
Mami Salma sudah tenang sekarang.
Kini mereka semua duduk di ruang tunggu menunggu operasi Daffi selesai.
"Jadi Daffa yang menjadi pendonor untuk Daffi?" Mami Salma bertanya lirih.
"Itu keinginan terakhir Daffa mi," jelas Diandra.
Mami Salma hanya mengangguk.
"Daffa selalu saja memikirkan kebahagiaan orang lain. Selama ini mami salah menilai Daffa" raut penyesalan nampak di wajah mami Salma.
"Daffa menyayangi mami dan keluarga ini" ujar Diandra mengusap lembut bahu sang mami.
Keduanya pun berpelukan saling melepaskan kesedihan.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya operasi selesai dilakukan.
Semuanya bernafas lega sekarang meskipun masih ada sedikit kekhawatiran karena Daffi belum melewati masa kritis nya.
*****
Sudah tiga hari berlalu sejak kepergian Daffa untuk selamanya.
Daffa sudah di makamkan dan beristirahat dengan tenang.
Daffi masih belum sadarkan diri. Tapi kata dokter masa kritis Daffi sudah terlewati.
Nuna tetap setia menunggu suaminya di rumah sakit.
Sesekali Mami dan Diandra menggantikan Nuna.
Diandra membuka pintu ruang perawatan Daffi.
Hanya ada Nuna yang duduk diam di samping ranjang Daffi.
'Pasti melamun lagi' gumam Diandra pelan.
Nuna memang terlihat sering melamun belakangan ini. Atau lebih tepatnya sejak Daffi di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Diandra mengambil secarik kertas dari dalam tas nya, lalu menyodorkannya pada Nuna.
Nuna yang masih larut dalam lamunannya sedikit terkejut dengan kedatangan kakak iparnya yang tiba tiba sudah ada di sampingnya.
"Apa ini kak?" Tanya Nuna tak mengerti.
"Bacalah, aku akan menjaga Daffi" Nuna segera beranjak dari tempat duduknya. Dan pergi ke sofa di sudut ruangan.
Nuna membuka kertas itu perlahan
"Aku bahagia saat Raka memberitahuku bahwa Nuna berada di kota ini. Aku sudah tak sabar untuk segera berjumpa dengannya. Aku sudah bisa membayangkan aku akan menyatakan cinta padanya, melamarnya, lalu menikah dengannya, hidup dan menua bersama Nuna di rumah kecilku. Ah, aku tak sabar menunggu saat itu tiba.
Namun saat aku tahu siapa calon tunangan Daffi seketika duniaku terasa runtuh. Impianku yang selama ini aku tata dengan rapi mendadak hilang tertiup angin. Aku melihat Nuna bercengkerama mesra dengan Daffi. Hatiku sakit, tapi aku bisa apa sekarang.
Semua memang salahku sejak awal. Kalau saja sejak awal aku jujur pada Nuna siapa namaku sebenarnya, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Tapi siapa yang menyangka kalo ternyata takdir malah mempertemukan Nuna dan Daffi.
Ah, takdir. Selalu takdir.
Melihat Nuna yang begitu bahagia bersanding dengan Daffi, membuatku merasa dilema. Di satu sisi aku bahagia karena Daffi bahagia tapi disisi lain hatiku terluka karena aku mencintai Nuna.
Malam itu saat aku tahu bahwa ingatan Daffi sudah kembali, aku terpaksa berbohong dan mengatakan pada Daffi bahwa aku tidak memcintai Nuna, aku tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka berdua. Aku juga tidak mau merusak hubunganku dengan mami yang sudah mulai membaik. Aku memang pengecut.
Biarlah kusimpan dan ku kubur dalam dalam rasa cintaku pada Nuna hingga aku bisa menemukan pengganti Nuna suatu hari nanti. Meskipun itu mustahil. Apa salahnya aku berharap?"
Sebesar itukah cinta Daffa pada Nuna?
Diandra sudah duduk di sebelah Nuna dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Daffa mencintaimu Na, sangat mencintaimu" Diandra mengusap pelan punggung Nuna.
"Apa Daffa yang menulis ini?" Tanya Nuna.
Diandra hanya mengangguk.
"Aku membersihkan apartement Daffa hari ini dan tak sengaja menemukan tulisan ini di laptop Daffa." Cerita Diandra
"Dan aku pikir, ini juga milikmu" Diandra mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas nya lalu memberikannya pada Nuna.
Nuna membuka kotak tersebut dan sungguh tak mengira isi di dalamnya masih sama.
__ADS_1
Ponsel dan kunci rumah yang pernah Daffa berikan pada Nuna, lalu Nuna mengembalikannya. Ternyata Daffa masih menyimpannya.
"Simpanlah" ucap kak Diandra. Nuna masih diam.
"Rumah itu..." Diandra menjeda ucapannya.
Sedikit menarik nafas panjang berusaha mengendalikan emosinya.
Nuna diam menyimak
"Rumah itu adalah rumah impian Daffa. Dia yang merancang sekaligus membangunnya sendiri. Kau tahu, dia sering bercerita padaku kalau suatu hari nanti dia akan menikah dengan gadis yang ia cintai, lalu tinggal dirumah itu, mempunyai anak, dan menjadi keluarga yang bahagia" Diandra tersenyum kecil mengingat betapa antusiasnya Daffa saat bercerita tentang itu semua.
Dan Diandra selalu akan mencibir Daffa saat ia menceritakan angan angan yang memurut Diandra terlalu dilebih lebihkan itu. Sekarang Diandra sungguh merindukan kekonyolan dan keusilan Daffa.
Diandra menyeka air mata di sudut matanya.
"Daffa pernah berkata akan memberikan rumah itu pada Daffi sebagai hadiah pernikahan" ucap Nuna lirih
"Kalau begitu ambillah Na, Daffa pasti akan bahagia disana kalau kalian berdua mau merawat rumah itu" pesan dari Diandra.
Nuna hanya mengangguk
Suasana hening,
"Apa Kau tahu alasan utama Daffa mendonorkan jantungnya untuk Daffi?" Tanya kak Diandra. Nuna terlihat sedikit berpikir
"Karena Daffa menyayangi Daffi" tebak Nuna. Diandra menggeleng.
"Karena Daffa tidak ingin melihatmu menangis lagi. Dia selalu memperhatikan mu sepekan ini. Dia ikut sedih saat melihatmu menangisi Daffi yang tak kunjung sadar." Cerita Diandra panjang lebar
"Selain itu, dia tetap ingin selalu bersamamu meskipun dia sudah tidak ada di dunia ini. Dia sungguh mencintaimu Na." Lanjut kak Diandra.
Ucapannya terdengar sungguh tulus
"Nuna tahu" jawab Nuna lirih.
"Jagalah Daffi demi Daffa. Buatlah Daffi bahagia, cintai Daffi dengan tulus.
Mungkin dengan begitu, Daffa juga akan bahagia disana" pesan kak Diandra.
__ADS_1
Nuna hanya mengangguk angguk.
Airmatanya kembali jatuh tak sanggup menahan rasa haru di hatinya.