
"Aku ada di mana?" tanya Aminah.
Rando menatap mata lamur wanita yang melahirkan Noval itu. Usia Aminah sebenarnya tak terlalu tua untuk pikun. Aminah berusia enam puluh dua tahun.
"Bu, duduk dulu ya," ujarnya lalu menuntun perempuan itu.
Aminah duduk, Hafsah memberi teh hangat untuk mertuanya. Ia yang belum tau keadaan ibu dari suaminya itu.
"Bu, minum dulu tehnya ya," ujarnya lembut.
"Makasih nak," ujar Aminah.
Ia pun menyeruput teh hangat itu. Wangi jahe membuatnya tenang. Airnya juga pas di lidah dan tidak membuatnya terbakar.
"Hangat!" ujarnya senang.
Hafsah senang, ia tentu tau apa kesukaan mertuanya itu. Ia mengecup kening dan menaruh kepalanya di pangkuan Aminah.
"Nak," ujar Aminah membelai kepala Hafsah.
"Andai Noval belum menikah. Aku akan menikahkanmu dengan putraku," ujarnya pelan.
"Apa Bu?" tanya Hafsah yang tak begitu mendengar perkataan sang mertua.
"Tidak apa-apa nak," ujar Aminah menenangkan Hafsah.
"Ah, ibu. Tadi aku masak sayur tumis kangkung dan sambal teri kacang kesukaan ibu," ujar Hafsah antusias.
"Wah, ibu nggak sabar mencicipi masakan mu nak!" ujar Aminah senang.
Hafsah mengerutkan dahinya. Wanita itu tentu tak paham maksud sang mertua.
'Ah ... mungkin karena memang aku jarang memasak untuk ibu. Jadi ibu bilang begitu!' monolognya dalam hati.
Rando menatap gusar dua wanita beda usia itu. Ia sangat yakin jika Noval belum memberitahu kesehatan Aminah pada Hafsah, kemenakannya itu.
"Ajak ibumu istirahat Sah!" suruh Rando.
"Iya Paklik, ayo Bu!'
Aminah menurut, ia mengikuti Hafsah dan menuju kamarnya. Semua baju telah disusun rapi oleh Noval.
Noval tak pernah ragu mengusung lengan bajunya membantu sang istri. Pria itu tak malu mencuci piring atau menyapu lantai bahkan mengepel juga menjemur pakaian dalam istrinya.
"Nov!' panggil Rando.
"Iya Paklik!" sahut Noval menoleh pada Rando.
Rando mendekat, Noval tengah menjemur pakaian. Rando hendak membantunya.
"Nggak usah Paklik!" cegah Noval.
"Aku bisa kok!" ujarnya sambil menyampirkan cucian terakhir di tali yang melintang.
"Ayo duduk sana Paklik!" ajak Noval.
Dua pria duduk di teras belakang. Sekeliling rumah itu telah dipagar tembok hingga santri dan santriwati tak bisa melihat ke arah rumah.
__ADS_1
"Apa kamu belum beritahu istrimu tentang kesehatan ibu?" tanya Rando ketika meletakkan bokongnya di kursi.
"Belum paklik, aku takut Hafsah kepikiran," jawab Noval memberi alasan.
"Tapi, nanti Hafsah malah kaget jika tau nanti!" ujar Rando khawatir.
Noval terdiam, bidan mengatakan jika Hafsah sedang tidak begitu baik dalam kehamilannya kali ini. Ia takut jika terjadi sesuatu pada istri dan dua janin yang ada dalam perut Hafsah.
"Ibu tadi sudah menampakkan kepikunannya. Ia lupa ada di mana," jelas Rando.
"Aku takut kalau ibumu malah bertanya siapa Hafsah," sambungnya dengan mimik benar-benar khawatir.
Noval bingung, mungkin ia harus memberitahu kondisi kesehatan ibunya pada sang istri.
"Aku yakin jika kau memberi penjelasan yang dapat dimengerti Hafsah ia tak akan khawatir!" terang Rando lagi.
"Akan aku coba Paklik," ujar Noval pada akhirnya.
Rando bernapas lega. Ia juga akan memberikan ketenangan pada keponakannya jika diperlukan.
Makan siang tiba, Hafsah menuntun mertuanya keluar dari kamar. Wanita itu manja sekali pada sang mertua.
"Kamu manja sekali sayang," ujar Aminah.
Wanita itu duduk, Hafsah menyiapkan semua makanan untuk Noval, Rando dan Aminah juga Visyah.
Semua tenang ketika makan. Tak ada yang bersuara, karena mereka makan dengan tangan tanpa sendok.
"Alhamdulillah!" ujar semuanya setelah selesai makan.
Hafsah kembali membersihkan meja makan. Kali ini Noval mengajak ibunya untuk duduk di ruang tengah dan membiarkan istrinya bersama putrinya.
"Ada apa Bu?" tanya Noval.
Mereka bertiga duduk, Rando ada di sana. Ia juga ingin tau perkataan Aminah.
"Mana istrimu. Dari tadi aku tak melihatnya!" ujar Aminah kesal.
Noval menatap paman dari istrinya. Inilah yang ditakutkan Rando. Aminah lupa pada Hafsah menantunya.
"Bu ...."
"Ceraikan saja dia. Kau tukar dengan wanita yang lebih baik dari perempuan itu!" tukas Aminah marah.
"Bu istighfar Bu!" ujar Noval.
Rando mengepal tangan kuat-kuat. Ia menahan semua emosinya. Ia menyadarkan diri jika Aminah tengah sakit.
"Bu ... aku tak bisa hidup tanpa istriku," ujar Noval lembut memberi pengertian.
"Tapi sedari tadi aku tak melihat istrimu. Yang kulihat hanya wanita hamil dan ia begitu peduli dengan kamu dan anakmu!' ketus Aminah.
"Dia adalah istriku Bu," sahut Noval yang membuat Aminah diam.
"Dia istri yang ibu pilih untukku," lanjutnya lirih.
"Dia Hafsah Nadia Anggraini. Putri dari Aida dan Nando,"
__ADS_1
"Hafsah anak tengil yang suka manjat pohon?" tanya Aminah mengingat nama gadis kecil yang selalu berlari tanpa alas kaki.
"Iya Bu," jawab Noval menahan senyum.
"Hafsah yang suka dipukuli ibunya karena mengejar layangan putus dan main kelereng?" Noval mengangguk lagi.
"Ibu menikahkanmu dengan perempuan seperti itu?" lanjutnya bertanya tak percaya.
Rando nyaris berdecak, Aminah melupakan jika Hafsah seorang hafidzah dan ustadzah.
"Tapi Hafsah jadi cantik dan alim setelah dewasa Bu. Buktinya ibu mengawinkan aku dengan gadis itu!' sahut Noval lagi.
Aminah hanya diam, ingatannya akan Hafsah kecil terus membayang di kepala. Kenakalan gadis itu memang membuat semua orang kampung pusing. Terlebih jika Aida meneriaki Hafsah dan memukulinya.
Malam telah larut. Hafsah memeriksa ibu mertuanya yang tengah berbaring. Perlahan ia mengusap kening keriput wanita itu. Seluruh rambut Aminah telah memutih.
"Aku sayang ibu," bisik wanita itu.
Perlahan Hafsah keluar kamar. Aminah membuka mata ketika pintu tertutup rapat.
"Dia bukan Hafsah!" gumamnya bersikeras.
"Aku pastikan Noval beristrikan engkau nak. Biar tak apa-apa. Anak yang ada dalam kandunganmu akan jadi anak dari Noval!" lanjutnya.
Wanita itu mengambil benda pipih yang ada di atas nakas. Perlahan ia mencari satu nama di sana.
"Leli, bisa minta antar Bustom. Kau ke sini! Ajak putrimu sekalian!" suruhnya ketika panggilan tersambung.
"Baik Bu!" sahut wanita di seberang sana.
Panggilan terputus, ia akan memastikan jika Hafsah bukan wanita yang lembut dan penuh perhatian.
Pagi menjelang, semua bangun. Hafsah mengurus putri dan suaminya. Lalu ia menuju kamar mertuanya.
Wanita hamil besar itu memandikan Aminah penuh kasih sayang. Aminah suka akan perhatian perempuan itu.
"Kamu memang pantas untuk putraku!" ujarnya yakin, walau sayang itu hanya dalam hati.
"Nah ibu sudah wangi. Ibu duduk di teras depan ya,' ajak Hafsah.
Aminah duduk di sana menatap anak-anak yang berlarian masuk kelas. Rando jadi pengajar sementara menggantikan Hafsah.
"Bu teh nya," Hafsah meletakkan secangkir teh di sana.
Wanita itu duduk di kursi sebelah mertuanya.
"Siapa pemilik pesantren ini Nak?" tanya Aminah.
"Hafsah Bu," jawab wanita itu bingung.
"Oh," angguk Aminah.
'Tak peduli kau memiliki pesantren ini Sah. Aku pastikan jika putraku menikahi wanita yang ada di sebelahku!' tekad Aminah dalam hati.
Bersambung.
Lah ... beneran!
__ADS_1
next?