Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Pertunangan


__ADS_3

Nuna POV


Hari ini adalah hari pertunanganku.


Apa aku bahagia?


Entahlah. Aku merasa ada yang salah dengan pertunangan ini.


Sejak pertemuanku dengan kak Diandra waktu itu aku mulai merasa aneh.


Aku merasa hidupku berjalan dengan salah. Mendadak Daffi seperti terasa asing bagiku. Aku mencintainya, dia mencintaiku, kami saling mencintai, tapi kenapa hatiku mengatakan ini salah?


'Daffi akan mendapatkan ingatannya kembali suatu hari nanti' kata kata itu terus ku patri dalam hatiku, kujadikan pegangan agar aku tak goyah.


Saat hal itu terjadi cinta kami berdua akan bertambah kuat. Aku terus meyakinkan hatiku.


Tapi lagi lagi aku merasa ini tidaklah benar.


Apa yang sudah terjadi pada hatiku?


Aku menatap bayangan diriku di cermin.


Seperti bukan diriku. Aku bukannya tidak terbiasa memoles wajahku dengan make up, tapi aku tak pernah menggunakan make up semewah ini.


Biasanya aku hanya memolesnya tipis di wajahku agar terlihat lebih segar saja.


Aku tidak suka dandanan yang terlalu mencolok.


Bahkan sekarang aku hampur tak lagi mengenali wajahku.


'Astaga, apa yang telah dilakukan perias itu pada wajahku?


Kenapa aku jadi ragu kalo itu adalah wajahku' aku bergumam pada diriku sendiri.


Tok tok tok,


suara ketukan di pintu sebelum seseorang membukanya dan masuk ke dalam ruangan ini


"Na, udah siap?" Tanya ibu.


Terlihat wajah ibu berbinar binar bahagia.


Tentu saja ini pertunanganku, putri tunggal ibu.


Pastilah ibu sangat bahagia, berbanding terbalik dengan hatiku yang tiba tiba ragu dengan pertunangan ini.


Entahlah, apa ini yang disebut cobaan menuju pertunangan?


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


Lidahku masih terasa kaku untuk berkata kata.


"Kamu cantik sekali, apa kamu gugup?"

__ADS_1


Ah ibu, kau memang selalu bisa membaca perasaan putrimu itu.


"Iya bu, Nuna gugup" jawabku lirih.


"Ini, minumlah dulu agar gugupmu sedikit berkurang" ibu mengangsurkan segelas air putih kepadaku.


Segera aku meneguknya perlahan.


Air putih itu terasa segar menuruni tenggorokanku.


"Gimana? Masih gugup?" Tanya ibu selanjutnya


"Sedikit bu" jawabku sambil menarik nafas dalam dalam.


Aku sedang berusaha menghilangkan kegugupan ini.


Tidak, bukan kegugupan ini yang jadi masalahku sekarang.


Tapi keraguan dalam hatiku yang mendadak muncul selama tiga hari terakhir.


'Apa yang salah? Apa yang aku lewatkan?' Pertanyaan itu terus berputar putar di kepalaku.


"Na!" Suara ibu membuyarkan lamuanku.


Astaga, kenapa aku jadi melamun?


"Jangan melamun Na," ibu mengusap lembut punggungku. Aku hanya mengangguk sambil menarik nafas dalam dalam.


"Ayo, ibu antar ke bawah" ibu membantuku berdiri.


Aku tak tahu banyak soal fashion.


Yang terpenting sekarang aku nyaman memakainya.


Sekali lagi aku melihat bayanganku di kaca.


Baiklah, semuanya terlihat baik sekarang.


Tidak ada yang salah dengan penampilanku malam ini.


Ibu meraih tanganku dan menggandengku keluar dari ruangan tersebut.


Berjalan perlahan menuju ballroom tempat diadakannya pesta.


Nuna POV end


*****


Senja terlihat menggantung di ufuk barat.


Malam akan tiba tak lama lagi.


Seorang pria berjalan masuk ke pemakaman.

__ADS_1


Sebuket bunga lily warna putih tampak di genggaman pria itu.


Berjalan lurus melewati blok demi blok pemakaman, seperti sudah hafal makam mana yang akan dia tuju.


Pria itu berhenti di sebuah makam yang sepertinya jarang di kunjungi.


Hanya ada sebuket bunga mawar yang telah layu diatas makam.


Rumput rumput liar terlihat tumbuh mulai tumbuh di beberapa tempat di sekitar makam tersebut.


Ia pun berjongkok, mengusap lembut batu nisan yang tertancap di makam tersebut.


Bunga yang tadi berada di tangannya telah berpindah ke atas makam.


"Hai Jes, apa kabar?" Ucapnya pelan.


Tak ada jawaban.


Hanya desir angin dan sayup sayup suara jangkrik terdengar dari kejauhan.


"Apa kau sudah bahagia di sana sekarang?" Tanya pria itu lagi.


Tapi tetap tidak ada jawaban.


Pria itu mencabuti rumput rumput liar di sekitar makam sahabatnya tersebut.


Sesekali ia akan mengusap batu nisan di atasnya.


"Daffi bertunangan hari ini Jes, dengan gadis yang aku cintai" suara Daffa sedikit bergetar. Menandakan masih ada kesedihan di sana.


"Aku akan baik baik saja. Aku akan melepaskan gadis itu seperti dulu aku melepaskanmu untuk Daffi" raut kesedihan semakin terlihat jelas di wajah Daffa.


Entah mengapa dirinya malah curhat di makam Jeslin.


"Daffi mencintai gadis itu, mami Salma juga merestui hubungan mereka. Jadi untuk apa lagi aku khawatir?" Daffa menerawang jauh.


Langit mulai berubah menjadi hitam.


Malam sudah menjelang.


Daffa menarik nafas dalam dalam, mengumpulkan segenap kekuatan dalam dirinya.


"Aku harus pergi Jes, tapi aku janji akan kembali lagi kesini" ucap Daffa .


Setelah mengelus batu nisan Jeslin untuk terakhir kalinya, Daffa pun beranjak meninggalkan pemakaman yang telah sepi itu.


Desir angin mengiringi kepergian Daffa.


Setelah sedikit membenarkan penampilannya, Daffa masuk ke dalam mobilnya dan segera memacunya menuju hotel.


Ia akan datang malam ini.


Tak lagi ada tempat untuk lari.

__ADS_1


Daffa akan menghadapi ini.


Akan ia buktikan bahwa Nuna memang tidak pernah mencintainya.


__ADS_2