ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
SEBUAH KEPUTUSAN


__ADS_3

Hafsah baru saja membeli sebidang tanah seluas seribu meter. Wanita itu melunasi pembayaran di depan notaris. Tanah itu untuk perluasan musholah yang akan menjadi masjid.


Hafsah juga mengurusi IMB seluruh bangunan yang akan ia buat untuk pesantrennya. Tadinya ia hanya memiliki sebidang tanah seluas 320m persegi dengan total bangunan 200m persegi. Makanya ketika ada tanah yang bersebelahan dengan TPA nya dijual. Tanpa pikir panjang Hafsah membelinya.


“Duitnya dari mana tuh?” celetuk Fateemah iri.


“Maksud kamu apa ustadzah?” tanya Safeera salah satu ustadzah yang mengajar di sana.


Fateemah terdiam, gadis itu tak menyangka jika cibirannya didengar oleh salah satu pendidik di sekolah ini.


“Sekali lagi saya bertanya Ustadzah? Apa maksumu tadi?” tanya Safeera gusar.


“Saya hanya berpendapat,” jawab gadis berkacamata itu santai.


“Itu bukan pendapat, ustadzah!” sentak Safeera mulai terpancing emosi.


“Ustadzah sudah menuduh tanpa bukti!” lanjutnya.


“Mana buktinya jika saya menuduh?” tanya balik Fateemah berani.


“Pernyataan anda tadi sudah menjurus menuduh Ustadzah!” berang Safeera bersuara keras.


“Astaghfirullah, ada apa ini?” tanya Hasimah salah satu staf kedisiplinan sekolah.


“Bu ... saya ingin melaporkan Ustadzah Fateemah menuduh tanpa bukti!” lapor Safeera langsung menunjuk gadis berkacamata itu.


Kini gadis itu disidang oleh beberapa guru dan Hafsah sendiri. Safeera sebagai pelapor tentu ada di sana. Visyah tak dibawa oleh Hafsah. Rando dan neneknya yang menjaga bayi itu.


“Ada apa ini?” tanya Hafsah yang tak mengerti.


“Ini ustadzah. Ustadzah Safeera melaporkan ustadzah fateemah dengan tuduhan menuduh tanpa bukti,” lapor Hasimah.


“Menuduh tanpa bukti?” kening Hafsah berkerut.


“Saya mendengar jika Ustadzah Fateemah berkata, duit dari mana itu?" lapor Safeera masih emosi.


“Tuduhannya di mana?” tanya Hafsah yang tak melihat adanya kejanggalan dalam kalimat itu.


“Ustadzah Fateemah menatap ibu ustadzah Hafsah dan bertanya seperti itu!” jawab Safeera lgi.


“Apa benar begitu?” tanya Hafsah menatap gadis berkacamata yang duduk tanpa ada rasa bersalah.


“Tidak!” bantahnya tentu bohong.


“Bohong!” teriak Safeera.


“Istighfar ustadzah!” peringat Hafsah pada salah satu guru terbaik di sana.


Safeera diminta tenang, beberapa guru menenangkan wanita itu.

__ADS_1


Fateemah duduk sangat tenang, walau perubahan wajah dan sikapnya sangat terbaca oleh Hafsah.


“Saya rasa ucapan ustadzah Fateemah tak menjurus tuduhan palsu. Kita selesaikan di sini saja ya,” putus wanita pemilik sekolah itu.


“Tapi Bu ....”


“Ustadzah Safeera ...,” peringat Hafsah lembut.


“Ustadzah istirahat dulu ya di rumah. Ibu boleh pulang cepat,” suruhnya lagi.


Safeera menatap Hafsah. Di sana ia melihat jika wanita nomor satu di sekolah itu mempercayai kata-katanya. Wanita itu menurut, ia pun pulang lebih dulu. Sedang Fateemah merasa di atas angin. Gadis itu juga hendak berlalu dari sana.


“Ustadzah Fateemah!” panggil Hafsah dengan nada tegas.


Seketika gadis itu berdiri tegak dan kaku. Fateemah mengumpat habis dirinya dalam hati. Ia yakin jika kebenciannya terhadap pemilik sekolah sudah ketahuan.


“Ustadzah?” panggil Hafsah lagi.


“Saya ingin bicara dengan anda empat mata!” pintanya. “Silahkan duduk lagi!”


“Kepalang tanggung,” gumam gadis itu pelan dan menurut permintaan Hafsah.


Gadis itu duduk lagi kali ini berhadapan dengan wanita yang sudah beberapa bulan ini ia musuhi. Kecantikan dan ketenangan Hafsah mebuat Fateemah menahan detak jantungnya yang tiba-tiba mengencang.


Nafasnya mulai memburu, gadis itu seperti dibawah atsmofir tekanan. Ia ingin sekali memberontak, seribu doa penenang yang ia hafal. Mendadak hilang dari kepalanya.


“Saya menolak ini semua!” tiba-tiba gadis itu berdiri.


“Saya akan melapor pada dewan pendidik jika saya ditekan di sini!” lanjutnya lalu melangkah meninggalkan Hafsah.


“Ditekan seperti apa Nona Al Husni?” tanya Hafsah.


“Ayahmu memang seorang petinggi islam di kemnag. Tapi tidak semerta-merta anda bisa berlaku seenaknya!” lanjut Hafsah.


“Saya tidak melakukan apa yang ustdazah katakan!” sanggah Fateemah.


“Baik, kita bawa semua ini ke forum diknas dan menag terkait. Saya juga punya banyak bukti jika anda kasar dalam mengajari murid!” tandas Hafsah tegas.


“Ini ucapan yang menuduh tanpa bukti!” teriak Fateemah.


“Saya ada bukti Fateemah!” seru Hafsah tegas.


“Saya punya bukti, bahkan anda tidak tau jika anda diawasi oleh sang maha pengawas!” lanjut Hafsah menyayangkan prilaku Fateemah.


Fateemah terdiam, Ali datang dan langsung masuk. Ia khawatir dengan saudari kembarnya yang memang beda tempramen dengannya. Fateemah sedikit manja karena ia perempuan satu-satunya di keluarga.


Ali banyak mengalah untuk Fateemah, pria itu mestinya lulus dan bisa bekerja di Kairo. Tetapi karena nilai Fateemah rendah dan nyaris tak lulus jika bukan nama orang tua. Ali mengubur masa depannya dengan menurut permintaan orang tua mengawasi saudari kembarnya itu.


“Apa lagi yang kau lakukan Fat?” tanyanya gusar setelah membawa keluar Fateemah.

__ADS_1


“Apa sih kamu!” bentak gadis itu.


“Kenapa kau membela orang lain terus. Yang saudaramu itu aku!” lanjutnya berang.


Ali menggeleng, ia menyerah. Pria itu sudah menyerah dengan saudari kembarnya itu. Ia pun telah memutuskan sesuatu. Suatu hal yang kan berguna untuk hidup dan masa depannya kelak.


Al Husni menelpon Hafsah dan meminta pengertian wanita itu. Tetapi Hafsah menolak keras. Ia akan menempuh jalur hukum jika Fateemah tidak keluar secara sendirinya dari sekolah miliknya.


“Tapi nak ....”


“Maaf Abah ... kenyamana murid dan santri sekolah kami, saya lebih prioritaskan di banding ikatan persaudaraan abah dengan pemilik pesantren tempat saya belajar dulu!” tukas Hafsah tegas.


Akhirnya Al Husni mengikuti kemauan Hafsah. Fateemah berhenti secara sendiri setelah Hafsah memperlihatkan rekaman kamera pengintai bagaimana Fateemah mengajar.


“Ali juga mau katakan sesuatu pada Abah!” ujar pria itu menghadap ayahnya.


Al Husni menghela napas berat, ia sangat paham jika putranya itu sudah menyerah dengan saudari kembarnya itu.


“Ali sudah menerima tawaran mengajar di Kairo. Ali mau mengembangkan ilmu mengajar di sana!”


“Nak ... apa kamu tidak kasihan dengan saudarimu?”


“Lalu apa Abah tidak kasihan dengan aku?” tanya Ali dengan suara serak.


Al Husni menatap putra bungsunya, netra Ali sudah berkaca-kaca. Ia yakin putranya akan bertindak nekat jika dipaksakan.


“Kalian bersaudara nak,” ujarnya memberi pengertian.


“Aku punya masa depan Abah ... apa abah mau masa depanku hancur juga karena saudariku yang tempramen itu?” tanya Ali lagi.


“Pergilah nak!” tiba-tiba sosok perempuan tua datang.


“Umi ....”


“Pergilah nak ... gapai masa depanmu. Fateemah adalah tanggung jawab kami selama kami hidup!” lanjut wanita itu lalu mengusap air yang menggenang di pelupuk mata putra bungsunya.


“Ada tiga abangmu di sini dan mereka punya pesantren yang dibangun bersama. Biar Umi bujuk mereka untuk menerima Fateemah,” ujarnya menenangkan Ali.


Ali memeluk perempuan yang melahirkannya. Di sana ada tangisan dan permintaan maaf dari mulut sang ibu.


“Maaf jika Umi nyaris membakar semua masa depanmu,”


“Ali kembali cepat Umi ... hanya empat tahun ... empat tahun. Nanti Ali jemput Umi, Abah dan Fateemah tinggal bersama di sana!” janji Ali yang diangguki sang ibu.


Bersambung.


Ah .... Fat


Next?

__ADS_1


__ADS_2