Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Aku Tidak Mencintainya


__ADS_3

"Al, aku tak mengerti. Kenapa kau bisa mengatakan pada Daffi kalau Daffa akan pulang akhir pekan ini. Dimana Daffa sebenarnya?" Diandra masih penasaran.


Ia sedang berbincang dengan suaminya di taman belakang.


Daffi sudah diperbolehkan pulang walau sedikit memaksa. Kini dia sudah tidur nyenyak di kamarnya.


Nuna juga sudah pulang kembali ke rumahnya. Gadis itu sepertinya sangat mengkhawatirkan kondisi Daffi.


Aldo masih belum.menjawab.


Ia menyeruput kopi nya sambil menikmati suara hewan malam yang entah darimana datangnya.


"Daffa di Singapura" jawab Aldo singkat. Ia menunjukkan beberapa foto Daffa yang sedang melakukan kunjungan proyek.


"Jadi selama ini kau selalu berkomunikasi dengan Daffa?" Diandra tak percaya adiknya itu lebih dekat dengan Aldo daripada dengan dirinya.


"Ini rahasia sesama pria Di" Aldo sedikit mengejek istrinya.


Diandra langsung manyun.


"Daffa selalu menanyakan kabar kalian disini. Sesakit apapun perasaannya dia selalu sayang pada keluarga ini" jelas Aldo panjang lebar. Diandra jadi terharu.


Daffa memang selalu mengutamakan keluarganya.


Saat Daffi koma, Daffa selalu memantau kondisi Daffi meskipun dia tak selalu ada di samping Daffi.


"Jadi dia akan benar benar pulang akhir pekan ini?" Tanya Diandra lagi


"Rencananya begitu. Tapi aku belum mengabari dia soal apa yang dialami Daffi. Mungkin dia akan lebih cepat pulang kalo aku mengatakan Daffi masuk rumah sakit. Apa kau ingin aku mengabarinya sekarang?" Tanya Aldo.


Diandra masih belum menjawab. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Aldo.


Angin malam terasa dingin. Memeluk suaminya tentu saja memberikan kehangatan bagi Diandra.


"Baiknya bagaimana? Aku tak mengerti kenapa mendadak Daffi mencari Daffa" Diandra masih bingung.


Saat baru bangun dari koma, Daffi malahan sama sekali tidak menanyakan soal Daffa.


"Chemistry anak kembar" jawab Aldo sok tahu. Diandra hanya mengangguk.


Dulu sebelum kecelakaan itu, Daffa dan Daffi memang tidak terpisahkan. Meskipun keduanya sempat mencintai gadis yang sama, tapi hal itu tak pernah merenggangkan hubungan keduanya.


Mereka sering hang out bareng dan kemana mana bareng.


Tak jarang mereka juga sering mengusili teman atau orang orang disekitarnya dengan saling bertukar identitas alhasil kadang hal itu membuat orang orang menjadi bingung.


Diandra tersenyum kecil mengingat keusilan kedua adiknya itu.


Ponsel Aldo berbunyi, Aldo segera mengangkatnya


"Iya Daff" jawab Aldo.


Diandra memberi kode agar Aldo menyalakan loudspeaker saat tahu Daffa yang sedang menelepon suaminya tersebut.


"Apa yang terjadi pada Daffi kak? Aku dengar Daffi masuk rumah sakit" terdengar nada kekhawatiran dari Daffa

__ADS_1


"Iya, Daffi mendadak pingsan tadi. Tapi sekarang dia sudah sadar dan dia mencarimu" ucap Aldo singkat tapi terkesan lebay.


"Baiklah, aku akan kembali besok. Apa mami dan kak Diandra baik baik saja?" Tanya Daffa lagi.


"Ia mereka berdua baik. Kau yakin akan pulang besok?" Tanya Aldo ragu.


"Ya. Pekerjaanku disini sudah selesai" jawab Daffa.


"Baiklah kak, aku tutup dulu. Selamat malam" Daffa berpamitan


"Malam Daff" Aldo mengakhiri panggilan dari Daffa.


Diandra bernafas lega sekarang karena akhirnya dia tahu kalau adiknya baik baik saja.


"Sudah senang sekarang?" Tanya Aldo genit.


Diandra hanya mengangguk bahagia.


"Baiklah. Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Udara,malam tak baik untuk ibu hamil" bisik Aldo menggoda.


Diandra hanya mengerucutkan bibirnya.


Aldo membopong Diandra masuk ke dalam rumah dan membawanya ke kamar.


Matanya,terasa berat sekarang. Dia benar benar ingin tidur nyenyak sambil memeluk istrinya malam ini.


*****


Diandra dan Aldo sudah sepakat untuk tidak memberitahu siapapun tentang kepulangan Daffa hari ini.


Aldo sudah pergi ke kantor sejak pagi.


Nuna yang sedari pagi sudah datang menjenguk Daffi, kini sedang di dapur membantu mami Salma menyiapkan makan siang.


"Dor"


Diandra terlonjak kaget. Dia ingin marah sekarang. Tapi saat melihat siapa yang datang Diandra menunda marahnya dan memilih untuk memeluk adik laki lakinya itu.


"Ngagetin aja kamu. Untung kakak gk jantungan" omel Diandra. Daffa hanya nyengir dan tak merasa bersalah.


"Mana mami?" Tanya Daffa sembari meletakkan tas ranselnya.


Diandra menatap heran pada adiknya tersebut


"Kau kerja ke Singapura bawa tas ransel begini?" Tanya Diandra heran sambil menunjuk tas ransel yang tadi di bawa Daffa.


"Aku bukan CEO lagi kakakku. Jadi gk perlu pake jas dan tas mahal" ucap Daffa santai.


"Jadi mana mami?" Tanya Daffa lagi karena pertanyaannya sebelumnya belum dijawab oleh Diandra.


"Nyiapin makan buat anak kesayangannya" jawab Diandra acuh.


Daffa ingin tertawa melihat ekspresi kakaknya saat ini.


"Dan si anak kesayangan? Masih dikamar?" Tebak Daffa.

__ADS_1


"Dimana lagi memangnya" Diandra memutar bola matanya.


"Baiklah aku akan menemuinya." Daffa berlalu meninggalkan kakak perempuannya tersebut.


Ia menuju kamar Daffi sekarang.


Tok tok tok,


Daffa mengetuk pelan pintu kamar saudara kembarnya tersebut


"Masuk" jawab Daffi dari dalam.


Daffa membuka knop pintu dan segera masuk ke dalam.


Terlihat Daffi asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Ia tak menyadari siapa yang baru saja mengetuk pintu. Pikirnya kalo bukan Nuna pastilah Diandra.


"Katanya sakit, kenapa masih saja bekerja?" Tegur Daffa.


Daffi benar benar terkejut dengan kehadiran saudara kembarnya itu.


"Hai Daff. Kapan kau datang?" Daffi menepuk punggung Daffa. Ia merasa sudah lama sekali tidak berjumpa dengan saudaranya itu.


"Baru saja. Aku dengar kau masuk rumah sakit." Daffa berbasa basi.


Entah mengapa Daffa merasa Sikap Daffi lebih hangat sekarang. Seperti Daffi yang dulu


"Apa kau mengkhawatirkanku?" Tanya Daffi penasaran.


Daffa hanya mengendikkan bahu.


Daffa berjalan menghampiri setumpuk undangan yang ada di meja kecil di kamar Daffi.


Daffa mengambil salah satu undangan tersebut dan membukanya perlahan. Membacanya sebentar lalu kembali melipatnya.


"Aku senang akhirnya kau akan segera menikah" ucap Daffa datar.


"Ingatanku sudah kembali. Aku tak pernah menyelamatkan Nuna ataupun membawanya ke rumah persinggahan di desa. Apa kau yang melakukan semua itu" raut wajah Daffi terlihat serius.


Daffa menarik nafas panjang.


"Ya. Lalu apa masalahnya? Bukankah hubunganmu dengan Nuna karena perjodohan. Jadi aku pikir hal itu tak akan berpengaruh apapun" ujar Daffa santai.


Ia lebih mempersiapkan diri sekarang.


Di dadanya masih ada sedikit sakit, tapi Daffa sudah bisa mengendalikan emosinya


"Apa kau tidak jatuh cinta pada Nuna?" Pertanyaan memancing dari Daffi.


Daffa hanya diam dan belum menjawab.


'Tentu saja aku jatuh cinta. Laki laki mana yang tidak akan terpesona dengan kepolosan seorang Nuna' Daffa hanya bergumam dalam hati.


Ia masih memikirkan kata kata yang tepat untuk dia katakan kepada Daffi


"Daff, lusa hari pernikahanku. Masih belum terlambat. Kalo memang kamu mencintai Nuna, aku akan melepaskan Nuna untukmu. Kau tidak perlu mengalah dan membohongi hatimu seperti ini" Daffi berkata sungguh sungguh.

__ADS_1


Daffa hanya menggeleng


"Tidak Daff, aku tidak mencintainya. Aku tidak mencintai Nuna."


__ADS_2