
Perut Hafsah makin besar. Kali ini Noval menggelar acara tujuh bulanan. Karena ini anak pertama mereka. Aminah sang ibu juga hadir.
Hafsah selalu diciumi oleh mertuanya itu. Wanita itu menikmati momen kehamilannya tersenyum.
"Emakmu pasti bangga denganmu sayang," ujar Aminah.
Hafsah terdiam, ia mengingat ibunya. Seketika air matanya mengalir. Aminah buru-buru minta maaf.
"Sayang,"
"Tidak apa-apa Bu," ujar Hafsah.
"Semoga anak Hafsah nggak seperti Hafsah dulu," lanjutnya berseloroh.
Aminah tersenyum, ia kembali mencium menantu kesayangannya itu. Putra dari Hardianto juga sangat lengket dengan Hafsah.
"Ustadzah, dede bayinya cewe atau cowo?" tanya bocah usia sembilan tahun itu.
"Emang kenapa sayang?" tanya Hafsah dengan senyum lebar.
“Kalo cowo mau aku jadiin sodara. Kalo cewe mau jadiin istri!” jawab Ardian tegas.
Hafsah tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan kedua orang tua dari Ardian. Hafsah jadi sedikit miris dengan perkembangan jaman.
Ketika ia kecil dulu, boro-boro memikirkan untuk memiliki pasangan. Hari-harinya ia sibukkan dengan mengejar layangan atau main kelereng.
“Jaman dulu beda ya dengan jaman sekarang,” sahut Cassy sang ibu dari Ardian.
“Dulu emang sih, kita main masak-masakan atau anak-anakan. Tapi mikirin punya suami aja nggak. Saya dulu mikir jika rumah tangga hanya sebagai mainan masak-masakan,” lanjutnya terkekeh.
“Sepertinya, kita dulu salah bermain,” lanjutnya.
Acara selamatan telah selesai, banyak doa baik ditujukan bagi ibu dan jabang bayi. Hafsah sangat berterima kasih atas semua doa yang ditujukan padanya dan juga calon anaknya.
“Yang penting ibu nggak stress dan banyak pikiran,” ujar Hardianto pamit.
Ardian sudah dalam gendongan ibunya. Bocah itu akan rewel jika tidur dan hanya sang ibu yang bisa menenangkannya. Hafsah sampai tak tega karena bobot Ardian yang berat.
“Sudah terbiasa Bu Noval,” ujar Cassy menenangkan.
Setelah semuanya pergi, tampak rumah sederhana Noval mulai sepi. Hari beranjak malam dan Aminah sudah masuk kamarnya. Supir sudah tidur di kamar belakang.
“Bang, Mba Puspa belum ketemu juga ya?” tanya Hafsah.
“Belum,” jawab Noval sambil menggeleng.
“Kalau beliau ada. Usia kandungannya satu bulan lebih tua dari kandunganku ya?”
Noval menatap istrinya, ia memang tak begitu memperhatikan orang lain. Perlahan ia mengusap wajah sang istri yang mulai dingin.
__ADS_1
“Yuk masuk! Kita tak perlu mikirin orang lain. Lagian, baik Pak Hardi dan Pak Suryo seperti lelah mencari gadis itu. Mereka tak lagi meributkan keberadaan Puspa,”
Noval mengajak istrinya masuk, setelah mengunci pintu keduanya memilih sholat berjamaah terlebih dahulu. Usai sholat. Hafsah merebahkan dirinya. Ia harus berbaring setengah duduk. Perut besarnya sedikit menyusahkannya untuk tidur terlentang.
Noval ikut merebahkan diri di sisi sang istri. Tak lupa ia mencium perut bulat istrinya. Noval mengira ia akan kehadiran bayi perempuan nantinya.
“Nak ... ayah menantimu. Jangan nakal dan menyusahkan ibumu ketika keluar nanti ya,”
“Eh ... nggak boleh gitu bang!” peringat Hafsah tak setuju.
“Nak, Umi akan tetap melahirkanmu sekuat tenaga walau itu sakit. Umi pasti akan senang melakukannya,” Hafsah meralat ucapan suaminya.
Noval tersenyum mendengarnya, ia mengecup kening istrinya. Tubuh Hafsah sedikit bengkak. Pipinya chubby dan kemerah-merahan. Di beberapa bagian tampak padat dan berisi terutama bagian dada.
“Umi ... ayah keluarin air susunya ya,” pinta Noval dengan pandangan bergairah.
Hafsah mengangguk dengan rona di pipi. Keduanya pun tak lama menyatu dalam gairah yang sangat membara. Sementara di daerah lain.
Puspa mengelus perutnya yang besar. Andi begitu perhatian, bahkan pria itu telah menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kelahiran sang jabang bayi kembarnya.
Andi sudah resign dari perusahaan. Ia menjadi petani ladang tomat, palawija dan sayuran miliknya. Hasilnya sangat mencukupi dirinya dan juga istri serta calon tiga anak kembarnya.
Di tempat lain, Suryo menatap hamparan bintang. Pria itu tampak jauh lebih kurus dari biasanya. Kesibukan membuatnya tak memperhatikan sang putri yang menjadi liar.
Suryo bukan tak tau sepak terjang Puspa, putrinya. Tetapi ia mengabaikannya selama Puspa tak hamil. Ia menatap foto besar yang terpajang di dinding rumahnya.
“Ma ... maafin papi ya,” ujarnya lirih.
Pagi menjelang, Hafsah menyapu latar dan mulai mencabuti rumput liar di sana. Noval yang tengah duduk sangat tak suka jika sang istri terlalu berlebihan bekerja di rumah.
“Sayang ... biarkan itu. Nanti biar abang panggilkan tukang bersih-bersih!” ujarnya.
“Sudah sini duduk sama abang!” lanjutnya memberi perintah.
Hafsah menurut, ia mencuci tangannya di keran lalu mendekati suaminya. Bokongnya di daratkan di kursi single sebelah suaminya. Satu gelas susu hamil dam juga sarapan ada di sana.
“Ayo Sarapan dulu,” suruh Noval.
“Wah ... calon orang tua sedang santai nih,” sapa seorang tetangga yang lewat.
“hehehe ... mumpung libur Pak Dunta!” sahut Noval ramah.
“Iya pak ... mumpung libur ya,” ujar Dunta.
“mari Pak ... bu!” pamitnya.
“Mari pak ... silahkan!” sahut sepasang suami istri itu.
“Nak ... ibu kok ditinggal di dalam!” protes Aminah.
__ADS_1
“Eh ... ibu. Duduk sini bu!” ujar Noval mempersilahkan sang ibu duduk di sisi istrinya.
Ketiganya sarapan bersama di teras.
Pagi ini cuaca sangat cerah. Hafsah perlu berjemur untuk mendapatkan vitamin yang keluar dari matahari di jam sembilan pagi.
“Sayang ... kalian harus merombak rumah kalian terlebih kamar untuk anak kalian!” peringat Amina.
“Iya bu. sudah saya pikirkan!” jawab Noval.
Hafsah hanya diam saja, ia akan menurut selama itu benar dan tidak berlebihan. Wanita itu sibuk mengusap perutnya. Kadang janinnya bergerak seperti berputar dan membuat Hafsah sedikit menahan sakit.
“Kau tidak apa-apa sayang?” tanya Noval.
“Dedenya gerak,” jawab Hafsah meringis menahan sakit.
“Sayang ... dede ...!” Noval mengelus perut istrinya.
Gerakan tersebut melah membuat janin dalam perutnya makin aktif. Hafsah beristighfar, ia menutup mata menikmati momen bagaimana sang janin bergerak.
“Kamu nggak apa-apa kan Nak?” tanya Aminah khawatir.
Sepuluh menit janin itu berputar, baru kemudian tenang. Hafsah memilih berbaring di kamar, keringat mengucur di keningnya. Noval mengusapnya penuh kasih sayang.
“Janin sudah tujuh bulan. Jangan sampai bergerak berlebihan karena bisa mengakibatkan lahir mendadak!” peringat Aminah.
“Iya bu,” jawab keduanya kompak
“Oh ya ... apa saja yang belum dibeli untuk dede?” tanya Aminah.
“Semua sudah siap bu, jangan khawatirkan itu,” jawab Noval menenangkan ibunya.
“Baiklah ... nanti sore Ibu pulang ya,” ujar Aminah sekalian pamit.
“Bu nggak di sini aja?” tanya Hafsah sedikit keberatan mertuanya pulang.
“Iya bu, di sini sampai Hafsah melahirkan,” ujar Noval lagi.
“Nggak bisa sayang. Di sana ibu banyak kerjaan, kasihan orang-orang jika terlalu lama ditinggal,” tolak Aminah.
Walau berat hati. Hafsah dan Noval mengangguk. Ketika sore menjelang. Aminah benar-benar pulang walau ada drama air mata Hafsah.
“Sudah ... nanti sebelum melahirkan, ibu ke sini lagi kok,” ujar Noval menenangkan istrinya.
Hafsah mengangguk. Ia hanya merindukan sosok ibu yang menyayangi dirinya.
"Aku kangen emak Bang," ujarnya pelan.
"Nanti pas Dede udah tujuh bulan. Kita bawa ke kampung dan nyekar nenek dan kakek ya," ujar Noval dan membuat Hafsah memeluknya sambil mengucap terima kasih.
__ADS_1
Bersambung.
Next?