Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Mami Salma


__ADS_3

Daffa menjadi salah tingkah. Kini ia merasa ragu dengan keputusan selanjutnya.


Mungkin seharusnya dia tidak ikut makan siang di rumah ini


"Duduk Daf, kita makan siang sama-sama" perintah kak Diandra lembut.


Daffa hanya mengangguk.


Daffa mendekati maminya yang duduk di ujung meja, meraih tangan sang mami dan mencium punggung tangan tersebut.


Sang mami memalingkan wajahnya dari Daffa, seakan kebencian itu masih terpatri di hatinya.


Daffa hanya membuang nafas frustasi.


'Masih saja seperti ini, padahal Daffi sudah sadar dari komanya' batin Daffa sedikit kesal.


Namun dia tahu sekesal apapun dirinya, dia tetap harus menghormati wanita yang telah melahirkannya itu.


Daffa memilih duduk di samping kak Diandra.


Setelah itu tak ada lagi obrolan. Hanya suara denting denting peralatan makan yang terdengar.


Daffi masih berpikir apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya seperti berubah. Segala kehangatan di keluarga ini seperti sudah sirna.


'Apa yang aku lewatkan selama dua bulan ini?' Tanya Daffi pada dirinya sendiri.


Ia memilih berpikir sambil mengunyah makanannya.


Suasana masih hening, belum ada yang berniat memulai obrolan atau sekedar basa basi.


Mami Salma sudah menyelesaikan makan siangnya.


Ia beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi dari ruangan tersebut.


Saat berjalan melewati tempat duduk Daffa, mami berhenti sebentar dan berujar


"Temui mami di perpustakaan setelah makan" ucap mami tegas.


Daffa tahu kata kata itu ditujukan kepadanya. Jadi ia segera menjawab


"Baik mi" jawab Daffa.


Dan mami pun pergi berlalu meninggalkan ruang makan tersebut.


Kak Diandra menepuk punggung Daffa mencoba memberi kekuatan.


Daffa hanya menghela nafas panjang.


'Apalagi kali ini?' Gumam Daffa pada dirinya sendiri


Daffa sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia segera bangkit dari kursi dan pergi ke perpustakaan keluarga.


Meninggalkan Daffi dan Diandra yang masih sama sama terdiam.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" Tanya Daffi penasaran. Sebenernya sudah sedari tadi berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya


"Tidak, mereka hanya akan membicarakan masalah pekerjaan" jawab Diandra sesantai mungkin. Dia tidak ingin adiknya terbebani dengan pikiran pikiran yang tidak perlu.


"Aku akan ke kamar dan beristirahat" pamit Daffi. Diandra hanya mengangguk.


Kini tinggallah Diandra sendiri di ruangan ini.


Diandra masih termenung memikirkan semua hal yang terjadi di rumah ini sejak kecelakaan beberapa bulan silam.


Maminya yang selalu membesar besarkan masalah yang sebenarnya sangat tidak perlu.


Daffa yang akhirnya memutuskan untuk pindah ke apartement nya.


'Huh kenapa masalah keluarga ini begitu rumit' gumam Diandra dalam hati.


*****


Pintu perpustakaan sedikit terbuka, Daffa mengetuk seperlunya lalu langsung masuk ke dalam.


Maminya sudah duduk di sofa panjang diruangan tersebut.


"Duduklah" perintah sang mami.


Daffa menurut saja dan memilih duduk di sofa single yang tak jauh dari maminya.


"Daffi sudah sadar bukan berarti kau bisa bebas sekarang dan kembali pada pekerjaan anehmu itu" sinis mami.


Daffa menarik nafas panjang mencoba mengendalikan emosinya.


Kata kata penolakan yang tadinya sudah dia rangkai sebaik mungkin di otaknya mendadak lenyap.


"Baik Mi, Daffa akan kembali ke perusahaan" jawab Daffa lesu


"Bagus, anggap saja sebagai penebus kesalahanmu." Ucap mami ketus.


Daffa kembali menarik nafas panjang.


'Selalu dan selalu masalah itu yang dibawa. Apalagi yang harus kulakukan agar mami memaafkanku' Daffa mengepalkan tangannya mencoba menaha emosinya.


"Semua perjalanan bisnis dan proyek proyek luar kota akan menjadi urusanmu. Daffi tidak akan kemana mana karena fisiknya belum pulih." Lanjut mami


"Baik mi" jawab Daffa patuh. Mungkin memang seperti ini yang mami inginkan. Melemparnya sejauh mungkin dari rumah ini dan dari kota ini.


Semuanya selalu untuk Daffi dan Daffi.


Daffa mendengus frustasi.


"Kalo sudah selesai aku mau pamit mi" atmosfer di dalam ruangan ini benar benar terasa panas bagi Daffa.


Ia ingin segera meninggalkan perpustakaan dan rumah ini.


Secepat mungkin.

__ADS_1


"Pergilah" ucap mami tanpa menoleh sedikitpun ke arah Daffa.


Sudah menjadi hal biasa bagi Daffa selama dua bulan terakhir.


Jadi Daffa pun berlalu dan keluar dari ruangan itu.


Kak Diandra sudah berdiri di depan pintu perpustakaan. Seperti sedang menunggu salah satu dari dua orang itu keluar.


Dan seperti yang ia duga, Daffa keluar dengan wajah murung dan lesu.


Kak Diandra langsung memeluk Daffa memberinya kekuatan.


"Kamu yang sabar ya Daf, mami memang begitu" ucap Diandra selembut mungkin


"Iya kak, Daffa gak apa apa kok." Ucap Daffa sambil berusaha menampilkan senyum simpul di bibirnya.


Diandra mengantarkan Daffa hingga pintu depan.


"Kak Aldo gak ikut kesini?" Tanya Daffa berbasa basi.


Aldo adalah suami dari Diandra.


"Enggak, ada urusan yang gak bisa ditinggalkan.


Sebenernya juga kakak hanya ingin disini 2 hari kemarin, tapi setelah Daffi bangun dari komanya mami minta kakak disini agak lama. Tahu sendiri kan gimana mami?" Jawab Diandra panjang lebar.


Daffa hanya mengangguk angguk tanda paham.


"Jadi rencananya sampe kapan kakak disini?" Tanya Daffa lagi


"Lusa udah balik sih kayaknya. Aldo nanyain terus" curhat Diandra


"Kangen itu. Pengantin baru masa ditinggal tinggal" Daffa mulai menggoda kakaknya. Sontak Diandra langsung mencubit pinggang Daffa.


"Apaan pengantin baru. Baru 2 tahun gitu?" Diandra melotot tajam


"Uh ampuun, kakak kalo marah serem" Daffa langsung kabur sambil tertawa terbahak bahak sebelum di cubit lagi sama Diandra.


Diandra hanya bisa berdecak sebal melihat kelakuan adiknya itu.


"Dasar tidak sopan, mau pulang pamitannya gitu" teriak Diandra dari teras.


Daffa sudah duduk manis di kursi belakang mobil pribadinya.


Ia turunkan kaca jendela lalu memeletkan lidahnya ke arah Diandra bermaksud mengejek kakak perempuannya itu.


Diandra yang sudah sebal jadi semakin sebal dan tanpa aba aba langsung mengambil sendal yang ia pakai untuk dilempar ke arah Daffa.


Terlambat.


Mobil Daffa sudah melaju meninggalkan halaman rumah tersebut.


Diandra mendengus kesal dan akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


"Awas kamu Daf" ucap Diandra menahan geram.


__ADS_2