
Daffa terlonjak kaget dan langsung bangun dari posisinya semula.
Daffa terkejut mendapati maminya yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya sambil melotot tajam ke arahnya.
"Apa kamu se serakah itu?" Tanya sang mami galak.
Daffa mengernyitkan kedua alisnya masih tak paham dengan apa yang dimaksud maminya itu.
"Jangan pura pura tidak paham. Ada hubungan apa antara kamu dan Nuna" baiklah kali ini Daffa mulai paham.
Mami pasti memergokinya sedang berpelukan dengan Nuna di dapur
"Kami teman lama mi" Daffa menjelaskan dengan sabar.
Dia tidak ingin membuat emosi maminya yang sudah tersulut menjadi semakin berkobar.
"Teman lama." Maminya berdecak kesal
"Lalu kamu juga ingin merebut Nuna dari Daffi begitu?" Tuduh sang mami.
Daffa mendengus tak percaya.
Mana mungkin dirinya sejahat itu.
"Mi, aku gak ada hubungan apa apa dengan Nuna" Daffa mulai emosi.
Ia sungguh tak suka mami menuduhnya seperti itu.
"Lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa dia juga tidak ada perasaan apapun padamu?" Mami malah menyudutkan Daffa sekarang.
"Nuna dan Daffi saling mencintai. mereka sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Apalagi yang mami takutkan?" Daffa malah balik bertanya sekarang.
"Kamu" jawab mami singkat.
"Dulu kamu hampir membunuh Daffi, sekarang bukan tak mungkin kamu akan merencanakan hal itu lagi" tuduhan keji yang sungguh menyakiti hati Daffa.
Ia tak percaya maminya akan kembali membahas hal ini.
Dia pikir hubungannya dengan sang mami sudah membaik dan mami sudah melupakan kejadian itu.
Tapi nyatanya semuanya hanya palsu selama ini.
"Daffa tak menyangka mami terus saja mengungkit hal itu. Salah Daffa apa mi? Itu kecelakaan" Daffa membela diri.
Butir air mata jatuh di pipi Daffa.
Hatinya sungguh sakit karena sudah selama ini tapi maminya masih saja terus menuduhnya dan menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Kecelakaan yang memang kamu buat untuk menyingkirkan Daffi kan. Karena kamu iri padanya" mami masih tak berhenti menyudutkan Daffa.
"Baiklah sudah cukup. Daffa akan pergi dari sini. Mami memamg gak pernah menginginkan Daffa tinggal dirumah ini" Daffa menyambar ponsel dan kunci mobil di atas nakas.
Bergegas pergi meninggalkan rumah maminya itu.
Daffa kecewa. Benar benar kecewa.
*****
Di depan kamar Daffa,
Diandra menangis tersedu sedu.
Ia mendengar semua pertengkaran antara mami dan Daffa. Hatinya ikut sakit melihat Daffa di perlakukan seperti itu oleh maminya.
"Mami udah puas sekarang?" Ucap Diandra emosi.
"Diandra..." belum selesai maminya bicara, Diandra kembali memotong
"Apa? Mami mau bilang ini tak seperti yang Diandra pikirkan begitu? Kenapa mami masih saja mengungkit masalah itu.
Itu kecelakaan mi, sampai kapan mami akan memahaminya?"Diandra semakin menangis histeris.
Aldo yang mendengar keributan antara istri dan mertuanya segera menghampiri Diandra dan menenangkan istrinya tersebut
"Daffa sudah banyak mengalah untuk Daffi mi, kenapa mami masih saja tak bisa melihatnya.
Mami akan menyesali ini semua" ucap Diandra geram.
Mami Salma diam membisu.
Aldo segera membimbing Diandra untuk kembali ke kamar dan menenangkan diri.
*****
Daffa memacu mobilnya tanpa arah. Pandangannya menatap kosong pada jalanan di depannya.
Dia selalu berusaha memperbaiki hubungannya dengan mami, tapi selalu kekecewaan yang dia dapatkan.
Kenapa harus serumit ini takdirnya?
Daffa tak mengerti.
Pikiran Daffa mengembara jauh ke kejadian itu, kejadian yang membuat mami semakin membencinya
Flashback setahun yang lalu...
__ADS_1
Daffa dan Daffi baru pulang dari reuni bersama teman teman SMA nya.
Duo Daff yang terkenal usil selama SMA.
Mereka sungguh bersenang senang malam itu. Saking bersemangatnya, keduanya minum banyak malam itu.
Sedikit mabuk, tapi Daffa masih bisa mengemudi.
Daffi yang duduk di sebelah Daffa terus saja meracau tak jelas.
Berkali kali Daffi melepaskan sabuk pengaman yang ia pakai. Daffi ingin berjoget joget di dalam mobil.
Daffa yang masih sadar dan waras terus memperingatkan Daffi agar tak melepas sabuk pengaman itu. Tapi Daffi malah mengamuk saat Daffa menaikkan nada bicaranya.
Daffi yang mabuk dan emosi mengganggu Daffa yang sedang menyetir.
Kini Daffa kehilangan kendali. Mobil melaju zigzag tak terkendali dan menghantam sebuah truk yang berhenti di bahu jalan.
"Bruuk"
suara terakhir yang Daffa dengar sebelum semuanya menjadi gelap.
Daffa tak sadarkan diri. Sabuk pengaman yang ia pakai sedikit menyelamatkannya.
Berbeda dengan Daffi yang tidak memakai sabuk pengaman. Tubuhnya terlempar ke depan dan kepalanya membentur kaca depan mobil.
Daffi terluka parah di bagian kepala dan mengalami koma selama dua bulan.
Flash back off
Daffa mengusap kasar wajahnya. Dirinya memang hanya terluka kecil saat kecelakaan itu tapi tidak dengan Daffi.
Daffi terluka parah. Dan tentu saja sang mami langsung murka menyalahkan Daffa yang tidak bisa mengendarai mobil dengan benar hingga bisa mengalami kecelakaan separah itu.
Berkali kali Daffa menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya tapi lagi lagi, sang mami seakan tak peduli dan terus saja menyalahkan Daffa.
Daffa hanya terus bersabar dan bersabar. Ia berharap Daffi akan membantu menjelaskan semuanya saat dia sadar nanti.
Namun kesabaran Daffa semakin habis setiap mami menyudutkan dirinya. Apalagi kondisi Daffi yang seperti tidak ada kemajuan.
Daffa akhirnya memutuskan keluar dari rumah besar itu.
Daffa sudah tidak tahan menghadapi segala tuduhan dan cacian dari maminya.
Daffa menyayangi maminya, tapi Daffa juga tidak bisa terus menerus hidup dalam tekanan.
Saat Daffi sudah sadar keadaan tak pernah sama lagi.
__ADS_1
Daffi yang kehilangan sebagian ingatannya semakin memupuskan harapan Daffa untuk bisa berbaikan dengan sang mami.
Daffa hanya bisa meratapi hidupnya yang sekarang.