ISTRI DARI IBU

ISTRI DARI IBU
AKHIR SEMUA KISAH


__ADS_3

Noval menatap istrinya yang tengah mengajari dua anaknya berjalan. Satu tahun berlalu sudah.


"Nak," Aminah mendekati putranya.


Perempuan itu juga menatap perempuan yang ia pilih untuk putranya. Tak ada sebersit penyesalan di dada.


"Mashaallah istrimu!" puji Aminah lagi.


"Kau tentu bangga dengan keberhasilan Hafsah nak?" lanjutnya mengelus tangan Noval.


"Alhamdulillah Bu," sahut Noval bangga.


Hafsah berhasil membuat pesantrennya sebagai pesantren favorit dan pesantren percontohan.


"Dia baru saja meresmikan pesantren khusus wanita ya?" Noval mengangguk.


"Iya Bu. Cita-citanya mendayakan perempuan agar jadi mandiri, kuat dan tangguh!' jawab Noval lagi.


"Alhamdulillah, pilihan ibu memang tidak salah kan Nak?"


Noval menatap ibunya. Pria itu mengingat ketika sang ibu memintanya menikah. Pria itu sangat marah dan hendak mempermalukan sang ibu dengan tidak hadir di hari pernikahan.


Tetapi, malam itu entah siapa yang menggerakkan kakinya. Ia sampai di depan rumah ibunya, Aminah.


Pernikahan digelar, ia terkejut mendapat istri yang ternyata adalah teman masa kecilnya.


"Kau jatuh cinta padanya langsung di malam pertama bukan?" tanya Aminah yang diangguki cepat oleh Noval.


"Ya, aku jatuh cinta padanya ketika malam pertama," ujarnya.


"Makasih ya Bu, telah memilih Hafsah untukku," ujar Noval begitu bersyukur.


Aminah tersenyum, ia menatap putranya dengan puas. Wanita itu memanggil menantu dan cucu-cucunya.


Visyah berlari dengan kepala dibungkus jilbab instan berbahan kaos. Nafasnya tersengal-sengal, keringat membasahi gamisnya.


"Mashaallah ... asemnya cucu nenek!"


Aminah mencium gemas Visyah. Gadis kecil itu sama aktif dengan ibunya ketika kecil dulu.


"Sana mandi!" suruh Aminah.


Hafsah menggendong dua kembarnya. Noval mengambil Akram.


"Yah ... Landi wawu endon dudha!" pekik sang putri yang langsung melepas rangkulannya dari sang ibu.


"Mashaallah Nak!" Hafsah nyaris jantungan karena putrinya tiba-tiba melompat ke arah suaminya.


"Sabar sayang," kekeh Noval.


Mereka masuk rumah. Hafsah memang melebihkan waktu untuk mengurus keluarga dibanding pesantren miliknya. Ia memiliki para pendidik yang kompeten.


Aminah menatap anak, menantunya dengan penuh kelegaan.


"Aku percaya mereka baik-baik saja sepeninggalan diriku," gumamnya pelan.


"Ya Allah, ijinkan hamba-Mu menyayangi mereka dengan puas sebelum Kau memanggilku," doanya penuh harap.


Hafsah mengganti peran, Rando kini mengurus pesantren yang ada di kota. Sedang di kampung diurus oleh Hafsah sendiri.

__ADS_1


Hafsah pun telaten memandikan mertuanya. Perempuan itu hanya mau menantu yang menyentuhnya.


"Nak ... sini!" ajak Aminah menepuk kasur di sebelahnya.


Hafsah membaringkan dirinya. Ia bermanja dengan mertuanya. Aminah mengecup kening Hafsah penuh kasih sayang.


"Nak, titip semua ya," ujarnya lirih.


"Bu," tegur Hafsah tak senang.


"Jangan mendahului Allah!' peringatnya.


"Tapi ibu tetap harus mengatakan ini Nak!" ujar wanita itu.


"Dengarkan saja ya," lanjutnya meminta.


Hafsah akhirnya diam, ia mendengarkan dengan seksama petuah-petuah terakhir mertuanya.


"Bu, makan malam sudah siap!' ujar Dias memberitahu.


Hafsah dan Aminah bangkit dari ranjang. Aminah duduk di kursi roda, Hafsah mendorongnya.


Di ruang makan, Visyah dan dua adiknya sudah duduk dengan cantik.


Semua makan dengan tenang. Setelah makan, mereka bercengkrama sebentar lalu menunaikan sholat isya berjamaah.


Aminah mencium, anak, menantu dan cucunya satu persatu. Mereka pun masuk kamar masing-masing dan tidur.


Dini hari Noval terbangun. Pria itu baru saja bermimpi buruk.


"Astaghfirullah!'


"Bang ... ada apa?" tanya Hafsah yang ikut terbangun.


Pria itu langsung bangkit dari tempat tidur. Hafsah mengikuti suaminya, ia menyambar jilbab instan dan langsung memakainya.


Noval membuka pintu kamar sang ibu. Di sana sosok wanita tengah terlelap dengan damai. Noval bernapas lega.


Pria itu melihat selimut ibunya yang merosot. Perlahan ia masuk, lalu mengangkat kain untuk menutupi bahu sang ibu.


"Allah ... Allah ... Allah ...," sebut Aminah lirih.


"Bu?" Noval meraba keningnya.


Panas tinggi, pria itu terduduk lemas di pinggir ranjang. Hafsah perlahan mendekat. Ia meraba dan mendengar bisikan sang ibu.


"Bang ... ikhlaskan ibu bang," ujarnya lirih.


Noval menggeleng, ia menampik kenyataan yang ada di depannya.


"Bang ... kasihan ibu. Beliau tengah sakaratul maut!" peringat Hafsah.


"Ibu masih baik-baik saja Sah!" ujar Noval keras kepala.


"Bang ... jangan siksa ibu bang ... ikhlas bang,' pinta Hafsah lagi.


"Allah ... arrrgghhh sakit!" pekik Aminah tiba-tiba.


Hafsah buru-buru menuntun ibu mertuanya. Wanita itu membisikkan kalimat talqin.

__ADS_1


"Hrrrgghh!" nafas Aminah tersendat.


"Bang ... tolong ... ibu kesakitan bang ... hiks!" Hasfah sedih melihat penderitaan mertuanya yang sakaratul maut.


Noval akhirnya iba mendengar erangan kesakitan ibunya. Ia pun menuntun sang ibu agar bisa beristirahat dengan tenang.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah!"


Kepala Aminah terkulai ke sebelah kanan. Noval nyaris meraung. Hafsah beristighfar.


Dua jam Aminah sakaratul maut akhirnya bisa tidur dengan nyenyak selamanya. Derai air mata mengiringi kepergian wanita itu.


"Ibu ... maafin Noval Bu ... ibu ... huuuuu!'


"Innalilahi wa innailaihi radjiun!"


"Allohummaghfirlahaa warhamhaa wa'aafihaa wa'fu 'anhaa wa akrim nuzulahaa wawassi' mudkholahaa waghsilhaa bil maa-i wats tsalji wal barod!"


Noval menenangkan diri. Ia menggendong sendiri jenazah ibunya ke ruang tengah. Para pekerja membantu dengan menggelar karpet.


Dengan hati-hati, Noval meletakkan tubuh kaku sang ibu ke alas kain yang tipis. Sebuah kain jarik menutup tubuh kaku itu.


Tak lama orang-orang berdatangan. Rumah Noval dipenuhi oleh masyarakat sekitar.


"Innalilahi wa innailaihi radjiun, Bu ... saya belum bayar utang ke ibu ... belum mampu!' isak salah satu ibu-ibu.


"Sudah kami ikhlaskan Bu," ujar Noval mewakili Aminah.


Noval tak tahu menahu jika sang ibu kerap meminjamkan uang pada ibu-ibu di desa. Entah itu untuk beli seragam, atau beli bibit padi.


Rando datang dari kota, pria itu langsung duduk di sebelah Noval.


Tak lama, ibu-ibu pengurus jenazah datang. Hafsah ikut serta memandikan jenazah ibu mertuanya. Noval tadinya ingin memandikan sendiri sang ibu, tapi ia takut menangis.


"Ibu ... ibu ... hiks ... maafin Noval Bu ... hiks ...!!"


Usai dimandikan, jenazah dikafani. Hafsah tak kuat, ia menolak mengafani jenazah mertuanya.


Wanita itu menangis, Visyah dan dua anak kembarnya juga menangis. Mereka memanggil nenek mereka.


"Net ... nenet tot pidulna lama ... Umi ... banunin nenet Mi ... hiks!"


Hafsah menangis dan memeluk tiga anaknya. Adis datang ikut memeluk keempatnya.


Jenazah yang dikafani masuk dalam keranda. Noval dan Rando juga beberapa pria mengusung keranda itu.


"Laa Ilaha ilallah ... laa Ilaha ilallah!' seru pembawa keranda ketika berjalan.


Hafsah dan para perempuan berada di rumah. Mereka tentu dilarang ikut. Banyak ibu-ibu membantu memasak untuk pengajian nanti malam.


Waktu terus berjalan, yang bertemu pasti akan berpisah. Entah berpisah oleh karena ketidakcocokan atau kematian.


Noval menatap istrinya yang masih terisak. Kepergian ibunya tentu membuat semua sedih.


"Bismillahirrahmanirrahim, dek ... kita lewati ini bersama ya. Kita saling menguatkan satu dan lainnya, saling mengingatkan tapi jangan marah jika ada kesalahan," ujar Noval meminta pada istrinya.


Hafsah mengangguk, sebagai seorang istri. Perkataan suami wajib diteladani selama ia tak menjauhkan dari pada Islam.


"Iya bang ... insyaallah kita akan hadapi semua kesusahan bersama dalam menjalani rumah tangga," ujarnya.

__ADS_1


TAMAT.


“Dan di antara tanda-tanda kekuatan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram padanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Q.S. Ar-Rum ayat 21


__ADS_2