
Noval berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Hafsah begitu khawatir dengan suaminya itu.
"Bang, minta cuti aja ya. Abang pucet!" ujarnya sedih.
"Iya Sayang, Abang bakalan minta ijin buat cuti. Ini pusing banget!" ujar Noval.
Pria itu tiba-tiba memuntahkan cairan putih yang begitu pahit. Hafsah menangis melihatnya.
Setelah merasa enakan. Noval yang sudah dimandikan oleh istrinya kembali tidur.
"Aku telepon boss dulu deh!' ujarnya sebelum benar-benar lelap.
"Halo Pak Diwan. Tolong saya ijin dulu ya. Saya kurang enak badan!'
"......!"
Noval sudah tertidur. Pria itu ternyata tak bisa menahan kantuk yang luar biasa menyerangnya.
"Halo ... halo Pak Noval!" teriak yang ada di seberang telepon.
Diwan yang ada di perusahaan tentu sangat khawatir dengan apa yang menimpa salah satu managernya itu.
Diwan pergi menemui Hardianto mengatakan jika Noval tiba-tiba hilang dari sambungan telepon.
'Jadi dia tiba-tiba tak bersuara setelah mengatakan libur?"
"Iya Pak. Saya hubungi lagi malah tak diangkat!" ujar Diwan.
"Coba hubungi lagi!" perintah Hardi.
Diwan kembali menghubungi nomor ponsel Noval. Dua kali panggilan, sebuah suara lembut yang mengangkatnya.
"Assalamualaikum, maaf Pak. Pak Noval nya mendadak tidur. Beliau ngantuk sekali!' ujar Hafsah memberitahu.
"Oh ... Apa Pak Noval tidak apa-apa Bu?" tanya Diwan.
"Nanti setelah bangun saya mau bawa beliau ke klinik terdekat Pak. Soalnya tadi malam muntah-muntah terus," jawab Hafsah di seberang telepon.
"Ya sudah Bu, saya beri ijin sampai tiga hari ya. Nanti pekerjaannya biar dipegang sama asisten Pak Hardi," jawab Diwan.
"Baik Pak, makasih ... assalamualaikum!"
Sambungan terputus setelah Diwan membalas salam.
"Jadi bagaimana?" tanya Hardi.
__ADS_1
"Pak Noval dalam keadaan ngantuk berat karena muntah-muntah tengah malam," jawab Diwan.
"Oh ... baiklah!' angguk Hardianto.
"Luki!" seorang pria datang.
"Kau kerjakan dulu pekerjaan Pak Noval selama tiga hari ke depan ya?!" suruh Hardi pada asistennya.
Puspa di sana ia juga sibuk dengan pekerjaannya. Luki pergi ke ruangan Noval. Hardi melihat perubahan bentuk tubuh sekretarisnya itu.
"Kamu gendutan Pus?" Puspa menoleh.
"Iya Pak, biarin aja lah!" ujarnya santai.
Hardi menganga, biasanya Puspa begitu memerhatikan keadaan tubuhnya dan akan diet ketat jika berat badannya naik walau satu ons saja.
"Wah ... keren!" puji Hardi.
"Makasih Pak!' sahut Puspa tersenyum.
Wanita itu duduk dengan beralas bantal. Ia memang sedikit mual akibat trimester pertamanya itu.
Istirahat datang, Puspa menatap lagi foto usg di tangannya. Tiga titik putih ada di sana. Dokter mengatakan jika dirinya kemungkinan hamil janin kembar lebih dari dua.
"Pasti seru kalau kalian lahir nak?!' ujarnya lalu mengusap perutnya.
Sementara di kediaman Noval. Pria yang telah mendapat tidurnya akhirnya bangun dalam keadaan kondisi segar.
"Kita ke rumah sakit yuk. Muka Abang pucat!" ujar Hafsah khawatir.
"Iya sayang, aku juga ingin periksa. Soalnya badanku juga lemas semua," ujar Noval.
Setelah makan, keduanya pergi ke klinik terdekat. Pemerikasaan dilakukan oleh perawat.
"Keluhannya apa Pak?" tanya perawat.
"Pusing, lemas dan mual," jawab Noval.
"Baik ... tunggu sebentar ya Pak!' ujar suster lalu masuk ke dalam.
Noval dan Hafsah duduk di ruang tunggu. Butuh waktu lebih dari sepuluh menit. Barulah nama Noval dipanggil.
Hafsah bangkit dan menggandeng suaminya. Mereka masuk dalam ruangan.
'Selamat siang Bapak. Silahkan duduk!" suruh dokter mempersilahkan.
__ADS_1
Hafsah dan Noval duduk, dokter tadi membaca keluhan dari Noval. Ia memeriksa kembali denyut nadi dan seluruhnya.
"Tak ada yang serius. Hanya saja tekanannya seperti orang tengah mengidam," jelas dokter itu.
"Coba ibu yang saya periksa," ujar sang dokter hendak menyentuh tangan Hafshah.
Reflek Hafsah menarik tangannya. Sebisa mungkin ia menghindari sentuhan yang bukan mahramnya.
"Maaf Dok. Istri saya tidak bisa disentuh dengan laki-laki. Memangnya ada apa sih?" tanya Noval gusar.
"Ya sepertinya anda mengalami couvade syndrom, atau bisa dibilang kehamilan simpatik. Istri yang hamil tetapi yang ngidam suaminya," jelas dokter lagi.
"Jadi saya sarankan untuk istri bapak yang diperiksa untuk memastikan dugaan saya benar adanya," lanjutnya.
Akhirnya, Hafsah kembali mendaftar. Ia diperiksa semuanya.
"Wah ... selamat ya. Pak!" ujar dokter wanita.
"Istri anda hamil!" lanjutnya. "perkiraan usia kandungan enam minggu "
Setelah menembus resep. Keduanya kembali ke rumah. Noval langsung memeluk istrinya.
"Makasih sayang ... makasih!" pekik Noval senang.
"Akhirnya ... aku jadi ayah!' Hafsah tersenyum simpul.
Sembilan bulan lagi anak ini lahir dan akan menjadi teman hidup sepasang suami istri itu.
Hafsah mengusap perutnya yang masih rata. berkali-kali ia bertasbih memuji kebesaran Allah.
"Sayang, ibu telepon!" ujar Noval menyerahkan benda pipih pada istrinya.
"Assalamualaikum Bu!" ujar Hafsah ketika menerima benda itu.
"Nak ... apa benar kamu hamil?' tanya Aminah pada sang menantu.
"Iya Bu! Alhamdulillah!' ujar Hafsah mengangguk.
Tampak heboh di seberang sana. Perempuan itu tampak bahagia akan kedatangan keturunan baru.
"Sehat-sehat ya sayang! Ibu bahagia, jaga kesehatan!"
"Iya Bu!' ujar Hafsah menurut.
bersambung.
__ADS_1
selamat ya Hafsah