Istri Kembaranku

Istri Kembaranku
Yang Sebenarnya


__ADS_3

Daffa baru selesai mandi.


Ia membuka ponsel dan melihat pesan yang masuk dari Raka, asistennya.


Ada beberapa berkas yang harus Daffa periksa. Jadi Daffa putuskan untuk tinggal sejenak di kamarnya.


Ia bergegas menyalakan laptop dan memeriksa email email yang dikirim oleh Raka.


Karena terlalu asyik dengan pekerjaannya, Daffa lupa kalo dia belum sarapan. Kini perut Daffa berbunyi menandakan butuh untuk segera diisi.


Daffa memutuskan untuk turun ke bawah dan menuju dapur. Mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.


Daffa melihat pintu kulkas yang terbuka. Seorang gadis tampak sedang mengambil beberapa makanan di kulkas.


Daffa tahu siapa gadis itu.


Ia mendekati gadis itu hendak membantunya, tapi saat gadis itu menutup pintu kulkas, gadis itu terkejut melihat Daffa.


Beberapa buah yang ada di tangannya langsung berjatuhan saking kagetnya.


Refleks Daffa membantunya memungut buah yang berserakan di lantai.


Saat akan mengambil sebuah apel, tak di sengaja tangan kedua nya bertabrakan.


"Maaf membuatmu kaget" ujar Daffa berbasa basi.


Nuna tidak menjawab dan masih terlihat salah tingkah.


Kini Nuna bingung harus berbuat apa.


Nuna menuju meja dapur untuk mulai memotong beberapa bahan.


Jantungnya masih berdetak tak beraturan karena bertabrakan dengan Daffa barusan.


Daffa membuka kulkas dan mengeluarkan roti tawar beserta beberapa bahan.


Ia memutuskan akan membuat roti isi saja untuk mengganjal perutnya yang lapar.


Di meja dapur, Nuna sedikit kesulitan saat akan membuka toples mayonaise.


Daffa yang melihatnya, segera mengambil toples itu dan membantu Nuna untuk membukanya.


"Terima kasih" ucap Nuna tulus


"Tidak masalah" jawab Daffa sambil tersenyum. Ia senang kini karena Nuna mau bicara.

__ADS_1


Daffa sungguh rindu pada suara lembut Nuna.


"Terima kasih juga karena telah menolongku waktu itu" lanjut Nuna lagi.


Daffa sejenak menghentikan aktivitasnya. Ia memandang tajam ke arah Nuna.


Pun sebaliknya, Nuna memandang tajam ke arah netra coklat itu.


Pandangan keduanya bertemu.


Ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata, tapi kini pandangan mereka seperti sedang saling mengungkapkan perasaan masing masing.


Daffa yang terlebih dahulu membuang pandangannya. Ia tak mau terlalu larut dalam perasan yang terlarang ini.


"Daff, kenapa kau tak mengatakan ini sedari awal?" Raut kesedihan terlihat di wajah Nuna.


Kesedihan dan kekecewaan karena merasa Daff tak peduli padanya.


"Aku tidak tahu kalo tunangan Daffi adalah dirimu" jawab Daffa berbohong.


"Kau tidak pernah mencariku? Padahal kau tahu alamat rumahku waktu itu" Nuna menghakimi.


Daffa membuang nafas frustasi.


"Kau meninggalkan ponsel yang kuberikan kepadamu. Aku pikir kau tidak mau lagi berhubungan ataupun berteman denganku" jawab Daffa sedikit emosi.


Nuna merasa bersalah sekarang.


Daffa ternyata salah paham dan mengira Nuna tak mau lagi berhubungan dengannya.


"Aku mencarimu ke rumah. Tapi kata salah satu tetanggamu, kalian sudah pindah keluar kota. Jadi aku pikir mungkin memang kita memang tak pernah di takdirkan untuk bertemu" Daffa tersenyum kecut.


Penyesalan di hatinya kembali menyeruak. Andai ia lebih cepat menemui Nuna atau langsung melamarnya, mungkin keadaan akan berbeda sekarang.


Nuna menghela nafas panjang untuk mengendalikan emosinya.


Genangan air mata terlihat di sudut matanya. Nuna segera menyekanya sebelum jatuh ke pipi.


Nuna tak ingin menangis di depan Daffa.


"Maaf" hanya itu yang sanggup Nuna katakan. Hatinya dilanda kebingungan sekarang.


Di satu sisi ia mencintai Daffa pahlawannya tapi disisi lain ia merasa nyaman saat bersama Daffi.


Entahlah.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di maafkan" Daffa mengelus lembut punggung Nuna.


Mencoba meredakan kesedihan yang nampak di raut wajah Nuna.


"Aku senang karena kau benar benar melanjutkan hidupmu sekarang. Kau akan menikah dengan Daffi dan menjadi kakak iparku" sebuah senyuman tersungging di bibir Daffa.


Senyuman yang dipaksakan.


Semanis itu Daffa bisa berkata kata padahal hatinya tengah hancur berkeping keping.


Nuna menangis terisak. Daffa memeluk Nuna untuk meredakan tangis gadis itu.


"Berbahagialah" ucap Daffa tulus. Nuna memaksa tersenyum dan tangisnya sudah mereda kini.


"Bagaimana kabar Tika dan Pak Roy?" Tanya Nuna mengalihkan pembicaraan.


Ia teringat gadis pelayan yang sempat menjadi sahabatnya selama satu minggu di rumah persinggahan milik Daffa.


"Tika masih di rumah itu. Kalau kau mau kau bisa tinggal di rumah itu bersama Daffi kelak. Anggap saja sebagai hadiah dariku untuk pernikahan kalian berdua" Daffa tersenyum sambil menahan sesak di dadanya.


Itu sesungguhnya adalah rumah impian Daffa. Ia membangun dan merancangnya sendiri.


Saat melihat Nuna yang bahagia dan merasa nyaman tinggal di rumah itu, sempat terbersit di pikiran Daffa untuk menikahi Nuna, lalu hidup berdua bersama Nuna dan anak anak mereka kelak. Menua bersama Nuna di rumah yang penuh kedamaian itu.


Tapi kini angan angan itu harus Daffa kubur dalam dalam. Ia tak sanggup lagi untuk tinggal di rumah itu. Mungkin ini keputusan yang tepat.


Memberikan rumah itu sebagai hadiah untuk Nuna dan Daffi.


Suasana menjadi hening. Daffa dan Nuna sibuk dengan pikiran masing masing.


*****


"Nuna, kak Di" terdengar suara Daffi dari arah depan. Sepertinya dia sudah kembali dari urusannya.


Nuna buru buru menyeka sisa airmata di kedua matanya. Daffa mengambilkan tisu untuk membantu Nuna.


Setelah memastikan wajahnya terlihat normal, Nuna segera berjalan keluar dari dapur menuju ke arah Daffi.


Nuna tak mau Daffi memergoki dirinya yang sedang menangis di dapur bersama Daffa.


Daffa mengambil segelas susu dan beberapa potong roti isi untuk dia bawa masuk ke kamarnya.


Atmosfer di ruangan ini mulai terasa panas. Daffa merasa sesak. Dia ingin masuk kamar dan menenangkan dirinya.


Sepasang mata yang sejak tadi menyaksikan kejadian di dapur antara Nuna dan Daffa mengikuti langkah Daffa yang berlari menaiki anak tangga.

__ADS_1


Baru saja Daffa menutup pintu kamar dan merebahkan dirinya di kasur, terdengar suara pintu yang di banting


"Braak"


__ADS_2