ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
NOVAL RESIGN


__ADS_3

Minggu mestinya dibuat santai oleh keluarga. Tapi tidak Noval. Pria itu harus kembali ke perusahaan karena lagi-lagi Hardi membuat janji pada kolega dari Timur Tengah.


"Abang kerja ... ini hari minggu Bang!" ujar Hafsah kesal.


"Iya sayang ... maaf ya. Abang harus lakukan ini. Abang janji ini yang terakhir!" ujar pria itu meyakinkan istrinya.


Hafsah dan Visyah menatap pria yang pergi dengan mobilnya.


"Ayah sibuk ya Ma?" tanya sang putri.


"Iya sayang. Doain ayah sehat dan bisa pulang cepet ya!' ujar Hafsah pada putrinya.


Visyah mengangguk. Hafsah menutup pintu setelah Noval menutup pagar dan menguncinya.


Noval menekan pedal gas sedikit dalam agar sampai di perusahaan dengan cepat. Hardi meneleponnya dua puluh menit sebelum kolega datang.


"Maaf Pak Noval. Kami ingin mempercepat pekerjaan ini agar bisa santai di akhir tahun!' ujar kolega itu sedikit menyesal.


Noval mengangguk, mereka berjalan menuju ruang rapat dan membicarakan poin kerjasama yang akan dilakukan oleh dua perusahaan itu.


Sedang di tempat lain Hardi tengah bermain dengan dia anaknya. Cassy sedikit kesal dengan sikap arogan suaminya itu. Tetapi, ia juga mau jika Hardi berada di rumah jika hari libur begini.


"Maaf ya Sah ... aku egois untuk kebahagiaaku sendiri," gumamnya pelan.


"Mama ... sini ma!" panggil Ardian.


Candy sudah bisa merayap, bayi cantik itu berusia enam bulan. Cassy datang dengan senyum lebar.


Sementara di hunian Noval. Hafshah mengajari putrinya huruf Hijaiyah. Visyah sangat cepat belajar. Bayi itu memang sangat pintar.


Siang hari Noval sudah selesai meeting dan berhasil menandatangani kontrak kerjasama yang saling menguntungkan. Pria itu hendak pulang. Namun dering ponselnya kembali terdengar.


"Nov ... satu kolega dari Aceh mau bertandang. Sekalian saja ya. Soalnya kan tanggung kau sudah ada di sana!" ujar Hardi.


Noval hendak menjawab, "makasih ya Nov. Assalamualaikum!"


Noval menatap ponselnya yang sudah menghitam dengan mulut ternganga. ia benar-benar tak percaya jika bossnya memanfaatkan dirinya seperti ini.


"Pak!" Luki sudah berwajah lelah.


"Kita masih ada satu kolega lagi Luk!" ujar Noval lemah.


Luki menghela napas panjang. Inge tengah berbadan dua dan sedang ngidam berat. Trimester pertama wanita itu membuatnya kepayahan.


"Inge pasti sedih saya berlama-lama di sini," keluh pria itu.


"Mau apa lagi. Kita kan jongos. Boss is always right!" ketus Noval kesal.


Akhirnya, penguasa dari Aceh datang. Mereka juga beralasan sama mengerjakan cepat agar akhir tahun bisa libur panjang.

__ADS_1


"Mereka semua bujang pak," bisik Luki.


"Nanti kalau mereka punya istri juga nggak akan seperti ini," bisik Noval.


Luki menghela nafas panjang. Pria itu telah bekerja menjadi asisten Hardi selama lima tahun. Ia tak pernah mendapatkan atasannya itu seegois saat ini.


Menjelang petang, kerjasama sudah terjalin. Noval mematikan ponselnya begitu juga Luki. Kedua pria itu sepakat tidak akan menerima pekerjaan di hari libur pekan depan.


"Biar nggak apa-apa di PHK juga. Saya sudah bekerja selama lima tahun. Pak Hardi harus bayar tunjangan saya!" gerutu Luki kesal.


"Saya sudah bekerja selama empat tahun bersama beliau. Saya rasa juga pantas mendapat itu jika di PHK!" angguk Noval setuju.


Keduanya pulang, Hardianto mencoba menghubungi dua pria itu. Sayang dua ponsel Luki dan Noval sudah mati.


"Ah ... mereka sudah mematikan ponsel mereka. Padahal aku hanya ingin mengundang mereka untuk makan malam di luar," gumamnya pelan.


"Kenapa Pa?" tanya Cassy bertanya.


"Nggak ada apa-apa Ma," jawab Hardi tentu berbohong.


Sampai di rumah, Noval benar-benar lelah. Ia sudah memutuskan untuk resign dari perusahaan yang membesarkannya itu.


"Apa nggak sayang bang?" tanya Hafsah ketika ditanya pendapatnya.


"Memang, tapi tidak sesuai dengan pekerjaan sayang. Gajiku tetap sebagai vice CEO tidak ada reward sama sekali!" keluh pria itu.


Noval akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia akan menjual hunian ini dan akan pindah ke kampung halaman.


"Aku mau jadi petani seperti mendiang ayahku," ujarnya.


"Petani itu susah loh bang!'" peringat Hafsah.


"Iya aku tau. Tapi semua pekerjaan pasti sulit, kecuali kita mau berusaha keras, semua akan kita lewati!" jawab Noval.


Hafsah diam, ia menyerahkan semua keputusan pada suaminya. Wanita itu akan mengikuti kemana pun Noval berada.


Pagi menjelang, hari Senin. Pagi-pagi Noval sudah bersiap, hari pertama kerja. Ia tak mau terjebak kemacetan panjang.


"Abang pergi ya sayang," pamitnya mencium bibir istrinya setelah ia mencium kening putrinya yang sudah terlelap.


"Hati-hati bang, jangan lupa berdoa!" ucap Hafsah.


Noval naik kendaraannya, mobil itu pun beranjak dari sana. Kali ini Hafsah menutup pintu pagar dan menguncinya dari dalam. Wanita itu akan memasak dan membawa makanan ke kantor suaminya nanti.


Sampai kantor. Noval sudah duduk di kursinya menyusun laporan. Sekretaris datang dan langsung memberi jadwal.


"Kita rapat tentang pertemuan kemarin!" ujarnya.


Rapat diundur. Noval tampak kesal begitu juga Luki. Hardianto memberitahu jika ia akan datang terlambat.

__ADS_1


"Mentang-mentang ini perusahaan istrinya!" dumal Luki mulai protes.


"Saya mau serahkan surat pengunduran diri di HRD hari ini Luk. Kamu mau ikut?" tanya Noval sekalian mengajak pria itu.


"Kau tak akan diberhentikan dari pekerjaan ini Luk!" lanjutnya memberitahu.


Luki berdecak, ia belum membuat surat pengunduran diri. Ia akan melakukannya besok.


"Inge nanya sih. Aku kerja apa kalau berhenti," celetuknya.


"Kau jawab apa?" tanya Noval.


"Aku bilang bisa buat toko sembako. Dulu ayahku sedang pedangan kecil di pasar. Jadi aku bisa lah kalau jualan itu!" jawab Luki.


"Kalau bapak?" tanyanya pada Noval.


"Aku mau jadi petani atau jadi manager di sekolah istri aku," jawab Noval.


Noval menyerahkan surat pengunduran diri. Mungkin akan sulit untuk bisa disetujui. Tetapi pria itu sudah menyiapkan jika dia benar-benar ingin berhenti dari pekerjaan yang telah membesarkannya itu.


Hardi datang satu jam molor dari jam yang seharusnya. Rapat dapat berjalan sesuai dengan keinginan Noval dan Luki karena Hardi menyetujui semuanya.


"Pak Noval!" panggilnya.


"Saya?!" sahut Noval.


"Apa benar anda mau resign?" tanya Hardi tak percaya.


"Iya pak benar!" jawab Noval.


"Loh nggak bisa gitu dong pak!" protes Hardi langsung.


"Loh hak saya dong. Saya merasa sudah tak nyaman dan terlalu ditekan bekerja di sini!" sahut Noval tegas.


"Pak ...."


"Saya akan menekan HRD jika tetap mempertahankan saya!" ujar Noval lagi.


"Pak, kemarin itu benar-benar darurat. Saya kan bilang begitu!" ujar Hardi meminta pengertian.


"Maaf Pak. Saya tetap mau resign!" putus Noval.


"Kalau bapak berhenti. Saya akan black list bapak agar tak bisa bekerja di manapun!" ancam Hardi.


bersambung.


Lah? seenaknya dia.


Next?

__ADS_1


__ADS_2