
"Saya akan memblack list anda, hingga tak bisa bekerja di mana pun!' ancam Hardi tak main-main.
"Anda pikir anda bisa mengancam saya?" Noval tertawa sinis.
"Kita lihat Pak. Anda tau, pekerja yang bekerja di luar hari kerja mestinya mendapat bayaran dua kali lipat. Selama dua tahun anda menekan kami bekerja di hari libur tanpa bonus!" sahut Noval santai.
Hardi diam, ia lupa Noval adalah pria yang juga memiliki andil besar di perusahaanya.
"Kolega anda lebih mengenal saya dibanding anda!" lanjutnya menatap tajam yang setinggi kupingnya itu.
"Kita akan lihat. Berapa lama perusahaan istri anda ini bertahan jika anda masih arogan pada saya ...."
Noval memotong perkataannya.
"Pak!" lanjutnya pelan penuh penekanan.
Noval berlalu dari hadapan Hardi. Di sana Luki menggeleng.
"Dia mau ...."
"Saya juga akan mengundurkan diri pak!" ujar Luki tegas.
Hardi mematung. Dua karyawan terbaik memilih resign. Ia akan kehilangan orang yang sangat berkompeten.
Hardi tak bisa mencegah kepergian Noval. HRD menerima surat pengunduran dirinya. Bahkan pria itu mendapat haknya sebagai vice CEO selama empat tahun dengan dua bulan gaji.
"Mestinya enam bulan gaji. Tapi tak apa lah!" gumam Noval.
"Bapak udah beneran berhenti?" tanya Luki.
"Iya saya berhenti hari ini juga," jawab Noval.
"Saya nggak usah mundur. Mau berhenti juga. Besok dan selamanya nggak mau masuk!" tandas Luki dengan muka malas.
"Eh jangan. Lumayan uangnya bisa nambahin modal!" cegah Noval.
"Nggak ah. Biar aja nggak dapat juga!' sahut Luki santai.
"Saya kemarin dapat warisan dari mendiang kakek. Jadi alhamdulilah bisa buat modal jualan sembako," lanjutnya.
Noval tak lagi berkata apapun. Ia memeluk Luki. Mereka pasti akan jarang bertamu atau bahkan tak bertemu sama sekali.
"Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari!" ujar Noval.
Keduanya pun berpisah di teras lobi. Hardi sama sekali tak digubris oleh dua pria itu.
"Pak pulang duluan!' pamit Ridwan, salah satu sekretaris Hardi.
Pria itu mengangguk, ia akan mencari staf HRD yang kompeten untuk mengisi jabatan vice CEO perusahaan.
"Makasih Nov, Luk!" gumamnya, " dan maaf!"
__ADS_1
Sampai rumah, Noval disambut istri dan putrinya. Noval benar-benar pulang cepat. Ia tak mengambil berkas untuk lembur karena surat pengunduran dirinya telah disetujui oleh HRD.
"Assalamualaikum sayang-sayangnya ayah!' ujarnya ketika masuk dalam rumah.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh ayah!" seru dua perempuan beda usia itu.
Visyah langsung berhamburan pada ayahnya dan minta gendong. Hafsah mendekat dan mencium tangan suaminya. Noval mencium pipi putrinya dan mengecup kening sang istri.
"Ayo turun sayang, ayah cape itu," suruh Hafsah.
"Tidak apa-apa sayang," ujar Noval malah menggoyangkan tubuhnya hingga Visyah ikut bergoyang.
"Ayah!" pekik Visyah girang.
Usai membersihkan diri. Noval duduk di sofa dan di depannya sudah ada secangkir teh hangat. Visyah juga mau susu yang dibuatkan di cangkir.
"Mau sepelti ayah!" ujarnya mengikuti gaya ayahnya.
Noval tersenyum lebar melihat putrinya duduk dengan menyilangkan kaki. Batita menjelang empat tahun ini sudah mulai kritis dan sangat pintar.
'Ayah ... apakah Isa nanti boleh jadi seperti ayah?" tanya batita itu bijak.
"Boleh sayang, kamu boleh jadi apapun asalkan itu bermanfaat untuk orang banyak," jawab Noval.
Usai minum teh dan makan kudapan yang dibuat Hafsah. Mereka beranjak sholat magrib berjamaah.
Usai makan malam, Visyah sudah tertidur di karpet. Batita itu terlelap dengan krayon di tangan. Noval mengangkat putrinya dan menaruhnya di kamar. Ia juga membersihkan bekas krayon yang mengotori tangan anak perempuannya itu.
Ia sudah siap memakai mukena. Noval tersenyum melihatnya. Ia segera mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat wajib setelah adzan terdengar.
"Jadi Abang sudah benar-benar tak bekerja?" tanya Hafsah memastikan ketika suaminya bercerita.
'Luki juga berhenti tadi. Ia malah tanpa surat pengunduran diri!" jawab Noval.
"Pak Hardi mengancam Abang akan di-black list hingga tak bisa bekerja di manapun!" lanjutnya dengan nada marah.
"Kok jadi gitu ya Bang?" Noval mengendik bahu tanda tak peduli.
"Ya sudah. Sekarang rencana Abang apa?" tanya Hafsah.
"Sini!" suruh Noval sambil menepuk pahanya.
Blush! Muka Hafsah bersemu merah. Ia begitu malu, tapi tangan sang suami menariknya hingga duduk di pangkuan pria itu. Noval memeluk erat tubuh sang istri yang masih mengenakan mukena.
"Kita buat adik untuk Visyah yuk!" bisiknya.
Noval mulai menciumi istrinya. Hafshah mengangkat bahu. Ia sedikit geli.
Noval yang tak sabaran membuka mukena yang dipakai istrinya. Hafsah ternyata sudah bersiap dengan lapisan lingerie warna hitam.
"Ah ... kamu sudah siap tempur ternyata!' seloroh Noval.
__ADS_1
Malam itu, di kamar Noval mereguk nikmat tubuh halal wanita yang ia nikahi empat tahun lalu.
"Kamu makin seksi sayang!" pujinya disela-sela bercinta.
Hafsah tak berkata apapun. Ia hanya pasrah dan melayani suaminya. Hingga di titik tertinggi, Noval memuntahkan semua isinya ke rahim sang istri.
"Aku mencintaimu!" ujarnya lalu ambruk di sisi Hafsah dengan napas menderu.
Hafsah memeluk suaminya erat. Noval benar-benar perkasa, ia selalu puas dengan permainan suaminya. Keduanya pun terlelap setelah percintaan ketiga mereka.
Pagi menjelang, Visyah yang sudah rapi terkejut melihat ayahnya masih bersantai di rumah.
"Ayah nggak kelja?" tanyanya.
"Nggak sayang ... ayah nganggur!" jawab Noval.
"Mau jadi supir Mama sekarang!" lanjutnya lalu menghujani putrinya ciuman.
"Ayah!" gelak tawa tercipta.
Hafsah tersenyum lebar. Mereka pun pergi menuju sekolah yang didirikan Hafsah. Kini perempuan itu makin melebarkan halaman pesantren miliknya. Beberapa tanah dan kebun yang ada dibeli untuk pelajaran mandiri para santri.
"Jadi kamu juga mengembangkan bibit lele, udang dan lobster?" tanya Noval tak percaya.
"Benar Abang, sekolah ini bukan hanya mendidik para santri untuk hafal Alquran dan hadist mereka juga perlu membuat usaha untuk kebutuhan hidup mereka. Jadi di sini ada pengajaran untuk mengembangkan bisnis mereka nantinya!' jawab Hafsah.
"Bahkan sekolah ini akan memberikan modal usaha pada santri yang telah lulus dengan sistem pinjam tanpa bunga sama sekali, boleh dicicil!" lanjutnya menjelaskan.
Noval berdecak, istrinya ini memang luar biasa genius dan bisa melihat peluang yang ada.
"Katanya sekolah ini bekerjasama dengan paklik di sana untuk menciptakan petani-petani handal?" Hafsah lagi-lagi mengangguk.
"Kita makan nasi. Kalau nggak ada yang mau jadi petani. Siapa yang akan mengolah sawah yang menjadi beras?" jawab Hafsah.
"Aku besok melamar di sini jadi manager ya!" ujar Noval bercanda.
"Boleh bang, kebetulan divisi itu tengah kosong!" jawab Hafsah langsung.
"Eh ... aku hanya bercanda sayang!" sahut Noval tentu tak enak.
"Abang punya pengalaman itu. Kenapa harus cari orang lain. Lagi pula sekolah ini adalah milik kita bersama. Jadi tak masalah jika Abang jadi managernya!' sahut Hafsah tenang.
Noval tersenyum, ia tak perlu khawatir lagi tentang pekerjaan.
"Nggak jadi petani deh. Ada istri punya usaha kenapa nggak dibantuin!" gumamnya.
Hafsah menoleh dan tersenyum senang dengan gumaman suaminya.
Bersambung.
next?
__ADS_1