
Anida memakai baju terbaiknya. Sebuah rok span selutut dan baju kaos warna biru dengan potongan sabrina. Gadis itu sangat manis, rambutnya ia gerai ke samping.
“Mba Nida,” sapa beberapa santri.
Gadis itu mengangguk, Anida sering ke ruangan para staf pesantren dan guru. Noval dan Rando ada di sana menggantikan peran Hafsah yang tengah hamil tua.
“Maaf mba ... mba siapa ya?’ tegur salah satu guru.
“Dilarang berkeliaran jika tidak berkepentingan!” lanjutnya.
“Loh ... kamu tidak tau siapa saya?” tanya Anida sombong.
“Memang anda siapa?” tanya Safeera menantang gadis yang ada di hadapannya.
“Saya adalah calon ....”
“Nida!” pekik Leli.
Wanita itu kecarian putrinya yang mestinya ikut membantu. Namun sedari pagi. Anida malah tak mendatanginya ke ruang cuci. Makanya ia pergi mencari, Leli takut jika Anida berbuat ulah di sana.
“Nida ... ayo sini!” sentaknya menarik tangan sang putri kasar.
“Maaf ya, putri saya kurang sopan,” lanjutnya meminta maaf pada wanita berkerudung di depannya.
Leli menarik Anida yang memberontak. Wanita itu benar-benar malu dengan tingkah putrinya itu.
“Mak!”
Nida berhasil menepis kasar dan membuat Leli terjerembab. Wanita itu tersungkur di tanah. Rando melihatnya langsung mendekati.
“Astaghfirullah!” sentaknya marah pada Nida.
Anida menunduk, ia pun berdrama, “mak maaf ... Nida bukan mau mencelakakan emak!”
Rando membantu Leli berdiri, perempuan itu mengucap terima kasih. Anida bersimpuh di kaki ibunya. Ia terisak dan meminta maaf.
“Sudah nak ... sudah,” ujar Leli terharu.
“Saya tinggal ya bu,” pamit Rando tak memperdulikan drama yang dibuat Anida.
Anida memeluk ibunya, ia menatap punggung pria tampan yang menjauhi mereka. Leli mengurai pelukannya.
“Jangan macam-macam di tempat orang ya nak. Ibu masih ingin bekerja dengan tenang,” pinta wanita itu memohon.
Anida mengangguk walau terpaksa. Gadis itu mengikuti ibunya walau dengan rasa malas. Membantu sekedarnya.
“Mak ... jika aku berhasil mendapatkan abang Noval atau Pak Rando ... saya yakin kita tak akan jadi babu selamanya!” gumamnya dalam hati.
Sore menjelang, Anida mengangkat jemuran dengan malas. Ia menggerutu panjang pendek dn menarik gamis-gamis itu kasar. Hingga gerakannya terhenti ketika melihat seorang pria ytang sedang melakukan sit up di halaman.
Memang ruang jemuran dan halaman belakang yang telah di tembok berdekatan, hanya berjarak empat meter saja. Anida menikmati pemandangan itu.
Noval memakai kaos putih yang mencetak tubuhnya yang sudah kekar dan berotot. Pria itu mulai hidup sehat sesuai keinginan istrinya.
“Rasulullah itu bertubuh sangat indah. Ya setidaknya jangan pelihara lemak di sini bang,” ujar Hafsah mengelus perut suaminya.
__ADS_1
“Heemmm!” Noval menghentikan usapan istrinya yang nakal itu.
Hafsah terkikik geli ketika ciuman Noval yang gagal berlabuh di bibirnya.
“Awas kamu ya!” ancam pria itu penuh dengan ide mesum.
Brak! Noval terkejut, pria itu menghentikan kegiatannya. Pria itu berdiri dan mendatangi tempat jemuran. Di sana tiang jemuran roboh.
“Astaghfirullah!” Noval mengusap dadanya.
“Ma-maaf pak,” ujar Anida pelan.
Gadis itu sengaja menendang tiang jemuran dari steinless itu. Kakinya ngilu, akibat ulahnya sendiri. Noval membantu memungut pakaian yang jatuh. Bukan menolong Anida yang merintih kesakitan.
“Astaghfirullah!” pekik Leli sang ibu.
Wanita itu membantu putrinya untuk berdiri, sedang Noval masih fokus memunguti pakaian yang tercecer. Beruntung sudah kering jadi, ia hanya mengibaskan pakaian itu agar tak terlalu kotor.
“Ada apa ini?” tanya Hafsah yang datang.
“Kaki saya tak sengaja menyangkut di tiang jemuran bu,” jawab Anida sedih.
“Subhanallah ... ya sudah ... kamu obati lukamu!” suruh hafsah.
Leli membawa putrinya ke kamar tamu. Noval mendengkus kesal, ia meletakkan lagi pakaian kering ke ruangan pencuci.
“Loh bang?” tanya Hafsah heran.
“Kotor ... salah sendiri. Biar mereka cuci lagi!” jawab pria itu ketus.
Sedang di kamar, Anida harus meringis kesakitan ketika sang ibu memijit kakinya yang memar. Gadis itu menangis layaknya anak kecil. Aminah datang ke kamar itu.
“Tersandung tiang jemuran bu,” jawab Leli takut-takut.
“Kok bisa?” tanya Aminah bingung. “Kan tiangnya jauh dari kaki berjalan?”
“Namanya juga apes bu,” kilah Anida.
“Auuhh!” pekikinya ketika Leli memijat kakinya keras.
”Mak,” rengeknya.
Aminah menghela napas, ia memang alzheimer. Tetapi tingkah Anida cukup membuatnya khawatir. Ia akan memilih pulang besok bersama dua pembantunya itu.
“Siapkan semua pkaian kalian. Besok kita pulang!”
Aminah pergi, Anida tak bisa percaya dengan ucapan majikan ibunya barusan. Ia baru saja menjalankan aksinya untuk menjerat Noval atau pun Rando.
“Mak ... aku nggak mau pulang,” rengeknya.
Leli menatap putrinya, ia sangat paham apa yang diinginkan putrinya. Tetapi sang majikan mengingikan mereka pulang bersama.
“Kita tak bisa tinggal nak,” ujarnya memberi pengertian.
“Biar aku aja yang tinggal bu, kan Bu Hafsah lagi hamil besar dan butuh bantuan!” ujarnya memberi ide.
__ADS_1
“Dengan tingkahmu yang ceroboh barusan?” Leli menggeleng pelan.
“Emak nggak yakin jika mereka mau mempekerjakanmu,” lanjutnya sangsi.
“Ayo lah mak. Bilang saja aku juga ingin gajiku sendiri, aku juga mau membantu Emak membayar utang peninggalan laki-laki tak tau diuntung itu ...!” ketus gadis itu mengingat laki-laki yang pernah jadi suami ibunya.
“Dia ayahmu Nak!’ tegur Leli tak suka.
“Ayah apa yang lari bersama pelacur dan meninggalkan utang-utangnya pada kita!” sahut Anida marah.
“Dia bukan ayah Mak ... dia laki-laki bajingan!” lanjutnya memaki pria yang menjadi ayah biologisnya.
“Nak ... buruk-buruk begitu adalah ayahmu!”
“Cukup mak!” bentak Anida keras.
“Jangan bela laki-laki bejat itu!” ujarnya sambil melotot.
Leli terdiam, jika saja tak ada penjamin Aminah. Ia tentu sudah harus merelakan putrinya dibawa pergi gigolo. Anida waktu itu masih berusia dua belas tahun.
“Mak ... biarkan aku bekerja DI SINI. Bu Aminah pasti setuju jika aku yang membantu bu Hafsah di sini,” rayu Anida meyakinkan ibunya.
“Tapi nak ... apa bisa kamu ....”
“Ah emak!” potong Anida kesal.
“Jangan anggap enteng putrimu!” lanjutnya cemberut.
“Nak ... bukan emak meragukan kemampuanmu ... tetapi selama ini, kemalasan kamu yang emak lihat,” ujar Leli menyesal.
Anida ngambek dan membalikkan tubuhnya. Leli sedih jika sang putri berkelakuan demikian, ia tak sanggup jika putrinya mengabaikan dirinya.
“Nak ... jangan begitu,” ujarnya lembut.
“Ah!’
Anida menepis tangan ibunya kasar dan memilih menarik selimut menutupi kepalanya. Leli mengalah, ia pun berjanji akan merayu majikannya agar membiarkan sang putri yang bekerja.
Leli menghadap AMinah, hafsah, Noval dan Rando. Anida sang putri sedang bermalas-malasan di kamar dengan alasan kakinya sakit.
“Apa jadi putrimu mau bekerja di sini?” tanya Aminah tak percaya.
“Iya bu, beri dia kesempatan mebuktikan diri jika bisa bekerja dengan baik,” jawab leli sedikit memohon.
“Aku tak memiliki keputusan. Terserah Hafsah saja,” jawab Aminah menyerahkan keputusan pada menantunya.
Leli menatap memohon pada Hafsah. Noval menggeleng, ia tak nyaman dengan keberadaan perempuan lain di rumahnya walau ia seorang pembantu sekali pun.
“Aku nggak amu ada fitnah sayang,” ujarnya beralasan.
“Maaf Bik. Suami saya melarang saya memperkerjakan perempuan yang menginap. Kami biasa mempekerjakan bibik yang pulang dan pergi,” ujar Hafsah dengan nada menyesal.
Anida menatap bangunan yang sebentar lagi menghilang dari pandangannya. Ia tak percaya jika dirinya ditolak mentah-mentah bekerja di sana. Ia terpaksa pulang bersama ibunya.
Bersambung.
__ADS_1
Dadah Nida!
Next?