
Rando masih menginap di rumah kemenakannya itu. Banyak berkas yang ia kerjakan bersama Hafsah. Berdirinya pesantren AL-Hikmah menjadikan keduanya sedikit sibuk.
“Sudah sana, kamu urus mertua dan anakmu. Biar ini paklik kerjakan,” suruh Rando pada hafsah.
Hafsah menurut, melayani keluarga adalah tanggung jawabnya. Ia mulai mengerjalan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel dan memasak. Sore menjelang, semua sudah siap, Rando membereskan baju-bajunya.
“Paklik mau kemana?” tanya Noval.
“Paklik berencana pulang besok sore setelah ijin menag keluar,” jawab Rando.
“Nggak lama di sini paklik?” Rando merebahkan diri di ranjang pria itu.
Rando menggeleng dan membiarkan Noval tidur di sana. Hafsah mendatangi kamar pamannya karena mendengar suara suaminya di sana.
“Eh ... kok malah tidur sini?” tanya Hafsah.
“Bang ... bangun bang!” ujarnya membangunkan sang suami dengan menggoyangklan lengannya.
“Duh ...!” decak Noval yang pusing.
“Bang?”
“Nov?”
Baik Hafsah dan Rando langsung khawatir ketika Noval memegangi kepalanya. Hafsah sedikit menyesal membangunkan suaminya, tetapi hari menjelang maghrib. Sangat tidak baik jika tidur di waktu tersebut.
“Bang maaf, tapi ini mau maghrib,” sesal wanita itu.
Noval bangkit dari ranjang paman istrinya, di sana Novisyah sedang bermain bersama neneknya. Bayi cantik itu dicium gemas.
“Dede Visyah mau punya dedek tidak?” tanya sang nenek.
“Mau!” jawab batita cantik itu nyaring.
“Mau ya dedek cowo,” ujar Aminah.
“Kalau dikasih cewek gimana dong nek?” tanya Visyah bingung. “Masa Visyah suluh masuk ke pelut mama lagi?”
Aminah mencebik. Cucunya memang sangat pintar, ia yakin andil Hafsah sang ibu sangat kuat mendidik Visyah hingga cerdas dan kritis.
Usai maghrib, rupanya Visyah ingin makan lebih dulu. Batita itu sudah lapar dan tak mau menunggu lama. Ia juga sudah berkali-kali menguap lebar.
“Umi suapi ya,” tawar Hafsah.
__ADS_1
“Isa udah gede Ma!” tolak batita itu dan menyuap sendiri makanannya.
Hafsah menghela nafas panjang. Ia telah mengajari putrinya memamnggilnya umi. Tetapi Visyah tetap memanggilnya mama.
“Sudah ... kan artinya sama saja,” ujar Aminah menenangkan menantunya itu.
Akhirnya menjelang makan malam, Visyah sudah terlelap di kamarnya. Usai makan malam. Mereka shalat berjamaah.
“Rumahnya nggak deket masjid seperti yang dulu ya?” keluh Rando.
“Namanya kawasan elit paklik. Kita harus keluar perumahan untuk mencari masjid,” jawab Hafsah maklum.
“Tapi di sini sangat aman dan fasilitasnya juga banyak,” sahut Aminah tak masalah.
Rando adalah orang yang tidak mau berdebat, ia sangat paham dengan status Noval yang sekarang seorang Vice CEO di perusahaan besar. Kediaman atau tempat tinggal menjai tolak ukur pandangan semua orang terlebih jika menerima tamu pebisnis besar.
“Ah ... aku yang orang kampung tak terbiasa sunyi begini. Aku lebih suka dengar orang mengaji pakai speakler di masjid. Berasa didoain,” kekeh Rando sedikit menyindir.
Noval diam, ia tau jika sindiran itu tertuju padanya, pamannya yang kental dengan nuansa agama, tentu akan tidak betah berada di sebuah hunian yang menjauhkannya dari Tuhan.
“Hidup itu sesuai jaman lah Ndo . tak semua orang paham dengan pikiranmu. Mereka pulang ke rumah maunya istirahat dan tidak banyak mendengar kebisingan. Lagian suara adzan bukan tidak terdengar kok kalau dari sini!” sahut Aminah masih membela putranya.
Rando menggeleng pelan, jaman memang berubah. Tapi menjauhkan manusia dari Tuhannya itu adalah salah. Mestinya di usia dunia yang makin tua, orang-orang mendekat dengan rumah-rumah Tuhan mereka.
“Mestinya dekat bu ... bukan jauh,” sela Hafsah lirih.
“Ibu sudah kenyang!” lanjutnya berdiri.
“Bu ...,” Noval menahan ibunya.
Aminah mengelak lengan putranya yang hendak menahannya. Wanita itu tak menyukai jika masalah kecil diributkan.
“Maaf, perkataan saya malah mengganggu ketenangan kalian,” ujar Rando sangat menyesal.
Pria itu segera menghabiskan makanannya. Ia pamit dan meminta maaf sekali lagi lalu pergi menuju kamar. Noval menatap Hafsah, ia menyayangkan istrinya menyahuti perkataan sang ibu.
“Mestinya tak usah kau sahuti Sah!”
Hafsah menunduk, tetapi pikiran sang ibu memang perlu diluruskan. Ia juga mau mengeluarkan pendapatnya.
“Aku ....”
”Jangan juga sahuti aku Sah!” potong Noval cepat.
__ADS_1
“Aku tau kau dan paklik sangat paham agama. Kalian adalah orang-orang benar, sedang aku dan ibu adalah orang-orang salah!” lanjutnya protes.
“Makanya kau merasa hrus melurukan kami bukan?”
“Abang nggak mau diluruskan?” tanya Hafsah.
“Hafsah!” bentak Noval marah.
“Jika aku begitu kotor di matamu. Kau tak perlu ambil air untuk mengguyurku!” desisnya.
Noval bangkit, ia menuju kamar sang putri dan menutup pintu. Hafsah terdiam, ia tidak tau di mana salahnya.
“Apa salah jika mengungkap apa yang benar?’ tanyanya lirih.
Hafsah membersihkan ruang makan. Noval tak keluar dari kamar putrinya menandakan jika ia akan tidur sendirian malam ini. Satu titik bening jatuh dari sudut matanya. Belum selesai, ia melihat pamannya menggembol ransel keluar dari kamar.
“Paklik ... Paklik mau kemana?” tanya gegas menghapus jejak basah tanpa diketahui sang paman.
“Paklik mau pulang sekarang Nak,” ia menatap Hafsah.
“Nggak nunggu pagi dan pamit pada semuanya paklik?”
“Maaf Nak ... paklik pergi malah membebanimu dengan masalah barusan. Mungkin paklik cukup tau diri untuk pergi secepatnya. Bukan apa-apa, tapi memang paklik nggak betah jika nggak denger orang ngaji di masjid pake toa,” jelas pria itu panjang lebar.
Ketika depan pintu Rando memeluk keponakannya itu. Sekali lagi ia meminta maaf jika perlakuannya tadi tak seharusnya ia lakukan.
“Mestinya paklik menghormati keputusan suamimu. Bukan malah mengkritik. Jangan melawan suami jika tidak keluar dari syariat islam nak!”
Hafsah mengangguk pelan, ia menahan tangisnya. Rando menaiki mobil sedan warna hijau, mobil sederhana yang tidak mencolok mata semua orang untuk memilikinya. Kendaraan itu pergi dan Hafsah menutup pagar dan mengunci gemboknya.
Wanita itu memilih duduk di kursi sambil menatap bintang. Pikirannya masih berkecamuk dan ia tidak tau harus apa. Noval memang masih mengerjakan kewajibannya sebagai muslim walau diakhir waktu. Faktor lelah adalah alasan utama pria itu.
Noval terbangun dan sedikit terkejut karena ia berada di kamar putrina. Ia pun ingat jika marah perihal sang istri yang menyela perkataan ibunya.
Setelah mencium Visyah, ia keluar. Pria itu melihat pintu depan terbuka, keningnya berkerut.
“Siapa keluar malam-malam begini?” tanyanya bergumam.
Pria itu melangkah lebar dan menutup pintu serta menguncinya. Ia tak melihat jika istrinya masih di luar. Pria itu kembali ke kamar sang putri dan menatap kamarnya yang tertutup rapat.
“Maaf Sah ... aku masih marah padamu,” ujarnya lirih lalu masuk kamar putrinya lagi.
Bersambung.
__ADS_1
Lah ...???
Next?