
Hudni, istri dan anaknya menginap. Noval pulang tengah malam. Ia telah meminta beberapa perawat menjaga ibunya.
"Assalamualaikum!" sapa Noval masuk kamar.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh, bang," sahut Hafsah.
Visyah dan dua anak kembar mereka sudah terlelap. Hafsah membantu suaminya melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh pria itu.
"Abang cape? Mau dimandiin?" tawar Hafsah yang langsung diangguki Noval.
Selesai mandi, kegiatan mereka berlanjut panas di ranjang. Dua jam berlalu, keduanya pun lemas dengan napas memburu.
"Makasih sayang, kau selalu bisa memuaskanku," ujar Noval mengecup kening istrinya.
Hafsah merengek manja, ia memeluk suaminya. Noval juga sangat perkasa jika bergelut dengannya.
"Apa kata dokter dengan ibu Bang?" tanya wanita itu sambil membelai dada suaminya.
"Kata dokter ibu kena stroke ringan. Hanya butuh perawatan intensif, dua hari. Lusa bisa pulang," jawab Noval.
"Apa tidak apa-apa ditinggal?" tanya Hafsah khawatir.
"Tidak apa-apa sayang, ada perawat di sana," ujarnya dengan napas berat.
Noval kembali mencumbu istrinya. Keduanya kembali mengejar kenikmatan.
Pagi menjelang, Hafsah sudah bangun, tiga anaknya sudah berada di ruang makan. Wanita itu memasak di dapur.
Seperti biasa, Hafsah memang selalu memasak ketika di rumah mertuanya itu.
"Eh ... kok sembarangan pake dapur orang?" sebuah suara menegur Hafsah.
Wanita itu menoleh, Hafsah melihat sosok wanita paru baya.
"Maaf ibu siapa?" tanya Hafsah.
"Loh mestinya saya yang nanya kamu siapa?" tanya wanita itu sengit.
"Saya adalah menantu di rumah ini!" jawaban tegas Hafsah membuat wanita itu terdiam.
"Anda siapa di sini?" tanya Hafsah ulang.
"Saya adalah ipar Aminah!' jawab wanita itu.
"Saya mengenal baik mertua saya. Beliau tak pernah membicarakan atau mengenalkan satu keluarga. Mertua saya hidup sendirian dari dulu!' sahut Hafsah menatap penuh selidik.
"Jangan sok tau kamu ...."
"Oh jelas saya tau. Saya lahir dan besar di kampung ini. Jadi saya tau siapa itu ibu Aminah Alfiansyah!" sahut Hafsah lantang.
Wanita bernama Indah terdiam. Ia tak punya banyak ucapan. Hudni memang sepupu jauh dari Aminah. Pria itu datang bertepatan dengan sakitnya wanita itu.
"Jadi mestinya saya tanya. Mau apa anda berada di rumah mertua saya!" tekan Hafsah.
"Umi!" rengek Visyah.
Hafsah beristighfar, ia lupa jika ada tiga anak yang menonton kelakuannya.
"Adis!" panggilnya pada salah satu pekerja rumah.
__ADS_1
"Ya Bu!" sahut gadis itu.
"Kamu lanjutkan ini ya. Saya mau bawa anak-anak ke kamar," suruh Hafsah.
"Iya Bu!" sahut Adis mengerti.
Semua bumbu telah disiapkan. Adis tentu tau apa yang akan ia lakukan. Indah mendekati Adis.
"Sok sekali. Apa dia seperti itu kalau ke sini? Tukang suruh-suruh?" tanyanya mencibir.
"Nggak tuh. Bu Hafsah baik. Malah kadang kita banyak istirahatnya kalau beliau di sini!' sahut Adis membela Hafsah.
"Halah ... penjilat. Sudah sini, biar saya yang masak!" ujar Indah mengusir.
"Nggak mau! Ini Bu Hafsah suruh saya!" tolak Adis.
"Eh ... ngelawan kamu. Kamu mau saya pecat?" ancam Indah.
"Bu ... yang bisa pecat saya itu ibu Aminah ya. Bukan anda!" tekan Adis sinis.
"Eh ... saya suadaranya ...."
"Saudara darimana. Nggak pernah datang setiap pertemuan. Eh, datang-datang sok ngatur!" sengit Adis.
"Ada apa ini?" Hudni datang dengan nada gusar.
"Mana sarapan. Kenapa belum ada di meja makan?" lanjutnya bertanya.
"Tau nih yah. Kerjaannya hanya bisa menyelaku saja!" adu Indah.
"Adis!"
"Eh ... kalian ini siapa sih?" decak Adis kesal. "Datang-datang berlaga jadi boss!"
"Ada apa ini kenapa kalian teriak-teriak!" semua menoleh asal suara.
"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Noval.
"Aku pamanmu Nov!' ujar Hudni mengingatkan.
"Tapi saya tidak pernah ibu bilang punya adik atau kakak kandung. Ibu itu putri tunggal dari kakek Alfiansyah dan nenek Arum Kinanti!" sahut Noval ingat betul.
Hudni terdiam, ia menyeret istrinya sebelum Noval berkata lanjut. Noval menghela nafas panjang.
"Sepertinya aku harus bertindak tegas sebelum benalu itu tumbuh dan menggerogotiku!" gumamnya pelan.
Noval hendak menyusul sepasang suami istri itu. Tetapi tiba-tiba sang istri memanggilnya.
"Bang ... ponsel Abang bunyi!"
"Angkat sayang!" suruh Noval.
Pria itu memang membebaskan istrinya memegang ponsel begitu juga sebaliknya. Tak ada rahasia di antara mereka berdua.
"Bang!" pekik Hafsah lagi.
Noval akhirnya naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Ruangan itu sangat besar, ada ruang lain di sana untuk tidur tiga anaknya. Terdapat balkon yang berisi banyak mainan anak-anak.
Ruangan Noval memang di design untuk keluarganya. Hafsah memberikan benda pipih ke tangan suaminya.
__ADS_1
"Ya assalamualaikum!" ujarnya.
"Pak ... Bu Aminah sudah sadar. Beliau ingin anda menjemputnya," ujar kepala rumah sakit di seberang telepon setelah membalas salam.
"Baik saya ke sana!" sahut Noval.
"Sayang, aku ke rumah sakit jemput ibu ya. Kamu jangan keluar kamar. Aku sudah memerintahkan Adis membawa makananmu ke sini!" ujarnya memberi perintah.
"Iya bang," sahut Hafsah menurut.
Pria itu pergi setelah menghabiskan sarapannya. Tak lama Adis datang membawa makan siang mereka dan juga untuk Visyah.
"Bu, ini makanannya,"
"Makasih Adis, tolong piring kotor ini dibawa sekalian ya," ujar Hafsah memberi perintah.
"Iya Bu!"
"Makasih!" sahut Hafsah ramah.
Adis senang diperlakukan sopan seperti itu. Ia tak keberatan melayani Hafsah. Terlebih istri dari anak majikannya itu sangat baik.
"Mau-maunya disuruh-suruh!" sindir Indah.
"Loh ... kan tugas saya di sini begitu!" tandas Adis membuat Indah salah tingkah.
"Kok aku suruh nggak mau?" desisnya kesal.
"Yeee ... kamu siapa?" ledek Adis bertanya.
"Saya tamu. Jadi mestinya kamu hormat pada saya!" sahut Indah berani.
"Kalau tamu itu mestinya pulang jika yang punya rumah nggak ada!" sengit Adis tak mau kalah.
Adis melenggang meninggalkan Indah. Wanita itu sangat kesal sampai menghentakkan kakinya ke lantai.
"Dasar babu sialan!" makinya kesal.
Hudni melihat keberanian pekerja rumah milik saudara misan jauhnya itu. Hudni benar-benar marah.
"Mereka makin berani!"
"Mas!" keluh Indah cemberut.
"Sudahlah ... kita tunggu Aminah pulang. Kita bisa menekan janjinya menikahkan putranya dengan putri kita!" lanjutnya.
"Emang Aminah pernah bilang gitu mas?" tanya Indah bodoh.
"Kau tak tau saja. Waktu itu mendiang Rahmad Prambudi masih hidup. Mereka pernah mengatakan jika ia memiliki putra maka akan dinikahkan dengan putri kita!" jawab pria itu yakin.
"Yah, Mama ... kalian jangan ribut di sini ... malu!" ujar Aldila berbisik.
"Sudah kalian diam saja. Biar semua jadi urusanku. Sebentar lagi semua ini milik kita. Tunggu saja sampai Noval bersedia menikahi Aldila dan kita akan kembali berjaya!" lanjutnya tegas.
Di lantai dua, Hafsah mendengar dengan jelas perkataan pria itu. Kebetulan ia tengah menaruh sampah.
'Apa? Jadi tujuan mereka ingin menguasai harta ini?' tanyanya dalam hati.
"Kalau begitu Abang mesti tau ini!" lanjutnya bergumam.
__ADS_1
bersambung.
next?