
Noval mencari keberadaan Puspa atas permintaan atasannya. Hafsah menemani suaminya.
Jalanan sudah sepi dari lalu lalang. Noval tidak tau harus mencari kemana sekretaris atasan sekaligus kerabat dari Hardianto, atasannya itu.
"Kemana ya nyarinya ... aku nggak tau dan nggak begitu dekat?" ujarnya sedikit mengeluh.
Dering telepon membuyarkan gerutuan Noval. Hardi meneleponnya dan meminta maaf karena merepotkan.
"Iya Pak, saya juga tidak tau harus kemana lagi," ujar Noval bingung.
"Ya sudah tidak apa-apa. Kamu boleh kembali, maaf ya sudah merepotkan," ujar Hardi di seberang telepon.
Noval mematikan sambungan teleponnya. Pria itu memutar arah menuju kediamannya.
Sementara itu, Puspa bersama Andi pergi menuju rumah sewa Puspa. Keduanya mengambil barang-barang milik Puspa. Andi benar-benar ingin membawa gadis itu pergi.
"Aku menempatkanmu di rumahku di kampung. Di sana aku akan kenalkan kau sebagai istriku. Tenang-tenang ya,"
Puspa hanya mengangguk setuju, kampung Andi termasuk desa maju. Sebenarnya pria itu memiliki sedikit usaha lahan yang dikelola oleh petani. Ia bisa menghidupi Puspa.
"Aku kembali bekerja selama sisa bulan ini ya. Biar tidak ada yang curiga," Puspa lagi-lagi mengangguk.
Pagi menjelang, ketika semua sibuk dengan aktivitas mereka. Hafsah menyajikan sarapan untuk suaminya.
"Pagi sayang," Noval mencium kening istrinya.
"Pagi juga," sahut Puspa sambil tersenyum indah.
Usai sarapan, Noval pamit diantar oleh sang istri. Kehamilannya kali ini membuat Noval sedikit payah. Kemarin ia diberi obat anti mual agar bisa berkerja.
"Mas, kalo emang kurang sehat nanti langsung pulang ya," pinta Hafsah khawatir.
"Iya sayang, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum!'
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!"
Mobil beranjak diiringi lambaian tangan Hasfah. Setelah menutup pagar. Perempuan itu memasak untuk makan siang mereka. Ia juga membuat kudapan untuk murid-murid ngajinya.
"Alhamdulillah sudah beres semuanya. Tinggal mandi dan siap-siap ngajar!" ujarnya semangat.
Hafsah memulai kegiatannya mengajar mengaji. Kali ini muridnya bertambah tiga orang lagi.
"Bayarannya berapa ya Bu?" tanya salah satu orang tua murid.
"Seikhlasnya Bu," jawab Hafsah yang memang tak pernah mematok harga.
"Ah ... masa ada bayaran seikhlasnya. Bisa-bisa saya minta gratis nih!?' kekeh wanita itu.
"Ya nggak apa-apa kalau mau gratis, asal kasih surat keterangan tidak mampu," ujar Hafsah tak keberatan.
"Dih ... kita nggak semiskin itu kali!" dumal wanita itu mencibir.
"Nih, saya mampu bayar seratus ribu satu bulan!" ujarnya menyerahkan uang berwarna merah itu sedikit kasar.
Hafsah menghela napas panjang. Ia menerima uang itu dan mencatatnya di buku. Setelah itu ia memberikan nota pembayaran.
"Belajar kamu yang bener! Ibu udah bayar mahal tuh!" ujarnya pada sang anak.
__ADS_1
"Iya Bu!' angguk bocah laki-laki itu.
Sang ibu pergi dengan bibir mancung lima senti. Hafsah mengusap kepala anak laki-laki yang terus menunduk.
'Nggak apa-apa sayang. Nanti balasnya hafal tiga puluh juz ya," ujarnya memberi semangat.
Bocah itu mengangguk, ia pasti akan belajar giat dan menjadi hafidz untuk membuat kedua orang tuanya bahagia.
"Mari kita mulai dengan bacaan basmalah!" suruh Hafsah.
"Bismillahirrahmanirrahim!" seru semua anak sambil menghirup ingus mereka.
Sementara di perusahaan, Hardianto tampak sibuk. Luki juga kualahan karena Puspa menghilang.
Sedang sekretaris Noval yang baru kini harus bekerja ganda untuk menggantikan Puspa yang menghilang.
"Kemana anak itu!" pekik Hardi kesal.
Pria itu sampai tak fokus dengan pekerjaannya. Luki harus selalu mengingatkan pria itu untuk profesional.
"Noval!" panggil Hardi melalui interkom.
"Saya Pak?!"
"Ke ruangan saya sebentar!" perintah Hardi.
Noval mendatangi atasannya. Hardi menyuruhnya untuk duduk.
"Jadi kamu tidak tau Puspa ada di mana?" tanya Hardi di luar topik pembahasan.
"Pak?" Noval mengerutkan keningnya.
Pria itu mengerutkan keningnya, ia benar-benar pusing dengan Puspa, sepupu jauhnya itu.
Andi datang membawa teh hangat. Mestinya Puspa yang menyiapkan itu. Tetapi, Hardi meminta Andi membuatkannya.
"Makasih Ndi ... kamu boleh kembali!' suruh Hardi.
'Baik Pak, permisi!'
Andi pergi, Noval masih duduk di sana menunggu perintah atasannya itu.
"Ah ... kamu di sini ngapain Nov?" tanya Hardi lagi.
"Pak?"
Lagi-lagi Hardi minta maaf yang tak fokus. Tak lama, Suryo datang dan langsung marah-marah pada Hardi.
"Kamu nggak bisa jagain sepupu kamu. Kenapa dia bisa hamil gitu!"
"Loh emang dia anak kecil yang mesti saya gendong apa!" bentak Hardi.
"Saya masih baik ya. Membiarkan dia bekerja dengan kelakuan minim begitu!" lanjutnya berteriak.
Suryo terduduk, Puspa adalah putrinya paling bungsu. Sang ibu telah lama meninggal dunia, kesibukan membuat Suryo abai pada putrinya.
"Ini semua karena Om yang minta dia gugurin kandungan. Sebengal-bengalnya Puspa, tapi dia adalah perempuan yang memiliki perasaan! Kemungkinan janin di dalam rahimnya membuat ia jadi seorang ibu dan berubah!' jelas Hardi panjang lebar.
__ADS_1
Noval memilih menyingkir, bukan kapasitas dia untuk ikut campur masalah keluarga.
Makan siang datang, Noval memilih makan di rumah. Ia sedikit berlari menuju lift.
"Nov!" seru Hardi yang menghentikan langkah cepat Noval.
"Kamu mau kemana?" tanya Hardi.
"Pulang makan pak?" jawab Noval.
"Saya ikut ya. Istri saya keluar kota bersama putra saya. Mereka jalan-jalan," Noval mengangguk.
Keduanya kini menaiki mobil Noval. Pria itu memberitahu jika atasannya ikut serta.
Sampai di rumah, Hardi cukup terkejut dengan lokasi yang tidak terlalu jauh.
"Silahkan masuk Pak!" ajak Noval.
"Assalamualaikum!" ujar Hardi dan Noval memberi salam.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sambut Hafsah dengan senyum ramah.
"Mau sholat dulu apa langsung makan?" tanya Hafsah.
Noval menatap atasannya. Hardi yang tak mengerti hanya diam.
"Pak ... kami biasanya sholat dulu baru makan siang," ujar Noval memberitahu.
"Oh ... kalau begitu, aku menuruti kalian saja!" ujar Hardi tak masalah.
Mereka pun sholat dhuhur terlebih dahulu. Usai sholat, ketiganya makan siang dengan lahap.
"Oh ya, Bu Noval. Putra saya ingin sekali belajar mengaji, bisa minta flyer nya?"
"Oh mashaallah ... sebentar ya Pak saya ambil," ujar Hafshah senang.
Wanita itu memberikan selebaran kegiatan mengajar ngajinya pada Hardi. Pria itu mengangguk setuju.
"Ini bayar sekilasnya?" tanya Hardi kaget.
"Iya pak!'
"Wah ... masa mengenal ilmu Allah mau gratisan!" ujarnya keki sendiri.
Pria itu menyodorkan uang satu gepok dengan nilai 5.000.000,- Hafsah melirik suaminya.
"Terima lah, itu rejeki!" ujar Noval.
"Makasi Pak!" ujar Hafsah bersyukur.
"Sama-sama, oh ya kapan.mulai mengajar?" tanyanya.
"Bisa lusa Pak!" jawab Hasfah.
"Baiklah saya akan beritahu putra saya!" ujar Hardi lagi.
Setelah kepergian mobil, Hafsah mengucap syukur Alhamdulillah. Wanita itu tengah menambah keperluan belajar mengajarnya.
__ADS_1
"Semoga bisa jadi ladang amal!" ujarnya pelan. "Aamiin ya rabbal alaamin!"
bersambung.