ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
PERNIKAHAN LUKI


__ADS_3

Hari yang dinanti tiba. Pernikahan Luki dan Inge diselanggarakan secara sederhana di kediaman gadis itu.


Ijab kabul baru saja selesai diucapkan dengan tegas dari mulut Luki, pria berusia dua puluh delapan tahun itu.


Inge sangat cantik dengan balutan kebaya modern warna putih. Kepalanya di sanggul dan dihias untaian melati.


"Aunty Nginge cantik ya Mama," celetuk Visyah berbinar.


"Umi sayang," ralat Hafsah.


"Mama mau bunga melah yang di kepala aunty mama!' teriak bayi itu.


Candy juga tak sabaran ingin pergi ke pelaminan di mana dua pengantin masih sungkem kepada ibu dari Inge dan juga kedua orang tua dari Luki.


"Mama meleka kok nangis?" tanya Visyah melihat orang-orang di pelaminan menangis.


"Umi sayang!" ralat Hafsah lagi.


"Mama!" rengek Visyah yang tak dijawab pertanyaannya.


Hafsah menghela napas panjang, sepertinya sang putri menolak memanggilnya umi. Akhirnya, ia membiarkan anak perempuannya itu memanggilnya Mama.


"Eh jangan berisik," bisik Noval pada putrinya.


"Ayah ... pangku!" Visyah kini dipangku oleh ayahnya.


Hafsah mencium gemas pipi gembul putrinya yang cerewet itu. Setelah sungkeman, kini sesi foto-foto. Akhirnya Hardianto maju bersama istri dan dua anaknya. Lalu Noval bersama istri dan anaknya.


Benar saja, Candy menarik bunga yang ada di rambut Inge. Cassy menahan laju tangan putrinya. Ibu dari Inge memutus satu bunga untuk bayi cantik berusia tiga bulan itu.


"Isa mau!" pekik Visyah yang juga mau bunga melati.


Luki menyelipkan bunga di telinga bayi cantik itu. Visyah senang bukan main.


Akhirnya mereka semua menikmati hidangan yang disediakan. Ardian lahap dengan makan nasi dan rendang. Bocah yang sudah jadi remaja tanggung itu tetap gembul.


"Jangan banyak-banyak sayang. Nanti perutmu buncit loh!" ledek Hardianto.


"Nggak apa-apa, om juga buncit!" bela Noval mengelus perutnya yang juga menggelembung.


"Abang olah raga sih!" pinta Hafsah yang sedikit kesal dengan perut buncit suaminya.


"Biar buncit tapi sehat kok!" ujar Noval membela diri.


Hafsah sedikit cemberut. Noval akhir-akhir ini sering makan sembarangan. Ia makan apa yang ia suka.


"Sehat juga harus dijaga Pak Noval!" sahut Hardianto yang diangguki Hafsah.

__ADS_1


"Dulu Papa seusia Pak Noval juga perut buncit. Tapi langsung olah raga pas kena serangan darah tinggi," sahut Cassy.


Noval terdiam, ia memang malas berolah raga. Tubuhnya kini juga makin berisi.


"Bukan nggak boleh makan Yah, tapi batasi dan lindungi tubuh kita dari penyakit," nasihat Hafsah pada suaminya.


Usai makan, mereka akhirnya pulang. Pesta pernikahan berlangsung hingga menjelang ashar.


Karena memang Luki hanya mengundang sedikit teman sekantor dan juga beberapa kolega Hardianto. Tetangga Inge hadir berikut teman-teman kuliah gadis itu.


Noval mengendarai mobil sedannya. Di belakang Visyah duduk di kursi khusus, ia tak rewel walau sendirian di belakang. Hafsah di sisi suaminya.


"Kita jalan-jalan ke wahana bermain yuk! Mumpung libur!" ajak Noval.


"Ayah nggak cape?" tanya Hafsah.


"Kita tadi ada satu jam di acara nikah loh!" lanjutnya.


"Mumpung minggu Ma, terus pasti Visyah senang kalau kita ajak jalan-jalan," ujar Noval lagi meyakinkan jika ia tidak lelah sama sekali.


Satu jam perjalanan, dihabiskan untuk mendatangi wahana itu. Visyah sudah tertidur di kursi khususnya.


Akhirnya, Noval mendorong kereta bayi, karena Visyah tertidur.


"Yang diajak malah bobo!" keluh Noval.


"Ayah!" Visyah akhirnya terbangun..


"Sayang, kamu bangun nak?" Visyah tampak mengerjap..


Tadinya wajahnya seperti bingung karena ia melihat tempat yang ramai. Lalu lambat laun wajahnya berubah ceria dan mulutnya tak berhenti mengoceh.


"Ayah ... itu apa ayah?" tanyanya dengan suara cempreng khas anak-anak.


Hingga menjelang sore, akhirnya mereka pun pulang. Satu mainan truk berada dipelukan bayi cantik itu. Padahal ada boneka beruang cantik di sana. Tapi Visyah malah menangisi mainan truk dengan harga nyaris satu juta itu.


"Mainannya seharga gamis mama," kekeh Hafsah.


"Yang penting dia suka Ma," ujar Noval tersenyum.


Visyah tampak tertidur lagi, hari sudah gelap ketika sampai rumah. Hafsah sedang tak sholat. Noval buru-buru mengejar maghrib yang nyaris tertinggal.


Visyah mengikuti ayahnya sholat. Hafsah memang mengajari sedari dini walau tak dipaksa.


Malam pun mengganti hari. Semua insan telah terlelap. Noval memeluk istrinya.


"Sayang ... boleh dong anak laki-laki," pintanya.

__ADS_1


"Tapi kalo lahir cewe lagi gimana?" tanya Hafsah yang merona.


"Ya nggak apa-apa, buat terus sampe punya anak cowo,"


"Hei ... kalau nggak ada masa punya anak terus," protes Hafsah.


'Ya udah nggak apa-apa," ujar Noval.


"Ya kalau sekarang belum bisa Bang. Aku kan lagi dapat," kekeh Hafsah yang mendengar dengkusan kesal suaminya.


Sedang di hunian lain, Inge menunduk kala Luki mencium keningnya. Tubuhnya mendadak gemetaran ketika satu persatu pakaiannya dilepas oleh sang suami.


"Mas ...."


"Kenapa sayang, apa kami takut?" tanya Luki dengan napas berat.


Inge mengangguk perlahan, ia masih polos sebenarnya. Gadis itu dididik dengan baik. Tetapi, memang kemarin ia menggoda dua atasannya karena ingin memiliki pria yang bisa melindunginya. Ia tak melihat Luki sama sekali.


"Makasih Mas karena menyadarkan ku," ujarnya tulus.


"Aku hampir saja merusak sebuah rumah tangga yang harmonis akibat keegoisanku," lanjutnya parau.


"Tidak masalah dek. Semua orang pernah khilaf, aku juga bukan pria suci," sahut Luki.


Luki mulai mencumbu sang istri. Keduanya bersatu dalam kondisi halal. Luki menyelamatkan gadis itu dari perbuatan yang akan membuat Inge menjadi hancur.


Hardi duduk di atas sajadah, pria itu baru selesai sholat sunnah. Ia terus memperbaiki diri. Ia yakin jika godaan makin berat jika ia dekat dengan sang maha pencipta.


"Kuatkan aku Ya Allah. Sungguh, aku memang tak pantas di surga-Mu. Tapi aku juga tak mau berada dalam neraka-Mu," pintanya tulus berdoa.


Cassy mendekat, ia meletakkan kepalanya di pangkuan sang suami. Hardi beruntung memiliki istri yang sesabar Cassy.


"Andai kau bergaul dengan wanita-wanita sosialita itu. Kemungkinan, Ardi dan Candy akan jadi perebutan kita berdua di pengadilan," ujarnya.


"Sayang,"


Cassy meletakkan jemarinya pada bibir tebal sang suami. Hardi cukup tampan, terlebih pria itu sangat mapan, ia juga pemilik saham terbesar kedua di perusahaan.


"Kita tak usah ingat masa lalu. Biar jadi pelajaran kita nantinya," ujar sang istri lembut.


"Ma ... kita belajar ngaji bareng yuk sama istrinya Pak Noval," ajak Hardi tiba-tiba.


Cassy tersenyum menatap suaminya. Ia mengangguk antusias. Ia senang rumah tangganya jauh lebih baik jika semua berserah pada sang pemilik hidup.


"Benar kata Hafsah, tidak mudah untuk menjadi lebih baik karena akan banyak godaannya. Bismillahirrahmanirrahim, aku pasti bisa melewati semuanya. Aamiin!"


bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2