ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
BABAK BARU KELUARGA NOVAL


__ADS_3

Lamarannya di yayasan pondok pesantren Al-Hikmah milik istrinya diterima. Kini ia resmi jadi seorang manager pondok pesantren. Semua santri pondok dan murid-murid TPA memanggilnya Pak Nov. Hafsah tetap dipanggil Ustadzah. Sedang Visyah dipanggil Ning.


Walau Hafsah bukan seorang kiayi atau buyayi, wanita itu adalah pemilik pesantren, ia hanya meminta Kiayi kampungnya yang menjadi guru besar di sekolahnya.


“Bang ... olah raga sih!” pinta sang istri sambil mengelus perut buncit suaminya.


“Ehhmmm ....”


Noval menggeliat malas, ini hari libur. Baik Hafsah dan Noval ada di rumah yang berdekatan dengan pesantren. Pria itu menjual rumahnya dan membeli sebuah rumah tingkat dua dan di jadikan satu halaman dengan pesantren milik istrinya.


“Ih ... ayah ... jangan malas dong,”


Hafsah harus menarik lengan suaminya, tetapi Noval malah menarik tubuh Hafsah hingga jatuh dalam pelukannya. Wanita itu tentu merengek manja.


“Abang,”


“Kiss me please,” pinta Noval memanyunkan bibirnya.


Cup! Sebuah kecupan cepat mendarat di bibir pria itu. Noval menahan tengkuk dan memagut benda kenyal yang baru menciumnya itu.


“Ayah ... umi!” teriak Visyah.


Kegiatan panas keduanya berhenti karena panggilan anak gadis mereka. Visyah sudah lima tahun. Akhirnya balita itu memanggil ibunya dengan panggilan umi.


Hafsah bergegas bangkit dari tubuh suaminya. Ia tak mau menodai mata suci putrinya dengan bermesraan. Visyah mendatangi kamar kedua orang tuanya.


“Ayah, umi ... masa Isa nggak boleh sama Kak Dani naik pohon!” adunya dengan muka cemberut.


“Eh ... kenapa ada anak perempuan naik pohon?" Tanya sang ayah dengan kening berkerut.


“Pohon jambu air sudah panen yah, banyak buahnya. Isa mau ambil!” jawab Visyah semangat.


“Kok kelakuanmu itu mengingatkan ayah pada tingkah seseorang ya?” tanya Noval menyindir sambil melirik istrinya.


“Tingkahnya sapa yah?” tanya Visyah ingin tahu.


“Dulu ada teman ayah ....”


“Biar Umi minta Kakak Dhani ambil jambu itu buatmu ya!” potong Hafsah lalu berdiri dari pangkuan suaminya.


“Yang merah ada di atas sekali Umi!” sahut Visyah semangat dan melupakan pertanyaannya tadi.


Noval menggeleng, ia meraba perutnya yang memang sudah buncit. Dua tahun hidup tak di bawah tekanan. Ardiansyah juga tak didaftarkan di pesantren di kampung milik istrinya yang dikelola Rando.


“Ah!” Noval menggeleng, ia mencoba melupakan semua keluarga mantan atasannya itu.


Ia beranjak memakai celana training dan kaos lengan panjang yang longgar. Pria itu berniat kembali mengencangkan oto perutnya dengan olah raga sit up atau skor jump.


Selama lima belas menit berolahraga di halaman belakang rumah yang banyak tanaman singkong.


Ada beberapa santri tengah mengurus kebun itu. Sebagian mengambil daunnya dan sebagian lagi mencabut pohonnya yang memang telah matang buahnya.


"Pak Nov!' sapa beberapa santriwati yang lewat.


Noval mengangguk, pria itu bergegas masuk ke dalam. Ia akan memberi saran untuk membuat tembok pembatas belakang rumahnya. Ia sedikit risih jika bertemu dengan gadis-gadis muda yang menimba ilmu di sana.

__ADS_1


"Sayang!" panggilnya.


"Ya sayang," sahut sang istri mesra.


Di dalam rumah, Hafshah sangat manja dan mesra. Mereka belum dipercayai anak lagi, walau sudah berusaha semaksimal mungkin.


"Sayang, kita buat tembok belakang ya. Aku sedikit risih jika bertemu dengan anak-anak perempuan," ujar Noval mengungkapkan keresahannya.


Hafsah tersenyum mendengarnya. Ia sangat tersanjung dengan pandangan suaminya. Memang semua santriwati berusia belasan.


"Mereka mungkin tidak memandangku sebagai laki-laki. Tetapi yang kutakutkan adalah diriku sendiri," akunya jujur.


Hafsah mengangguk setuju, sesuatu ketidaknyamanan harus dicegah sebelum terjadi sesuatu.


"Ya sudah, nanti Umi panggil tukang untuk buat tembok pembatas ya," ujar wanita itu.


Noval lega, ia akhirnya bisa beraktivitas di belakang rumah tanpa menjadi pusat perhatian anak-anak.


"Umi, Ayah!" pekik Visyah dengan serenteng jambu air di tangannya.


"Apa dia berhasil memanjat pohonnya?" tanya Noval tak percaya.


"Apa Umi tega membiarkan hal itu?" decak Hafsah cemberut.


Noval terkekeh, ia sungguh ingat kelakuan istrinya waktu kecil. Hafsah makin merengek melihat dirinya diledek sedemikian rupa oleh suaminya.


"Sayang, kamu dulu itu benar-benar luar biasa," ujar Noval lalu memeluk istrinya.


Pagi menjelang, minggu Noval mengajak istri dan anaknya jalan-jalan. Mereka menaiki mobil, mereka ke sebuah taman kota yang menyajikan banyak hiburan dan juga wahana. Spot-spot cantik yang bisa difoto dan diunggah di medsos.


"Visyah senang?" tanya Hafsah.


Hafsah senang dengan jawaban putrinya. Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Ia nyaris tersungkur jika Noval tak memeganginya.


"Sayang?"


"Umi?"


"Umi nggak apa-apa, umi nggak apa-apa!" ujar Hafsah.


'Kita pulang ya!" ajak Noval.


Visyah mengangguk, walau ia belum puas bermain. Tetapi melihat ibunya yang pucat membuat ia menahan semua keinginannya. Visyah memang sudah sedewasa itu. Hafsah yang mengajarinya tak menuruti semua permintaan putrinya.


Tak berselang lama, mereka sampai. Noval meminta tolong para santri membantunya.


"Bu ustadzah!?" seru para santri cemas.


"Tolong Ning ya!" pinta Noval.


Visyah digandeng salah satu santriwati ke rumah. Membawa ke kamar. Visyah menolak bermain ketika diajak kakak santrinya.


"Mau Umi," ujarnya sedih.


Hafsah menenangkan dirinya. Memang pagi itu cukup terik. Noval membuka jilbab instan istrinya. Memberinya minyak putih untuk dihirup.

__ADS_1


"Minum dulu sayang," ujar pria itu menyodorkan gelas.


Hafsah duduk dan dibantu suaminya. Ia menenggak habis isi dalam gelas. Visyah langsung berada di sisi ibunya.


"Umi," rengeknya khawatir.


"Sayang ... umi nggak apa-apa," ujar Hafsah.


"Besok kita periksa ke dokter ya," ajak Noval. Hafsah menurut.


"Tapi beliin testpack dulu deh yah," pinta Hafsah setengah berbisik.


"Testpack?" Hafsah mengangguk.


"Testpack apa Umi?" tanya Visyah.


"Itu adalah alat untuk mengecek kehamilan sayang," jawab Hafsah.


"Test hamil?" Visyah menatap ibunya.


"Apa Isa nanti punya dede dari sini?" lanjutnya bertanya sambil menunjuk perut ibunya.


"Insyaallah nak," jawab Hasfah tersenyum lebar.


"Alhamdulillah ya Allah!" pekik Visyah girang.


Setelah lima tahun hidup sebagai anak tunggal. Akhirnya ia mendapat saudara juga.


"Untuk memastikan, besok kita periksa ya!" ujar Noval.


"Ikut ya yah!" sahut Visyah semangat.


"Tentu sayang, nanti kita bisa lihat dedenya sudah sebesar apa ya?" angguk Noval lagi.


"Apa bisa kelihatan yah? Kan ada di dalam perut umi?" tanya balita itu tak percaya.


"Bisa sayang, nanti kamu lihat setiap bulannya ya," jawab Noval lagi.


"Apa kita kasih tau ibu?" tanya Noval.


"Nanti saja kalau sudah yakin," ujar Hafsah malas.


Noval membelai rambut istrinya. Ibunya berbuat ulah lagi. Aminah mendiamkan menantunya ketika Noval memilih resign dari perusahaan. Wanita itu menuduh jika Hafsah menghasut putranya.


"Ibu sudah tua sayang. Mungkin ia tengah buang tabiat," ujar pria itu menenangkan.


Hafshah berdecak tak suka. Ia memang menyayangi mertuanya seperti ibunya sendiri. Tetapi, kadang Hafsah hilang sabar menghadapi wanita yang melahirkan suaminya itu.


"Ada yang kamu tidak tau sayang," gumam Noval lirih.


"Apa Yah?" tanya Hafsah yang seperti mendengar suaminya mengatakan sesuatu.


Noval menggeleng, ia tak mau istrinya khawatir.


bersambung.

__ADS_1


Ah ... ada apa nih?


next?


__ADS_2