ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
SEBUAH PERISTIWA


__ADS_3

Noval sudah lebih baik, pria itu mendapat obat anti mual. Walau setiap pagi ia tetap muntah cairan bening yang pahit.


"Mestinya aku yang mengalami itu Bang," protes Hafsah sedih.


"Hei ... dengar sayang. Abang tak keberatan sama sekali!" ujar Noval menenangkan istrinya.


"Nanti kamu malah lebih berat sayang. Gembol dede dalam perut selama sembilan bulan atau bisa lebih. Belum lagi merasa mulas, kontraksi berkepanjangan, hingga melahirkan yang mempertaruhkan nyawa," lanjutnya lagi.


Mata Hafsah berkaca-kaca. Ia begitu terharu, anaknya belum lah lahir. Tetapi gambaran perjuangan ketika hendak melahirkan telah tercetak jelas di otaknya.


"Kamu harus tenang sayang. Ada Abang di sisimu. Berserah sama Allah, yakin jika kau bisa melahirkan dengan selamat baik dirimu dan juga anak kita!" Hafsah mengangguk.


Setelah mobil Noval bergerak, Hafsah mulai masuk untuk memasak. Wanita itu tak lagi diminta mengantar makanan. Noval akan pulang untuk makan, jika tak bisa. Pria itu akan meneleponnya makan di luar.


Usai masak dan bebersih diri. Hafsah kembali membuka kelasnya. Menyapu dan mengepel agar murid-muridnya nyaman.


"Assalamualaikum!" seru anak-anak mulai bermunculan satu persatu.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sambut Hafsah dengan senyum lebar.


Anak-anak duduk dengan rapi. Wajah mereka berisi dengan senyum lebar. Hafsah begitu bahagia menatap wajah-wajah polos tanpa dosa itu.


"Nah sekarang kita baca doa dulu ya!"


"Iya Bu ustadzah!" seru anak-anak kompak.


"Mulai basmalah dulu!"


"Bismillahirrahmanirrahim!" seru anak-anak.


Sementara itu di kantor, Noval bekerja seperti biasa. Satu sekretaris cantik kembali ia dapatkan.


Pria itu tak banyak protes selama gadis yang menjadi tangan kanannya nanti tak berbuat ulah.


"Ingat tugasmu hanya bekerja secara profesional!" tekan Noval tegas.


"Baik Pak!" angguk Sinta mengerti.


Gadis itu takut dengan wajah datar Noval. Terlebih Hardianto menekan pegawainya itu untuk tidak berbuat macam-macam di perusahaan tempatnya bekerja.


Sedang Puspa baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya sedikit pucat. Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya.


"Nona!" Andi menahan laju tubuh Puspa yang hampir terjungkal.


"Kepalaku!' keluh wanita itu.


Andi memapahnya, Hardi yang kecarian sekretaris mendapati Puspa yang pucat dipapah oleh OB kantor.


"Andi ... kenapa dia?" tanyanya sedikit panik.


"Nona ...."


Belum sempat Andi menjawab, Puspa tak sadarkan diri. Andi menggendongnya.


"Pak, Non Puspa pingsan!" teriaknya.


"Ayo bawa ke mobil! Kita ke rumah sakit!" ajak Hardianto menenangkan ob nya.


Mereka berdua berlari menuju lift khusus. Luki yang berpapasan tentu kaget.


"Kau urus dulu semua!' perintah Hardianto.

__ADS_1


"Baik Pak!" angguk Luki.


Andi menggendong Puspa langsung masuk lift begitu pintu terbuka bersama dengan Hardi kemudian.


Noval yang keluar bersama sekretaris barunya bingung melihat Luki yang sepertinya melamun.


"Luk ... ada apa?" tanyanya.


"Ah ... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja semua pekerjaan Pak Hardi saya yang kerjakan!" jawab Luki cepat.


"Baik ... kalau begitu sampai jumpa di ruang rapat!" ujar Noval mengingatkan Luki.


"Siap Pak!"


"Mana Puspa?" tanya Noval.


"Tadi pingsan dibawa sama Andi dan Pak Hardi ke rumah sakit," jawab Luki.


'Oh ...," angguk Noval.


"Eh ... apa?" tanyanya kemudian dengan nada terkejut.


Sementara itu Puspa berbaring di ruangan exclusive. Wanita itu mendapat infus.


"Pasien tidak apa-apa, hanya saja trimester pertamanya sangat berat. Makanya ia pingsan," jelas dokter.


"Trimester pertama?" tanya Hardi bingung.


Sementara di ruangan Andi menatap wajah cantik yang masih setia terpejam. Tak lama Suryo datang melihat keponakannya.


"Bagaimana dia?" tanyanya gusar.


Andi kaget, ia menunduk lalu mundur beberapa langkah. Suryo melihat papan nama pria yang menunduk.


"Pak Hardi sedang bersama dokter Tuan. Saya diminta menjaga Nona Puspa," jawab Andi jujur.


"Baiklah terima kasih, kau tunggu atasanmu di luar!' suruh Suryo tegas.


Andi membungkuk dan berjalan keluar kamar inap yang mewah itu. Sebelum keluar ia menatap sosok cantik yang seperti mengintipnya.


Ssshhh! Begitu sakit dada pria itu. Ia sampai-sampai menekan dadanya dan mengusapnya perlahan.


Sementara di perusahaan, Noval tampak sedikit kerepotan karena Hardi tak datang hingga makan siang tiba.


"Halo assalamualaikum sayang!' ujarnya ketika sambungan telepon terangkat.


Rupanya Noval memberitahu jika dirinya tak pulang makan siang. Setelah memberitahu sang istri, Noval memilih pergi ke kantin perusahaan. Di sana ia duduk di kursi khusus tak ada yang bisa mengganggu jika ia duduk di sana.


Hingga sore menjelang pulang. Hardi tak kunjung pulang. Sedang Andi sudah di kantor menjalankan tugasnya. Pria itu bungkam seribu bahasa. Terkadang air matanya menetes mendengar keributan di kamar inap wanita yang memperkosanya itu.


"Kau gugurkan anak haram itu Puspa!" teriak Suryo berang.


"Mas ... jangan seperti itu!" Hardi mencoba menenangkan pria itu.


"Siapa yang bertanggung jawab atas anak itu nanti Hardi! Anak ini memang bengal, tapi aku tak percaya dia bisa hamil di luar nikah!" sentak Suryo marah.


"Aku bertanggungjawab atas anak-anakku sendiri Om!" teriak Puspa.


"Aku tak akan mengucurkan tiga anakku!" lanjutnya dengan air mata berderai.


"Puspa!" teriak Suryo berang.

__ADS_1


"Ndi!" pria itu terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Noval.


"Tidak apa-apa Pak!" jawab Andi cepat.


Noval mengendik bahu tak acuh. Pria itu memilih pulang ke rumah. Ia sudah merindukan istrinya.


"Assalamualaikum!" Noval memberi salam ketika masuk rumah.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!"


Hafsah tersenyum cantik. Ia membantu mencopot dasi dan juga jas suaminya.


Selesai membersihkan diri dan sholat maghrib berjamaah. Keduanya kini makan malam. Sedikit bercengkrama lalu sholat isya.


Baru saja memberi salam. Tiba-tiba ponsel Noval berbunyi. Hardi meneleponnya. Kening Noval berkerut.


"Assalamualaikum, ya Pak?"


"......!"


"Apa Pak? Puspa melarikan diri dari rumah sakit?" teriak Noval terkejut.


"Maaf Nov. Tapi aku meminta bantuanmu. Bisa tolong carikan dia?" pinta Hardi di sana cemas.


"Baik Pak!' jawab Noval mau tak mau menyetujui permintaan atasannya itu.


"Kenapa Bang?" tanya Hafsah.


"Puspa pergi dari rumah sakit," jawab Noval.


"Pergi? Maksudnya?" tanya Hafsah tak mengerti.


"Aku tak tau," jawab Noval sambil mengendik bahu.


"Ikut yuk! Aku takut jika sendirian," ajak Noval. "Terlebih ia perempuan."


Hafsah mengangguk setuju. Keduanya masuk mobil dan bergerak perlahan menyusuri jalan.


Sementara Puspa kini mengetuk pintu kost milik Andi. Wajah wanita itu sudah basah dengan air mata, bibirnya bergetar dan juga tubuhnya kedinginan.


"Andi ... Andi!"


Andi yang tertidur, mengerjapkan matanya. Ia perlahan membuka pintu. Kemudian ia sempat tertegun melihat keadaan Puspa yang kacau.


"Ndi ... tolong aku Ndi ... please!' pinta Puspa lirih dengan bibir bergetar.


Andi langsung memasukkan wanita itu cepat. Di dalam ruangan 3x6 itu. Andi menghangatkan tubuh Puspa dalam gelora cinta.


"Aaahhh!" teriak pria itu setelah menyebar benihnya.


Puspa pun mendapat pelepasannya. Tubuhnya yang dingin seketika menghangat.


"Bawa aku pergi Ndi ... bawa aku pergi!' pinta Puspa.


"Kita pergi sayang. Tapi, apa kau mau hidup susah denganku?"


"Aku mau ... aku mau!" angguk Puspa setuju.


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2