ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
INGE


__ADS_3

Waktu memang berlalu begitu cepat. Noval tetap sibuk sebagai vice CEO di perusahaan milik Hardianto. Terkadang pria itu mewakili bossnya yang mendadak tak datang karena acara keluarga.


"Keluarga di atas segala-galanya!' begitu ujarnya.


Tetapi ketika Noval yang ijin libur atau minta cuti karena Hafsah sedang tidak enak badan. Hardianto melarang dan membuat alasan.


"Jangan tinggalkan pekerjaan. Ada kepentingan orang banyak di sana dan kau tak bisa semerta-merta mengabaikannya!"


Namanya boss, maka apa yang ia bilang adalah kebenaran. Kini usia Visya sudah mau tiga tahun. Huniannya juga sudah pindah di kawasan elite.


"Pak Noval!" panggil Inge, sekretaris baru Noval.


Semenjak hilangnya Puspa. Sudah dua puluh kali Hardianto mengganti sekretarisnya. Pria itu tak puas dengan hasil kerja mereka.


"Inge apa sudah kau bereskan proposal tender yang kita ajukan pada perusahaan xxx?" tanya Noval merapikan penampilannya.


Inge membetulkan dasi Noval. Biasa itu dilakukan oleh sekretaris-sekretaris, walau sebentar karena Noval menepis tangan Inge.


"Sudah Pak. Saya sudah merevisi sesuai keinginan pimpinan proyek," jawab Inge lembut.


Noval mengangguk, ia memakai jasnya lagi-lagi tangan Inge ditepis ketika membantunya.


"Cukup kau lihat semua yang perlu dibawa Inge. Kau tak perlu mengurusku!" tekan Noval.


Pria itu berjalan menuju pintu. Inge sedikit menyusutkan air di pelupuk matanya. Ia mengambil semua berkas yang sudah ia siapkan dan juga tas selempangnya. Luki sudah ada di depan pintu.


"Mari pak!" Noval mengangguk.


Mereka bertiga berjalan menuju lift khusus. Inge bisa ikut jika dalam keadaan bekerja. Tidak dalam waktu istirahat atau pas pulang.


Luki membuka pintu samping kemudi. Noval menolak duduk di belakang. Inge yang duduk di sana. Luki sebagai supir atasannya. Kendaraan itu melesat menuju sebuah restoran mewah.


Tak terasa, semua berjalan sesuai keinginan perusahaan. Kerjasama terjalin dan ditandatangani. Proyek berhasil diambil sebanyak 40%.


"Pak kita kembali ke kantor?" Noval menggeleng.


"Tidak, aku bisa pakai taksi. Kalian pergilah!" perintah Noval.


"Baik Pak! Selamat beristirahat!" ujar Luki undur diri.


"Kau tidak ikut?" tanyanya pada sosok cantik di belakang Noval.


"Saya ...."


Noval yang sudah berjanji dengan istrinya tampak mempercepat langkahnya. Hafsah hari ini akan launching buku karyanya sendiri.


Inge ingin menyusul Noval. Ketampanan dan sifat dewasa pria itu membuat Inge jatuh cinta. Gadis itu mendapat sosok kakak yang tak pernah ia miliki.


"Inge!" panggil Luki.


"Kau tak boleh pergi kemana-mana sebelum waktu pulang kantor!" peringat pria itu.

__ADS_1


Inge menunduk, ia harus menurut jika ingin tetap bekerja. Gadis itu pun ikut asisten atasannya untuk kembali ke perusahaan.


Sampai kantor, Inge harus membuat laporannya. Susunan dan jadwal atasannya harus diletakkan besok di atas meja.


"Semoga besok pak Noval lagi yang memimpin. Pak Hardi masih menunggui istrinya Bu Cassy melahirkan!" harapnya.


Keesokan harinya, semua kembali sibuk dengan rutinitas mereka. Noval hadir dan kembali menggantikan atasannya memimpin perusahaan.


Di meja kerja Noval ada satu foto dirinya bersama istri dan putri tunggalnya. Noval belum ingin memiliki anak lagi. Padahal Hafsah sangat ingin memiliki anak terlebih Novisyah tak mau dipanggil dedek lagi.


Putrinya yang belum tiga tahun itu juga sangat mandiri. Hafsah memang mengajarkan itu pada sang putri. Jadi jarang sekali Visyah merengek manja atau tantrum. Hafsah lagi-lagi memiliki peran besar mendidik putrinya itu.


"Kok aku ingin Visyah seperti ibunya dulu ya?" gumam pria itu terkekeh.


Ia yakin jika Hafsah sangat galak seperti mendiang mertuanya dulu.


"Ah ... udah kangen aja sama mereka berdua!" ujarnya lalu mengecup foto kecil itu.


Inge melihat itu tersenyum. Ia sangat yakin jika Noval adalah pria setia. Pria yang langka dan sangat diminati oleh semua wanita termasuk dirinya.


"Pagi pak ... ini kopi bapak!" ujarnya menyodorkan secangkir kopi.


Noval tak pernah menyuruh Inge memberikan kopi di pagi hari. Terlebih pria itu bukan pecinta kopi.


"Siapa yang menyuruhmu membuat kopi untukku Inge?" tanyanya.


Inge tergagap, dipelatihan sekretaris. Membuat kopi adalah tugasnya. Selama ini ia memang membuat kopi untuk Hardianto bukan Noval.


"Ambil kopi ini dan minumlah sendiri!" ujar Noval menyorong cangkir itu jauh dari hadapannya.


Inge membungkuk, ia mengambil cangkir itu dan meletakkannya di atas meja kerjanya.


Meja kerja gadis itu berada di pojok ruang dan dihalangi partisi. Noval yang memintanya demikian.


"Mana jadwal hari ini?" tanya Noval.


Inge gegas memberikan semua kertas dan mengatakannya. Ia tentu harus hafal semua tulisan itu.


"Baik, sekarang kerjakan berkas yang ada, baru kita ke ruang rapat mendiskusikan hasil proyek kemarin!" titah Noval.


Keduanya bekerja, Luki datang dan langsung berada di belakang pria itu. Selama ada Luki keberadaan Inge tak terlihat.


Istirahat siang pun datang. Inge melihat atasannya belum beranjak dari ruangan sedang Luki sudah keluar dari tadi.


"Bapak tak makan siang. Apa perlu saya pesankan sesuatu?" tanyanya. Hal biasa dilakukan sekretaris.


"Tidak perlu Inge. Kau boleh pergi!" jawab Noval tak melihat sama sekali gadis yang mengajaknya bicara.


Inge sangat ingin menangis. Perlakuan Noval lebih dingin dibanding Hardianto yang masih mau menatapnya jika diajak bicara.


Inge berjalan menuju pintu. Belum ia meraih handel terdengar ketukan dari luar.

__ADS_1


"Masuk!" teriak Noval langsung menoleh pintu dengan senyum lebar.


Sosok cantik dengan bayi dalam gendongan masuk. Wanita itu mengangguk menyapa Inge dengan senyum ramah.


Inge tertegun melihatnya. Hafsah melangkah menuju suaminya. Visyah memekik riang, Noval langsung mengambil alih sedang resepsionis meletakkan rantang makanan di meja.


"Ayo kita pergi!" ajak resepsionis pada Inge yang masih mematung di sana.


Dua gadis itu pun pergi keluar ruangan dan membiarkan keluarga kecil itu bercengkrama.


"Perempuan tadi itu istri pak Noval!" ujar Dinda, resepsionis yang mengantar Hafsah.


"Istri pak Noval?" tanya Inge bodoh.


"Iya ... mashaallah cantik dan baik banget loh. Bu Hafsah itu buat kita sejuk memandangnya!" ujar Dinda memuji Hafsah, istri boss mereka.


Inge hanya diam, ia langsung merasa tak suka dengan kehadiran Hafsah di sana. Gadis itu mendadak diam sepanjang kerjanya.


"Inge!" bentak Luki.


"Eh ... ya?!" gadis itu terkejut bukan main.


"Apa kerjamu hanya melamun di sini?!" bentak Luki lagi.


Inge menunduk sambil meminta maaf. Gadis itu segera melakukan pekerjaannya, walau begitu semua hasil kerjanya sangat bagus.


Noval memilih pulang cepat setelah rapat divisi selesai. Pria itu seperti tak betah berada di perusahaan.


"Pak!" panggil Inge.


Gadis itu sepertinya tak tahan dengan semuanya. Ia harus melakukan sesuatu agar Noval mengerti jika hanya dia yang pantas di sisi pria itu.


"Pak ... aku mencintaimu!" pekik Inge.


Semua menoleh padanya begitu juga Noval. Pria itu menatap gusar sekretaris yang baru bekerja padanya beberapa bulan ini.


Inge yang sadar jadi pusat perhatian sedikit terkejut. Beruntung ia tak menyembuhkan nama Noval di belakang Pak tadi.


"Maaf ... lagi mengkhayal novel online yang kubaca!" ujarnya beralasan.


Inge memang tengah memegang ponsel. Semua pun kembali tak peduli dengan gadis itu begitu juga Noval.


Pria itu telah berlalu dengan kendaraan mewahnya. Inge menatap bayang-bayang sang atasan baru saja berlalu.


'Pak ... kupastikan jika aku pantas untukmu!' tekadnya dalam hati.


Bersambung.


Duh ulat keket!


next?

__ADS_1


__ADS_2