
"Apa katamu?!" teriak Aminah berang.
"Bu, istighfar!' peringat Hafsah.
Semua terkejut mendengar perkataan Indah. Hudni menutup matanya.
"Ibu hanya bicara asal ... dia tak bersungguh-sungguh. Mana mungkin begitu. Iya kan Bu?"
Aldila mencoba meredam situasi. Indah merasa tak bersalah. Ia duduk dengan tenang.
"Saya perlu ikut campur. Hafsah adalah keponakan saya. Jadi saya juga melarang Noval untuk menikah dan memiliki istri lain. Selain Hafsah tak memiliki kekurangan apapun untuk diduakan!" jelas Rando bijak.
"Berarti kamu menentang poligami dong?!' sengit Hudni.
"Kamu menentang syariat Islam ...."
"Saya tidak menentang poligami. Bagian mana saya menentang itu?" tanya Rando.
"Beberapa alim ulama telah menyepakati beberapa hal tentang bolehnya pria berpoligami. Selain adil, adanya kerelaan bagi keduanya untuk melakukan poligami. Lagi pula, negara kita juga punya landasan hukum untuk melakukan pernikahan lebih dari satu istri!" terang Rando lagi.
"Sekarang saya bertanya pada Noval. Apa kamu mau untuk berpoligami?" tanya Rando.
"Tidak!" jawab Noval tegas.
"Bang ... apa kurangnya aku!" seru Aldila tak terima.
"Aku juga guru ngaji di kampungku ... aku sama hebatnya dengan istrimu. Bukankah Rasulullah menikahi wanita yang paham ilmu ...."
"Yang pastinya aku bukan Rasulullah!" sambar Noval memotong pembicaraan Aldila.
"Aku tak akan bisa adil. Aku tak akan bisa ...."
"Abang belum coba. Bagaimana bisa mengatakan hal itu?" potong Aldila lagi gusar.
"Aku tidak mau Aldila!" bentak Noval.
"Bang!" peringat Hafsah.
"Jikapun aku mau berpoligami. Aku tak mau menikahimu!" tekan Noval lagi.
"Aku tak mau menikah dengan perempuan serakah dan tak tau malu sepertimu!" lanjutnya kasar.
"Saya akan bawa ini ke jalur hukum!" ancam Hudni tiba-tiba.
"Silahkan!" seru Noval.
"Saya akan mengancam balik anda dengan perbuatan tak menyenangkan!" lanjutnya emosi.
"Sekarang saya tak mau tau. Kalian pergi dari rumah ibu saya!" usirnya kemudian.
"Aku punya hak ...."
"Rumah dan seluruh harta di sini adalah milik ayahku!" bentak Noval lagi.
__ADS_1
"Hanya aku pewaris satu-satunya!' lanjutnya menatap sinis pada pria paruh baya yang menunduk.
"Hafsah ... kenapa kau hanya diam. Bukankah kau juga wanita!" teriak Aldila kalap.
"Maaf, aku juga tak mau dimadu tanpa alasan jelas!" ujar Hafsah ringan.
Noval memaksa Hudni pergi bersama istri dan anaknya. Janji yang diucapkan oleh mendiang Alfiansyah memang tidak ada. Pria itu hanya mengarang.
Adis bersorak girang melihat keluarga toxic itu pergi. Ia sepertinya tak perlu memberitahu perihal video yang direkamnya. Ia hendak menghapus.
"Ah ... simpen aja. Siapa tau nanti sangat berguna!" gumamnya lalu pergi ke dapur belakang.
Aminah memeluk Hafsah. Ia benar-benar minta maaf pada menantu pilihannya itu.
"Maaf, ibu terlalu bodoh. Ibu tak sadar jika mereka ternyata punya maksud terselubung," ujarnya penuh sesal.
"Tidak apa-apa Bu. Alhamdulillah semua masalah cepat selesai," ujar Hafsah bernapas lega.
Noval memeluk paman dari istrinya itu. Ia sangat berterima kasih pada Rando yang memberinya solusi.
"Jika memang perjanjian itu ada. Aku juga pastikan kau berpisah dengan Hafsah nak," ujar Rando memberitahu.
"Paklik?"
"Paklik enggan kau menyakiti istrimu. Walau Hafsah bukan wanita sempurna. Paklik tak mau satu pria pun menyakitinya," jelas Rando tegas.
Noval mengangguk, ia berusaha untuk menetapkan hati untuk tak tergoda pada wanita manapun.
"Setia itu pilihan Nak," ujar Rando lagi sebelum pamit.
"Kenapa jadi begini Bu?" tanyanya bingung.
"Kenapa malah semua terbongkar sebelum waktunya?" tanyanya mulai kesal.
Indah diam saja. Perempuan itu juga tak percaya mulutnya bisa berucap demikian.
"Ini semua karena ibu Yah!" sahut Aldila kesal.
"Apa ... kok ibu sih!?" seru Indah tak terima.
"Iya ... ini semua karena ibu yang terlalu besar mulut!' sungut Aldila membenci sang ibu.
"Eh ...?"
"Maaf ya Bu, Pak. Kalau mau berantem tunggu di rumah aja. Jangan di mobil saya!' tegur sang supir.
Semua diam, perjalanan masih dua jam lagi. Supir mendumal dalam hati. Andai jika tidak tergiur dengan bayaran tinggi. Ia tak mau mengantarkan keluarga yang mengeluarkan aura negatif ini.
Dua jam berlalu, mereka pun sampai pada rumah petak. Hudni mengambil kunci dan membuka pintu. Indah dan Aldila menarik koper dan tas-tas mereka ke dalam rumah.
Ruangan ukuran 4x6, hanya berjarak setengah meter saja sudah terlihat dapur yang sedikit berdebu.
"Ah ... andai tak terbongkar. Kita sudah hidup enak!' dumal Aldila duduk berselonjor di lantai.
__ADS_1
Hanya ada tikar plastik yang menghampar. Hanya ada satu kamar di sana. Tempat tidur Hudni dan istrinya. Sedang Aldila akan menggelar kasur tipis dan tidur di ruangan tamu nantinya.
"Ya mau diapain lagi. Sudah terjadi," ketus Indah.
Perempuan itu memilih memasak untuk makan malam mereka. Lagi-lagi Aminah masih baik hati memberi uang banyak padanya. Tetapi Indah memilih bungkam dan tak memberitahu perihal uang itu pada suami dan putrinya.
"Lalu bagaimana dengan hidup kita nanti. Rumah ini harus dibayar bulan depan!' keluh Hudni.
Indah memegang leher. Di sana ada kalung peninggalan mendiang ibunya. Wanita itu hanya diam.
'Maaf, aku harap kalian mau berubah demi kehidupan kita ke depan. Aku tak mau hidup dengan berbohong. Terlebih Mba Aminah orang baik,' monolognya dalam hati.
"Dila kan bisa ngajar ngaji. Gajinya lumayan bisa untuk kebutuhannya sendiri. Nanti, ibu mau jualan di depan kontrakan ini!" ujarnya memberitahu.
Usai menekan tombol cook pada mesin penanak nasi. Indah mendekat pada suami dan putrinya.
"Mas, Dila. Sungguh, kita tak akan pernah kecukupan jika hidup kita membohongi orang. Mungkin, tadi Allah membuka mulut ibu untuk berkata jujur pada mereka!" ujarnya.
Hudni dan Dila menunduk. Mereka melupakan jika adanya sang maha mengetahui yang terus mengawasi mereka.
"Andai jika tak terungkap sekarang. Akan lebih buruk jika ketahuan belakangan. Anak kita jadi janda, hubungan kita dengan Mba Aminah juga akan berantakan," lanjut Indah memberi pengertian.
"Tapi setidaknya Dila dapat uang banyak ...."
"Uang ... uang ... uang terus dipikiran kalian!" sentak Indah kesal.
"Memang kita sekarang butuh uang. Tapi apa Mas tak berpikir. Kita begini salah siapa?" tanya Indah lagi sangat kesal pada suaminya.
"Jangan ingatkan aku ... katamu kau tidak akan ...."
"Iya mas. Aku memang tidak akan mengingat kesalahanmu. Jika aku ingat, aku akan meninggalkan kalian dari dulu!" senggrang Indah langsung.
"Ibu mau ninggalin aku?" tanya Dila.
"Kau kan juga nggak mau pisah sama ayahmu?!" Aldila pun diam.
"Mas ... ayo berubah. Mas juga punya ijasah untuk mengajar. Di sini ada madrasah, Ayah bisa mengajar di sana. Tidak apa-apa gajinya kecil. Yang penting ada pemasukan," lanjut Indah sekali lagi memberi pengertian.
"Apa kau tak malu miskin?"
"Aku lebih malu jika kaya karena mencuri atau membohongi orang lain!" jawab Indah tegas.
Hudni dan Aldila mengangguk, mereka mengucap hamdalah dan istighfar banyak-banyak setelah tersadar akan kesalahan mereka.
Indah tersenyum, ia memang sengaja mengikuti rencana dua orang yang paling ia sayangi itu. Tetapi, wanita itu punya trik untuk menggagalkan semuanya.
'Untung pamannya Hafsah hadir cepat. Kalau tidak ... kemungkinan pernikahan itu past terjadi dan akan lebih kacau lagi,' monolognya dalam hati dengan penuh rasa syukur.
bersambung.
"Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui,"
Q.S. Al-Hijr : 83
__ADS_1
next?