ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
TAWARAN POLIGAMI


__ADS_3

Aminah pulang dari rumah sakit. Hafsah dan tiga anaknya menyambut wanita itu.


"Nenek pulang!" seru Visyah senang.


Aminah tersenyum lebar. Wanita itu didorong kursi roda oleh Noval.


"Sini, sini!' tepuk Aminah di pangkuannya.


Visyah tentu langsung berlompatan. Balita itu duduk di pangkuan sang nenek dan Noval mendorong kursi itu.


"Eh ... kok udah gede dipangku. Kan itu berat!" tegur Indah.


"Hafsah kenapa kau biarkan anakmu tak sopan begitu ...."


"Aku yang menyuruhnya!" potong Aminah membungkam Indah.


"Sudah Bu, ayo kita langsung ke kamar!" ajak Hafsah.


Mereka pun ke kamar. Hudni juga ada di sana diam saja. Ia hendak mengikuti.


"Kalian mau apa?" tanya Noval gusar.


"Aku adalah saudara ibumu ...."


"Tunggu!" cegah Aminah.


"Dias! kau bawa semua cucuku ke kamar ya!" suruhnya kemudian.


"Ayo sana ikut Mba Dias!" suruh sang nenek pada cucunya.


Visyah menurut dan mengikuti Dias.


"Bu, ibu baru pulang loh!" peringat Hafsah khawatir.


"Sah, nanti kamu ke ruang tamu ya!" Aminah menenangkan menantunya. "Sepertinya ini harus diselesaikan!"


Hafsah menghela nafas. Noval memberi isyarat agar menurut pada ibunya. Hafsah meletakkan dua bayinya dan Dias menemani mereka.


Wanita itu pun menuju ruang tamu. Di sana Hudni, Indah dan Aldila tampak menunduk.


"Duduklah ke sisi suamimu Nak!" perintah Aminah.


Hafsah menurut, ia duduk di sebelah sang suami. Noval juga tampak tenang di sana.


"Nak, memang ibu adalah putri tunggal. Hudni merupakan saudara sepupu kakek Noval yakni ayah ibu sendiri," jelas Aminah pada Hafsah.


"Jadi maksud kalian datang ke sini apa Hudni. Aku tak pernah berurusan dengan keluarga ayah semenjak pembagian harta warisan itu. Bukankah kalian sudah dapat semua?" Hudni menelan salivanya.


"Aku ke sini bukan untuk harta!" terangnya tentu berbohong.


"Lalu apa?" tanya Aminah.


"Bukan aku tak tau sepak terjangmu di rumahku Hudni!" lanjut Aminah.


"Semua maid mengadu jika kau seperti boss memerintah mereka!" lanjutnya lalu menghela napas panjang.


"Bu, jangan terlalu banyak berfikir," ujar Hafsah masih khawatir pada mertuanya.


"Sok perhatian!" dumal Indah yang kedengaran oleh semua orang.

__ADS_1


"Lebih baik dari pada kalian yang sepertinya mau membunuh ibuku!' sentak Noval.


"Nak!" peringat Aminah.


Indah diam, Hudni juga. Sedang Aldila tampak sibuk mencuri pandang pada pria yang duduk dan menggenggam erat tangan istrinya. Hatinya terbakar cemburu.


"Ck ... kenapa pake pegang-pegang segala!" gerutunya tentu hanya berani dalam hati.


"Aku ke sini untuk menagih janji kakek Alfiansyah.Jika ingin menikahkan cucu laki-lakinya pada putriku," jelas Hudni.


"Aku tak pernah mendengar petuah ayah tentang janjinya padamu Hudni," sahut Aminah.


"Mungkin beliau lupa," sahut Indah.


"Kalau begitu gugur sudah janji itu. Lagi pula, itu hanya janji tak berarti!" sahut Aminah lagi.


"Aminah, aku bukan hendak berbohong. Tapi, janji itu masih terngiang. Makanya Aldila kularang menikah hingga usianya dua puluh lima!" jelas pria itu gusar.


"Aku tak tau jika Paman Alfiansyah tak mengatakan janji itu padamu. Tapi aku yang terus mengingat dan ingin menunaikan janjinya. Aku melarang keras Aldila untuk pacaran!" lanjutnya mulai mengarang bebas.


"Kalau begitu nikahkan dia dengan pria pilihannya atau pilihanmu Hudni!" sahut Aminah tak masalah.


"Dila masih muda. Dia juga cantik. Tentu masih banyak pria yang mau menikah dengannya," ujar Aminah.


"Tapi janji paman ...."


"Hudni!" sela Aminah keras.


"Bu," peringat Noval.


"Janji itu tak ada artinya sama sekali! Terlebih itu melibatkan putraku!" lanjut Aminah.


"Bu, nanti saja ya. Ibu istirahat dulu," pinta Noval lembut.


"Tidak Nak. Ibu ingin selesai sekarang juga!" tolak Aminah keras.


"Ibu ingin mereka segera pergi, toh kita memang tak punya tanggungan untuk memenuhi janji yang tak tertulis itu!" lanjutnya.


"Memang ini tak tertulis. Tapi Allah telah menulis janji. Janji itu harus ditepati!" sahut Hudni tak mau kalah.


"Janji yang seperti apa dulu yang mesti ditepati Paman!" tekan Noval tegas.


"Tapi Syaidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata Rasulullah bersabda, barang siapa yang 'tidak menepati janji seorang muslim, niscaya ia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan." (HR. Bukhari dan Muslim). sahut Aldila lantang.


"Janji yang seperti apa Dila? Apa kami terlibat dengan janji itu. Bukankah itu hanya perkataan lewat mungkin kakek waktu itu hanya bergurau atau hanya asal bicara!" sahut Noval kesal.


"Maaf saya menyela!' celetuk Hafsah tiba-tiba.


"Kamu orang luar. Nggak usah ikut campur!" tekan Hudni sinis.


"Tentu saya harus ikut campur. Saya masih istri dari Noval dan menantu dari ibu Aminah!" tekan Hafsah berani.


"Biarkan menantuku bicara!" ujar Aminah menengahi.


"Benar kata Aldila. Sebagai umat muslim harus menetapi janjinya. Bahkan hal itu tertulis di surah An-nahl ayat 91 ...."


Hafsah melafalkan ayat itu dengan suara indahnya. Semua tentu tertegun dengan lantunan indah itu.


"Artinya: Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat!"

__ADS_1


"Tapi ayahku pantang berbuat janji. Ayah tak pernah berjanji apapun sebelum beliau menepati dengan tindakan!" bantah Aminah cepat.


"Lagi pula ibu juga tak pernah sekalipun kakeknya Noval berbicara soal perjodohan!" lanjutnya bersikukuh.


"Aku bersumpah Aminah!" sahut Hudni juga bersikeras.


"Ayahmu menjanjikan akan menjodohkan cucunya untuk putriku!" lanjutnya.


"Tapi waktu itu ayahku belum tau kalau kau punya putri Hudni!" berang Aminah.


"Istighfar Bu," Hafsah menenangkan mertuanya.


"Bagaimana jika poligami saja!" celetuk Aldila.


Semua menoleh pada gadis berjilbab lebar itu. Hafsah sedikit gusar. Ia belum siap dimadu.


"Aku menolak!" sahut Noval cepat.


"Tapi ini demi janji!" ujar Aldila.


"Ayahku tak bisa beri bukti jika mendiang kakek pernah berjanji pada ayah!" lanjutnya dengan muka memelas.


"Bukankah di Islam pria boleh beristri lebih dari satu. Dila yakin jika Kak Hafsah tau hukumnya!" lanjutnya menatap pada wanita berjilbab biru.


Hafsah diam, ia memang tau hukum poligami. Tetapi hatinya ragu untuk ikhlas dengan pernikahan itu.


"Benar itu!" ujar Hudni pada akhirnya.


"Ini semua demi terpenuhinya janji. Kau tentu tak mau jika mendiang Kakekmu terjerat di neraka gara-gara janji yang tak dijalankan!" lanjutnya lagi.


Aminah menatap putra dan menantunya. Ia juga takut jika janji itu benar-benar nyata adanya dan malah menyusahkan mendiang ayahnya yang telah beristirahat dengan tenang.


"Kami akan menantikan jawaban kalian. Maaf, bukan kami kurang ajar. Tapi kami masih di sini untuk menanti jawaban kalian!" ujar Hudni lagi.


Pria itu membawa istri dan putrinya ke kamar mereka. Aminah gusar, ia juga tak mau disalahkan di akhirat kelak karena tak menepati janji.


"Nak ...."


"Bu, ibu istirahat saja ya!" putus Noval. "Nanti aku beri jawabannya!"


"Tapi Nak, ibu juga nggak mau diadili karena janji itu!" ujar Aminah sedih.


"Hafsah bawa ibu ke kamar ya!' pinta Noval lembut.


Hafsah mengangguk, ia mendorong kursi roda dan membawa ibu mertuanya ke kamar.


Dini hari Hafsah terbangun. Ia menatap sang suami yang telah selesai melakukan sholat sunnah.


'Apa bang Noval sedang sholat istikharah ya?' tanyanya dalam hati gusar.


Hafsah memilih pergi ke kamar mandi dan wudhu. Ia juga melakukan sholat sunnah tahajud. Meminta ketenangan hatinya.


"Ya Allah, sabarkan aku dengan segala ujian dariMu ya Rabb ... tetapkan hatiku pada ketentuanMu!"


bersambung.


Duh ... jawaban Noval apa ya?


next?

__ADS_1


__ADS_2