ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
PENYESALAN HARDIANTO


__ADS_3

Hardianto menunduk ketika Noval mengatakan kebenarannya. Perusahaan yang ia pimpin bukanlah miliknya 100%. Cassyana Poernomo adalah pemilik saham terbesar dan juga pemilik tunggal dari PT Poer Corp.


“Saya akan mengundurkan diri juga Pak!”


“Pak Noval ...,” rajuk Hardianto menyesal.


Noval menggeleng pelan, Hardianto benar-benar menyesal. Kini pria itu terduduk sambil melamun. Tiga orang terhebat di perusahaan mengundurkan diri. Ia mulai bingung ketika istrinya nanti bertanya kenapa Luki, Inge dan Noval berhenti.


“Aku benar-benar bodoh,” sesalnya.


Rayuan setan memang benar-benar menyesatkan. Inge tak tergoda sama sekali dengan ajakannya. Tidak seperti awal pertama gadis itu bekerja.


“Dulu aku menghindarinya, tapi setelah ia menjauh. Malah aku yang ingin menariknya,” kekehnya.


“Sayang!” pria itu terkejut setengah mati.


Cassy datang membawa dua anaknya. Ardian yang sudah berusia sebelas tahun dan Candy yang baru dua bulan lalu hadir di tengah-tengah mereka.


“Sayang ... kenapa keluar, baby Candy kan baru dua bulan!” ujarnya mendatangi istri.


Ardian langsung duduk di kursi kebesaran ayahnya. Cassy memperingatkan putranya agar jangan menyentuh pekerjaan ayahnya.


“Jangan dipegang ya sayang. Kalau error nanti Papa akan lama pulangnya!”


“Iya Mama!” Ardian memilih turun dari kursi itu dan duduk di sofa bersama ayah dan ibunya.


“Loh ... tumben Inge udah nggak ada?” tanya Cassy bingung.


“Biasanya, dia belakangan,” lanjutnya.


“Papa suruh Ma, dia mau nikah,” jawab Hardianto.


Sebuah undangan diletakkan pria itu di meja. Cassy terkejut bukan main ketika melihat nama siapa yang tertera di sana.


“Luki yang akan meminang gadis itu?” tanyanya dengan mata membesar.


“Benar ... Luki,” jawab Hardianto dengan senyum hambar.


“Mashaallah Luki, hebat banget langsung mendapat gadis cantik!” puji Cassy melirik suaminya.


Hardi hanya mengangguk dengan senyum datar. Cassy bukan tak tau apa yang jadi pergolakan hati suaminya. Ia adalah seorang istri, ia sangat paham dengan tingkah Hardi selama ini.


Mereka pun pulang, sepanjang perjalanan diisi dengan celotehan bayi dua bulan dan bocah sebelas tahun. Mereka sampai rumah yang sangat mewah.


“Assalamu’alaikum!” ujar Cassy memberi salam dan ditiru oleh Ardian dan Hardi.


Cassy melayani suaminya, sedang Candy langsung diambil alih oleh baby sitter. Ardian sudah mandiri dan pergi ke kamarnya sendiri.


Kini sepasang suami istri itu sudah bersih. Mereka ada di musolah yang sengaja dibuat oleh Cassy. Wanita itu memang sudah berubah setelah mengenal Hafsah.


Tak jarang ia curhat masalah rumah tangganya pada istri dari wakil perusahaan miliknya. Cassy begitu mempercayai Hafsah.

__ADS_1


“Mas,” panggilnya ketika mereka berada di peraduan mereka.


“Ya ...,”


“Kau tau ... aku begitu mempercayaimu sepenuh hati ...,” ujarnya menggantung.


Hardi terdiam, ia menatap wanita yang selama ini menemaninya tanpa banyak mengeluh. Hardianto dijodohkan dengan Cassy. Gadis konglomerat yang sukses ketika masih muda.


Hardianto tentu tak berpikir dua kali untuk menerima perjodohan itu. Selama pernikahan, bukan tak pernah ia mendapat godaan wanita-wanita cantik termasuk Puspa. Namun, ia mampu melewatinya.


Hardianto berpegang teguh dengan pernikahannya. Namun, ketika Inge hadir. Sosoknya yang cantik dan pintar menggugah Hardi sebagai laki-laki. Termasuk perangai gadis itu yang sedikit manja.


“Aku tau, sebagai sosok pria tampan dan mapan pasti banyak yang menggoda atau tergoda,” lanjut Cassy membuyarkan lamunan Hardianto.


“Aku juga tau kebutuhan biologismu yang tengah membludak karena kini memasuki puber kedua,” Cassy masih berbicara.


“Kau ingin melampiaskan hasratmu untuk menggauli seorang gadis seperti Inge,”


“Ma ... aku ....”


“Aku belum selesai Hardianto!” potong cassy sangat tegas.


Wanita itu menatap laki-laki yang menjadi suaminya, ia memang sangat salut akan pertahanan sang suami tak tergoda untuk memiliki perempuan lain demi memenuhi hasrat bilogisnya.


“Aku berterima kasih dengan kesetiaanmu,” lanjutnya.


“Tapi ... ketika rasa itu muncul. Beritahu aku segera ...,” pintanya kemudian.


“Sebisa mungkin aku pertahankan rumah tangga ini demi anak-anak,” lanjut Cassy serak dengan derai air mata.


“Tapi jangan kau penuhi dia dari penghasilanmu sebagai direktur utama perusahaan! Aku tak meridhoinya!”


“Aku akan menarik semua fasilitasmu ketika bersamanya! Dan ingat, perusahaanmu adalah hakku dan anak-anak!”


“Ma ... maafkan aku ... maafkan papa Ma,” pinta Hardianto.


“Papa sungguh khilaf ... jujur, papa khilaf!” raungnya.


Cassy gemetar, wanita itu memang tengah membenci habis-habisan suaminya kini. Ia yakin dan percaya jika masih ada campur tangan Tuhan untuk menyelamatkan rumah tangganya. Makanya ia memilih memaafkan suaminya.


“Mama ... papa di rumah aja ya, sama anak-anak ... jujur kalau papa kembali bekerja, papa nggak bisa mengendalikan diri. Godaannya berat!” pinta pria itu sekaligus mengaku.


“Mas! Lihat aku!” pinta Cassy.


“Mama nggak akan menurunkan harga diri Papa menjaga anak di rumah. Papa adalah pemimpin dan harus ada di perusahaan!” tekan wanita itu.


“Ma ... gara-gara kekhilafan papa tadi. Kita kehilangan Luki, Inge dan Noval,” aku pria itu lemah.


Cassy memejamkan mata, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Sebuah harga yang mahal harus dibayar.


“Tak apa, kita bisa cari pengganti mereka. Banyak orang di luar sana yang sama kompetennya dengan mereka bertiga!” ujar Cassy lagi.

__ADS_1


“Tapi Papa harus mendatangi mereka dan meminta maaf!” lanjutnya.


Hardianato menatap istrinya, selain pola pikir wanita itu yang berubah banyak. Cassy juga sudah mengubah penampilannya jadi tertutup, dengan memakai jilbab.


“Papa maukan minta maaf?” Hardi mengangguk.


“Tak minta mereka kembali bekerja?” Cassy menggeleng.


“Mereka sudah tak nyaman bekerja dengan kita terlebih papa sudah menodai kepercayaan mereka,” jawab cassy begitu yakin.


Hardianto mengangguk tanda mengerti, ia paham kesalahannya sangat fatal, tak akan mudah meyakinkan tiga orang itu untuk kembali mempercayainya.


“Ma ...,” panggil pria itu pada istrinya.


“Ya,” sahut Cassy.


Wanita itu berada dalam pelukan sang suami, keduanya baru saja mengarungi ombak cinta yang dahsyat. Hardianto begitu bersyukur mendapatkan Cassy seperti sekarang.


“Mama berubah banyak loh?” ujarnya memberi penilaian.


“Mama bukan power ranger yang bisa berubah pa,” seloroh wanita itu.


“Ma!”


Cassy terkiki geli dan merengek manja pasa suaminya. Hardianto gemas dengan jawaban sang istri hingga menggelitikinya dengan mesum. Nafas keduanya terengah-engah Hardianto sibuk memuaskan diri dengan mencumbui Cassy.


“Mas ...!” rengek wanita itu yang kelelahan.


Hardianto menahan birahinya, ia sangat paham jika tubuh istrinya kelelahan setelah aktifitas panas mereka barusan.


“Kamu berubah total setelah dua tahun ini. Caramu bicara, pergaulanmu, juga cara pikirmu yang jauh lebih dewasa,” jelas Hardianto.


“Siapa yang bisa mengubnah seorang tuan putri dari tuan Poernama?” tanyanya penasaran.


“Istri bawahanmu ...- Hafsah,” jawab Cassy tegas.


Hardianto menatap istrinya, ia melewati perempuan berwajah sejuk itu. Wanita yang selalu menundukkan kepala dan berbicara sangat lembut.


“Bu Hafsah mengajari mama banyak hal pa ... ternyata apa yang kita miliki sekarang akan diambil Tuhan jika kita tak benar menjaga sesuai ketentuan Allah. Bahkan kita tetap bisa kehilangan walau kita menjaganya dengan baik,” jelas wanita itu.


“Hafsah bilang ... akan ada masa mulut kita bisu. Tapi tangan dan kaki kita yang bicara mengadu dan mengatakan kebenaran tentang kita,” lanjutnya.


“Hah ... memang kapan waktu itu ma?” tanya Hrdianto tak percaya.


“Ketika kita di dalam kubur pa,” jawaban Cassy membungkam hardianto.


Bersambung.


Panik nggak loh ... panik nggak?


Next?

__ADS_1


__ADS_2