ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
INGAT


__ADS_3

Pagi menjelang, Aminah tersenyum melihat Noval mengelus perut wanita yang menurutnya pantas untuk putranya itu. Ia benar-benar tak ingat tentang Hafsah.


Di ingatan wanita itu, Hafsah bukan sosok lembut dan penyayang seperti ia lihat sekarang.


"Nak," panggilnya pada Rando.


"Ya Bu?" sahut pria itu.


"Nanti Leli akan datang bersama putrinya," ujar wanita itu.


"Iya lalu?"


"Ibu ingin kita bisa bicara dengan Hafsah sekarang juga," lanjut Aminah.


"Bu, wanita yang dipeluk Noval itu Hafsah Bu!" tekan Rando tegas.


"Mana mungkin!" sanggah Aminah tak percaya.


"Bu ... dia Hafsah wanita yang ibu pilih menjadi menantu Ibu!" ujar Rando lagi.


"Apa iya Noval berani memeluk wanita yang bukan istrinya?" tanyanya pada wanita yang sudah lamur matanya itu.


"Ibu tidak mungkin mengajari Noval bertingkah kurang ajar dengan memeluk wanita yang bukan mahramnya kan?" dedas Rando lagi.


Pria itu menghela napas panjang. Ia menggandeng perempuan itu mendekati sepasang suami istri yang tengah bermesraan. Visyah tengah bermain bersama para santriwati.


"Sah, Nov!" panggil Rando.


Keduanya menoleh, Noval tersadar dari kesalahannya. Ia mulai cemas dan sedikit gelisah.


"Paklik,"


"Nov, ibumu dan Hafsah harus didekatkan!" ujar Rando.


"Bu, dia Hafsah Bu," ulang Rando.


"Ada apa ini?" tanya Hafsah bingung.


'Nak ... katakan jika kau bukan Hafsah yang bengal masa kecilnya itu kan!" sahut Aminah yang mengagetkan Hafsah.


"Tapi saya Hafsah yang itu Bu," jawab wanita itu.


"Tidak mungkin!" tolak Aminah menggeleng.


Hafsah menatap Rando dan Noval. Ia bingung kenapa sang ibu mertua malah tak ingat dirinya.


'Bang, Paklik?" tanyanya.


"Ibu sakit, Sah," bisik Noval lirih.


Hafsah menatap suaminya. Ia menggeleng tak percaya.


"Ibu terjangkit Alzheimer," sambung Noval memberitahu.


"Alzheimer?" Hafsah tak percaya.


"Ibu sudah masuk taraf memprihatinkan. Di desa. Ibu suka keluar dan tersesat. Bahkan ia suka mengira aku masih kecil Sah," urai Noval menjelaskan.


Aminah menatap Hafsah.Dua wanita saling pandang dalam diam. Hafsah mendekat, Aminah mundur tetapi Rando menahan laju wanita tua itu.

__ADS_1


'Aku Hafsah Bu, apa ibu melupakan aku?" tanya Hafsah sedih.


Hafsah teringat perseteruan terakhirnya dengan sang ibu mertua. Kala itu Noval resign dari perusahaan. Aminah menekan jika Hafsah lah yang menghasut Noval agar berhenti bekerja.


Hafsah sampai mendiamkan mertuanya selama tiga bulan. Sangat lama, sampai ia mendengar jika mertuanya itu jatuh sakit dan mereka harus pulang kampung.


"Ibu, aku Hafsah Bu ... menantumu yang suka membantah ... hiks,"


Aminah diam saja ketika Hafsah menyentuhnya. Untaian doa diucapkan Hafsah di telinga mertuanya. Aminah tenang mendengar lantunan ayat itu.


"Jadi benar kamu Hafsah?" tanyanya lagi.


"Iya Bu, aku Hafsah!" jawab Hafsah tegas.


"Hafsah yang suka manjat pohon?" tanya Aminah.


"Waktu kecil iya Bu, main kelereng dan ngejar layangan!" jawab Hafsah.


Aminah menatap netra tegas yang ada di hadapannya. Lama ia mengumpulkan memori tentang Hafsah.


Hafsah yang melihat mimik mertuanya yang sedang berpikir dan mengingat sesuatu. Wanita itu mulai membaca salah satu ayat suci Al Quran.


Aminah menatap dengan mulut terbuka. Kepingan memori perlahan terkumpul. Wanita itu mengingat di mana ia melihat Hafsah yang masih belia duduk di mimbar mengaji tanpa memegang Al-Qur'an.


"Hafsah ... kamu Hafsah nak?" Hafsah mengangguk.


Aminah langsung memeluknya, ia menangis. Puluhan kata maaf terlontar dari mulut perempuan tua itu.


"Maaf sayang ... maaf. Maafkan ibu!"


"Bu ... huuuu ... hiks ... hiks!" Hafsah ikut menangis.


Satu jam berlalu, Leli datang bersama putrinya. Ia diantar supir. Hafsah meminta supir untuk tidak pulang lagi.


"Kasihan Pak Totok jika pulang lagi. Tinggal saja di asrama putra pak. Di sana ada kamar kosong, atau bisa tinggal di ruang guru. Di sana juga ada kamar," suruh Hafsah.


"Makasih Bu ustadzah," ujar Totok membungkuk hormat.


Pria itu diantar Rando ke ruangan guru. Di sana ada kamar mandinya. Jadi supir mertua keponakannya itu tak perlu mengantri.


"Bu Leli dan Anida bisa tidur di kamar tamu," ajak Hafsah ke sebuah kamar yang cukup besar.


"Hafsah!" panggil Aminah.


"Ya Bu!" sahut wanita itu.


"Silahkan istirahat ya bik! Saya tinggal dulu!" ujar Hafsah meninggalkan ibu dan anak itu.


Sepeninggalan Hafsah, Anida menatap kamar yang besar dan terkesan mewah. Gadis itu sampai berdecak.


"Bang Noval kaya raya ya Mak!" ujarnya memuji.


"Iya, orang dia kan menejer tadinya," sahut Leli menyusun semua bajunya dan juga baju putrinya.


"Mak, kita tinggal sini aja yuk. Aku nggak mau di kampung," ajak Anida.


"Kita di sini cuma buat bantu Bu Aminah. Jangan harap deh!" sahut Leli mengingatkan putrinya.


Gadis itu cemberut. Tadi ia sempat melihat dua pria tampan. Ia belum tau yang mana putra dari Aminah.

__ADS_1


Malam menjelang, Aminah diurus oleh Leli. Anida hanya sekedar membantu dengan malas.


"Ibu pakai popok ya," ujar Hafsah masuk dalam kamar.


"Eh ... kok main masuk aja!" ketus Anida.


"Nak!" peringat Leli.


Hafsah tak menggubris Anida di sana. Ia membeli satu ball besar popok siap pakai untuk Aminah.


"Angkat kaki ibu," suruh Hafsah.


Wanita itu sendiri yang memakaikan popok ke ibu mertuanya.


"Apa perlu pakai ini?" tanya Leli risih.


"Harus, biar ibu bisa bobo nyenyak tanpa takut ngompol," jawab Hafsah.


"Kalian boleh istirahat!" perintah Hafsah.


Anida hendak memberontak, tetapi sang ibu menyeretnya keluar. Gadis itu kesal dengan ibunya.


"Apaan sih Mak!"


"Nak ... jangan bikin malu ah!" tekan Leli.


Anida cemberut, ia kesal sekali. Tadi makan malam, ia dan ibunya harus makan di meja dapur. Ia jadi tak bisa melihat dua pria tampan yang duduk di ruang makan utama.


'Kita tadi kenapa makan di dapur sih?!" ketusnya kesal.


"Eh ... masih mending itu. Di rumah Bu Aminah kita malah harus makan di belakang tanpa meja dan kursi!" sahut Leli.


"Nak, kita ibu cuma membantu loh. Masih mending kita diletakkan di kamar tamu!" lanjutnya memberi pengertian.


Anida tak dapat memicingkan matanya. Gadis itu bergulingan di kasur yang empuk.


"Ah ... keluar ah!' ujarnya pelan.


Ia mengendap-endap keluar kamar. Beberapa lampu di matikan. Gadis itu berjalan menuju ruang tengah.


"Apa nggak ada foto di ruang ini?" tanyanya kesal.


"Hmmm!" gadis itu duduk di sofa mahal dengan gaya eropa.


Anida memindai sekeliling. Hidup sederhana di desa membuatnya tak mampu menggapai cita-citanya. Gadis itu harus ikut bekerja bersama sang ibu.


'Jadi pelakor keknya seru!" gumamnya pelan lalu ia tertawa lirih.


'Aku harus menarik perhatian Bang Noval. Aku yakin jika seluruh pesantren ini adalah miliknya!'


Anida berkhayal tinggi. Ia berjalan bersama Noval bergandengan tangan. Menghitung uang yang berdatangan. Ia dapat membeli barang yang ia mimpikan selama ini.


"Kalau begitu, mulai besok aku memulai aksiku!" seringainya licik.


Bersambung.


eh ... wow!


next?

__ADS_1


__ADS_2