
Seminggu berlalu, benar saja. Luki menepati kata-katanya. Pria itu melamar Inge Setiana. Sang ibu tadinya sedikit tak rela.
"Inge adalah gadis manja. Ia bukan jadi partner yang baik, bisa jadi ia musuh besarmu!' peringat wanita itu.
"Ma ... apa aku sebegitu buruknya?" rajuk Inge tak terima.
"Bu ... percaya lah jika aku akan menjaga Inge dengan segenap jiwaku!" janji Luki.
Lamaran diterima, pernikahan akan dilangsungkan secara sederhana saja. Inge juga maunya demikian.
"Nggak mau pesta gede Dek?" tanya Luki yang memanggilnya Dek.
Inge menggeleng, paras Noval yang rupawan dan paras Hardianto yang bijak, hilang dari pikiran gadis itu.
Kini wajah Luki yang selalu ada dalam benaknya. Di kantor gadis itu selalu menunduk dan berada tak jauh dari calon suaminya.
"Ini Pak, datang ya!" pinta Luki menyerahkan undangan pada kedua atasannya.
"Apa? Kapan kau punya hubungan dengan Inge?" tanya Hardianto tak percaya.
"Saya suka, itu saja sudah cukup Pak!" jawab Luki singkat.
"Kau belum mencintainya?" tanya Hardi menyelidik.
"Sekarang belum. Tapi saya pasti mencintai istri saya nanti dan selamanya!" jawab Luki tegas.
Hardianto mengangguk, ia sedikit lega walau ia juga sedikit patah hati juga. Inge memang cantik dan manis. Berbeda dengan Puspa yang dulu berusaha keras menggodanya, ia sama sekali tak tertarik.
Namun seminggu Inge bekerja di bawah kepemimpinannya. Gadis itu sangat cepat tanggap dan senyum yang menawan. Itu yang membuat hati pria beranak dua itu bergetar.
"Wah ... kejutan yang benar-benar mengejutkan!" ujar Noval ketika menerima undangan ajudan atasannya itu.
"Kamu sedang tidak mempermainkan perasaan seorang perempuan kan?" tanya Noval yang juga menyelidik.
"Insyaallah tidak Pak. Saya ingin beristri, ada Inge ya sudah!" jawab Luki lagi gamblang.
"Inge bisa buatkan aku kopi?" pinta Hardi.
"Baik Pak!" sahut Inge.
Gadis itu membuatkan secangkir kopi dan secangkir teh jahe untuk Luki. Hardi sedikit menggoda gadis itu.
"Wah ... yang menjelang menikah!" Inge tersipu.
Gadis itu meletakkan teh jahe untuk calon suaminya di meja tamu.
"Mas ... teh nya," ujarnya lembut.
"Makasih Dek," ujar Luki tersenyum.
Hardi sedikit cemburu dengan kemesraan Luki dan Inge. Pria itu sesekali terbatuk atau berdehem.
"Luki, coba kau periksa di bagian sektor d. Ada masalah di sana!" perintah Hardi ketika mendapat laporan langsung.
Luki menunduk hormat, Inge tenggelam dalam pekerjaannya. Hardi menatap gadis yang makin lama makin cantik dalam pandangannya.
Pria itu mendekat, ia sangat yakin Inge jatuh dalam pesonanya.
__ADS_1
"Inge!" panggilnya dengan suara berat.
Dua netra saling tatap, Hardi merapikan anak rambut gadis yang memang mencuri perhatiannya.
Perlahan jemari itu menyusuri pipi lembut lalu membelai belahan yang terbuka. Bibir pink alami Inge begitu lembut.
Nafas Hardianto menderu, perlahan ia menurunkan wajahnya. Bibir Inge seperti menunggunya di sana dengan rekahan yang sangat menggoda.
"Batalkan pernikahanmu dan menghilang lah ... aku akan membawamu ke sebuah tempat," ujar Hardi setengah berbisik.
Satu inci lagi, ia akan mengulum bibir yang sangat menggoda itu. Hingga ...
"Pak laporan mingguan sudah selesai. Mau disatukan saja dan langsung adakan rapat?" tanya Inge membuyarkan khayalan Hardi.
"Ah ... apa?" tanya pria itu tergagap.
Inge mengerutkan keningnya. Tak lama ketukan pintu terdengar. Noval masuk dan membawa banyak berkas yang harus dirapatkan segera.
Hardi membenahi dirinya. Pikirannya kacau, ia pun berdiri dan menyambut ceo-nya itu. Mereka pun pergi ke sebuah ruangan dan merapatkan data yang ada.
Luki kembali dan telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Waktu pulang, Hardi sangat ingin membuat Luki tak pulang bersama Inge.
"Mas ... kita jadi beli cincin kawin nggak?" tanya Inge dengan suara cempreng.
Luki terkekeh, ia mengangguk dan merentangkan sebelah tangannya. Inge masuk dalam rengkuhan pria itu.
"Ayo sayang ... kita pergi beli cincin berlian!" ajak Luki.
Hardi nyaris berdecih mendengarnya. Beruntung dia cepat sadar, jika Luki memang kaya raya.
"Pak!" supir memanggilnya.
Pintu sudah dibuka, ia pun masuk ke dalamnya. Kendaraan mewah itu pun pergi dari halaman perkantoran.
Noval sudah sampai rumah. Adanya Hardi yang hadir sebagai atasan bukan membuat pria itu makin sedikit pekerjaannya.
"Assalamualaikum!" ujarnya ketika masuk ke rumah.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh, ayah!" seru Hafsah.
Visyah memekik girang melihat ayahnya sudah pulang. Hilang sudah penat dan lelah yang merongrong tubuh Noval.
Pria itu mencium istri dan putrinya bergantian.
"Ini dapat undangan dari Luki," ujar Noval meletakkan amplop warna hijau dengan inisial nama.
"Mashaallah ... jodohnya Pak Luki, Mba Inge toh!" seru Hafsah tersenyum.
"Jodoh itu emang nggak kemana!' lanjutnya semringah.
Pagi menjelang, semua bekerja seperti biasa. Noval berada di ruangannya. Hardi kembali masuk.
"Pak Nov, ke ruangan saya sebentar!" ujar Hardi via interkom.
Noval beranjak dari kursinya. Inge di sana tengah mengerjakan semua berkas. Luki tidak ada, kemungkinan pria itu pergi ke bagian divisi lain.
"Iya Pak," ujar Noval dan dia duduk di depan Hardi.
__ADS_1
"Ini Pak, saya minta anda mewakili saya hadir di restoran untuk tanda tangan kontrak," ujar Hardi.
"Tapi itu bukan tugas saya pak!" ujar Noval.
"Saya hanya sebagai pengawas internal perusahaan. Tentu akan jadi stigma negatif dengan perusahaan lain!" lanjutnya.
"Memang, tapi saya akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis yang lain!' ujar Hardi.
"Jadi saya menugaskan kamu untuk pergi ke restoran dan menandatangani kontrak. Saya akan beri surat kuasanya!" akhirnya Noval mengangguk setuju.
"Inge persiapkan diri. Kamu ikut saya!' ujar Hardi.
"Dengan Mas Luki kan?" ujar Inge.
"Luki saya tugaskan di bagian divisi!' jawab Hardi.
"Tunggu sebentar Pak. Mestinya saya ditugaskan untuk pergi ke divisi bukan Luki!" ujar Noval mulai curiga.
'Loh saya yang punya perusahaan. Jadi saya ada hak untuk menugaskan kalian apa saja!' ujar Hardi arogan.
"Tidak bisa pak! Anda menyalahi kontrak kerja!" tukas Noval berani.
"Iya Pak, setau saya. Sekretaris hanya ikut boss dalam perjalanan dalam kota itupun harus bersama asisten pribadi bapak!" bantah Inge berani.
Tak lama Luki datang, rupanya ia telah selesai dengan semua pekerjaan. Pria itu menatap tajam atasannya.
"Ayo pulang sayang. Besok kita serahkan surat pengunduran diri!' ujar Luki.
"Jangan sembarangan kamu Luki!" bentak Hardianto marah.
"Tidak Pak. Saya tidak sembarangan. Jadi besok bapak silahkan cari asisten dan sekretaris baru!"
"Saya blacklist kamu!" ancam Hardianto.
"Oh silahkan Pak!" tantang Luki berani.
"Anda akan malu sendiri nantinya!' lanjutnya menyeringai.
Pria itu meletakkan name tag di meja kerja Hardi. Ia menggandeng Inge, mereka pun keluar dari ruangan.
Noval menggeleng menatap Hardi. Bukan ia tak tau jika atasannya itu ingin memiliki Inge.
"Jangan terbuai godaan syetan Pak!"
"Halah kayak kamu suci saja!" ketus Hardi.
Noval menggeleng pelan, ia melihat betapa Hardi kini mulai berubah.
"Jangan lupa Pak. Perusahan yang bapak pimpin adalah milik Bu Cassy!" ujar Noval mengingatkan.
Hardi terdiam, Noval keluar ruangan. Pria itu menunduk dengan menopang kepalanya.
"Aarrggh!" pekik Hardi.
Bersambung.
loh
__ADS_1