
"Nuna Priscilia?" Wanita itu bertanya sekali lagi untuk memastikan kalo yang di depannya sekarang adalah benar benar Nuna, temannya saat duduk di bangku sekolah.
Nuna masih tak percaya dengan wanita yang kini berdiri di depannya.
"Alina?" Kini Nuna balik bertanya.
Alina hanya mengangguk. Kedua wanita itupun berpelukan dan saling melepaskan kerinduan karena sudah bertahun tahun tak berjumpa.
"Jadi ini pesta pertunanganmu? Ya Tuhan aku tak menyangka kita akan bertemu lagi sekarang" Alina tampak begitu bahagia.
Ia senang karena bisa bertemu dengan sahabat lamanya itu.
"Kamu? Kamu temannya Daffi?" Nuna masih bingung apa hubungan Alina dan Daffi.
Karena yang Nuna tahu pesta ini hanya untuk sahabat dan keluarga besar saja.
"Alina tunanganku." Doni langsung menjawab kebingungan Nuna.
"Hai, aku Doni, sepupunya Daffi" Doni memperkenalkan dirinya pada Nuna.
"Nuna" jawab Nuna singkat. Ia pun membalas uluran tangan Doni. Keduanya berjabat tangan untuk berkenalan.
"Hai Don, apa kabar?" Daffi yang sedari tadi hanya menyaksikan pertemuan dua sahabat lama itu akhirnya buka suara. Ia pun berpelukan dengan Doni.
"Aku baik. Selamat ya atas pertunangan kalian" ucap Doni berbasa basi.
"Oh ya Alina, ini Daffi saudara kembar Daffa yang tadi kita temui di balkon" Doni memperkenalkan Alina pada Daffi.
Alina merasa takjub karena Daffi sama persis dengan Daffa.
Alina hampir tak bisa membedakannya.
"Kau sudah bertemu Daffa?" Tanya Daffi pada Doni.
"Ya, dia di balkon sekarang. Sepertinya dia sedikit tertekan malam ini karena datang ke pesta pertunangan saudara kembarnya dalam keadaan jomblo" Doni tertawa terbahak bahak.
Daffi langsung menjitak kepala sepupunya itu.
"Don, boleh aku bicara berdua sama Nuna?" Alina meminta izin.
Dua pria di dekatnya itu sepertinya juga tengah asyik membahas hal lain. Dan Alina merasa tidak tertarik dengan topik pembicaraan para pria.
"
Pergilah" ucap singkat Doni sambil mengecup kening Alina.
Daffi yang melihat Nuna hendak meminta izin yang sama seperti Alina, segera memberi kode bahwa ia mengijinkannya.
Nuna dan Alina pun berjalan menuju salah satu meja yang kosong di sudut ruangan itu.
Banyak hal yang ingin dua sahabat itu bicarakan setelah bertahun tahun tak berjumpa.
"Mereka mirip sekali. Apa kau tidak bingung?" Tanya Alina penasaran.
Nuna tampak kebingungan
"Mereka? Mereka siapa?" Nuna balik bertanya.
Kalo yang di maksud Alina adalah Doni dan Daffi jelas jelas tak ada kemiripan.
__ADS_1
Kenapa Nuna harus bingung.
"Tunanganmu dan saudara kembarnya. Jangan bilang kalau kau tak tahu hal itu" Alina terkekeh.
"Saudara kembar?" Nuna masih bingung. Terlihat jelas raut kebingungan di wajah Nuna.
Alina mengernyitkan dahi
"Kau tidak tahu kalau Daffi punya saudara kembar?" Kali ini Alina memasang muka serius.
Nuna semakin kebingungan.
'Daffi punya saudara kembar? Kenapa dia bisa sampe tidak tahu.
Tunggu, Nuna ingat foto dua anak kecil yang berdiri dan saling merangkul di rumah Daffi.
Sudah lama Nuna ingin menanyakan hal itu pada Daffi.
Tapi ia selalu lupa.
Nuna masih bertanya tanya dalam hatinya hingga sebuah suara membuat Nuna dan Alina menoleh bersamaan.
"Na, lihat lah siapa yang aku bawa" suara Daffi yang ternyata sudah berada di belakang Nuna sungguh mengejutkan.
Tapi pria yang kini berdiri di samping Daffi semakin membuat Nuna membeku.
Nuna menatap tajam ke arah pria itu. Pun sebaliknya Daffa juga memandang Nuna tajam. Tatapan keduanya bertemu.
Nuna masih membeku menatap netra coklat milik Daffa.
Kini Nuna baru sadar. Daff yang menolongnya bermata coklat seperti yang dimiliki Daffa bukan seperti Daffi yang bermata hitam.
Saudara kembar itu memang memiliki wajah yang sama persis. Tapi mata keduanya berbeda. Daffa bermata coklat dan Daffi bermata hitam.
Bayangan itu terus berputar berulang ulang seperti sebuah kaset.
Nuna masih membisu, begitu pula dengan Daffa.
Mereka seperti bicara dalam diam. Berbicara lewat tatapan mata.
"Na, kamu baik baik saja?" Daffi menggoyang goyang tubuh Nuna yang terdiam cukup lama.
Daffi sungguh tak menyangka kejutan yang ia berikan pada tunangannya tersebut benar benar membuatnya shock.
Seperti dibangunkan dari mimpi, Nuna mencoba mengendalikan emosinya. Buru buru ia membuang pandangan agar tak lagi memandang Daffa.
"Na?" Daffi menegur sekali lagi.
"Eh, iya" Nuna tampak terbata bata. Kegugupan dan kebingungan menjadi satu dan terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tak menyangka kamu akan shock begini" Daffi terkekeh sambil merangkul bahu Nuna dengan mesra.
Nuna jadi salah tingkah.
Daffa membuang pandangannya ke arah lain.
"Ayo kenalan dulu, ini Daffa saudara kembarku" lanjut Daffi.
Nuna bersalaman dengan Daffa
__ADS_1
"Nuna" kata Nuna singkat
"Daffa, kak Diandra benar. Kau sungguh cantik" puji Daffa.
Blush,
wajah Nuna seketika merona merah.
Ada sedikit bahagia di hatinya tapi lebih banyak rasa sedih di sudut hatinya yang lain.
"Ehm, Na aku duluan ya, mau nyari Doni" Nuna baru sadar kalo Alina masih disitu sedari tadi. Kini Alina tampak celingukan mencari tunangannya.
"Iya Lin, thanks ya udah datang malam ini" jawab Nuna
"Aku akan mengatur pertemuan kita selanjutnya. Dena pasti senang jika tahu berita bahagia ini" lanjut Alin berbinar binar.
Nuna memaksa tersenyum meski hatinya sedang tak menentu sekarang.
"Aku duluan" Alina berlalu meninggalkan Nuna dan dua pria berwajah mirip itu.
Kini hanya ada keheningan diantara ketiganya.
Nuna meremas remas kedua tangannya mencoba menghilangkan kegugupan di hatinya
'Ya Tuhan apa yang sudah ku lakukan? Apa aku menyakiti hati Daffa? Kenapa dia hanya diam?' Nuna hanya bisa bertanya dalam hati. Tak tahu siapa yang akan mendengan dan menjawabnya.
'Kenapa Nuna terlihat segugup itu? Apa yang sebenarnya dia rasakan?" Daffa ikut bergumam dalam hati.
Pandangannya masih tak lepas dari Nuna.
"Daff" suara kak Diandra memecahkan keheningan di antara ketiganya.
Kak Diandra yang baru datang langsung menepuk bahu Daffa dan memberi kode bahwa dia ingin bicara dengan Daffa
"Iya kak" Daffa sedikit terkejut, tapi ia berhasil menyembunyikan nya dari kakaknya tersebut.
"Kakak ingin bicara. Dan Daffi, tolong ajak Nuna berkenalan dengan keluarga yang lain. Tadi banyak yang nanyain" ujar kak Diandra setenang mungkin.
Daffi hanya mengangguk dan segera menggamit lengan Nuna,mengajak Nuna kembali ke tengah pesta meninggalkan Daffa dan kak Diandra.
Setelah memastikan Daffi dan Nuna sudah tidak di dekat mereka, barulah kak Diandra mulai berbicara.
"Daff, kamu baik baik saja?" Tanya Diandra khawatir.
Sejujurnya Diandra sempat kaget saat tadi melihat Daffa berada di tengah tengah tamu undangan.
"Daffa baik baik saja kak" ujar Daffa menarik nafas panjang.
Kehadiran Nuna di depan matanya membuat dirinya mendadak menjadi sesak nafas dan tidak bisa bernafas dengan benar.
"Kakak kan sudah bilang kamu gak perlu memaksa untuk datang. Lalu kenapa seperti ini?" Tanya Diandra bingung.
"Daffi yang maksa aku buat datang kak, kemarin dia datang langsung ke apartemenku. Aku hanya tak mau Daffi kecewa" Daffa bercerita lirih.
Raut kesedihan kini tampak di wajahnya.
Diandra menarik nafas panjang.
Begitulah Daffi, selalu minta sesuatu pada Daffa dengan memaksa atau mengancam.
__ADS_1
Daffa juga terlalu menyayangi saudara kembarnya itu sehingga apapun selalu Daffa lakukan bahkan Daffa korbankan demi Daffi.
Diandra memeluk adik laki lakinya itu, mencoba menyalurkan semangat dan kekuatan.