
"Sayang, kau percaya padaku kan?" tanya pria itu pada istrinya.
Tiga hari sudah berlalu, Noval memang belum mengambil keputusan apapun. Hudni terus mendesak agar janji mendiang kakeknya Noval segera ditunaikan.
"Apa Abang menerima permintaan paman Hudni?" tanya Hafsah sedih.
Noval tak berkata apa-apa. Ia mengalami jalan buntu. Aminah sang ibu juga mulai terhasut dengan ucapan ayah dari gadis yang akan dijadikan istri keduanya itu.
Hafsah memejamkan matanya. Ia menggeleng, sungguh berat apa yang menimpanya hari ini.
"Katakan Hafsah. Apa yang harus Abang lakukan?" tanya sang suami lirih.
Hafsah juga mengalami pikiran buntu. Tawaran poligami terpaksa harus ia terima.
"Sayang, aku tetap mencintaimu!" tekan Noval bersumpah.
"Itu tak adil bagi Aldila bang," ujar Hafsah lirih.
Walau Hafsah belum ikhlas. Tetapi jika Noval ingin berpoligami, pria itu harus benar-benar adil.
"Sungguh keputusan ini berat Sah ... aku nggak sanggup. Jika Allah mau, aku siap mati saat ini!"
"Bang istighfar bang!" peringat Hafsah dengan air mata yang menetes.
"Tapi aku nggak mau menduakanmu," geleng Noval.
Ketika makan siang, pria itu tak menjawab apapun ketika Aminah bertanya.
"Nak ... apa keputusanmu?"
Noval memilih berdiri dan meninggalkan makanan yang masih tersisa di piringnya.
"Nak tolong kau beri petuah pada suamimu. Kau kan tau ilmu agama!" sindir Hudni.
Pria itu merasa di atas angin. Ia sangat yakin kehidupannya berubah setelah ini ketika putrinya menikahi pria terkaya di kampungnya.
"Jangan egois nak. Ini demi sebuah janji yang harus ditepati!" ujar Indah sinis.
Aldila tak berkata apapun. Gadis itu melirik Noval dengan hati berbunga-bunga. Ia berdandan secantik mungkin hari ini. Bahkan seluruh tubuhnya ia semprot parfum agar wangi menggoda.
"Nak ..., ibu tau ini berat. Tapi katakanlah kau berkorban untuk nama keluarga suamimu!" pinta Aminah.
Visyah makan dan tak mengerti apa yang terjadi. Ia sudah selesai makan.
"Umi ... Isa sudah selesai!" ujarnya nyaring.
"Iya sayang," sahut Hafsah.
"Eh ... sini sama umi Dila aja!" sahut Dila perhatian pada calon putri sambungnya itu.
Hudni menyenggol lengan putrinya. Ia tak setuju jika Aldila mengakrabkan diri pada balita yang bukan keturunannya.
Hafsah menggubris semuanya. Ia menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Memang ia hanya mengambil sedikit saja.
"Rakus! Habis juga kan makannya!' ledek Indah mencibir.
Hafsah berlalu sambil menggendong Visyah. Aminah menatap tak suka pada Indah.
"Jangan tekan menantuku. Dia bisa melarang Noval berpoligami dan kau dipenjara karena ingin menghasut rumah tangga!" ujar Aminah yang membuat Indah diam.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku Mba ...."
"Sudah ... aku juga tak berselera makan!" potong Aminah kesal.
Wanita itu memanggil Adis untuk membantunya ke kamar.
"Biar Dila ya Bu!"
"Tidak!" tolak Aminah.
"Kau bersihkan meja saja!" lanjutnya memberi perintah.
Adis mencibir keluarga yang menurutnya toxic itu. Ia mengantar majikannya ke kamar.
"Sialan!" dumal Aldila kesal.
"Jaga sikap Dila!" tekan Hudni.
"Kau bereskan meja ini. Tunjukkan pada Aminah jika kau lah yang cocok jadi menantu!" lanjutnya.
Indah membiarkan putrinya mengerjakan pekerjaan itu. Dila mendumal panjang pendek.
"Masa calon nyonya Prambudi ngerjain kerjaan babu!" runtuknya kesal.
Dias berjalan perlahan. Sungguh ia tak menyukai gadis berkerudung lebar itu.
"Cis! Sok alim!" umpatnya dalam hati.
"Huh!" sentak Aldila membanting serbet pembersih meja.
Dias bersembunyi di balik pilar. Ia merekam semua perbuatan gadis berwajah manis itu.
"Andai jika bukan karena Ayah yang sudah bangkrut akibat kalah judi. Aku juga tidak akan melakukan pekerjaan serendah ini!" lanjutnya meruntuki kesialan ayahnya.
"Tapi bang Noval ganteng. Dia pantas untukku!" rengeknya sebal.
Aldila menatap meja yang belum keseluruhannya bersih. Ia mencebik kesal. Lalu perempuan itu pun berlalu dari sana menuju kamarnya.
"Oh ... jadi karena itu kalian datang!" pekik Adis tertahan.
"Hohohoho ... aku lihat sampai mana sandiwara mereka itu. Aku yakin Bu Hafsah pasti punya jalan keluar!"
Setelah menimbang-nimbang apa perlu ia sodorkan video bukti pada Aminah. Adis memilih membersihkan meja sebelum Aminah keluar dan memarahinya.
"Nasib babu ya," kekehnya.
"Umi ... umi!" panggil Visyah nyaring.
Hafsah bergeming, pikirannya masih kalut. Ia belum siap dimadu. Hatinya mendadak kacau dan lupa adanya sang maha pencipta.
"Umi!" teriak Visyah lagi.
"Astaghfirullah, apa nak? Kenapa teriak-teriak?" tanya Hafsah gusar.
'Itu adek-adek pada nangis!" jawab Visyah sebal pada ibunya.
"Astaghfirullah, maaf ya nak ... umi nggak perhatian sama kalian!" sesal Hafsah.
"Sama adek aja nggak perhatiin apa lagi Isa!" ketus Visyah protes.
__ADS_1
"Sayang ... maaf ya," ujar Hafsah menyesal.
Rando datang ke kediaman Noval. Ia merasa tak enak hati sepanjang minggu ini. Pria itu merasa jika rumah tangga keponakannya sedang tidak baik-baik saja.
Pria berwajah halus dan bersih itu turun dari mobil sedan. Di sana ia melihat Noval yang duduk termenung sambil memandangi hasil taman buah tangan Hafsah, keponakannya.
"Assalamualaikum!" salamnya ketika masuk.
Noval seperti ada di dunia lain. Rando mendekat dan mengelus pelan lengan suami dari keponakannya itu.
"Assalamualaikum!" ujarnya lagi memberi salam.
"Eh ... Paklik, wa'alaikumusalam!" sahut Noval tergagap menjawab salam.
"Kamu kenapa nak?" tanya Rando.
Pria yang masih tampan di usianya menjelang lima puluh tahun itu, mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Noval.
"Paklik ...."
Noval menceritakan semua masalahnya. Tak ada satupun yang ia tutupi termasuk menerima tawaran poligami.
"Jadi kau memutuskan membayar janji Kakekmu yang tak tertulis itu?" Noval mengangguk.
"Paklik bisa membatalkan janji itu. Pasti kau sanggup mengerjakannya!" ujar Rando.
"Bagaimana paklik?" tanya Noval antusias.
"Bebaskan budak atau kau bisa kasih makan fakir miskin sebanyak 10 orang atau puasa selama tiga hari!" jawab Rando.
"Lagi pula janji Kakekmu itu bersifat abu-abu. Bisa benar dan bisa tidak. Paklik rasa, janji itu tak berguna terlebih Kakekmu dulu tak membicarakan masalah perjodohan bukan?" Noval mengangguk membenarkan.
"Jadi kau tinggal pilih. Mana yang kau pakai untuk membayar janji mendiang Kakekmu itu!" lanjut Rando.
"Alhamdulillah ya Allah, kalau begitu aku mau pakai yang kasih makan sepuluh fakir miskin saja. Karena budak sudah tidak ada!' sahutnya antusias.
"Nggak mau yang puasa?" tanya Rando tersenyum usil.
"Nggak kuat lah paklik!" jawab Noval malu.
Noval meminta bantuan dari paman istrinya. Rando menyanggupi. Di kampung masih banyak orang-orang hidup di bawah kemiskinan. Jadi sangat mudah untuk mendapat fakir miskin.
Rando diminta masuk, Noval ingin. Paklik istrinya itu yang akan menjelaskan perkara janji abu-abu kakeknya itu.
"Tapi saya mendengar sendiri jika paman Alfiansyah berjanji menikahkan cucunya pada putri saya!" seru Hudni tak terima.
"Tanggal berapa dia berjanji. Apa ada saksi lain selain Allah?" tanya Rando menantang.
"Aku lupa kapan itu. Tapi pastinya janji itu ada!" jawab Hudni gusar.
"Maaf tapi janji itu sangat tak bisa ditepati. Maka Noval berhak untuk tidak memenuhi janji yang bahkan dia tidak mengetahui itu!" sahut Rando tegas.
"Kok kamu yang menentukan keputusan sih?!' tentang Indah kesal pada pria tampan yang tiba-tiba datang sebagai penengah itu.
"Kamu hanya orang luar ... jika nanti putriku menikah dengan Noval. Aku pastikan Hafsah akan diceraikan Noval!"
bersambung.
Lah? ketahuan deh!
__ADS_1
next?