ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
HAMIL


__ADS_3

Setelah diperiksa di bidan setempat. Benar dugaan Hafsah jika ia tengah berbadan dua. Usia kehamilan enam minggu.


"Selamat ya Pak!" ujar Bidan memberi selamat.


"Terima kasih Bu!" ujar Noval tersenyum lebar.


Hafsah senang kandungannya baik-baik saja. Ia diberi vitamin dan penambah nafsu makan juga penguat janin.


"Nih liat calon dede bayinya!" tunjuk bidan ketika menggerakkan panel di perut Hafshah.


Visyah menatap bulat latar kecil di depannya. Satu titik putih terlihat bergerak.


"Itu dedenya Yah?" tanyanya nyaring.


"Iya sayang itu dedenya!" jawab Noval lalu mencium gemas putrinya.


"Ada dua titik Yah!" tunjuk Visyah.


"Hah? Satu itu nak!" ujar Noval.


"Dua ayah!" sahut Visyah yakin.


Bidan sedikit penasaran dengan perkataan balita itu. Ia mencoba menggerakkan alat ke kiri perut Hafsah.


"Eh ... iya ... insyaallah ya Pak. Ini kembar!" ujarnya antusias.


"Kembar?" Noval tak percaya.


"Iya pak, insyaallah!" ujar bidan yakin.


"Mashaallah Alhamdulillah ya Allah!" pekik Noval penuh rasa syukur.


Mereka pulang, Hafsah ingin makan nasi Padang. Mereka pun berhenti di salah satu rumah makan.


"Visyah mau makan apa sayang?" tanya Hafsah ketika hidangan sudah ada di meja.


"Mau sayul ayam pop sama lendang!" jawab Visyah.


Hafsah mengambilkan makanan untuk putrinya. Noval sudah mengambil makanan sendiri, ia juga lapar.


Usai makan dan membeli beberapa lauk untuk makan malam. Sampai rumah Hafsah langsung menyimpan lauk di piring dan menaruhnya di lemari.


"Bang, aku ke kantor dulu ya!" pamitnya.


"Istirahat dulu sayang!" perintah sang suami.


Hafsah menurut, ia mendekat pada Visyah yang sedang berbaring di karpet tebal.

__ADS_1


"Anak umi cape ya?"


"Iya Umi ... cape ... tapi kenyang alhamdulilah!" jawab Visyah sangat bijak.


Hafsah menciumi putrinya. Hari sudah beranjak sore, barulah Hafsah ke kantor. Noval sudah membereskan semua pekerjaan istrinya.


"Enaknya punya suami yang sigap!" pujinya melihat semua berkas beres dan rapi di meja.


Guru-guru dan para ustadz atau ustadzah yang mengajar sudah pulang ke hunian mereka masing-masing.


Hanya ada beberapa ustadz yang tinggal di asrama besar untuk membimbing dan mengawasi para santri.


Hafsah lebih banyak menerima santri dibanding santri perempuan. Karena memang pesantren itu belum memiliki asrama putri sama sekali.


"Apa dipisah saja ya?" gumamnya.


"Apanya yang dipisah sayang?" tanya Noval yang ternyata mendengar gumamannya.


"Santri pria dan santri wanita," jawab Hafsah.


"Jadi ini khusus santri laki-laki. Aku mau cari gedung atau tanah lagi untuk membangun khusus pesantren perempuan. Semua tenaga pengajarnya juga perempuan," jawab Hafsah.


"Ide bagus," ujar Noval setuju.


Hafsah mengelus perutnya. Ia sedikit pusing, Noval memintanya agar tidak terlalu lelah dan bernafsu.


"Ingat, ada dua janin di dalam rahimmu!" lanjutnya.


"Iya Bang," angguk Hafsah menurut.


Noval sedikit kurang suka dengan cara kerja istrinya. Hafsah seperti tak kenal waktu jika memiliki ide untuk mengembangkan pesantren miliknya.


"Sayang!" peringat Noval keras.


"Iya Abang ... iya!" sahut Hafsah.


"Baik, selama kehamilanmu. Aku yang mengawasimu langsung!" tekan Noval.


Hafsah tersenyum, ia sangat senang dengan kepedulian suaminya. Ia memang harus menurut jika tak mau Noval marah.


Hari berlalu cepat. Tak terasa kehamilan Hafsah sudah tujuh bulan. Rando dan Aminah ada di sana. Tidak seperti kehamilan pertama. Tetapi doa-doa tetap dilakukan untuk dua jabang bayi.


"Jadi di sini ada dua cucu?" tanya Rando yang masih betah melajang.


"Paklik kapan beristri?" tanya Hasfah menatap adik kandung mendiang ayahnya itu.


Rando menghela napas panjang. Bukan ia tak mencari, tetapi ketakutannya pada pernikahan dan salah cari pasangan membuat ia ragu melangkah ke jenjang berikutnya.

__ADS_1


"Ibu padahal sudah kasih beberapa kandidat loh umi!" lapor Noval setengah meledek paman istrinya itu.


"Belum ada jodohnya," sahut Rando santai.


Rando makin tampan diusianya menjelang lima puluh tahun itu. Rambutnya sama sekali tak memutih. Pria itu kini memelihara janggut di dagunya. Menambah kadar ketampanannya.


"Sayang," panggil Noval pada sang istri.


"Hem?" sahut Hafsah.


"Itu paklik pake skincare ya?" tanya Noval.


"Heh? Kenapa kok nanya gitu?" tanya Hafsah balik.


"Ck!" Noval berdecak.


"Aku aja nggak skincarean Bang," sahut Hafsah.


Noval menatap istrinya tak percaya. Tetapi ia ingat. Di meja rias. Tak ada satupun alat perawatan muka itu.


"Aku hanya pake sabun cuci muka saja," ujar Hafsah.


"Lalu kok muka paklik kinclong. Bukan kinclong yang kek licin gitu. Tapi bersinar, kek nggak ada cela gitu!" ujar Noval penasaran.


Hafsah menatap raut pamannya. Memang ada sedikit keriput di sudut mata pria itu Tetapi, benar kata suaminya. Jika wajah Rando sangat bersih dan bersinar.


"Mungkin itu air wudhu," jawab Hafsah.


"Apa paklik nggak pernah berfikiran kotor ya? Makanya mukanya bersih?" sahut Noval.


"Bisa jadi," jawab Hafsah.


Sementara itu Aminah memindai sekeliling rumah yang baru ia datangi. Rumah itu sebenarnya jauh lebih besar dari rumah sebelumnya. Bahkan lebih asri dan indah.


"Aku di mana? Ini rumah siapa?" tanyanya bingung.


"Bu?" panggil Rando.


"Eh ... ya?" tanya Aminah bingung.


"Ibu nggak apa-apa?" tanya Rando.


"Ah ... iya ... maaf, ibu ini di mana ya?" tanya Aminah bingung.


bersambung


eh ...

__ADS_1


__ADS_2