya mencium sang menantu.
"Apa sudah diberi nama?" tanyanya kemudian.
"Belum Bu, apa ibu saja yang beri nama?" pinta Hafsah sambil menjawab pertanyaan ibunya.
"Srikandi dan Sadewa!" ujar Aminah.
"Anggita Srikandi dan Novandra Sadewa!" sahut Noval.
Aminah mengangguk, sebuah nama unik disematkan pada dua bayi. Hafsah setuju walau ia ingin ada nama nuansa islami.
"Akram Novandra Sadewa, Anggita Khalisa Srikandi!" sahut Hafsah menambah nama untuk dua anaknya.
"Nama yang bagus sayang," ujar Noval setuju.
Aminah juga mengangguk, ia setuju nama-nama itu untuk cucu kembarnya.
"Ibu, yuk pulang. Ibu harus istirahat!' ajak Rando.
Aminah mengangguk, ia pun pergi bersama Anida dan Rando.
'Bang, Anida ikut ibu?"
Noval menghela napas panjang lalu mengangguk mengiyakan.
"Mungkin dia sudah berubah bang," Noval mengendik bahu.
"Aku tetap tak mau ada perempuan lain di rumah kecuali dirimu dan dua putri kita ini!" ujar Noval bersikeras.
"Bang ...."
"Sah ... jangan uji keimananku yang setipis tisu ini. Aku tak mau tergoyahkan, aku laki-laki normal sayang!" protes Noval cepat.
"Apa Abang kepikiran untuk berkhianat?" tanya Hafsah.
"Tidak ... tapi aku takut dengan rayuan setan sayang ... tolong jangan uji keimananku!" jawab Noval memohon.
Hafsah mengangguk, ia tentu tak mau bermain api. Sang suami mengatakan keberatannya.
__ADS_1
Dua hari di rumah sakit. Hafsah boleh pulang. Visyah menyambut dua adiknya dengan gembira.
"Adek ... lucunya!" ia mencium gemas dua bayi dalam boks.
"Dede Akram dan Dede Anggi!"
Kesenangan Visyah hanya sebentar. Tak lama balita itu mulai cemburu dengan dua adik yang baru berusia dua hari itu.
"Umi nggak sayang Isa lagi!" rengeknya.
"Sayang," Noval mengambil alih sang putri.
"Ayah ... umi masih sayang kan ke Isa?"
"Tentu sayang. Kenapa bilang umi nggak sayang?" tanya Noval.
Pria itu merebahkan diri di sisi sang putri. Hafsah hanya bisa tersenyum mendengar keluhan putrinya itu.
"Dede bayi kan masih butuh Umi. Mereka belum bisa sehebat Isa," ujar Noval memberi pengertian.
"Iya sayang, nanti kalau dede sudah besar, mereka juga sama hebat kayak kamu," sambung Hafsah.
Malam berganti hari. Ternyata, Visyah makin rewel, Noval membantu sebisanya. Ia juga harus bekerja mengajar menggantikan sang istri.
"Paklik juga harus pulang. Pesantren di sana kurang pengurus," ujar Rando tak enak hati.
"Paklik," rengek Noval kualahan.
Aminah tak tega melihat menantunya yang kerepotan. Mengasuh tiga anak yang masih kecil bahkan si kembar baru lahir tiga hari lalu.
"Nak?"
"Nggak apa-apa Bu. Di luar sana ada ibu yang bisa membesarkan sepuluh anak dengan baik!" ujar Hafsah tak masalah.
"Kasihan Bu Hafsah ya Bu," ujarnya.
"Andai ada yang bantuin," lanjutnya.
"Bibi tukang bersih-bersih juga hanya datang pagi-pagi pulang sore," lanjutnya.
"Iya, tapi mau diapain lagi. Ya mau mereka begitu," sahut Aminah.
"Apa nggak kasihan sama Bang Noval Bu?" tanya Anida.
"Kasihan loh saya liatnya. Pulang ngajar mestinya beliau istirahat. Tapi malah dipusingkan dengan segudang pekerjaan rumah yang mestinya tugas istri!" lanjutnya lagi mulai menghasut.
Aminah diam, ia juga kasihan melihat putranya yang turun tangan mengurus pekerjaan rumah. Terkadang pria itu membantu istri menenangkan Visyah yang tantrum karena iri dengan dua adiknya.
"Saya bisa bantuin Bu ...."
"Ya sudah bantu sana. Selagi kita ada di sini. Jangan kau diam saja!" sahut Aminah.
Anida berdecak pelan, bukan itu maksudnya. Ia ingin mengambil alih semua pekerjaan dengan beda status di sana.
"Andai Pak Noval boleh punya dua istri. Jadi istri satunya bisa membantu," dumalnya pelan.
Aminah pura-pura tak mendengar dumalan Anida. Pembantunya itu memang berani mengungkapkan pendapatnya.
'Apa iya Noval harus menikah lagi untuk membantu Hafsah?' tanyanya dalam hati.
"Tapi masa iya wanita dinikahi hanya lalu dijadikan pembantu?' tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Anida mendumal dalam hati. Ia memang punya niat mendekati Aminah. Keinginannya untuk menjerat Noval.
'Susah banget mau jadi kaya!"
Noval pulang, dengan sigap Anida membuatkan kopi hitam untuk pria itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Noval dengan nada tak suka.
"Saya ... saya ...."
"Kau minum itu kopi buatanmu!' suruh Noval galak.
"Aku hanya minum yang dibuat istriku!" tekannya.
"Tapi Bu Hafsah sedang istirahat, dia dari tadi sudah cape ...."
"Saya tidak menyuruhmu perhatian!' sentak Noval.
"Saya bisa buat sendiri dan tak butuh kamu yang buatkan!" lanjutnya dengan tatapan tajam.
Anida merunduk takut. Gadis itu mundur dengan mata menggenang. Hatinya seperti teriris sembilu akan perkataan pria yang ia sukai itu.
"Urus ibuku Nida, bukankah itu tugasmu!" tekan Noval setengah mengusir.
Anida buru-buru pergi, gadis itu tak tahan. Ia pergi ke kamarnya dan menangis di sana.
Malam menjelang, Aminah kecarian Anida.
"Nida ... Anida!" panggilnya.
"Bu ... jangan teriak-teriak, nanti tenggorokan ibu sakit!" ujar Hafsah perhatian.
"Ibu mau apa?" tanyanya kemudian.
"Popokku penuh," cicit Aminah malu.
"Sini Bu. Biar saya bersihkan. Ibu juga belum mandi kan?' Aminah mengangguk.
Hafsah mengurusi mertuanya. Wanita itu memandikan Aminah dengan air hangat. Mestinya sedari sore Aminah sudah mandi. Tetapi Anida tak keluar dari kamarnya.
"Sudah wangi Bu," ujar Hafsah mencium ibunya sayang.
"Anak-anak gimana?" tanya Aminah.
"Anak-anak akan diam di tangan ayahnya Bu. Tinggal serahkan susu dalam botol. Mereka diam," jawab Hafsah tersenyum.
"Visyah masih minum di botol?" Hafsah mengangguk lagi-lagi tersenyum.
Ia pun merebahkan diri di kasur. Hafsah menyelimutinya dan mencium keningnya perlahan.
"Selamat tidur Bu, selamat malam," ujarnya lalu mendoakan mertuanya dengan berbisik.
Sepeninggalan Hafsah, Aminah termenung. Sepanjang hari ia tak melihat sang menantu kerepotan walau putranya ikut membantu.
"Apa Hafsah butuh teman untuk membantunya?" tanyanya dalam hati.
"Sepertinya tidak?" lanjutnya menggeleng.
Bersambung.
Nggak butuh Bu ... anak-anak rewel mah biasa
__ADS_1
next?