
Malam buta, Hafsah tiba-tiba merasa perutnya mulai mulas. Ia seperti ingin hendak buang air besar.
Perlahan ia turun dari ranjang. Noval masih terlelap, ia baru pulang sekitar empat jam yang lalu. Sekarang baru pukul 01.00. masih terlalu dini membangunkan suaminya untuk tahajud.
"Ugghh!" keluh Hafsah pelan.
Ia mengelus perutnya, beristighfar pelan. Ketika mendudukkannya di closed, wanita itu coba mengejan.
"Ugghhh!"
Keringat mengucur, ia terengah. Sedang perutnya makin lama makin mulas tapi kotoran seperti enggan keluar dan begitu keras.
"Subhanallah ... apa aku mau melahirkan Ya Allah?" tanyanya pelan.
Perlahan sakit di perutnya sedikit menghilang. Ia mengguyur area bawahnya dan membersihkannya.
Perlahan ia bangkit kembali, perutnya kembali berkontraksi.
"Aarrggh!" pekiknya. "Ya Allah!"
Hafsah menahan bobot tubuhnya dengan memegangi dinding kamar mandi. Ia memegang perut bawah dan menyilangkan kakinya.
'Ya Allah!" pekiknya lagi.
Kontraksi makin lama makin cepat dengan jarak yang pendek-pendek. Hafsah makin yakin jika dirinya hendak melahirkan sebentar lagi.
Ia mencoba membuka pintu kamar mandi. Pandangannya mulai berkabut, sebisa mungkin ia menenangkan diri.
"Bang ...," panggilnya lirih.
Dengkuran terdengar dari mulut Noval. Pria itu makin sibuk setelah menempati posisi presiden direktur di perusahaan Hardianto. Semakin tinggi jabatannya, pria itu semakin sibuk terutama banyaknya kebocoran yang ditemukan oleh dirinya.
"Bang!" panggil Hafsah dengan nada keras.
"Huuum!" gumam Noval masih mengantuk.
"Bang ... bangun ... aku mau melahirkan!" teriak Hafsah sekuat tenaga.
"Hmmm ... sama ibu aja ya!" ujar Noval tak membuka matanya.
"Abang!" teriak Hafsah sekali lagi.
"Sayang ... mengertilah ... aku ngantuk!" seru Noval masih memejamkan matanya.
Hafsah terdiam, ia tak menyangka perlakuan suaminya. Semenjak naik jabatan, Noval sedikit tak memperhatikan istrinya. Kesibukan menyita dirinya hingga sampai kadang lupa mencium kening istrinya setiap pergi ke kantor.
"Bang ... tolong ... anakmu mau lahir ... hiks ... hiks!"
Noval seperti tak sadar diri. Pria itu tetap memejamkan matanya. Rupanya kantuknya sangat berat dan ia begitu lelah sekali.
Hafsah mencoba keluar, ia akan membangunkan Aminah mertuanya. Wanita tua itu selalu menenangkan Hafsah jika mengadu perbuatan Noval yang makin lama makin sibuk.
"Bu ... ibu!" panggilnya lemah.
Perutnya makin melilit, janji Noval yang menjadi suami siaga sudah tak ditepati. Hafsah yang mandiri mengenakkan pria itu.
"Bu ...!"
Dengan sisa tenaga, Hafsah mengetuk pintu kamar mertuanya. Semakin lama semakin pelan. Perutnya sudah sakit, tulang pinggangnya mau patah, bibir bawahnya mulai panas.
Serrrr! Ketuban pecah, Hafsah bertakbir pelan. Rupanya mertuanya juga terlelap hingga tak bisa mendengar suaranya.
__ADS_1
Semestinya ia melahirkan tiga hari lagi. Tetapi, rupanya sang jabang bayi sudah mau keluar sendiri.
Hafsah mengerahkan seluruh tenaganya. Ia mengambil gawainya dan menelepon bidan setempat. Beruntung, Hafsah memang memeriksakan kandungannya di sana.
"Jadi ibu tak bisa ke sini?" teriak bidan dari seberang telepon.
'Iya Bu ... tolong ... ini sudah pecah ketuban lima menit la ... aarrggh ...!"
Teriakan Hafsah mestinya mengagetkan semua orang. Tetapi sepertinya, setan menutup semua telinga. Hafsah berteriak kencang. Bidan di sana meminta Hafsah berbaring di sofa.
Hafsah menggunakan seluruh kekuatannya. Ia membaringkan diri di sofa.
"Ah ... nanti kalo bidan datang nggak bisa buka pintu!" gumamnya.
Pertolongan Allah itu memang ada. Hafsah mampu membuka pintu pagar dan juga pintu rumahnya lebar-lebar.
"Huuuffhhh! Huuuffhhh!" Hafsah meniup-niup, ia mempraktikkan salah satu metode melahirkan yang paling mudah.
"Eergghhh!" ejannya.
"Huuffhh ... huufffh ... huuffhh!!" embusnya lagi.
Sementara di kamar, Noval membalikkan tubuh, tangannya direntangkan hendak memeluk istrinya.
"Sayang?!" panggilnya.
Noval meraba sisi di mana Hafsah tidur tampak kosong. Pria itu mengernyitkan keningnya.
"Sayang!' panggilnya lagi.
Ia pun bangun, melihat kamar mandi yang terbuka dan menyala lampunya.
Tak ada sahutan, hingga ....
"Aarrggh!" terdengar teriakan di lantai ruang tamu.
Noval langsung bergegas keluar tanpa memperhatikan dirinya. Di sana ia melihat bagaimana bidan tengah menenangkan Hafsah.
"Tiup Bu ... tiup sayang!" pinta wanita itu.
"Huufhhh ... huuffhh!"
Aminah keluar kamar. Wanita itu kaget, ia berlari, tetapi lantai basah karena air ketuban membuat ia terpeleset.
"Ibu!" teriak Noval.
Pria itu menolong ibunya. Ada beberapa bercak darah di sana. Hafsah masih berjuang untuk mengeluarkan janin yang ada dalam perutnya.
"Ibu tak apa! Kau ganti baju sana!" Noval kaget.
Aminah bergegas mendekati Bidan dan Hafsah.
"Sayang ... sayang ... maafkan ibu ... maafkan ibu!" ujarnya menyesal.
Noval masih terpaku, Aminah yang melihatnya langsung marah besar. Pria itu segara berganti pakaian dan menuju ruang tamu.
"Oeeekk!" lahirlah seorang bayi cantik.
Sesuai perkiraan Noval jika istrinya akan melahirkan seorang putri.
Satu jam kelahiran, Hafsah sudah ada di kamarnya. Bidan sampai salut akan kekuatan wanita itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Bu ... jika wanita lain mungkin akan mendapat komplikasi. Tetapi, rupanya baik ibu dan jabang bayi sangat kuat," jelas bidan salut.
Hafsah tersenyum, kini putrinya ada dalam pelukannya, ia membelakangi sang suami.
"Sayang ...," panggil Noval dengan suara menyesal.
Aminah datang, ia menghampiri menantunya. Ia juga menyesal dengan apa yang terjadi. Lahirnya jabang bayi diluar prediksi.
"Nak ... ibu minta maaf," ujar Aminah lirih.
"Mestinya kami tau jika jabang bayi bisa keluar kapanpun. Tapi kami abai dan membiarkanmu lahir sendiri," lanjutnya.
Hafsah menghapus pelan air matanya. Ia memang sangat kecewa, terlebih pada suaminya.
"Sayang ... tolong mengertilah ... akhir-akhir ini perusahaan sedang dalam masalah besar. Pak Hardianto menyerahkan seluruh pekerjaan padaku!" ujar Noval meminta pengertian.
"Aku begini untuk masa depan kita dan anak-anak kita nantinya!" lanjutnya merasa tak bersalah.
"Tapi mestinya Abang tau jika sudah waktunya aku melahirkan. Abang janji mau cuti seminggu sebelum melahirkan!" ujar Hafsah menahan isaknya.
"Nak ... mengertilah, ibu bukan membela suamimu. Tapi tanggung jawabnya sebagai pimpinan di atas segalanya. Nasib ratusan pekerja ada padanya!" ujar Aminah memberi pengertian pada menantunya.
"Kalau kamu memang keberatan ... sebaiknya aku resign saja!" sahut Noval ketus.
"Nak .. jangan mengambil keputusan secara emosi!" peringat Aminah.
Hafsah diam, ia masih lelah setelah berjuang selama nyaris tiga jam melahirkan bayinya.
Aminah mengusap peluh yang menetes di kening Hafsah. Menantunya itu bergeming.
"Nak, ibu harap kamu tak egois," ujarnya lalu mengecup kening Hafsah.
Ia pun keluar, sedang Noval memilih membaringkan tubuhnya lagi. Ia belum mengadzani putrinya.
"Bang dede belum diadzani," ujar Hafsah lirih.
"Oh iya ... lupa," ujar Noval.
Sungguh hancur hati Hafshah. Noval mengadzani putrinya, setelah itu ia kembali berbaring di sisi istrinya.
"Cobalah tenang, aku sedikit pusing!" ujarnya lalu membalikkan tubuhnya.
Hafsah mengigit sprei, ia menahan tangisnya. Masih berasa di bawah sana rasa sakit akibat melahirkan. Suaminya malah meminta ia untuk tidak berisik.
Perlahan ia mengucap istighfar, wanita itu berpikir cepat. Pagi menjelang, Hafsah sudah melakukan kegiatannya.
Noval sedikit rewel jika makan bukan dari buatan tangan istrinya. Walau masih dalam keadaan sakit. Hafsah melayani suaminya dengan baik.
Tak ada pembelaan keluar dari mulut Aminah. Wanita itu masih terus meminta Hafsah bersabar.
"Besok ibu pulang ya," ujarnya pamit.
Hafsah menatap mertuanya dengan pandangan berkaca-kaca. Sungguh ia seperti tak dianggap sama sekali.
"Iya Bu!' ujarnya lalu mengangguk.
bersambung.
Lah ... kok begini? yang sabar ya Hafsah!
next?
__ADS_1