
Noval datang ke sekolah bersama keluarganya. Rando ikut serta. Hari ini akan diadakan pelepasan para murid yang lulus. Hafsah mengadakan pesta kecil untuk merayakan dan memberikan reward pada anak -anak didiknya.
“Kenapa mesti dirayain sih?” gerutu Fateemah nyinyir.
“Kamu itu kenapa sih Fat?” tanya saudara kembarnya.
Ali sudah mulai merasa risih dengan kelakuan saudari kembarnya itu. Ada saja yang tak benar di mata gadis itu, apa saja yang dilakukan oleh pemilik dari tempatnya bekerja.
“Tunggu aku bisa mendirikan TPA sendiri. Aku akan menyaingi dan mengalahkan tempat ini!” lanjutnya memindai semua tempat.
“Kapan kau punya Fat?’ tanya Ali menyindir.
“Kalau Allah berkehendak, siapa yang tau?” jawab gadis itu berdesis.
“Allah tak akan mengabulkan niat buruk. Sebuah tempat pendidikan itu harusnya berbasis mencerdaskan murid. Bukan menyaingi sekolah lain!” sahut Ali ketus.
“Kamu kenapa sih Li?” tanya Fateemah bingung.
“Kok bukan kamu mendukung saudaramu sendiri. Malah kamu menjatuhkan aku?” lanjutnya.
“Aku mendukung jika kamu benar Fat. Kamu dari kemarin nyinyir sama pemilik sekolah, di mana kita bekerja?!” desis Ali makin tak tahan dengan saudarinya itu.
“Kamu tau kenapa Abi nggak mau buka TPA sendiri? Itu karena ingin kita belajar banyak dulu di luar. Kita serap ilmunya dan kita pakai nanti di sekolah kita!”
“Bismillahirrahmanirrahim .... saya Hafsah mengumumkan jika TPA kita sudah lulus untuk menjadi pesantren yang berbasis internasional ....”
Riuh tepuk tangan terdengar, Fateemah makin iri dengan keberhasilan tempatnya mengajar. Beberapa guru sujud syukur karena jadi guru tetap di tempat itu.
Mereka akan mendapat gaji pokok dan juga beberapa tunjangan. Hafsah menjanjikan rumah berbasis syariah yang memudahkan para guru mencicilnya dengan pemotongan gaji.
“Pasti nanti potongannya dilebihin sedikit untuk masuk kantung sendiri!” tuduh Fateemah pelan.
“Astaghfirullah! Kamu sudah berzu’udzon Fat. Istighfar kamu!” sentak Ali pada saudara kembarnya itu.
“Jangan menuduh tanpa bukti!” lanjutnya.
Perdebatan keduanya jadi pusat perhatian, Fateemah merasa ucapannya tak ada yang salah. Ia merasa bebas mengemukakan pendapatnya.
__ADS_1
“Ada apa Ustadz Ali membentak Ustadzah Fateemah?” tanya Hafsah di panggung menggunakan mik.
Semua menatap dua orang itu, Ali benar-benar malu. Ia melakukan panggilan telepon untuk menghubungi ayahnya.
“Maaf ustadzah, adik saya hanya asal bicara jadi saya menyentaknya,” jawab Ali sambil menunggu sambungan telepon diangkat.
Noval berdiri demi melihat apa yang terjadi. Fateemah menatap pria tampan, yang tengah menatapnya. Ia tertegun sejenak.
Wajah bulat dan kulit kecoklatan terkena sinar matahari. Alis tebal menukik, sorot mata lembut. Fateemah mengagumi pria itu sampai ....
“Ayah ... gendong!” teriak perempuan kecil mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Sudah-sudah ... acaranya dilanjutkan ya!” ujar Hafsah mengalihkan semua orang.
“Oh ya ... saya juga akan memperkenalkan paman saya yang juga akan bekerjasama dengan pesantren kita. Jadi semua santri yang naik tingkat tsanawiyah. Akan saya kirimkan ke kampung karena selepas dari sana. Murid-murid bisa melanjutkan pendidikan ke Mekkah, Madinah atau Kairo!” jelas Hafsah lagi.
Semua wali murid begitu antusias. Cassy ingin putra pertamanya menjadi seorang ustadz atau bisa menjadi pebisnis syariah. Wanita itu berkhayal perusahaannya akan dipimpin seorang hafidz dan itu adalah putranya, Ardian.
Rando maju ke mimbar, semua orang ternganga. Bahkan Hardianto sangat terkesima dengan wajah halus dan bersih yang dimiliki pria di atas mimbar.
“Mashaallah ... ganteng amat!” seru beberapa ibu-ibu termasuk bapak-bapak.
Noval berdecak, wajah paman dari istrinya bukan makin kusam melainkan makin bersinar. Pria itu berkeyakinan jika Rando memakai rangkaian skincare yang mahal.
Fateemah makin menganga. Gadis berkacamata itu makin terpesona dengan ketampanan pria yang berdiri di mimbar. Ali selesai dengan panggilannya. Sang ayah meminta pria itu sedikit bersabar dengan temperamen saudari kembarnya itu.
“Hai ... kamu liatin siapa!” tegur Ali lalu mengusap wajah Fateemah.
“Ih!” sergah gadis berkacamata itu kesal.
Ali melihat panggung, pria itu tertegun. Tampak wajah bersih yang seperti tak lepas air wudhu. Pria di depan mik itu bersuara rendah dan halus. Sedang di panggung. Rando terlihat risih dipandangi sedemikian rupa oleh orang lain.
“Ya Rabb, jangan jadikan Kau lempar hambaMu ini ke lembah paling nista dan jauhkan lah hamba dari penyakit ain!” doanya dalam hati.
Rando selesai memberikan satu kultum dan ia pun gegas ke bawah dan duduk bersama Noval dan Aminah. Visyah berganti tempat pangku bersama Rando. Pria itu mencium gemas pipi gembul cucunya itu.
“Kakek, kata Mas Aldan, olang tua lambutnya putih. Kok kakek nggak?” tanya batita cantik itu dengan suara cempreng khas anak-anak.
__ADS_1
“Nggak tau, Allah nggak kasih uban di rambut kakek. Padahal kakek pengen banget punya uban,” jawab pria tampan itu dengan lembut.
"Duh ... ganteng amat. Suaranya lembut ... pasti penyayang istri nih!" celetuk salah satu wali murid berjenis kelamin perempuan.
Rando sangat tak suka dengan pujian itu. Sepanjang acara, pria itu beristighfar untuk berlindung dari segala niat sombong dan takabur karena diberi karunia wajah rupawan.
Acara pun selesai, Hardianto langsung bertanya perihal pesantren yang didirikan Hafsah di kampung.
"Jadi ada beasiswa bagi murid teladan dan pintar?" tanyanya.
"Benar Pak, biaya memang cukup tinggi. Karena kami mengutamakan kenyamanan para santri nantinya. Tetapi, akan jadi gratis bagi yang tak mampu namun ingin menimba ilmu!" jelas Rando panjang lebar.
Cassy berusaha keras tak menatap pria tampan yang tengah menjelaskan beberapa program yang ditambah. Ternyata Hafsah tak membubarkan TPA nya hanya ia menambah sekolah dan kelas untuk pesantrennya.
"Biaya mencapai dua puluh lima juta selama dua tahun pendidikan. Tapi ada paket hemat seperti tiga puluh lima juta untuk empat tahun dan lima puluh juta untuk sembilan tahun," kali ini Hafsah menjelaskan perincian biaya.
Haridanto mengangguk tanda mengerti. Ardian sangat ingin bersekolah penuh di pesantren. Tetapi bocah remaja itu telah mendaftar di SMP swasta.
"Ma, mundur aja ya. Kan kemarin kata Mama baru bayar admin aja kan?" rayunya.
"Iya tapi bayarannya sampai tiga juta," jawab Cassy sedikit berat.
Ardian terdiam, sedang Candy dalam gendongan Aminah. Bayi itu tengah mencandai Rando, hingga terdengar gelak tawa Candy.
Cassy menuruti keinginan putranya. Ia yakin uangnya 3,5 jutanya hilang. Tetapi demi kenyamanan putranya ia pun menurut.
"Tapi janji ya mau belajar giat?" Ardian mengangguk antusias.
Remaja sebelas tahun itu memang sudah merencanakan cita-citanya.
"Biar Candy aja jadi penerus Papa. Atau Mama punya anak cowo lagi!" celetuknya memberi saran.
"Astaga ... ide anak ini!" dumal Cassy sedang Hardianto memberi hi-five pada putranya itu.
bersambung.
Ardian mau jadi ustadz ... makanya dia mau mondok.
__ADS_1
itu Fateemah kenapa liatin Rando kek gitu?
next?