ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
GAGAL MENGHASUT


__ADS_3

“Umi!” pekik Visyah.


Balita itu tantrum, meraung dan menghentakkan kakinya di lantai. Hafsah menatap putrinya yang tengah meranjuk sambil menggendong Srikandi sedangkan Akram sudah terlelap di dalam boksnya.


“Huuwaaa ... umi ... umi!” teriakan Visyah makin kencang berserta tangisannya. Bahkan balita itu sampai terbatuk.


“Sayang sini sama nenek.” ajak Aminah merayu.


“Nek ... jangan!” larang Hafsah.


”Nak ... kasihan,” ujar Aminah iba dengan tangisan cucunya itu.


“Tidak nek ... Isa terlalu manja. Dia sudah besar, mestinya tau dan mengerti!” tekan Hafsah.


“Nak ...,”


“Ibu istirahat saja ya di kamar,” suruh Hafsah penuh ketegasan.


Aminah tak bisa berbuat banyak, ia tadi hendak mendekati Visyah, tetapi melihat balita itu mengamuk. Ia pun jadi takut. Anida mengikuti wanita itu.


“Bu ... kok Bu Hafsah seperti itu sih?” tanyanya protes terhadap perlakuan Hafsah.


“Anak nangis bukannya ditenangin malah didiemin kek gitu!” lanjutnya bersungut.


“Udah ... jangan ikut campur!” sahut Aminah.


“Saya nggak ikut campur bu, tapi itu cucu ibu. Masa dikasari sama ibunya, ibu malah diem aja?” hasut Anida lagi.


“Andai saya ibunya. Saya akan langsung peluk Visyah dan membelikan apa yang dia mau,” lanjutnya bergumam.


Aminah diam saja, ia sedikit setuju dengan perkataan Anida. Ia juga menyayangkan perlakuan menantunya kepada sang cucu yang sangat keras.


“Bu, sepertinya Bu Hafsah tak mampu menanggung beban deh. Dia butuh teman untuk berbagi tugas. Pak Noval layak kok punya dua istri,” hasut Anida lagi.


“Visyah!” panggil Noval lembut.


Aminah dan Anida melihat bagaimana Noval menenangkan putrinya. Visyah terdiam dan memeluk ayahnya. Pria itu membawa sang putri ke kamar. Hafsah mengikuti mereka ke lantai dua.


“Lihat bu ... kasihan Pak Noval. Masa dia lagi sibuk kerja, harus berhenti untuk ngurusin anaknya. Tugas ibu apa dong?” dengkus Anida kesal terhadap kelakuan Hafsah.


“Bu Hafsah terlalu egois!” lanjutnya lancang.


“Jaga bicaramu Nid!” peringat Aminah.


Anida membungkuk hormat, ia lupa jika Hafsah adalah wanita pilihan majikannya ini.


“Bawa aku ke kamar, aku mau tidur!” pinta wanita itu.


Aminah menggunakan kursi roda untuk membantunya bergerak. Penyakit gula menggerogoti dirinya. Hal itu membuat kakinya bengkak dan tak bisa berjalan.


Anida berdecak kesal ketika keluar kamar majikannya. Mulutnya maju hingga bebrapa senti. Matanya melirik kamar paling besar di atas sana.


“Kok senyap?” tanyanya dalam hati.


“Apa jangan-jangan Bu Hafsah menghasut sayangku untuk membunuh putrinya?” gumamnya mulai berhalusinasi.


Gadis itu dengan berani naik ke lantai dua. Ia akan jadi pahlawan bagi gadis kecil Visyah. Dengan begitu Noval akan melihatnya dan langsung menceraikan istrinya.

__ADS_1


“Buka pintunya!” teriaknya menggedor pintu.


“Jangan sakiti Visyah ... dia tak bersalah!” pekiknya lagi.


“Bu ...”


“Apa-apaan kamu!” bentak Noval marah ketika membuka pintu.


“Pak ... jangan kasari Visyah, dia masih terlalu kecil!” pinta Anida memohon.


“Apa maksudmu? Siapa yang menyakiti ....”


“Pak saya yakin bapak telah dihasut oleh istri bapak untuk mengasari ....’


Plak! Satu tamparan keras diberikan Noval pada gadis kurang ajar itu. Anida sampai menoleh dengan bibir berdarah.


“Ba ... pak ...!”


“Pergi!” usir Noval marah.


“Saya ikut ibu ....”


“Pergi!” bentak Noval lagi.


Anida bergeming di tempatnya. Noval sudah kehilangan kesabaran. Ia tak mau mentolerir lagi gadis yang merawat ibunya.


Noval menyeret kasar Anida sampai gadis itu terjajar. Hafsah mendengar teriakakan gadis itu dan langsung keluar.


“Bang ... istighfar ... itu anak orang!” peringatnya.


“Umi ... ayah kenapa?’ tanya gadis kecil itu takut.


“Nggak apa-apa sayang. Biarkan ayah ya,” ujar Hafsah menenangkan putrinya.


Rando datang menenangkan Noval yang menyeret kasar Anida yang menangis.


“Istighfar Nov ... kamu kenapa?” tanya Rando sambil memeluk suami keponakannya itu.


“Dia menuduh istriku mengasari Visyah!” tunjuk Noval pada ANida yang menangis.


“Tapi itu benar ... saya melihat sendiri jika Bu Hafsah menampar Visyah sampai bergulingan di lantai!” ujarnya berbohong.


“Jangan bohong Anida ... istriku tak seperti itu!” bentak Noval marah besar.


“Bapak saja yang tak tau ... saya sering kedapatan Bu Hafsah menjewer bahkan mencubiti lengan Visyah!” sahut Anida lagi.


“Cukup Anida!” bentak Rando kini yang marah.


Pria kalem dan sedikit diam itu tiba-tiba mengeluarkan suara menggelegar membentak Anida. Ia kenal betul Hafsah seperti apa. Laporan Anida benar-benar bohong besar.


Beberapa guru dan ustadzah mulai kasak-kusuk. Tentu saja bagi pembenci akan cepat terhasut akan berita itu.


Bukan Rando tak mengetahui berapa banyak staf ataupun guru juga pengajar yang lain tak menyukai keterampilan keponakannya itu.


“Saya akan memenjarakan kamu atas tuduhan palsu dan pencemaran nama baik!” tandas pria itu membungkam semua orang yang kasak-kusuk.


Mendengar kata penjara, membuat Anida diam. Sedang di kamar. Aminah berteriak\=teriak, ia ingin tau apa yang terjadi di luar. Wanita itu sampai menangis. Akhirnya ia menguatkan diri menaiki kursi roda dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Di sana ia melihat dan mendengar bagaimana Anida membuat laporan dan tuduhan palsu pada menantunya.


“Anida ... kau keterlaluan sekali!” geleng wanita itu.


“Bu ... ibu tadi lihat Visyah nangis kan bu ...!” ujar Anida mencoba mencari alibi.


“Memang tadi Visyah menangis ....”


“Tuh kan benar ... bu Hafsah ....”


“Tapi Menantuku tidak melakukan apapun pada cucuku. Visyah sedang rewel karena perhatian ibunya beralih pada saudara kembarnya!” potong Aminah cepat.


Noval ke dalam rumah, dalam waktu sepuluh menit ia melempar koper dan baju-baju Anida. Pria itu benar-benar marah pada gadis yang kini menatapnya penuh permohonan.


“Pergi sebelum aku menyeretmu ke penjara!” ancam Noval tak main-main.


“Bu ....”


”Maaf ... Ibu masih mau di sini. Kau pulanglah bersama pak Totok,” ujar Aminah lagi.


Totok membantu Anida membereskan semua pakaiannya. Noval sudah tak ada lagi di sana. Hanya Rando yang memastikan jika gadis itu benar-benar pergi.


“Kalian kenapa masih berkumpul di sini!” bentak Rando yang melihat beberapa guru dan staf masih setia menonton pertunjukan drama. Semua bubar dengan kepala tertunduk.


“Maaf nak ... atas kekacauan yang dibuat Anida,” ujar Aminah dengan penuh nada penyesalan.


Rando mengucap istighfar berkali-kali. Ia tadi benar-benar lepas kontrol. Ia tak mau menerima siapapun merendahkan keponakannya.


“Tidak apa-apa bu. Ini bukan salah ibu,” ujar Rando lembut.


“Saya antar lagi ke kamar ya,” ujarnya langsung mengambil alih kursi roda dan membawanya ke kamar.


Di atas Noval memeluk istrinya, ia menceritakan semua apa yang terjadi di bawah sana. Hafsah terdiam, ia tak menyangka jika mendiamkan Visyah yang tantrum malah membuatnya difitnah sedemikian rupa.


“Padahal aku memberikan ruang pada Visyah untuk meluapkan emosinya. Aku mengandalkan abang karena memang jika ia sedang mengamuk tak bisa kusentuh,” ujarnya lirih.


“Sudah sayang, tidak apa-apa. Yang kau lakukan itu sudah benar. Buktinya Isa tetap lengket sama kamu kan di banding aku?”


Hafsah tersenyum, dia mencium Visyah yang kini terlelap bersama dua adiknya. Gadis kecil itu memeluk dua adik kembarnya secara posesif.


“Ah ... mashaallah putri umi,” ujar Hafsah penuh kebanggaan.


Bersambung.


Hai bunda ... ini info menenangkan anak yang tantrum ya.


1.Beri anak ruang. Cara menghadapi anak tantrum adalah dengan memberikan dia ruang kesempatan untuk meluapkan emosinya, tapi jangan jauh-jauh dan tetap awasi dia. ...


2.2. Tunjukkan empati. ...


3.Pastikan anak aman.


4.Pahami anak. ...


5.Sabar dan tenang.


Narasumber: Bebeclub.co.id.

__ADS_1


__ADS_2