
Empat puluh hari berlalu, kini Novisyah Permata Prambudi tengah di-aqiqah. Bayi cantik itu mengerutkan kening melihat ramainya orang. Rando ada di sana tengah bersholawat.
Hafsah memakai gamis warna putih gading, Noval pun memakai setelan koko warna senada dengan istrinya. Aminah di sana menyiapkan semuanya.
“Uminya Visyah,” Noval memanggil istrinya demikian.
“Iya ayahnya Visyah,” sahut Hafsah tersenyum.
Noval menepati janjinya, selama ia memiliki waktu luang. Pria itu selalu ada untuk keluarga kecilnya. Noval tak segan memandikan sang buah hati dan mengajaknya bermain. Atau mengganggunya ketika tidur.
“Nah, sekarang waktunya cukur,” ujar Rando.
Aminah mengunting sedikit rambut Visyah yang tebal dan kemerahan, lalu Rando kemudian Noval. Usai menggunting rambut Visyah, Hafsah membawa bayi itu ke kamarnya karena mulai rewel. Makanan dalam kotak dibagikan pada semua orang.
Sepuluh menit, rumah Noval sepi, Rando tak ragu memegang sapu dan mulai menyapu ruangan yang baru saja dipenuhi orang tersebut.
“Biarin aja Paklik, nanti aku panggil jasa cleaning servis,” ujar Noval lalu mengambil sapu dari tangan Rando.
“Apa ada yang seperti itu?” tanya Rando heran.
“Ada Paklik,” jawab Noval tersenyum.
Tak lama jasa yang dipanggil Noval datang. Mereka hanya mengawasi saja, ada empat orang yang bekerja memberishkan seluruh ruangan. Meja-meja dan kursi-kursi tamu sudah berada kembali di tempatnya, rumah rapi dan wangi kembali.
“Wah ... kerjanya cepat ya?!” puji Rando puas, Noval mengangguk setuju.
Setelah membayar dan memberi petugas tips. Rando dan Noaval duduk di ruang tamu. Aminah memilih pergi ke kamar.
“Ibu ke kamar dulu ya, ibu capek,” pamitnya.
“Iya Bu, silahkan,” ujar Noval diiringi anggukan Rando..
Tak lama Hafsah keluar, ia sudah berganti baju dan mulai menyiapkan dua cangkir teh manis hangat untuk kedua pria di sana.
“Ini minumnya Bang, paklik,” ujar wanita itu meletakkan dua cangkir di atas meja.
“Terima kasih Hafsah,” ujar Rando.
“Duduklah. Ada sesuatu yang paklik bicarakan,” lanjutnya menyuruh.
Hafsah duduk di kursi tunggal, wanita itu meletakkan nampan di bawah meja. Rando memang baru datang tadi pagi dan langsung ditodong Hafsah menjadi pembawa acara aqiqah Novisyah.
“Nak, rumah dan kebun di kampung, bagaimana. Paklik nggak bisa mengurusnya,” ujar Rando langsung.
“Kenapa nggak dikelola jadikan rumah tafis qur’an paklik?” ujar Hafsah.
“Atau pesantren?” Noval ikut menimbrung obrolan.
“Iya paklik. Paklik bisa jadi tenaga mengajar di sana kan?” angguk Hafsah setuju.
“Paklik takut nggak amanah,” tolak Rando.
“Paklik, jangan seperti itu,” ujar Hafsah.
__ADS_1
“Paklik sudah berumur, sudah waktunya paklik memikirkan rumah tangga. Menikahlah paklik,” lanjutnya meminta.
“Iya paklik, kelola rumah dan kebun sesuai permintaan mendiang emak dan abah,” ujar Noval yang sedikit tau apa keinginan dari mertuanya yang sudah meninggal itu.
“Iya paklik, Hafsah tak mungkin mengurus langsung di sana,” ujar Hafsah memberi dorongan untuk pamannya.
Rando terdiam, usianya memasuki empat puluh dua tahun, pria itu memang harus berhenti keliling Indonesia untuk berdakwah. Ia harus memikirkan hari tuanya.
“Mungkin, paklik bisa untuk mengurusnya, tapi menikah ...,” Rando menggeleng, ia masih trauma.
“Paklik ... paklik kan lebih tau harus apa. Hafsah yakin, paklik akan dapat jodoh yang terbaik dari Allah,” lagi-lagi Hafsah memberi dorongan untuk Rando.
Noval mengangguk setuju, ia yakin jika paman dari istrinya itu bisa amanah dan mampu menjalankan tugas dengan baik. Rando akhirnya mengangguk setuju.
“Kalau begitu, kita rembukan untuk kurikulum dan skema pendidikan ya,” ajaknya.
Hafsah mengangguk setuju, Noval tentu tak bisa ikut campur lebih jauh karena itu bukan bidangnya. Hafsah dan Rando lebih paham, ia pun hanya menjadi pendengar dan memberi pendapat jika diperlukan.
“Assalamu’alaikum!” semua menoleh ke arah pintu.
“Bu ustadzah!” Ardian langsung masuk dan minta pangku guru ngajinya itu.
Hafsah membelai kepala dan memberi kecupan di kening pria kecil itu. Noval berdiri begitu juga Rando menyambut tamu mereka.
“Wah udah beres ya cukurannya. Maaf terlambat,” ujar Haridantominta maaf.
“Ah ... nggak apa-apa. Mari duduk pak, bu,” ujar Noval mempersilahkan.
Mereka duduk di sofa, Hafsah kembali ke dapur menyiapkan minuman untuk tamunya. Ardian selalu mengikuti kemana saja wanita itu berada.
“Nggak apa-apa kok bu,” bela Hafsah.
Ardian tersenyum, namun sejurus kemudian ia duduk dengan tenang. Hafsah masuk kamar dan membawa putrinya,
“Dede Visyah!” pekik bocah itu girang.
“Wah ... sini-sini!” pinta Cassy semringah.
Bayi cantik itu menggeliat dann mengerucutkan bibirnya. Cassy sangat gemas, ia juga ingin punya anak perempuan.
“Uh ... jadi pengen punya anak perempuan,” rengeknya lalu mencium gemas Visyah.
“Iya Mah .. buat, kan banyak terigu di rumah!” sahut bocah sembilan tahun itu polos.
Semua tersenyum lebar mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ardian itu. Tak ada yang menanggapi.
“Ini hadiah buat dedenya,” ujar Hardianto memberikan bingkisan besar.
“Wah ... jangan repot-repot Pak!” ujar Noval tak enak hati.
“Nggak apa-apa, kan buat calon menantu,” kekeh pria itu.
Tak lama orang penting di perusahaan Noval akhirnya pulang. Walau ada sedikit drama dari Ardian yang masih ingin di sana. Tetapi sang ayah berhasil membujuknya.
__ADS_1
“Atasanmu baik ya,” ujar Rando memuji.
“Alhamdulillah, paklik,” sahut Noval tersenyum.
Hari makin malam, Rando mengajak Noval untuk sholat di masjid. Pria itu mengikuti, Hafsah menyiapkan makan malam untuk semuanya.
“Nak, tadi ada atasan Noval, kenapa ibu tak dibangunin?” protes Aminah.
“Sudah, tapi ibu nyenyak sekali, jadi kami nggak bangunin ibu,” jawab Hafsah.
Aminah menghela napas panjang, ia dudik di kursi makan dan menunggu para pria pulang. Tak lama Rando dan Noval datang, mereka memberi salam ketika masuk rumah.
“Wa’alaikum salam,” sahut Aminah.
Semua makan dengan tenang, usai makan. Noval bertugas membersihkan meja dan mencuci piring. Aminah memilih duduk di ruang tamu.
“Hafsah!” panggil Rando.
Pria itu keluar dari kamarnya dan membawa banyak lembaran kertas. Pria itu sudah menulis konsep besar pesantren yang akan didirikan. Hafsah menyimak dan membaca apa saja yang tertulis di sana.
“Setuju paklik, nanti bilang aja biaya untuk semuanya,” ujar Hafsah antusias.
“Jika diperkirakan biaya mencapai dua ratus juta, itu belum biaya ijin operasional dan daftar kemenang juga kemendikbud,” ujar Rando memberi perincian biaya.
“Siap, aku ada kok uang segitu. Lebih malah,” ujar Hafsah yakin.
Malam menjelang, ketika Rando dan Hafsah masuk ke kamar mereka masing-masing. Aminah menarik tangan Noval ke kamarnya.
“Nak ... itu Rando bicarakan apa sih?” tanyanya.
“Loh ... kenapa tadi ibu nggak nanya ke Hafsah?” tanya Noval bingung.
“Ah ... ibu nggak ngeh, cuma mereka sedang diskusi tentang pesantren ....”
“Iya bu. Rumah dan kebun milik mendiang mertua mau dibangun pesantren. Hafsah minta paklik Rando yang kelola,” jawab Noval.
“Apa bisa amanah?” tanya Aminah meragukan Rando.
“Bu?” Noval menatap ibunya.
“Ya ... namanya uang banyak kan?” sahut Aminah merasa tak bersalah.
“Ibu ... ibu lupa Hafsah seperti ini karena siapa?” tanya Noval setengah berdecak kecewa dengan pemikiran ibunya.
“Ibu hanya memberikan pendapat kok!” sanggah Aminah merasa benar.
Noval menggeleng, ia keluar kamar ibunya. Aminah kesal sekali. Ia berpikir rumah dan kebun besar milik Aida di kampung sangat menguntungkan jika dijual atau dikelola.
“Aku coba besok untuk memberi ide. Biar kukelola sendiri milik almarhum besanku itu,” gumamnya yakin.
Bersambung.
Weh ... kenapa jadi mata duitan nih mertuanya Hafsah?
__ADS_1
Next?