
Nuna POV
Disinilah aku sekarang.
Di salah satu restoran mewah di kota ini.
Sudah hampir 3 bulan aku menghabiskan sebagian hariku disini. Aku bekerja sebagai waitress di sini.
Gajinya memang tak sebesar pekerja kantoran, tapi kata ayah dan ibu gaji tidaklah penting, yang penting adalah pengalaman yang akan ku peroleh.
Lagipula, ayah dan ibu masih menunjang kebutuhan hidupku dan masih memberiku uang jajan sekalipun aku sudah punya penghasilan sendiri.
Salah satu nikmat menjadi anak tunggal.
Rombongan orang orang berjas dan berdasi rapi itu datang bergerombol ke dalam restorant.
Sebelumnya memang sudah ada seorang wanita yang membooking ruangan privat di resto ini untuk meeting bosnya.
Hal biasa tentu saja bagi resto semewah ini.
Mayoritas pelanggan disini memang orang orang kaya dan para pengusaha.
"Nuna, nanti kamu ikut melayani ke dalam ya" perintah bu manajer.
Wow, sebuah pengalaman baru untukku yang baru tiga bulan bekerja disini.
Biasanya waitress senior lah yang melakukannya, tapi mungkin karena hari ini ada tiga orang senior yang cuti berbarengan, bu manajer terpaksa menyuruhku.
Aku akan lakukan yang terbaik.
'Jangan sampe aku melakukan hal konyol' sugestiku pada diriku sendiri.
Sejauh ini aku memang belum pernah melakukan hal konyol ataupun memalukan saat bekerja disini.
Aku bersyukur karena bu manajer juga termasuk orang yang baik hati. Beliau tak pernah segan untuk mengajari kami para waitress baru bagaimana cara melayani tamu dengan baik dan benar.
Ini juga yang membuatku merasa betah bekerja di tempat ini.
Aku dan teman teman waitress yang lain mondar mandir membawakan makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh para tamu.
Belum semua kursi terisi, mungkin memang ada yang terlambat. Aku fokus saja pada pekerjaanku.
Setelah memastikan semua pesanan beres, kami kembali ke area dapur. Sesekali bersenda gurau membicarakan berbagai hal.
"Na, di dalam masih ada yang kurang. Ini kamu bawa masuk ya" kepala koki itu menghampiriku sembari menyerahkan nampan berisi makanan.
Tanpa menunggu lagi aku bergegas keluar dari dapur dan masuk kagi ke ruang rapat itu.
Kursi yang kosong terlihat sudah berpenghuni sekarang.
Tapi tunggu, bukankah itu...
__ADS_1
'Daff?'
Aku melihatnya, aku masih mengingat jelas wajahnya meskipun kami hanya bertemu sekali.
Tapi aku selalu mengingat wajah itu.
Ternyata makanan yang kubawa ini memang untuknya. Aku memcoba mengendalikan diriku. Aku tidak mau berbuat hal hal konyol seperti langsung memeluk Daff misalnya, karena itu bisa membuat nama baik restorant ini jadi hancur dan yang paling penting tentu saja aku akan langsung ditendang keluar dari resto ini.
Uh memalukan.
Aku berjalan pelan, meletakkan hidangan tepat di depan Daff, tapi dia seakan tak peduli. Dia hanya sibuk dengan tab yang dipegangnya.
"Silahkan dinikmati tuan" ucapku lirih.
Tidak ada jawaban.
Dia mengangkat wajahnya sedikit, pandangan kami bertemu beberapa detik. Jantungku serasa ingin meloncat dari tempatnya.
Aku masih menunggu
Satu... dua... tiga
"Makasih ya" ucapnya.
Begitu saja?
Dia seakan tidak mengenaliku.
Hei, apakah wajahku sudah terlalu banyak berubah dalam waktu 3 bulan ini?
Ya,
aku kecewa. Secepat itukah Daff melupakanku. Padahal aku masih menyimpan rapat rasa ini.
Tapi lagi lagi sisi lain diriku menyadarkanku siapa diriku sebenarnya.
'Memangnya aku siapa? sampai sampai Daff harus mengingatku. Dulu dia menolongku mungkin hanya karena iba. Tidak lebih dari itu. Aku saja yang terlalu berharap banyak'
Uh, hatiku terasa begitu nyeri.
"Kok aku baru liat ya CEO yang ganteng tadi. Padahal perusahaan itu kan sudah sering meeting di sini" telingaku tak sengaja menangkap obrolan rekan rekan kerjaku.
"Namanya juga CEO pasti sibuk dan banyak kerjaan." Timpal rekanku yang lain.
"Eh aku dengar CEO itu masih single lho, berarti aku masih ada kesempatan kan buat memikat hatinya"
"Hahaha dalam mimpimu. Seorang CEO tidak akan mungkin memperistri kaum missqueen macam kita" mereka pun tertawa bersama sama
'Daff masih single? Apa benar?' Tanyaku pada diriku sendiri.
Nuna POV end
__ADS_1
*****
Daffi masih duduk nyaman di kursinya.
Satu per satu rekan bisnisnya sudah meninggalkan resto itu.
Kini hanya tinggal Daffi dan sekretarisnya.
Daffi masih menikmati segelas teh di hadapannya sambil membalas beberapa email di tab yang sedari tadi tak lepas dari tangannya.
Hari ini adalah hari pertama Daffi kembali ke kantor. Tak banyak yang dia ingat , tapi anehnya ia bekerja dengan lancar hari ini. Bahkan email email yang masuk ia balas tanpa ada kesulitan berarti. Pikiran, tangan, dan badannya seperti sudah sinkron dengan semua pekerjaan ini.
Hanya saja, fisiknya menjadi mudah lelah belakangan ini. Kata dokter, ini efek dari kecelakaan yanng menimpanya beberapa bulan silam.
Namun Daffi masih tidak ingat kecelakaan seperti apa yang ia alami.
Daffi bangkit dari tempat duduknya.
Ia segera keluar dari dalam ruang meeting itu.
Fany, sang sekretaris mengekori Daffi sambil tetap menjaga jarak dari atasannya tersebut.
Di dekat pintu keluar, lagi lagi Daffi berpapasan dengan Nuna.
Tapi Daffi berlalu begitu saja karena memang ia tak mengenal gadis itu.
Sekali lagi Nuna menelan kekecewaan
'Apa dia benar benar sudah melupakanku?' Gumam Nuna dalam hati.
"Na, jangan melamun" salah satu rekan kerja Nuna menepuk bahu Nuna.
Nuna tersentak dan langsung sadar kalo dirinya masih di tempat kerja.
Baiklah, Nuna harus mengabaikan perasaannya. Dia tak ingin mendapat teguran atau dipecat oleh bu manajer.
Tapi kejadian tadi sukses membuat konsentrasi Nuna sedikit buyar hari ini.
Fisiknya bekerja disini tapi pikirannya pergi melayang entah kemana.
Moodnya yang biasanya selalu baik hari ini menjadi kacau dan buruk.
Nuna ingin segera pulang. Agar dia bisa segera menangis hingga matanya sembab dan bengkak.
Nuna kecewa, Nuna patah hati.
Daff nya sudah benar benar melupakannya. Bahkan menyapanya saja tidak.
'Aaaaaah kenapa aku harus repot repot menyimpan perasaan ini jika akhirnya hanya membuatku patah hati begini' Nuna menggerutu pada dirinya sendiri.
'Harusnya aku tak perlu mengingat ingat semua kebaikan Daff itu. Lagipula pria kaya seperti dia pasti sudah biasa membawa pulang banyak wanita wanita' sekarang Nuna mulai kesal.
__ADS_1
'Dasar bodoh, bodoh, bodoh' Nuna memukul mukul kepalanya sendiri.
Berharap dengan begitu semua perasaannya ke Daff dan segala memori tentang Daff akan segera pergi dari otaknya.