
Hari menjelang siang, kali ini Inge dengan berani memberikan kotak makannya pada Noval.
Lagi-lagi Hardi tidak masuk dan menyerahkan semua pekerjaannya pada sang wakil dirinya.
"Pak!" Inge meletakkan kotak makan siangnya di meja Noval.
Pria itu juga meletakkan bekal makan siang yang tadi ia minta pada sang istri.
"Inge?" kening pria itu berkerut.
"Pak, saya bawa bekal. Boleh kita tukaran makanan?" ujarnya pelan.
"Maaf Inge ... saya hanya makan masakan istri saya!" tolak Noval langsung.
"Pak ...."
Noval membawa bekalnya sendiri ke sofa dan meninggalkan gadis itu. Inge pun mengambil bekalnya dan memilih duduk di sofa. Noval tak peduli, ia menyantap makanannya.
Inge berkali-kali melirik pria yang begitu tenang makan. Noval tak tertarik dengan decapan bibir sang sekretaris yang mengunyah atau kepedesan. Pria itu hanya fokus dengan apa yang dimakannya.
Setelah selesai, Noval berdiri dan membiarkan Inge. Ia mencuci kotaknya di wastafel dekat situ.
"Pak biar saya ...."
"Tidak perlu repot Inge. Kau habiskan saja makananmu!" perintah Noval selesai mencuci kotak bekalnya.
Inge menelan kasar masakan asinnya. Ia tampak kepayahan dan nyaris memuntahkan semua makanan itu. Gadis itu menyerah dan mengumpat habis dirinya.
'Nggak becus!'
Gadis itu memasak di dapur rumahnya. Sang ibu sampai berteriak karena Inge nyaris membakar seluruh rumah.
Inge menutup kotak makannya yang masih banyak tersisa. Ayam kecapnya nyaris seperti dicelup dalam genangan kecap karena sangat manis. Sayur tumisnya juga entah disebut tumis atau apa. Rasanya seperti air laut.
Perutnya mendadak mulas. Gadis yatim ini memang manja, karena mendiang ayahnya memang memanjakan dirinya.
"Pak, saya ijin ke kamar mandi!" ujar gadis itu sambil memegang perut.
"Silahkan pergi ke toilet di pantry Inge!" suruh Noval.
Inge berlari, tubuhnya nyaris bertabrakan dengan Luki. Pria itu juga nyaris membentak gadis itu.
"Kenapa dia Pak?" tanyanya bodoh.
"Kamu nanya?" ketus Noval melirik kesal pada asistennya.
Luki membungkuk hormat, ia langsung meminta maaf. Beberapa berkas mesti segera dibereskan.
Inge masuk lalu berkutat di meja kerjanya. Baru lima menit ia duduk. Gadis itu kembali berlari tunggang-langgang. Hingga sepuluh kalinya ia ke kamar mandi.
"Pulanglah, aku takut kau malah pingsan di sini karena bolak-balik ke kamar mandi!" perintah Noval yang iba.
__ADS_1
Inge membungkuk hormat, ia memang sudah tak tahan lagi. Perutnya seperti dikuras habis.
Ijah, salah satu OB wanita mengantar gadis itu ke motor Inge yang terparkir di halaman kantor. Inge melesatkan kendaraan roda dua itu.
"Srufh ... srufh!" Ijah mengendus bau aneh sepeninggalan Inge.
"Kok kek bau mencret?" gumamnya pelan.
Lalu ia melihat beberapa kucing liar berkeliaran di sana.
"Oh ... mungkin di empus beabe di sini!" angguknya.
Sedang di atas kendaraan, Inge mengumpat keras karena ia baru saja membuang ampas dalam celananya.
"Ah ... cepirit lagi!"
Di kantor, Luki menatap atasannya dengan pandangan kagum. Ia sangat yakin betapa keras usaha Inge merebut perhatian Noval di sana.
"Bapak emang nggak tergoda ya?" tanyanya pelan.
Noval menoleh padanya. "Siapa? Inge?"
Rupanya pria itu tau maksud perkataan Luki. Bukan Noval tak tau maksud Inge. Tetapi pria itu memilih setia pada istri.
"Melirik wanita lain untuk mendekati zinah?" ia menggeleng.
"Istriku jauh lebih cantik dibanding Inge!" Luki mengangguk setuju.
"Nggak penasaran cari sensasi pak?" tanya Luki lagi.
"Kau tau Luki kenapa pria harus lebih sering menundukkan kepalanya?" tanya Noval lalu duduk dengan tenang di kursi kebesaran milik atasannya.
"Karena dari mata turun ke nafsu. Aku bukan pria suci Luk. Tapi istriku seorang ustadzah, apa kata orang jika ada yang memergokiku berselingkuh dan memilih berzinah?"
"Bapak bisa minta poligami?" ujar Luki.
Noval menggeleng, ia tak memiliki ilmu untuk mempunyai dua istri. Kadar keimanannya sangat jauh.
"Dengan alasan apa aku berpoligami Luk?" tanyanya.
"Istriku cantik, ia mampu melayaniku di rumah. Baik urusan ranjang atau urusan perut!" lanjutnya.
"Rasulullah dulu menikahi wanita-wanita atas perintah Allah. Ada yang karena hafalan qurannya, sholat Sunnahnya, puasanya ...."
"Istriku Hafsah selalu meminta ijinku ketika ingin mengganti puasanya," lanjutnya dengan tatapan menerawang.
"Dia seorang hafidzah, lalu aku menikah lagi hanya untuk sebuah syahwat?" lagi-lagi Noval menggeleng pelan.
"Aku mencintai istriku Luk. Insha Allah, cinta ini tak lebih besar rasanya dengan cintaku pada sang maha pencipta!" terangnya.
Luki hanya terdiam, ia makin kagum melihat cara Noval menghadapi Inge. Hardianto juga sebenarnya sering menghindar dan tak masuk kerja karena takut tergoda oleh sekretaris manis itu.
__ADS_1
Luki sangat paham pandangan seorang pria terhadap lawan jenisnya. Hardianto sering kedapatan menatap Inge dengan pandangan berbeda.
'Sepertinya harus aku yang bergerak!' gumamnya bermonolog dalam hati.
Besok paginya, Inge tak lagi membawa bekal yang ia masak. Tetapi ia membelinya via online.
"Pak, saya beli sushi kebanyakan nih. Makan bareng yuk!' ajaknya sok akrab pada Noval.
"Tidak terima kasih Inge. Saya pulang untuk makan siang!" tolak Noval cepat tanpa berpikir panjang.
Inge hanya bengong. Makanan lezat sudah tersusun, Noval pergi dan Luki masuk. Pria itu menatap makanan lezat di meja.
'Kau habis makan itu semua?" tanyanya. Inge menggeleng.
"Boleh aku membantumu menghabiskannya?" pinta pria itu lalu duduk.
Luki memakannya tanpa menunggu persetujuan Inge. Gadis itu akhirnya menghela napas panjang. Ia pun akhirnya ikut makan.
Usai makan, Luki menatap pandangan kosong Inge. Gadis itu cantik di mata semua pria. Walau bukan kriterianya, tetapi untuk menyelamatkan semua orang dan ia tak lagi pusing mencari sekretaris baru.
"Nge ... ada yang ingin aku bicarakan!" ujarnya tegas.
Inge terkejut, ia menatap Luki yang memandanginya tajam. Gadis itu menunduk.
"Hentikan semua usahamu untuk menggoda Pak Noval dan Pak Hardi!" gadis itu membelalak, matanya menggenang.
"Jangan sembarang menuduh!" desisnya mengelak.
"Inge ... apa perlu aku sebutkan semua usahamu ini adalah bentuk mencoba merebut perhatian atasan kita, Pak Noval?"
"Jangan fitnah!" teriak Inge masih membantah.
"Cukup Inge ... aku katakan cukup!" bentak Luki juga tak kalah keras.
"Aku tau maksudmu membawa makanan lebih, bahkan kemarin kau mencoba bertukar bekal. Padahal kau sakit perut akibat makananmu sendiri!" terang Luki.
"Hiks!" Inge menangis.
"Minggu besok aku akan melamar mu. Jadi hentikan usahamu menggoda Pak Hardi ataupun Pak Noval!" putus Luki tegas.
Pria itu berdiri dan menepuk bahu gadis yang berlinang air matanya. Dengan ujung jarinya, Luki menghapus jejak basah itu.
"Persiapkan dirimu. Kita akan menikah secepatnya!"
Luki mengecup kening Inge. Gadis itu membesarkan matanya. Luki bergegas keluar, ia menutup pintu perlahan dan mengelus dadanya yang berdebar dengan cepat.
Sedang di ruangan, Inge bergeming tak percaya. Ia meraba kening yang baru saja dicium oleh pria lain selain mendiang ayahnya.
"Astaga ... dia mencuri ciuman pertamaku!" pekiknya pelan dan perlahan rona merah menjalar di pipi hingga telinganya.
Bersambung.
__ADS_1
Cieee ... Luki!
next?