
Hari berjalan seperti biasanya. Noval masih bekerja di bawah kepemimpinan Hardianto, kini ada dua sekretaris laki-laki yang handal. Keberadaan Puspa benar-benar seperti ditelan bumi. Tak ada yang mengetahui keberadaan wanita yang dulu tengah mengandung itu.
Suryo sudah melaporkan kehilangan, namun walau uang pria itu tak berseri. Keberadaan Puspa tak terlacak pihak kepolisian. Terlebih tak ada kasus korban pembunuhan atau penculikan. Puspa benar-benar lari bersama janin yang ada di dalam kandungannya.
Sementara Hafsah membawa putrinya ke sekolah yang sudah mau tiga tahun didirikannya itu. Hafsah tak memakai jasa baby sitter seperti ibu-ibu muda lainnya. Bahkan salah satru guru pengajarnya menggunakan jasa penjaga anak karena takut meninggalkan pekerjaan mereka.
“Mama ... Isa main di sana ya!” pamit Visyah yang tau tempatnya bermain.
“Boleh sayang,” ujar Hafsah tersenyum.
Bayi berusia tiga tahun itu langsung ke sebuah tempat di mana dibuat khusus untuk ruang bermain untuknya. Dari semua guru hanya wanita itu yang membawa putrinya ke sekolah. Tak ada yang menegur karena tempat itu adalah miliknya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” suruh Hafsah.
“Assalamu’alaikum ustadzah,” sapa seorang guru perempuan dengan hijab lebar masuk ke ruangan.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!” sahut Hafsah membalas salam.
“Bu ustadzah, ini ada dua guru baru masuk kemarin lusa. Hari ini tengah mengajar di kelas dua B dan dua C,” lapor guru itu.
“Kok ibu Feera yang lapor? Bu Ida dan Bu Sista mana?” tanya Hafsah menanyakan staf kepengurusan TPA miliknya.
“Keduanya cuti bersamaan Ustadzah, mereka kan dua-duanya hamil,” jawab guru perempuan itu.
“Loh, apa sudah bulan lahir? Kan baru tujuh bulan?” kening Hafsah mengkerut, heran.
“Mungkin dua-duanya lahir prematur Ustadzah,” jawab guru perempuan itu asal.
Hafsah terdiam, tiba-tiba pikirannya melayang dengan perkataan soal bayi ajaib yang diucapkan Inge seminggu yang lalu. Hafsah menggeleng dan beristighfar, ia sudah berpikiran buruk pada dua stafnya.
“Ya sudah, makasih laporannya Bu ustadzah Safeera,” ujar Hafsah dengan senyum hangat.
Perempuan muda bernama Safeera Balqisyah Husain itu ikut tersenyum dan mengangguk. Ia pun pergi melanjutkan pekerjaannya. Hafsah melihat data yang ada di tangannya sekali lagi.
“Wah, kembar sepasang?” ujarnya tertarik dengan ahli didik barunya itu.
Hafsah menatap putrinya yang sibuk berdrama sendiri, sesekali perempuan itu ikut masuk dalam drama yang diciptakan putri pertamanya itu.
“Assalamu’alaikum ... wah ... sedang apa ini?”
__ADS_1
“Wa’alaiakum sayam ....’
“Salam sayang,” ralat Hafsah tersenyum.
“Iya Mama ... salam,” kekeh Visyah yang ternyata menggoda ibunya.
Hafsah gemas, ia menciumi anak perempuannya yang tumbuh gembul dan berambut ikal seperti ayahnya. Novisyah memang sangat mirip Noval. Hafsah bahagia karena sifat Noval menurun pada anak gadisnya itu.
Sedang di luar ruangan Hafsah, seorang gadis dengan wajah bulat berkacamata mendengar gelak tawa dari ruangan yang pintunya bertuliskan Ruang Pemimpin. Ia mengira ada yang berusaha menyusupkan anak bayi ke ruang pemilik TPA.
“Assalami’alaikum ... maaf anda siapa ya?” tanyanya langsung dengan nada menuduh.
Hafsah yang sedang bermain bersama dengan putrinya sedikit terkejut melihat orang yang berani masuk tanpa mengetuk pintu.
“Anda yang siapa berani masuk ruangan pemilik sekolah?” tanya Hafsah balik.
“Saya adalah guru di sini. Jadi saya berhak tau!” jawab gadis muda itu berani.
“Lalu menurut anda. Siapa yang berani masuk ruangan pemilik sekolah, ustadzah Fateemah Az-zahrah?” gadis itu terdiam.
Fateemah tersadar jika tak ada satupun yang bisa masuk ke ruangan itu kecuali pemilik sekolah. Dan orang itu tengah berhadapan dengannya.
Kini sepasang guru muda tengah berhadapan dengan Hafsah. Fateemah Az-zahrah dan Ali Husain Muhammad. Keduanya bergelar ustadz dan ustadzah karena lulus dari ponpes terkemuka di Jawa.
"Maaf ustadzah jika saya tadi lancang!" ujar Fateemah malu.
Sedang Ali menatap sembunyi-sembunyi wanita berwajah teduh di hadapannya.
"Baiklah ... lain kali jangan langsung menuduh seperti itu ya!" peringat Hafsah.
Dua manusia mengangguk, pelajaran memang hanya dua sesi pertemuan. Jam lima sore semua pulang. Hafsah pun membawa putrinya ke mobil.
"Kak, ngeliatin istri orang jangan gitu!" peringat Fateemah pada saudara kembarnya.
"Eh ... enggak kok!" sanggah Ali yang gelagapan.
"Terus Kakak liatin siapa?" tanya Fateemah tak suka.
"Hanya kagum saja. Kalau diliat usia keknya sama dengan kita, palingan tua setahun," ujar Ali mengamati mobil yang bergerak pergi.
Keduanya menaiki mobil mereka dan meninggalkan pelataran parkir bangunan itu.
__ADS_1
Besok sore, Hafsah kembali datang ke sekolahnya. Wanita itu mulai sibuk mendata siswa berbakat untuk diuji kepintarannya mengikuti sebuah ajang di sebuah televisi nasional.
"Ardian, kamu masuk tim Al-Falah ya, bareng Dimas, Hasfi dan Rafiq!' ujar salah satu guru mendata murid-murid yang sudah hafal surah tiga puluh atau juz amma'.
"Ardian masuk Bu?" tanya bocah itu tak percaya.
"Tentu sayang, hafalanmu lebih banyak dari yang lain. Jadi kamu harus giat belajar ya!'
Ardian mengangguk, ijin para wali telah didapat. Tentu saja baik Hardi dan Cassy sangat setuju jika putra mereka diikutsertakan ajang perlombaan. Walau sebagian menolak karena merasa ajang manfaat.
Hafsah tak pernah memaksa. Ia hanya ingin menguji mental anak-anak didik untuk ikut serta. Karena mereka pasti akan berada di depan khalayak banyak nantinya.
"Ngapain sih anak-anak sekecil ini diikutkan lomba?" bisik Fateemah bertanya.
"Kasihan kan mereka berpisah dengan ayah ibunya. Walau sementara,'' lanjutnya masih protes.
"Nggak usah ikut campur Fat. Kan udah diberi ijin sama orang tua. Dulu kita juga gitu kan?" sahut Ali berbisik.
"Ya, dulu. Aku mengajukan petisi ah sama diknas setempat. Masa ada sekolah TPA memanfaatkan murid-murid untuk menaikkan level sekolah," ujar Fateemah menggerutu.
"Eh ... nggak usah banyak tingkah. Kita baru di sini. Jangan gelar kita dicabut karena berusaha menentang keputusan sekolah!" bisik Ali lagi memperingatkan.
"Aku nggak takut. Anak-anak belum waktunya untuk diminta disiplin. Mereka mestinya belajar dan bermain. Soal kualitas kan semua ada di tangan pendidik!" ujar gadis itu masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Memang benar itu Fateemah. Anak-anak seusia mereka harusnya belajar dan bermain," ujar Hafsah menyela. Ia menguping pembicaraan dua guru kembar itu.
"Di sini hanya anda yang menolak anak-anak dieksploitasi sekolah. Jujur, arti dari eksploitasi anak itu adalah adanya unsur pemaksaan dan mengarah penurunan kuantitas anak itu sendiri!' ujar Hafsah menjelaskan.
"Tapi tujuan sekolah mendaftar murid-murid mengikuti ajang lomba di televisi untuk mengasah keberanian mereka dan juga daya saing antar mereka!" lanjutnya.
"Dan satu lagi ustadzah, anak-anak yang antusias mengikuti lombanya bukan paksaan dari sekolah. Itupun atas ijin orang tua mereka!"
Fateemah diam seribu bahasa. Gadis itu kalah telak, Ali menatap bangga perempuan yang kini menggendong putrinya.
"Tetap saja ... ngajar kok bawa anak!" gerutu Fateemah. "Nggak kasihan sama anaknya!"
bersambung.
ah ... hati jika sudah berbulu ....
next?
__ADS_1