
Noval mengurutkan keningnya kinerja sektretaris barunya, Sinta sangat buruk. Ia lalu teringat dengan mantan sekretarisnya dulu, Febi.
"Ah ... nggak!" sanggahnya lalu menggeleng pelan. "Mereka sama saja!"
Noval menatap lembaran kertas di tangannya. Lagi-lagi Sinta lupa mengecek kesalahan yang mestinya adalah tugas dia.
"Sinta!" hardiknya.
Gadis itu sedikit melompat dari tempat duduknya karena kaget.
"Apa-apaan ini!" bentak Noval marah.
Sinta terdiam, ia menunduk. Gadis itu memang sering melakukan kesalahan dalam pekerjaan.
"Jika kau tak bisa kerja. Kau boleh pergi dari perusahaan ini Sinta!" sentak Noval lagi.
"Pak ... saya akan perbaiki ....."
"Janji mulu ... janji terus!" dumal Noval kesal.
"Nggak ada perbaikan sama sekali!" omelnya lagi.
"Keluar kau!"
"Pak ...."
"Keluar!" bentak Noval.
Sinta gegas keluar sebelum Noval benar-benar memecatnya. Gadis itu menangis di kamar mandi.
Sedang Noval makin pusing. Ia sudah tak sanggup menahan tekanan dari pekerjaan. Semenjak Puspa hilang. Hardianto sang atasan sering melimpahkan pekerjaan padanya.
Noval yang tadinya seorang manager HRD kini diangkat sebagai vice CEO.
"Andai Hafsah mau jadi sekretarisku," keluhnya.
"Tetapi istriku itu hanya ingin jadi pengajar ngaji," lanjutnya bermonolog.
"Aku minta sesekali boleh kali ya? Kan dia ngajar satu minggu hanya empat kali," ia masih bermonolog.
"Tapi kasihan banget kalo dia ngerjain ini!" gerutunya kesal.
Setelah menenangkan diri. Noval berhasil mengerjakan semua pekerjaannya. Sungguh Noval memang dapat diandalkan.
"Pak, ada pertemuan dengan CEO perusahaan dari China," ujar Luki memberitahu.
Luki juga sangat bisa diandalkan. Pria itu jadi ajudan Noval dan juga Hardianto. Karena tugas Hardi sekarang berpindah ke Noval. Maka Luki bekerja di bawah Noval.
"Baik lah. Suruh Sinta untuk bersiap!" suruh Noval.
Luki menelepon gadis itu. Walau kinerjanya cukup buruk, tetapi mereka masih butuh Sinta membantu mereka.
Sementara di hunian Hafsah, wanita itu mengusap perutnya yang sudah membuncit. Tujuh bulan lagi, janin dalam perutnya keluar.
Drrrttt ... drrrttt ... drrrttt! Bunyi telepon Hafsah berbunyi. Ia segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bu!" ujarnya.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh, bagaimana Nak kandunganmu?" tanya lembut dari seberang.
"Alhamdulillah Bu, baik-baik saja. Besok pagi mau cek up," jawab Hafsah dengan senyum di wajahnya.
"Apa Noval selalu menemanimu sayang?" tanya Aminah.
__ADS_1
"Tidak Bu, Bang Noval nggak selalu bisa menemani aku cek up. Kerjaannya menumpuk setelah ia naik jabatan," jawab Hafsah.
"Wah ... nggak boleh gitu!" seru Aminah di seberang telepon.
"Mau bikin kok nggak mau ngurus!" lanjutnya protes.
"Nggak apa-apa Bu, lagian aku juga nggak mau Bang Noval terbebani ...."
"Eh ... nggak ada itu istilah terbebani!" protes Aminah di seberang telepon.
"Dia seorang suami. Jadi dia harus bertanggung jawab!"
"Iya Bu, tapi kerjaan Abang emang lagi padat. Jadi aku nggak tega kalo minta perhatian lebih. Abang suka pulang larut dalam keadaan lelah," jelas Hafsah.
"Oh ... sayang ... makasih ya udah pengertian sama Noval," ujar Aminah terharu.
"Nak, sebentar lagi anak kalian lahir. Kamu nanti minta Noval untuk tidak lagi ngirimin Ibu uang tiap bulan ...."
"Eh ... nggak boleh gitu Bu. Kewajiban Noval menafkahi ibu juga!" potong Hafsah.
"Nak, ibu mampu menghidupi diri ibu sendiri," ujar Aminah.
"Bu ... biarkan itu jadi keputusan Bang Noval ya Bu, soalnya aku nggak berani melarang Bang Noval untuk mengirimi ibu uang," ujar Hafsah.
"Makasih sayang, ibu makin sayang sama kamu yang pengertian seperti ini," ujar Aminah terharu.
"Ibu akan datang ketika kau melahirkan nanti ya," ujar Aminah lagi.
"Iya Bu ... Hafsah tunggu ya," ujar Hafsah senang.
Sambungan telepon berhenti, Hafsah mengantungi benda pipih itu di saku gamisnya.
Tak lama, murid-murid mengajinya datang. Makin lama muridnya makin banyak. Ardian datang diantar supirnya. Bocah itu juga tampan dengan setelan kokonya.
Semua tersipu dipuji sedemikian rupa. Mereka masuk ke dalam ruangan yang sedikit sesak.
"Baiklah anak-anak, kita mulai dengan basmalah yuk!" ajak Hafsah.
"Bismillahirrahmanirrahim!" seru anak-anak.
Lalu lantunan huruf iqro pun terdengar. Anak-anak antusias belajar.
Semenjak didirikannya pondok mengaji oleh Hafsah. Masjid terdekat pun membuka kelas TPA. Hafsah juga diminta untuk jadi tenaga pengajar di sana.
"Saya minta ijin suami dulu ya Pak," ujar Hafsah ketika menerima tamunya di ruangan mengajarnya.
Di sana ada beberapa murid yang mengaji, jadi Hafsah berani menerima tamu.
"Masa buat kebaikan suami ibu melarang. Beliau pasti setuju Ustadzah!' rayu pria berpeci.
"Maaf Pak, sebagai wanita bersuami Saya wajib minta ijin suami saya dulu," ujar Hafsah tegas.
Pria itu pun pergi tanpa ada hasil. Hafsah makin yakin untuk menolak ajakan mengajar di masjid. Ia takut tak bisa membagi waktunya.
Benar saja, Noval pulang sudah larut malam. Hafsah nyaris ketiduran jika saja tak mendengar bunyi pintu dibuka kasar.
"Bang?" Noval menatap istrinya.
Hafsah tampil cantik untuk menyambut kepulangan suaminya. Noval merentangkan tangan.
"Sayang!" Hafsah berhambur kepelukan sang suami.
"Sayang ... aku lelah banget!" rengek Noval.
__ADS_1
Hafsah membimbing suaminya ke kamar. Ia lalu keluar lagi untuk memastikan pagar terkunci dan menutup serta mengunci pintu rumah.
Setelah aman, ia kembali ke kamar mengurusi Noval.
"Sudah Isya bang?" Noval menggeleng.
"Bisa nanti nggak? Aku cape banget!' rajuk Noval.
"Maaf bang ... nggak bisa!" jawab Hafsah tegas.
"Dek!" sentak Noval marah.
"Abang ... Abang mesti sholat. Karena kita nggak tau kapan malaikat maut menjemput kita Bang!" ujar Hafsah.
'Kamu nyumpahin Abang mati Sah!" teriak Noval lalu bangkit dari kasur.
"Bukan gitu bang!"
"Lalu apa maksudmu?"
"Bang ... aku juga nggak tau kapan ajal menjemputku?!" ujar Hafsah lembut.
"Istighfar bang ... istighfar!' Hafsah memeluk suaminya.
Noval tersadar jika ia keterlaluan. Keadaan lelah dan pusing yang menimpanya karena mengalami cauvade sindrom membuatnya cepat marah.
"Maaf ya, Abang khilaf," ujar Noval.
"Minta ampun sama Allah Bang," ujar Hafsah lembut.
Akhirnya, Noval sholat sendirian karena Hafsah sudah sholat. Wanita itu lalu bersimpuh di hadapan suaminya.
"Hai ... kenapa?" ujarnya mengusap kepala sang istri.
Bau strawberry dari shampo yang digunakan Hafsah membuat Noval terangsang.
"Sayang!" panggilnya dengan nada serak.
Hafsah sangat mengerti, sebagai istri ia harus melayani suaminya.
Tengah malam buta, Noval muntah-muntah lagi. Hafsah menangis melihat kepayahan suaminya.
"Ya Allah ... biarkan aku yang merasakan ngidam ini ya Allah!" pintanya.
"Sayang ... jangan gitu!" sergah Noval tak suka.
"Kasihan kamu Bang!" ujar Hafsah sedih.
"Sayang .. aku rela sayang ... aku rela ...."
Noval kembali berbaring di ranjang. Hafsah memijit kening suaminya hingga terlelap. Tubuh keduanya masih bugil karena habis berolahraga ranjang.
Noval kembali bergerak di atas tubuh istrinya. Keduanya kembali menyatu dalam gelora cinta.
"Aku mencintaimu Hafsah!" teriak Noval ketika mendapat pelepasannya.
"Aku juga bang!" balas Hafsah yang juga telah mencapai klimaksnya yang ketiga kalinya.
Bersambung.
mereka ngapain? othor kan polos 😅ðŸ¤
next?
__ADS_1