
Memikirkan tanah dan rumah milik mendiang besannya, membuat Aminah tak bisa tidur. Aida termasuk orang berada walau hidup sederhana.
Hidup menjanda selama usia Hafsah mencapi dua puluh tahun, dulu terdengar santer Rando sempat mengajak Aida menikah, tetapi ditolak karena Aida menganggap Rando adiknya sendiri.
“Rumah Aida walau kecil, tapi tanahnya luas hingga bisa berkebun. Belum lagi ladang palawija dan sawah lima hektar milik almarhum ayahnya Hafsah ....”
Aminah mulai berkhayal mengelola semua tanah dan perkebunan itu. Ia memastikan jika Noval yang akan jadi ahli waris satu-satunya.
“Kan Hafsah istrinya, jadi milik Hafsah ya milik Noval juga,” gumamnya lagi membenarkan pikirannya.
Bisikan demi bisikan membuat Aminah makin jauh, ia tersenyum puas dengan apa yang ia rencanakan. Ia juga yakin jika Noval akan mendukungnya penuh.
Pagi menjelang, hari ini hari minggu. Rando berkutat dengan laptopnya di teras rumah. Pria itu masih tampan diusianya yang makin matang. Banyak sekali kaum hawa wira-wiri depan rumah hanya untuk melihat sosok tampan yang begitu serius.
“Mashaallah ... nikmat mata ini melihat pemandangan sejuk!” gumam setiap wanita yang melewati depan rumah Hafsah dan Noval.
Rando jika serius maka ia abai dengan sekitar. Tak lama Noval duduk membawa secangkir teh dan juga satu piring kudapan.
“Serius sekali paklik?” ujarnya.
Rando menoleh, ia pun memberikan senyuman terbaiknya. Rando tertegun dengan senyuman pria itu. Terkadang Noval iri dengan wajah Rando yang selalu berseri dan memancarkan cahaya itu. Bahkan Noval sampai tak tau apakah paman dari istrinya ini sudah mandi atau belum.
“Paklik, bisa kasih resepnya?” tanyanya yang membuat kening Rando mengkerut.
“Saya hanya bisa masak air dan mie instan. Kamu mau minta resep apa?” tanya Rando berseloroh.
Noval mengerucutkan bibirnya, ia berdecak. Tentu ia malu jika menuduh Rando menjalankan perawatan wajah seperti penggunaan skincare.
“Itu mukanya bisa glowing.” gerutu Noval menjawab.
“Hah?” Rando tak mendengar gerutuannya.
Sementara di dalam rumah, Hafsah telah selesai membersihkan dirinya. Visyah sudah rapi dan telah terlelap setelah menghabiskan dua botol susu.
“Hafsah ... bisa ke sini. Ada yang ingin ibu bicarakan!” ujar Aminah.
“Iya Bu,” sahut Hafsah.
Keduanya duduk di ruang keluarga, Aminah sudah duduk dengan satu cangkir teh di tangannya. Hafsah duduk di sisi mertuanya.
“Ada apa Bu?” tanyanya setelah mendaratkan bokong di sisi kosong Aminah.
“Begini Nak ...,” Aminah meletakkan cangkir tehnya di meja.
“Ini perkara tanah milik ibumu,” lanjutnya.
__ADS_1
“Tanah milik Emak? Emang kenapa Bu?” tanya Hafsah bingung.
“Begini, ibu menawarkan diri untuk mengurus tanah itu menjadi lahan komoditi. Keuntungannya bisa berlipat ganda loh!” jawab Aminah langsung pada intinya.
Hafsah diam, ia menatap mertuanya dengan tatapan bingung. Aminah menghela napas panjang, rupanya usaha untuk mengambil alih tanah masih jauh panggang dari api.
“Ibu hanya ingin yang terbaik. Ini demi masa depan semua cucu-cucu ibu. Toh itu juga milik mereka nanti,” ujar Aminah lagi memberi penjelasan.
“Jadi maskud ibu apa?” tanya Hafsah masih belum dapat apa yang jadi keinginan mertuanya itu.
“Ibu bukan meragukan paklik mu. Tetapi, ketika ia menikah dengan wanita lain. Ibu takut dia akan mengambil alih semua hartamu itu,” ujar Aminah mengungkap kekhawatirannya.
Hafsah tersenyum kini ia paham maksud ibu mertuanya. Tetapi ada yang Aminah lupa dengan itu semua.
“Semua tanah dan kebun sebenarnya milik almarhum bapak dan paklik. Ibu nggak punya apa-apa bu,” ujar Hafsah yang membungkam Aminah.
“Tanah dan rumah yang ibu khawatirkan menjadi milik paklik nantinya memang itu adalah hak dia. Sedang Hafsah hanya memiliki sedikit bagian saja,” lanjutnya menjelaskan.
Aminah menatap menantunya tak percaya, Hafsah memegang lembut jemari ibu mertuanya dan mengusapnya pelan.
“Jika pun itu semua milik Hafsah ....”
“Ibu sama sekali tak memiliki hak untuk mengelola ataupun meminta bagian dengan alasan masa depan cucu-cucu ibu, karena itu adalah tanggung jawab Bang Noval sepenuhnya,” lanjutnya sangat pelan dan menusuk hati Aminah.
“Ibu tidak memiliki hasrat untuk mendapatkan semua itu ... untuk apa!” sanggah Aminah marah.
“Jangan sampai Bang Noval malu dengan rencana atau keinginan ibu tadi ....”
Aminah diam, ia tak menyangka Hafsah menantunya sangat pintar dan tak semerta-merta mau menurutinya sebagai mertua.
“Aku adalah wakil dari ibumu Hafsah!”
“Aku tau bu .... sangat tau ...,” ujar Hafsah lagi dengan senyum lembut.
“Tapi perkara harta warisan milik Hafsah ... ibu tak memiliki hak untuk mengaturnya!” terang Hafsah dengan tatapan tajam.
“Kalau begitu harta warisan Noval kau juga tak berhak ....”
“Saya berhak selama saya adalah istri dari bang Noval, walau tidak banyak selama bang Noval ridho atas pembagian hartanya,” jawab Hafsah tenang.
“Tapi saya tak akan menguggat ataupun meminta harta warisan milik bang Noval!” lanjutnya meyakinkan. “Karena tak akan kaya seseorang hanya karena merebut atau meributkan harta warisan!”
Hafsah mencium lembut kening mertuanya. Ia memang sayang dengan Aminah. Terlebih Aminah sudah ia anggap pengganti sang ibu yang telah tiada.
“Jangan sampai hilang rasa hormatku padamu hanya perkara duniawi bu ....’
__ADS_1
Visyah menangis kencang, Hafsah bergegas ke kamarnya meninggalkan Aminah yang duduk termenung. Jujur, ia sangat malu dengan apa yang barusan Hafsah uraikan.
‘Astaghfirullah ... apa yang baru saja aku pikirkan?” gumamnya menekan dadanya yang sakit.
“Ada apa denganku, kenapa aku memiliki pikiran bodoh seperti ini!” lanjutnya merasa bersalah.
Aminah berdiri menyusul menantunya ke kamar. Di sana Hafsah tengah menyusui cucunya. Visyah sudah menampakkan bobotnya yang makin lama makin gembul.
“Nak ... boleh ibu masuk?” Aminah masuk walau Hafsah belum memperbolehkannya.
“Tentu ibu ...,” jawab Hafsah tersenyum.
Aminah mengusap kepala cucu perempuannya lalu mengecup menantu yang baru saja menyentil hatinya begitu keras.
“Maafkan ibu nak ... ibu tadi tidak ....”
“Sudah ibu ... tak apa-apa ,” potong Hafsah mengerti.
“Ibu sedang khilaf, sebagai manusia jika itu aku. Pasti memiliki pikiran yang sama seperti ibu,” potong Hafsah.
“Tapi ibu merasa bersalah ...,”
“Hafsah udah maafin ibu kok!” ujar Hafsah tersenyum.
“Hafsah juga minta maaf jika tadi terlalu keras pada ibu,” lanjutnya.
Aminah menggeleng, ia kembali mencium kening menantunya dengan sayang. Lalu ia mengambil alih Novisyah dari gendongan Hafsah dan meletakkannya di boks setelah mencium pipi gembul kemerahaannya.
Hafsah menyambangi ibu mertuanya dan memberi pelukan hangat. Meletaklkan kepalanya di punggung Aminah.
“Bu ... sayangi aku seperti anak ibu sendiri ya,” pintanya lirih.
“Aku akan sakit dan pasti sedih jika ibu membedakan kasih sayang ibu,” lanjutnya memohon.
Aminah mengelus pelan lengan menantunya, ia membalik badan. Mata Hafsah berkaca-kaca. Aminah sedih melihatnya, menantunya telah yatim piatu. Tadi barusan ia ingin mengambil alih harta dari anak yatim piatu itu.
“Maaf nak ... maafkan ibu ... ibu janji akan menyayangimu jauh lebih sayang dari anak ibu sendiri ...,’
“Wah ... ada apa ini peluk-pelukan?” sebuah suara mengejutkan keduanya.
Noval mendatangi dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya, kini wanita itu tambah satu dan tengah terlelap dalam boksnya.
“Sehatlah terus wahai ibu dan ibu dari anak-anakku. Tanpa kalian ... aku pasti mati dalam mengarungi kehidupan ini!”
Bersambung.
__ADS_1
Cakep Hafsah!
Next?