ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
KEPUTUSAN


__ADS_3

"Apa tidak sayang nak?!" tanya Aminah sedikit tak setuju.


"Pekerjaan yang kau dapat ini susah payah loh!" lanjutnya menyayangkan.


"Tapi aku merasa dimanfaatkan Bu!" keluh Noval.


"Tidak ada boss yang tidak memanfaatkan anak buahnya!" sahut Aminah.


"Nak, ibu juga memiliki usaha kecil di kampung kita. Ibu juga memanfaatkan tenaga beberapa ibu-ibu untuk menggantikan ibu di sana sekarang," lanjutnya.


Noval diam, memang benar. Tapi ia rasa ibunya tidak hampir tiap hari ke tempat tinggalnya.


Pagi menjelang, hari Sabtu Noval mematikan ponselnya. Ia benar-benar tak mau diganggu ketika bersama keluarga.


Hafsah jauh lebih baik, subuh tetap ia bangunkan semua orang. Aminah juga sangat berterima kasih menantunya itu tak menekan dirinya akibat kesalahan kemarin.


"Ayah ... Isa nanti mau sekolah di tempatnya Mama ya!" ujar Visyah nyaring.


"Uh ... mashaallah pinternya anak ayah!' puji Noval.


"Memang dede kalau besar mau jadi apa?" tanya Hafsah sambil memotong sayuran.


"Mau jadi sepelti Mama! ibu lumah tangga!" jawab gadis kecil itu.


Hafsah menggeleng mendengar jawaban putrinya. Ia sedikit menyesal sang putri jadi terlihat dewasa.


"Hmmm ... lagaknya mau jadi ibu lumah tangga, masak saja belum bisa?" ledek Noval.


"Ayah ... sekalang kan Isa masih kecil!" sahut Visyah membela diri.


"Hmmm ... iya sih yang masih kecil," kekeh Noval lalu menciumi putrinya hingga tergelak.


Lalu terdengar bunyi ponsel. Rupanya milik Aminah. Wanita itu mengangkat sambungan telepon itu.


"Assalamualaikum!"


".......!"


"Oh iya Noval ada kok di rumah? Kenapa pak?" tanya Aminah.


"......!"


"Oh baik Pak. Pasti Noval akan pergi. Saya akan langsung suruh dia untuk ke kantor sekarang juga!" ujar Aminah langsung.


Noval mengerutkan keningnya. Pria itu sedikit bingung dengan apa yang terjadi.


"Bu? Kenapa ibu bilang gitu? Tadi siapa Bu?" cecarnya.


"Tadi Pak Hardi telpon ibu. Katanya kamu diminta ke kantor sekarang ada klien dari Eropa yang mendesak datang sekarang. Beliau berkata nggak bisa meninggalkan acara keluarga!" jelas Aminah panjang lebar.


"Terus ibu langsung mengatakan aku bisa ke sana tanpa minta persetujuanku dulu?" tanya Noval tak percaya.


Hafsah langsung mengambil alih Visyah putrinya. Ia tak mau sang putri mendengar perdebatan antara ayah dan neneknya.


"Mama ... nenek dan Ayah kenapa?" bisik Visyah.


"Sssh ... nggak boleh nguping. Temani ibu masak yuk!" ajak Hafsah.

__ADS_1


Noval berdiri, ia menolak hadir. Ia merasa Hardi mengada-ada melimpahkan semua pekerjaan padanya.


"Nak ... kamu kesana nak. Ini tanggung jawabmu!" perintah Aminah.


"Tidak ibu. Ini waktuku untuk keluarga!" tekan Noval.


"Nak ... ibu yakin jika Hafsah dan Visyah mengerti. Ini adalah untuk kemaslahatan semua pekerja di perusahaan itu!" bujuk Aminah lagi memberi pengertian.


"Lagian boss mu itu sedang ada acara keluarga ... kamu mengertilah!" lanjutnya.


"Bu ... bagaimana dengan keluargaku. Aku juga punya keluarga!" sahut Noval kesal.


"Nak ... kamu kerja juga demi keluarga!"


Mereka kini ada di kamar Noval dan Hasfah. Aminah menghela napas panjang.


"Apa Hafsah yang meminta kamu mementingkan dirinya?" tanyanya menuduh.


"Bu ... dia adalah wanita yang ibu pilih jadi istriku!" sentak Noval.


"Dia tak pernah menuntut apapun dari ku selama aku memenuhi kewajiban ku sebagai ayah dan suami!" lanjutnya.


"Pekerjaan ini adalah kewajibanmu sebagai ayah, suami dan juga pekerja!" sahut Aminah tak mau kalah.


Noval duduk di pinggir ranjangnya. Kepalanya mendadak pecah. Ia tak habis pikir bisa-bisanya sang atasan menerima tamu bisnis di hari sabtu.


"Padahal jika klien diberi tahu ini hari Sabtu. Pasti mereka mengerti!" gumamnya kesal.


"Nak ... jangan banyak berpikir. Nasib ribuan pekerja di perusahaan itu ada di tanganmu sekarang!" desak Aminah.


Akhirnya mau tak mau Noval pun pergi. Visyah berteriak memanggilnya dan bertanya.


"Ayah kerja dulu ya, nanti pulang bawa mainan untuk kamu," jawab Aminah lalu mendorong putranya keluar pintu.


Hafsah tak berkata apapun. Ia tak mau lagi berdebat dengan ibu mertuanya itu. Walau ia tak setuju dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu.


Masakan selesai, Visyah sudah bermain sendiri. Aminah hanya mengawasinya dari jauh. Ia akan menelpon supir untuk menjemputnya.


"Sah!" panggilnya.


"Ya Bu," sahut Hafsah sedikit menghela napas.


Aminah mendengar helaan itu. Ia merasa Hafsah tak menyukai apa yang ia lakukan pada Noval tadi.


"Kenapa kamu tarik napas gitu?" tanya kesal.


"Nggak ada Bu!" bantah Hafsah tentunya.


"Kamu tarik nafas panjang tadi! Apa kamu nggak suka ...."


"Bu, bisa pelankan suara ibu!" perintah Hafsah.


"Ada Visyah di sini!" lanjutnya memberi peringatan.


Aminah diam, Hafsah mampu menampik keras semua perkataannya. Wanita itu pun akhirnya diam sampai Visyah tertidur usai makan siang.


"Ibu mau bilang apa tadi?" tanya Hafsah.

__ADS_1


Ia menatap mertuanya, mata lamur dan kulit keriput. Seluruh rambut Aminah sudah memutih.


"Ah ... ibu sudah tua ternyata,' gumamnya dalam hati.


"Ibu nanti sore pulang!" ujar Aminah tegas.


"Ibu nggak mau nunggu bang Noval pulang?" Aminah menggeleng.


"Ibu sudah terlalu merepotkan di sini!" jawab Aminah menggerutu.


Hafsah duduk bersimpuh di kaki mertuanya. Ia mencium kaki wanita yang melahirkan suaminya itu.


"Apa yang kamu lakukan Hafsah!" pekik Aminah kesal.


"Maafkan aku ibu. Maaf jika aku selalu membantahmu. Maaf ... hiks!"


Aminah terdiam, ia memang terlalu keras pada menantunya itu padahal dia telah berjanji lebih menyayangi Hasfah dibanding putra kandungnya sendiri.


"Nak ... ibu juga minta maaf ya ... maaf terlalu mencampuri kehidupan rumah tangga kalian," ujarnya serak.


"Ibu ... huuuu ... ibu ... hiks ... hiks!"


Hasfah memeluk mertuanya. Ia menangis dan tangisannya menular pada Aminah.


"Ibu di sini saja ya sama Hafsah. Biar Hafsah yang rawat ibu," pinta Hafsah dengan air mata berderai.


"Maaf sayang, ibu mau di kampung saja," tolak Aminah.


"Di sini terlalu tengah. Bener kata paklikmu. Ibu kangen adzan di masjid kampung," kekeh wanita tua itu.


"Ibu," rengek Hafsah.


"Nanti ibu pasti merepotkan kamu kok," kekeh Aminah lagi.


Sore menjelang, Aminah pun pulang. Supir memang disuruh kembali ke desa selama ia ada di rumah putranya dan akan kembali menjemput. Perjalanan hanya dua jam, jadi tak butuh waktu seharian juga.


Noval pulang ketika telah larut. Pihak perusahaan asing setuju dengan kerjasama yang diberikan. Tanda tangan pun terukir dengan nilai profit besar dan sangat menguntungkan.


"Ibu sudah pulang ya?" tanya Noval membaringkan dirinya di ranjang empuk.


"Sudah tadi sore," jawab Hasfah pelan.


"Kenapa?" tanya Noval.


"Bang ... kita urus ibu yuk!" ajak Hafsah.


Noval menatap istrinya, ia memang merasa ibunya sudah terlalu tua.


"Pekerjaan di sini sedang banyak-banyaknya Sah," ujarnya.


Hafsah menghela nafas panjang. Ia merebahkan diri. Noval memeluknya.


"Kita berdoa saja agar ibu diberi kesehatan dan umur panjang ya!" ujarnya menenangkan kegelisahan sang istri.


"Aamiin qobul ya Allah!" sahut Hasfah mengaminkan perkataan Noval.


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2