ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
MENGALAH


__ADS_3

Hafsah sering diam dan menjawab seadanya semenjak melahirkan. Aminah sangat tau jika menantunya itu tengah kecewa terlebih sikapnya membela Noval.


'Hafsah!" panggilnya.


"Ya Bu!" sahut wanita itu sambil meletakkan putrinya perlahan.


"Ada apa Bu?" ujarnya lagi sambil menatap mertuanya.


Hafsah begitu tenang, wanita itu mampu menetralisir semua perasaan kecewanya. Aminah menghela napas panjang.


"Nak ... ibu harap kamu sedikit bersabar. Ibu yakin Noval akan kembali seperti semula. Ia anak baik, ibu mengajarinya juga cukup. Tolong bersabar lah," pintanya.


Aminah hanya meminta kesabaran sang menantu demi kelanggengan biduk rumah tangga yang baru seumur satu tahun setengah itu. Hafsah menatap mertuanya, ia tak menjawab atau apapun, karena ia takut tak bisa melakukan hal itu.


"Nak ... ibu memilihmu sebagai istri Noval bukan karena apa-apa. Ibu yakin dengan kepemahaman agamamu. Kamu pasti mengedepankan keutuhan keluarga dibanding sekedar kelahiran. Ibu juga dulu melahirkan Noval sendirian!"


"Ibu jangan berbohong!" sahut Hafsah menatap mertuanya.


"Seluruh kisah kelahiran bang Noval, aku tau Bu!" Aminah melupakan itu.


"Jangan khawatir tentang rumah tanggaku, Bu. Sebisa mungkin aku menjaganya!" ujar Hafsah tegas.


Aminah mengelus bahu menantunya. Ia merasa bersalah karena begitu egois agar Hafsah tak menyalahkan putranya.


"Ibu pulang ya!"


Hafsah mengangguk, padahal ia butuh Aminah untuk membantunya. Tetapi wanita itu sepertinya enggan membantu.


"Apa kamu terlahir perempuan jadi nenekmu abai padamu ya?" tanyanya sedih dalam hati.


Semenjak lahir hingga sekarang. Aminah belum mencium cucu perempuannya itu.


"Ya sudah, tak usah diantar ... ibu bisa sendiri keluar," ujar Aminah.


Hafsah menutup mata menahan semua kesedihannya. Ia hendak mengingatkan, Aminah beranjak ke boks milik putrinya yang diberi nama Novisyah Permata Pramudi. Sang ayah yang menamainya itu.


Aminah membelai pipi merah Visyah. Lalu berlalu dari sana tanpa mencium cucunya. Hafsah menangis sepeninggalan mertuanya.


"Nak ... maafkan umi nak ... maafkan umi,"


Bagian bawahnya masih ngilu jika digerakkan. Tetapi pekerjaan rumah seperti tak ada habisnya. Selama nifas ia digantikan oleh guru lain yang mengajari anak-anak mengaji.


Hafsah yang cerdas membeli satu rumah kecil yang tak jauh dari kediamannya. Ia membuka sekolah TPA yang resmi, sekolah itu sudah memiliki enam tenaga pengajar. Ia memisahkan murid laki-laki dan perempuan. Makin lama makin banyak saja muridnya.


Dering ponsel Hafsah berbunyi, Rando meneleponnya. Semenjak ia menikah baru kali ini adik kandung almarhum ayahnya itu menelepon.


"Paklik ... hiks ... hiks!"


"Assalamualaikum Sah ... mashaallah ... ada apa kamu menangis?" tanya pria di seberang telepon cemas.


Hafsah ingin mengadu, tetapi sebisa mungkin ia pendam sendiri dulu semuanya.


"Nggak apa-apa, paklik Hafsah udah jadi ibu!" jawabnya lalu memberitahu.


"Mashaallah ... Alhamdulillah ya Allah!" pekik Rando mengucap syukur.


Pria itu langsung mendoakan keponakannya. Hafsah jadi tenang mendapat doa dari pamannya itu.


"Paman nanti ke sana ya!" ujar Rando.

__ADS_1


Hafsah hanya mengangguk walau ia tau pamannya tak melihatnya. Sambungan telepon berhenti.


Sore menjelang. Hafsah menyiram bunga seperti biasanya ia lakukan. Wanita itu telah mengingatkan jika putrinya harus diaqiqah pada Noval.


"Kau coba cari biasanya ada di internet untuk aqiqah," ujar Noval.


Hafsah diam, jawaban suaminya kembali membuat ia kecewa. Tapi ia akhirnya mengalah dan mencari ke tetangga rumah.


"Bu Dita!" panggilnya ketika melihat ibu RT setempat.


"Assalamualaikum!" lanjutnya memberi salam.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh, wah ada apa nih Bu Noval?!" tanya Dita tersenyum.


Perempuan bertubuh tambun itu berhenti ketika Hafsah mendekatinya.


"Bu mau tanya dong yang sediain aqiqah?" tanya Hasfah.


"Oh ... sudah lahir ya ... mashaallah ... kapan!" seru Dita semringah


"Kemarin malam Bu, Alhamdulillah," jawab Hafsah.


"Anaknya cewe atau cowo?" tanya Dita penasaran.


"Cewe Bu," jawab Hafsah.


"Wah ... pasti cantik ya," ujar Dita.


"Nanti buat lagi yang cowo biar sepasang!" lanjutnya.


"Soal aqiqah Bu?" tanya Hafsah mengalihkan pembicaraan.


"Oke deh ... makasih infonya ya Bu!" ujar Hafsah.


Dita hanya mengangguk dengan senyum kecut. Wanita tambun itu memang tak pernah berhasil memprovokasi Hafsah.


Setelah mendapat info tentang aqiqah. Wanita itu menghitung hari baik kapan aqiqah dijalankan. Semua ia kerjakan sendiri.


"Empat puluh hari lagi saja, sekalian Paklik yang marhabanin!" gumamnya.


Tak lama Novisyah menangis kencang. Bayi itu lapar, Hafsah segera mendatanginya dan memberinya air susunya.


Noval memang memenuhi kebutuhan putri kecil juga dirinya. Hafsah menatap semua.


"Mungkin aku terlalu berlebihan," ujarnya lirih.


"Bang Noval masih perhatian dengan menyiapkan semua," lanjutnya sambil mengelus storage tempat menyimpan plastik-plastik berisi air susunya.


Setelah Visyah menghabisi susu dalam botolnya. Bayi itu kembali tertidur. Hafsah sudah membersihkan diri. Ia tetap tampil cantik untuk menyambut suaminya.


Hari ini Noval dapat bekerja lebih cepat dari biasanya. Ia segera pulang. Di meja kerjanya ada foto baru, yakni foto putrinya.


"Ayah pulang nak, tunggu ya!"


Pria itu melebarkan langkahnya. Hingga ....


"Pak!" Noval menoleh.


Sinta sudah lama berhenti karena ia tak sanggup mengikuti cara kerja Noval. Sosok cantik lain dengan balutan formal yang elegan.

__ADS_1


"Ada apa Nadia? Bukankah semua sudah beres?" tanya Noval dengan kening berkerut.


"Ti-tidak apa-apa Pak!" jawab Nadia menunduk.


Noval segera naik lift khusus. Nadia hanya menghela napas panjang. Lima bulan ia bekerja tetapi, Noval tak sekali pun meliriknya.


"Dia pria beristri. Kau mau apa?" keluhnya pada diri sendiri.


Gadis itu pun pergi ke lift untuk karyawan. Sementara Noval mempercepat langkahnya. Mobilnya sudah di depan loby petugas valet membawanya.


"Makasih Pak Toni!" ujar Noval naik kendaraannya.


Hanya butuh sepuluh menit ia sudah sampai rumah. Maghrib berkumandang.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sambut Hafsah dengan senyum manis.


Noval langsung memeluk istrinya. Ia tau dirinya salah dari kemarin dan membuat sang istri kecewa berat.


"Maaf sayang ... maaf. Pekerjaanku membuat aku mengabaikan mu," ujarnya lembut.


Pecahlah tangisan Hafsah. Ketakutannya tak terbukti, benar kata mertuanya. Jika ia sedikit bersabar, maka ia mendapat hasil yang baik.


"Sayang ... maaf, jangan nangis!" pinta Noval sedih.


"Abang jahat ... huuu ... uuuuu!!" tangis Hafsah.


"Maaf ... maaf ya," ujar Noval lagi.


Usai sholat maghrib, Noval membawa Hasfah dalam pelukannya. Ia mengecup berkali-kali pipi sang istri sampai Hafsah merengek manja.


"Abang ...."


"Sayang, kau tau ibu itu takut megang anak bayi," ujar Noval memberitahu.


Hafsah mendongak, ia menatap suaminya tak percaya.


"Dulu ibu jarang menggendongku karena takut jatuh atau takut aku terluka. Aku dulu diasuh oleh nenek. Apa kau ingat?"


Hafsah baru teringat jika Noval memang diurus sang nenek. Wanita itu lagi-lagi salah paham pada mertuanya.


"Eeemmm ... Abang ... aku minta maaf karena mengira ibu nggak sayang Visyah,"


"Eh ... kenapa?" tanya Noval bingung.


"Ibu nggak mau cium Visyah, aku kira karena aku melahirkan anak perempuan," jawab Hafsah merasa bersalah.


'Sudah tidak apa-apa. Kami juga bersalah membiarkanmu melahirkan sendirian di ruang tamu," ujar Noval lagi.


Hafsah bernapas lega, pikiran negatifnya langsung hilang mendengar penjelasan suaminya.


"Aku berjanji untuk meluangkan waktu untukmu dan putri kita sayang!" ujar Noval bersumpah.


Hafsah mengangguk, ia percaya jika Noval akan melakukan itu.


Bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2