ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
GANGGUAN KECIL 2


__ADS_3

Hafsah yang melamun, tak mendengar jika pintu ditutup dan dikunci. Wanita itu tersadar lima belas menit kemudian setelah merasa kedinginan.


Ia melangkah gontai menuju pintu. Hafsah terkejut karena ternyata sudah dikunci dari dalam. Ia pun mencoba mengetuk pintu.


“Bang ...!” panggilnya setengah berteriak.


Air matanya meleleh seketika, ia kembali mengetuk pintu kali ini sedikit keras hingga telapak tangannya memerah. Tetapi sepertinya semua tuli karena memang letak pintu dan kamar cukup jauh terlebih jika sudah menutup pintu.


“Abang ... huuuu ... uuuu ... hiks!”


Hafsah mengigit bibir menahan tangisnya, ia benar-benar hancur. Ia meyakinkan jika Noval tak mencintainya hingga tak merasakan kehadirannya.


“Bang ... hiks ... dingin bang ... hiks!”


Hafsah sesenggukan dan meringkuk di kursi sofa. Ia benar-benar mengigil kedinginan sedingin hatinya yang retak.


Beberapa jam kemudian, Visyah terbangun dan langsung mencari ibunya. Batita itu memang selalu bersama sang ibu jika pagi dan mandi.


“Mama ...!” panggilnya.


Batita cantik itu menatap ayahnya yang tertidur meringkuk di kasur kecilnya. Ia pun membangunkan sang ayah.


“Ayah .... bangun yah!”


“Sama mama ya ...,” rajuk Noval masih setia memejamkan mata.


Sedang di kamar lain, Aminah menggeliat. Biasanya sang menantu membangunkannya untuk sholat subuh. Namun kali ini ....


“Sah?” Aminah menghela nafas.


Wanita itu merasa jika ia bangun terlalu dini, kemudian ia beranjak hendak wudhu untuk sholat malam. Hal itu bisa yang ia lakukan di kampung.


“Terbuktikan jika tanpa kebisiingan di masjid ... aku bisa bangun malam,” gumamnya.


“Mama!” teriak Visyah sang cucu mengagetkan Aminah.


“Masa Visyah bangun jam tiga pagi?”


“Mama ... Mama!”


Teriakan Visyah membuat Aminah berdecak kesal akan lambannya Hafsah menangani putrinya. Iapun keluar kamar. Suasana sudah terang lampu memang dimatikan ketika malam. Aminah menatap benda bulat yang menempel di dinding.


“Astaga ... Hafsah ... sudah setengah tujuh!” teriaknya.


“Mama ... mana mama!” Novisyah menangis, ia sudah lapar.


“Hafsah!” teriak Aminah.


“Ada apa sih bu ... pagi buta begini teriak-teriak!” sahut Noval yang keluar dari kamar putrinya.


“Kenapa kau tidur di kamar putrimu? Mana Hafsah?” cecar Aminah pada putranya.


"Ya di kamarnya ....”


Noval membuka matanya lebar, ruangan tengah sudah terang karena cahaya matahari dari luar. Walau tirai belum dibuka. Tetapi sinar matahari menembusnya.

__ADS_1


“Ini sudah setengah tujuh Noval!” teriak Aminah.


“Astaghfirulah!” Noval terkejut.


Pria itu membuka pintu kamar, tak ada Hafsah di sana. Ia mengingat tadi malam pintu terbuka. Gegas ia berjalan ke arah pintu dan membukanya, ia menoleh.


Hafsah meringkuk di kursi dengan kepala ditenggelamkan dalam lipatan pahanya. Hati Noval tiba-tiba terasa diiris sembilu, begitu perih. Ia tak menyangka jika istrinya keluar dan duduk di sana.


“Sayang ....”


Noval berjongkok di depan sang istri yang meringkuk. Airmatanya mengalir, keegoisannya membuat istrinya terkunci semalaman di luar.


“Astaga ... Hafsah!” teriak Aminah.


“Mama!” pekik Visyah yang juga menangis.


Hafsah terbangun, ia gelagapan. Seluruh tubuhnya sakit karena duduk dan tidur secara tak nyaman. Ia membelalak karena hari sudah sangat terang. Seketika air matanya meleleh.


“Ya Allah ... aku nggak sholat subuh,” gumamnya lirih.


“Mama ... mama ... huuu ... mama kenapa ada di lual?” tanya sang putri sambil menangis.


“Maaf sayang ...,”


“Cepat masuk ... bikin orang satu rumah heboh saja!” sentak Aminah.


Semua masuk begitu juga Noval, istrinya tak melihatnya sama sekali. Pria itu sedih bukan main. Lalu ia sadar jika Rando sang paman tak ada di sana.


“Apa paklik pulang tadi malam?” tanyanya dalam hati.


Hafsah memandikan putrinya, Noval membantu memasak sarapan. Ada nasi semalam di mesin penanak nasi, pria itu membuat nasi goreng sosis.


“Aku menguncinya di luar bu,” sahut Noval.


Aminah menatap putranya, ia diam. Tetapi dalam pikirannya yang masih kesal dengan perlawanan Hafsah tadi malam.


“Untuk apa dia keluar tadi malam? Kan bukan salahmu mengunci pintu!”


“Bu ....”


“Apa ... kamu nggak terima jika istrimu itu salah?” protes wanita tua itu.


Noval menatap sang ibu, ia tak habis piki kemana sifat ibunya yang penuh kasih selama ini. Lalu ia melihat uban yang ada pada kepala ibunya.


Hafsah keluar bersama Visyah yang sudah rapi dang wangi. Wanita itu tampak pucat dengan bibir pecah-pecah. Entah berapa lama Hafsah di luar kedinginan.


“Gara-gara kamu, kami semua tak sholat subuh!” gerutu Aminah.


Hafsah diam, wanita itu sudah merasa pusing dan ia sedikit demam. Ia hanya mengangguk sebagai permintaan maaf.


“Maaf bang ... menyusahkanmu membuat sarapan,” ujarnya lirih seperti angin.


“Kamu duduklah,” suruh Noval pada istrinya.


Visyah sudah didudukkan ayahnya di kursi khususnya. Aminah diam jika putranya menatapnya dengan pandangan lembut. Wanita itu sebenarnya merasa bersalah. Ia mengingkari janjinya untuk lebih menyayangi Hafsah dibanding putranya.

__ADS_1


Sarapan pagi berlalu dengan tenang. Candaan Visyah dan Noval karena pria itu menyuapi ibunya tak didengar Hafsah. Wanita itu sedikit menolak ketika disuapi, tetapi melihat binaran tatapan anak perempuam mereka. Mau tak mau Hafsah membuka mulut.


“Mama disuap ... kayak anak bayi!” kekeh Visyah nyaring.


Usai sarapan, Noval meminta ibunya menjaga Visyah. Wanita itu mengangguk. Sudah cukup keegoisannya semalam. Bahkan ia menyalahkan Hafsah karena tak membangunkannya untuk sholat subuh.


Noval membawa istrinya ke kamar. Tadi dia sempat berkirim pesan jika tak hadir kerja hari ini karena keperluan mendesak.


“Maaf,” ujar Hafsah lirih.


Noval menenggelamkan tubuh istrinya dalam pelukan. Dia yang salah di sini, tetapi sang istri malah terlebih dahulu meminta maaf.


“Tidak sayang ... abang yang salah ... abang yang egois ...,” ujarnya lalu mencium pipi Hafsah yang dingin.


Hafsah menangis di dada suaminya, ia benar-benar sedih dikunci dari dalam ia tak percaya jika Noival tak merasakan jika ia ada di sana.


“Apa abang cinta sama aku?” tanyanya sesenggukkan.


“Abang cinta Sah ... abang cinta mati sama kamu ....”


“Kok abang ninggalin aku ... huuuu ... malah ..., hiks ... kunciin aku dari dalam ... hiks ... hiks ... di luar kan dingin bang!” isaknya pilu.


“Maaf ... maaf,” Noval merasa bersalah sekali.


Aminah yang juga merasa bersalah tak enak hatri, ia tak melihat Rando di rumah putranya. Bertanda pria itu sudah pulang tadi malam.


“Rando benar ... aku nggak denger adzan ...,” lalu ia tertawa miris.


“Di kampung yang speaker gede aja nggak kebangun kalau nggak dibangunin Bik Tinah,” kekehnya pelan.


“Nenek ngomong sama siapa?” tanya Visyah dengan suara khas anak-anak.


"Nggak sama siapa-siapa. Yuk, main lagi!" Visyah mengangguk dan mendorong mainan mobil dan dijejer rapi berbentuk barisan.


"Mobilnya palkil di istana ...."


Aminah tersenyum mendengar dongeng cucu perempuannya.


Noval tetap berangkat ke kantor walau siang hari. Hardianto memaksa pria itu karena ia juga memiliki kepentingan keluarga.


Maghrib lewat, Noval baru sampai rumh dengan wajah lelah. Pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengejar sholat maghrib.


Usai makan malam, ia membiartkan Hafsah tidur cepat. Tubuh istrinya sedikit hangat. Maka seluruh rumah Noval yang membersihkannya.


“Kamu udah capek nak,” ujar Aminah mengusap peluh di kening Noval.


“Nggak nyewa pembantu aja. Biar ada yang nemenin Hafsah,” lanjutnya memberi saran.


Noval menggeleng, sebenarnya hatinya sedangtidak baik. Ia merasa jika dimanfaatkan oleh boss besarnya. Ia seperti sapi perah yang harus bekerja di bawah tekanan.


“Bu ... kalau aku berhenti gimana?”


“Apa?” tanya Aminah tak percaya.


Bersambung ....

__ADS_1


Hayo loh ...


Next?


__ADS_2